NovelToon NovelToon
Bahu Yang Memikul Langit Prau

Bahu Yang Memikul Langit Prau

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Mengubah Takdir / Keluarga
Popularitas:887
Nilai: 5
Nama Author: Nonaniiss

Sebuah kepingan masalalu pahit dan manis tentang perjuangan hidup sebuah keluarga kecil sederhana di lereng gunung Prau. Luka yang tak bisa sembuh dan kenangan yang tak bisa di hapus, hingga pada akhirnya berdamai dengan luka dan keadaan adalah jalan terbaiknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonaniiss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sepeda Roda Dua dan Janji di Depan Tungku

Waktu terus bergulir, membawa sedikit demi sedikit perubahan pada napas ekonomi keluarga kami. Meski begitu, kata "istirahat" sepertinya telah dihapus dari kamus hidup Ayah dan Ibu. Mereka tidak ingin terjebak dalam rasa cukup yang semu. Mereka tahu betul bahwa untuk benar-benar bangkit, keringat harus tetap mengucur.

Rutinitas subuh mendaki gunung mencari kayu masih ada, namun frekuensinya mulai berkurang. Kini, mereka lebih dominan menghabiskan waktu sebagai buruh di ladang orang. Harapanku sederhana, semoga besok selalu sedikit lebih baik dari hari ini.

Kala itu, dunia anak-anak di desaku sedang digilai oleh satu benda, yaitu sepeda. Hampir semua teman sebayaku sudah memilikinya, kecuali aku. Setiap sore, aku hanya bisa menjadi penonton atau sesekali meminjam sepeda milik Ajan jika ia sedang berbaik hati. Aku menghabiskan energi dengan berlari mengejar teman-temanku yang asyik berputar-putar di tanah lapang.

Sore itu, aku duduk termenung di pinggir lapangan sambil menyeka keringat. Kalau aku punya sepeda sendiri, pasti aku tidak perlu secapek ini berlari, pikirku dalam hati.

Malam harinya, saat kami berempat berkumpul menghangatkan badan di depan tungku api, aku mengumpulkan keberanian. Aku tahu permintaanku ini bisa menjadi beban tambahan di pundak Ayah yang sudah lelah, maka aku menyusun kalimat sehati-hati mungkin.

"Ayah..." panggilku pelan sambil menatap bara api. "Nanti, kalau Ayah sudah punya banyak uang, aku mau dibelikan sepeda, ya? Tapi tidak harus besok kok, kalau sudah punya banyak uang saja."

Ayah berhenti mengorek abu, ia menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Memangnya kamu sudah bisa naik sepeda?" tanyanya datar.

"Belum," jawabku polos.

Ayah terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Ya, kalau nanti Ayah sudah punya uang, ya."

Hanya jawaban singkat, tapi cukup untuk membuatku tidur dengan senyum lebar malam itu. Namun, yang tidak aku sangka adalah kecepatan gerak Ayah. Hanya berselang dua hari setelah percakapan itu, di suatu sore yang cerah, Ayah pulang dengan menuntun sebuah benda yang berkilau terkena cahaya matahari.

Sebuah sepeda baru berwarna biru cerah!

Aku langsung menghambur keluar. Namun, saat kulihat lebih dekat, ada perasaan campur aduk di hatiku. Sepeda itu penuh dengan stiker Barbie, ada keranjang kecil di depannya, dan dua roda pembantu di bagian belakang. Jujur saja, aku tidak terlalu suka gaya yang terlalu "perempuan" seperti itu, tapi mengingat bagaimana cara Ayah mendapatkannya, rasa tidak sukaku langsung terbang tertiup angin.

"Wah! Sepeda!" teriakku kegirangan, mencoba menaikinya meski kakiku masih gemetar.

Ibu keluar dari dapur sambil membawa kain lap, matanya langsung tertuju pada Kakak yang berdiri di sampingku dengan tatapan "ingin tahu" yang mencurigakan. Kami semua tahu, Kakak punya bakat alami sebagai perusak barang. Setiap sepeda yang pernah dibelikan untuknya selalu berakhir tragis karena dipreteli bautnya dengan dalih "sedang menjadi montir".

"Ingat ya, Kak! Ini punya adikmu. Jangan kamu rusak!" tegur Ibu dengan nada mengancam yang serius. "Jangan berani-berani membongkar bautnya lagi!"

Kakak hanya mencibir, tapi aku bisa melihat matanya yang berbinar iri sekaligus gemas melihat sepeda biru itu. Ayah hanya berdiri bersandar di pintu, mengamati kami dengan sisa-sisa lelah di wajahnya yang kini tertutup oleh rasa puas.

Sepeda biru bergambar Barbie itu mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan seleraku, tapi bagiku, itu adalah bukti cinta Ayah yang paling nyata. Setiap putaran rodanya adalah hasil dari setiap ikat kayu yang ia pikul dan setiap cangkul yang ia ayunkan. Sore itu, di halaman rumah yang sempit, aku mulai belajar mengayuh, merasa menjadi anak paling beruntung di dunia karena memiliki seorang Ayah yang selalu berusaha mewujudkan impianku, seberat apa pun beban yang harus ia tanggung.

Sore itu, halaman rumah kami yang biasanya sunyi berubah menjadi sirkuit balap dadakan. Aku terus mencoba mengayuh, meski roda pembantunya sesekali menimbulkan bunyi decit yang beradu dengan tawa teman-temanku.

"Pelan-pelan, Nok! Jangan nabrak pohon pisang!" teriak Ayah dari teras. Ia masih mengenakan kaos lusuh bekas ladang, tapi senyumnya terlihat lebih lepas dari biasanya.

"Lihat, Yah! Aku sudah bisa sedikit!" seruku bangga, meski stang sepedanya masih goyang ke sana kemari.

Kakak mendekat, tangannya sudah gatal ingin memegang keranjang depan. "Bautnya agak longgar ini, Nok. Sini, Kakak kencangkan pakai tang," ujarnya dengan nada sok tahu yang membuatku langsung waspada.

"Jangan!" teriakku dan Ibu hampir bersamaan.

Ibu yang sedang mencuci piring di dekat sumur menyahut keras, "Awas kamu ya, Kak! Sekali baut itu lepas, tanganmu yang Ibu 'baut' nanti!"

Ayah tertawa kecil melihat drama di halaman itu. Ia berjalan mendekatiku, lalu memegang pundakku saat aku berhenti sejenak untuk mengatur napas.

"Sepedanya dirawat, ya. Ini hasil keringat Ayah berhari-hari di bukit," ucap Ayah dengan suara rendah, tapi penuh penekanan.

Aku menatap mata Ayah, lalu beralih ke sepeda biru bergambar Barbie itu. Tiba-tiba, stiker-stiker yang tadinya kurasa terlalu "perempuan" itu tidak lagi penting. Warna biru cerah itu kini bukan sekadar warna, tapi simbol dari kasih sayang seorang pria yang tidak pernah bicara soal cinta, tapi menunjukkannya lewat kerja keras yang luar biasa.

"Terima kasih, Yah. Aku janji akan merawat sepeda ini dengan baik," jawabku mantap sambil menyalami tangannya yang kasar.

Malam itu, sebelum tidur, aku sempat melongok ke luar jendela. Di bawah cahaya lampu teras yang temaram, sepeda biru itu bersandar dengan gagah. Aku menyadari bahwa hidup kami memang masih penuh perjuangan, tapi keberadaan sepeda itu membuktikan satu hal, jika di rumah berdinding papan kayu ini, mimpi seorang anak kecil selalu memiliki tempat untuk menjadi nyata. Aku tertidur dengan perasaan damai, membayangkan besok pagi aku akan mengayuh sepeda itu melintasi kandang kambing galak, dengan kepala tegak dan hati yang penuh syukur.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Zanahhan226: terima kasih, Kak..
🥰🥰
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!