NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Satu bulan sudah aku kembali bersama Bram.

Hari-hari yang dulu terasa kelabu kini perlahan berubah menjadi hangat. Bram memperlakukanku begitu baik, seolah aku adalah sesuatu yang sangat rapuh dan harus ia jaga sepenuh jiwa.

Apa pun yang kuinginkan, selalu ia usahakan. Bahkan sebelum aku sempat meminta, ia sudah lebih dulu mengerti.

Ia benar-benar meratukanku.

Setiap pagi, ia bangun lebih dulu hanya untuk memastikan aku sarapan. Tangannya yang dulu terasa asing kini kembali akrab, selalu siap menggenggamku ketika aku merasa lemas.

Ia tak lagi banyak membantah, tak lagi bersuara tinggi. Sorot matanya berbeda—penuh penyesalan sekaligus tekad.

“Jangan capek-capek ya, Ran,” ucapnya hampir setiap hari.

Aku tahu, ia takut.

Takut kehilangan aku. Takut kehilangan anak yang sedang tumbuh di rahimku. Bram begitu menjaga kehamilanku, seolah jika ia lengah sedikit saja, sesuatu yang buruk akan terjadi.

Ia bahkan membatasi pekerjaanku, menyuruhku lebih banyak istirahat.

Kadang aku menatapnya diam-diam.

Benarkah ini kebahagiaan yang selama ini kuinginkan?

Perlakuannya memang manis. Terlalu manis bahkan. Namun di sela-sela perhatian itu, ada sesuatu dalam dadaku yang belum sepenuhnya pulih. Luka lama memang tertutup, tapi bekasnya masih terasa saat malam terlalu sunyi.

Aku sering terbangun dini hari, memandangi wajah Bram yang tertidur di sampingku. Wajah yang pernah membuatku jatuh cinta, sekaligus membuatku hancur.

Apakah cinta bisa benar-benar kembali seperti dulu?

Atau aku hanya sedang belajar memaafkan demi anak ini?

Tanganku tanpa sadar mengusap perutku yang mulai membesar.

Di sinilah alasanku bertahan. Di sinilah harapanku tumbuh. Aku ingin anakku lahir dalam keluarga yang utuh, dalam cinta yang tidak lagi penuh kebohongan.

Suatu malam, saat kami duduk di teras, Bram menggenggam tanganku lebih erat dari biasanya.

“Ran… terima kasih sudah mau kembali,” ucapnya lirih.

Aku tersenyum tipis. Bukan karena semuanya sudah benar-benar sembuh, tapi karena aku memilih untuk mencoba lagi.

Hari itu langit terlihat mendung, seakan tahu badai akan datang dalam hidupku.

Pintu rumah tiba-tiba diketuk dengan keras.

Bram yang sedang duduk di ruang tamu menoleh heran.

Aku baru saja keluar dari dapur ketika pintu itu terbuka.

Dan dunia seolah berhenti.

Seorang wanita berdiri di sana. Wajahnya pucat, matanya memerah seperti sudah menahan amarah terlalu lama. Aku mengenalnya.

Monika.

Istri pertama Bram.

Tatapannya berpindah dari Bram… lalu berhenti padaku. Lama. Tajam. Seolah sedang menyusun potongan teka-teki yang akhirnya menemukan jawabannya.

“Jadi… ini alasan kamu beberapa bulan ini sibuk keluar kota?” suaranya bergetar, antara marah dan hancur.

Bram terdiam.

“Bukan urusan kerjaan?” lanjutnya lagi, suaranya meninggi. “Ternyata kamu tinggal di sini… dengan dia?”

Tanganku refleks memegang perutku.

Monika melangkah masuk tanpa dipersilakan. Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki. Wajahnya berubah ketika pandangannya jatuh pada perutku yang mulai membulat.

“Dia hamil?” bisiknya lirih. “Jangan bilang… itu anak kamu, Bram.”

Sunyi.

Keheningan itu lebih menyakitkan dari jawaban apa pun.

Air mata Monika jatuh.

“Ya Tuhan…” suaranya patah. “Selama ini aku gak pernah tau kalau aku punya madu.”

Dadaku sesak. Kata madu itu terasa begitu tajam, seolah menancap langsung di jantungku.

Monika tiba-tiba menatapku lebih dalam. Keningnya berkerut, seperti sedang mengingat sesuatu.

“Kita pernah ketemu…” ucapnya pelan.

Aku tercekat.

“Di rumah sakit,” lanjutnya. “Waktu itu aku lihat kamu. kamu terjatuh. Aku tanya ke Bram siapa kamu… dan dia bilang kamu rekan bisnisnya.”

Ia tertawa kecil. Tawanya pahit.

“Rekan bisnis?” ulangnya lirih. “Ternyata istri keduanya. Bahkan sedang mengandung anaknya.”

Mataku mulai berkaca-kaca. Aku tidak pernah ingin melukai wanita lain. Tidak pernah ingin berada di posisi ini. Tapi kenyataan tetaplah kenyataan.

“Monika, aku bisa jelasin—” Bram akhirnya bersuara.

“Jelasin apa lagi?” potongnya keras. “Yang harusnya jelasin itu kamu dari awal, bukan setelah semuanya hancur.”

Ia menoleh padaku lagi.

“Kamu tau dia sudah punya istri?” tanyanya langsung.

Pertanyaan itu seperti tamparan.

Aku terdiam beberapa detik Kemudian. Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

Monika mengangguk pelan, seolah jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan.

“Luar biasa,” ucapnya lirih. “Kalian berdua sempurna saling menyakiti.”

Bram mencoba mendekatinya, tapi Monika mundur.

“Jangan sentuh aku.”

Aku merasa tubuhku gemetar. Bukan hanya karena rasa bersalah… tapi karena aku tahu, sejak detik ini, semuanya tidak akan pernah sama lagi.

Monika mengusap air matanya kasar.

“Aku cuma mau satu hal, Bram,” katanya dingin. “Pilih. Aku… atau dia dan anaknya.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Napas Bram terdengar berat.

Aku menunduk, memegang perutku erat-erat.

Dan untuk pertama kalinya, aku sadar…

Badai yang selama ini kutakuti akhirnya benar-benar datang.

“Jawab, Bram!!”

Rania memukul keras dada bidang Bram. Pukulan itu tidak seberapa, tapi amarah dan kepedihannya terasa menghantam jauh lebih keras.

“Kau janji akan sabar menunggu aku hamil! Kau juga janji akan bersamaku meski aku belum bisa ngasih keturunan untukmu, Bram! Tapi apa?!” isaknya pecah. “Kau mengkhianati kepercayaan aku!”

Tangannya kembali menghantam dada suaminya. Bram hanya diam, rahangnya mengeras, tapi matanya tidak mampu menyembunyikan rasa bersalah.

Monika kemudian menatapku.

Tatapan itu bukan sekadar marah. Itu tatapan seorang istri yang dunianya baru saja runtuh.

“Dan kamu…” suaranya bergetar. “Aku ini perempuan yang menunggu bertahun-tahun demi garis dua itu. Kamu tau gak rasanya tiap bulan berharap… lalu kecewa?”

Aku tak sanggup menatapnya lama.

“Kita sama-sama perempuan,” lanjutnya lirih namun tajam. “Seharusnya kamu tidak melakukan ini.”

Dadaku sesak. Air mataku jatuh tanpa bisa

kutahan.

“Mon, aku bisa jelaskan, aku—” ucapku terbata.

“Diam kamu, pelakor! Murahan!” teriaknya.

Kata itu menggema di ruang tamu. Menamparku lebih keras dari tangan siapa pun.

Aku gemetar.

Bram langsung berdiri di antara kami. “Monika! Jaga ucapanmu.”

“Jaga ucapan?” Monika tertawa pahit. “Kamu yang harusnya jaga janji kamu, Bram!”

Ia menatap pria itu dengan air mata yang terus mengalir.

“Aku setia. Aku bertahan. Aku bahkan rela kamu sibuk kerja ke luar kota demi masa depan kita. Ternyata selama ini kamu sedang membangun keluarga lain!”

Sunyi.

Bram mengusap wajahnya frustasi. “Aku gak pernah berniat nyakitin kamu, Mon…”

“Tapi kamu lakukan itu!” potongnya keras.

Aku memegang perutku refleks ketika suasana semakin memanas. Napasku terasa pendek. Semua terasa menekan.

“Cukup…” lirihku.

Keduanya menoleh padaku.

“Ini salahku juga,” ucapku pelan. “Aku tau dia sudah menikah waktu aku terlanjur mencintainya… tapi aku tetap bertahan.”

Monika terdiam beberapa detik. Lalu ia mengangguk kecil.

“Setidaknya kamu jujur sekarang,” katanya dingin.

Kemudian ia menatap Bram lagi.

“Aku ulangi sekali lagi,” suaranya kini lebih tenang namun justru terasa lebih mengerikan. “Pilih, Bram. Aku… atau dia dan anak itu.”

Bram membeku.

Aku menunduk. Untuk pertama kalinya, rasa takut mengalahkan segalanya. Bukan takut kehilangan Bram…

Tapi takut anakku lahir dalam kebencian.

Waktu terasa berjalan lambat. Detik terasa seperti menit.

Dan akhirnya Bram membuka mulutnya—

***

1
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!