Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Pagi di Manhattan kali ini terasa sangat berbeda. Langit biru jernih tanpa awan, dan udara musim gugur yang segar seolah ikut merayakan keputusan besar yang akan diambil. Di dalam kamar penthouse-nya, Azkara berdiri di depan cermin besar. Ia mengenakan setelan jas berwarna biru gelap yang dijahit khusus, kemeja putih bersih tanpa noda, dan dasi sutra yang ia simpulkan dengan tangan yang sedikit bergetar.
Ia menatap pantulan dirinya. Tato di lehernya masih ada, namun kali ini ia tidak berusaha menyembunyikannya dengan sikap urakan. Ia membiarkan identitas masa lalunya tetap di sana sebagai pengingat, namun sorot matanya kini penuh dengan ketenangan dan tanggung jawab.
"Kau bisa melakukan ini, Az," gumamnya pada diri sendiri.
Di tangannya, ia memegang sebuah kotak beludru merah berisi perhiasan keluarga yang telah turun-temurun, serta sebuah dokumen rencana masa depan yang ia siapkan untuk meyakinkan Adrian Richard bahwa ia tidak hanya datang dengan cinta, tapi juga dengan kesiapan lahir dan batin.
Di kediaman Richard, suasana terasa sedikit tidak biasa. Alana sudah memberi tahu ibunya, Briana, bahwa Azkara akan datang untuk urusan yang sangat penting. Briana, dengan intuisi keibuannya, sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Ia mengenakan gamis elegan berwarna lavender, sementara Adrian duduk di ruang tamu sambil membaca koran pagi, meskipun matanya berkali-kali melirik ke arah jam dinding.
Bel pintu berbunyi tepat pukul sepuluh pagi. Azkara adalah pria yang tepat waktu.
Saat pintu terbuka, Adrian berdiri dan menyambutnya. "Azkara! Kau tampak sangat rapi pagi ini. Ada pertemuan penting dengan investor?"
Azkara menjabat tangan Adrian dengan sangat erat, namun matanya menatap langsung ke mata sang arsitek hebat itu. "Benar, Tuan Adrian. Investor paling penting dalam hidup saya. Dan saya datang ke sini untuk mempresentasikan proyek terbesar yang pernah saya impikan."
Adrian mengerutkan kening sejenak, lalu tersenyum tipis. Ia mempersilakan Azkara duduk. Alana keluar dari arah dapur, mengenakan gaun rumah yang anggun, duduk di samping ibunya. Ruang tamu itu seketika berubah menjadi pengadilan cinta yang sangat sunyi.
Azkara tidak berbasa-basi. Ia meletakkan kotak perhiasan itu di meja marmer di hadapan Adrian.
"Tuan Adrian, Nyonya Briana," Azkara memulai, suaranya berat dan stabil. "Saya datang ke sini dengan segala kerendahan hati. Saya tahu masa lalu saya tidaklah putih bersih. Saya tahu saya pernah menjadi pria yang penuh amarah dan kebencian. Namun, sejak saya bertemu Alana, dunia saya berputar seratus delapan puluh derajat."
Azkara menoleh ke arah Alana sejenak, memberinya tatapan penguat. "Alana telah menunjukkan pada saya apa itu martabat, apa itu kesabaran, dan apa itu cinta yang tulus tanpa syarat. Kemarin, saya sempat menawarkannya pertunangan karena saya ingin melindunginya. Namun, putri Anda adalah wanita yang luar biasa tangguh. Dia memilih untuk langsung menikah dengan saya."
Adrian meletakkan korannya, wajahnya berubah sangat serius. "Menikah? Azkara, apa kau sadar tanggung jawab apa yang kau minta dariku? Alana adalah segalanya bagiku dan Briana."
"Saya sangat sadar, Tuan," jawab Azkara tegas. "Saya tidak hanya meminta tangannya. Saya berkomitmen untuk menjadi pelindungnya, imamnya, dan pendampingnya dalam meraih mimpinya. Saya sudah menyiapkan hunian yang aman, sistem keamanan untuk privasinya sebagai model, dan saya berjanji... demi Tuhan yang menciptakan Alana, saya tidak akan pernah membiarkan air mata kesedihan jatuh dari matanya karena perbuatan saya."
Adrian terdiam cukup lama. Ia menatap Azkara, mencoba mencari setitik saja keraguan atau kebohongan. Namun yang ia temukan hanyalah keberanian yang sama dengan keberanian yang ia miliki saat ia membawa Briana pergi dari New York ke Bali puluhan tahun lalu demi melindunginya dari Dante.
Adrian kemudian melirik Briana. Istrinya itu hanya mengangguk pelan dengan mata yang berkaca-kaca, seolah memberikan restu lewat bahasa kalbu.
"Azkara," suara Adrian kini lebih lembut. "Dulu, aku juga memulai segalanya dari sebuah kesalahan. Aku salah alamat, aku salah melamar, tapi aku tidak pernah salah dalam mencintai ibunya Alana. Aku melihat api yang sama di matamu. Api yang ingin menjaga, bukan menghancurkan."
Adrian bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Azkara. Azkara ikut berdiri, jantungnya berdegup sangat kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya sendiri.
Adrian menepuk bahu Azkara dengan kuat. "Aku menerimamu sebagai menantuku, Azkara. Bukan karena kekayaanmu atau namamu, tapi karena kau berani datang ke sini dan mengakui bahwa kau membutuhkannya untuk menjadi pria yang lebih baik."
Alana seketika menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagianya pecah. Briana langsung memeluk putrinya erat.
"Tapi ingat satu hal," bisik Adrian di telinga Azkara dengan nada bercanda namun tetap mengancam. "Jika kau membuatnya sedih, aku masih punya banyak teman detektif di seluruh dunia untuk mencari mu."
Azkara tertawa haru di tengah ketegangannya yang mencair. "Saya tidak akan memberimu kesempatan untuk melakukan itu, Tuan Adrian. Terima kasih... terima kasih banyak."
Suasana yang tadinya kaku berubah menjadi penuh kehangatan. Briana mendekati Azkara dan memeluknya seperti seorang ibu memeluk putranya sendiri. "Selamat datang di keluarga kami, Azkara. Jaga mutiara kami baik-baik."
"Saya akan menjaganya lebih dari nyawa saya sendiri, Nyonya Briana," janji Azkara tulus.
Mereka kemudian duduk kembali untuk mulai membicarakan persiapan pernikahan. Alana dan Azkara saling bertatapan di seberang meja. Tidak ada lagi rahasia di antara mereka. Kejadian di hotel, racauan mabuk di pinggir jalan, dan semua prasangka buruk kini telah berubah menjadi fondasi yang sangat kuat.
"Jadi," ucap Adrian sambil menyesap kopi yang kini terasa lebih manis. "Kapan kalian ingin melangsungkan akad pernikahan? Aku ingin pesta yang luar biasa, tapi Alana bilang dia ingin sesuatu yang lebih sakral."
"Secepatnya, Ayah," jawab Alana sambil menggenggam tangan Azkara di bawah meja. "Kami ingin memulai semuanya dengan benar."
Azkara tersenyum, sebuah senyum yang sangat manis dan romantis, persis seperti yang dulu diceritakan teman-teman kampusnya. Sisi lembutnya yang sempat terkubur oleh rasa sakit hati kini telah bangkit kembali, jauh lebih dewasa dan terarah.
Malam harinya, setelah Azkara pulang, Alana berdiri di balkon apartemennya. Ia menatap cincin di jarinya yang kini telah direstui oleh kedua orang tuanya. Ia teringat bagaimana perjalanan ini dimulai dengan penuh kebencian.
Azkara meneleponnya tepat saat ia sedang melamun.
"Hai, Calon Istriku," suara Azkara terdengar sangat bahagia di seberang sana.
"Hai, Calon Suamiku," jawab Alana lembut.
"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku saat aku sedang menjadi monster, Alana. Terima kasih sudah memilih menikah denganku saat aku hanya berani memintamu bertunangan."
"Karena aku tahu, Az... di balik semua tato dan kemarahan itu, ada hati yang paling tulus yang pernah kutemui. Aku tidak sabar untuk memulai hidup bersamamu."
Di tengah New York yang tak pernah tidur, dua jiwa yang berbeda kutub itu akhirnya bersatu. Sang model Muslimah yang tangguh dan sang pemberontak Manhattan yang telah menemukan kedamaiannya. Takdir mereka yang sempat berkelok tajam, kini lurus menuju satu tujuan yang pasti: sebuah pernikahan yang dibangun di atas kejujuran, pengampunan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Keluarga Richard kini bukan lagi hanya tentang Adrian dan Briana, tapi juga tentang Azkara dan Alana yang siap menulis sejarah baru mereka di atas aspal New York yang keras namun kini terasa jauh lebih bersahabat.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku