“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
‘’Mending, daripada kamu marah marah. Lebih baik mandi, mungkin bisa mendinginkan perasaan kamu,” ucap Hanan lembut, ‘’Baru setelah itu kita sholat,”
Kayla yang sedang berdiri di dekat meja rias langsung menoleh. Pertanyaan sederhana itu entah kenapa membuat dadanya semakin berdebar.
Mandi, lalu sholat?
Kayla terus mengerjapkan matanya sampai berulang kali. Ajakan mandi dan sholat, membuat pikiran Kayla benar benar tidak bisa diajak kerjasama.
“A—aku... Kamu duluan saja. Aku, itu… aku masih harus menghapus make up!” kata Kayla gugup.
Tangannya bahkan tanpa sadar menyentuh pipinya sendiri, seolah baru ingat wajahnya masih dipenuhi riasan pengantin yang cukup tebal.
“Baiklah,” jawabnya singkat. Hanan tersenyum kecil melihat kegugupan itu.
Ia mengangguk pelan, lalu berjalan menuju kamar mandi sambil membawa pakaian ganti,
Tak lama, pintu kamar mandi pun tertutup perlahan. Kini hanya tersisa Kayla sendirian di kamar itu. Kayla menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
Beberapa detik ia hanya berdiri diam. Lalu ia menghela napas kasar. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang bercampur aduk.
Suasana kamar yang dipenuhi bunga mawar dan cahaya lampu hangat justru membuat pikirannya semakin liar.
Ia berjalan ke arah meja rias. Tangannya mengambil kapas dan cairan pembersih make up.
Namun gerakannya terlihat tidak fokus. Pikirannya justru melayang ke hal lain.
Malam pertama… Kayla menelan ludah. Jantungnya langsung berdegup semakin cepat.
“Apa benar… malam ini aku bakal lepas perawan?” gumam Kayla dalam hati.
Pipinya langsung memerah sendiri. Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya terlihat cantik dengan riasan yang masih tersisa, namun ekspresinya jelas menunjukkan kegugupan.
“Apa aku siap?”
Kayla kembali menghapus make up di pipinya dengan kapas. Namun pikirannya masih terus berputar.
“Tapi gimana?” Pertanyaan itu terus berulang di kepalanya.
Ia bahkan sampai berhenti menghapus make up dan menatap dirinya sendiri di cermin dengan wajah bingung.
“Ya Allah… kenapa jadi kepikiran gini sih…”
Kayla lalu berdiri dari kursinya. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil terus menghapus make up-nya perlahan.
Kadang ia berhenti di dekat jendela. Kadang kembali ke meja rias. Kadang berjalan lagi ke arah tempat tidur yang masih penuh kelopak bunga.
Jantungnya tetap berdebar cepat.
Setiap kali ia mendengar suara air dari kamar mandi, wajahnya langsung memanas lagi. Kayla bahkan sampai menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Aduh… kenapa jadi deg-degan banget gini…”
**
Tak lama, suara pintu kamar mandi akhirnya terbuka perlahan. Uap hangat dari dalam kamar mandi ikut keluar bersama langkah Kayla yang berjalan pelan.
Rambutnya yang panjang masih sedikit basah, tertutup sebagian oleh handuk kecil yang ia usapkan perlahan. Kini ia sudah berganti pakaian yang lebih nyaman sebuah gamis rumah berwarna lembut yang disiapkan oleh pihak hotel.
Wajahnya sudah bersih dari riasan pengantin. Tanpa make up tebal, wajah Kayla justru terlihat lebih natural dan lembut. Ia melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya sedikit.
Namun langkahnya langsung terhenti ketika melihat pemandangan di dalam kamar. Hanan sudah duduk di lantai, tepat di atas sebuah sajadah.
Ia mengenakan sarung, baju koko putih, dan peci hitam yang membuat penampilannya terlihat semakin teduh.
Punggungnya tegak. Kedua tangannya bertumpu di atas paha. Wajahnya terlihat tenang. Di sebelahnya, telah terbentang satu sajadah lagi, lengkap dengan sebuah mukena putih yang dilipat rapi.
Jelas sekali. Hanan sudah menyiapkan itu semua. Kayla berdiri beberapa langkah dari sana, menatap dengan bingung.
“Mas…” panggil Kayla pelan.
Hanan menoleh. Begitu melihat Kayla sudah keluar dari kamar mandi, ia tersenyum lembut.
“Kita sholat dulu ya,” ajak Hanan dengan suara tenang.
Kayla mengerjap bingung. Ia menatap sajadah di lantai, lalu kembali menatap Hanan.
“Sholat apa? Ini kan sudah malam?” tanyanya polos.
“Sholat sunnah,’’
Kayla mengerutkan kening. Ia terlihat sedikit ragu. “Tapi… aku gak tahu, Dan aku gak hafal bacaannya.”
Ucapan itu keluar dengan jujur. Kayla bukan orang yang sangat paham soal ibadah sunnah. Bahkan untuk beberapa bacaan sholat pun ia masih sering lupa.
Ia sempat khawatir Hanan akan kecewa. Namun Hanan justru menatapnya dengan lembut. Tidak ada sedikit pun ekspresi menghakimi di wajah laki-laki itu.
Ia bangkit perlahan dari duduknya. Langkahnya mendekati Kayla dengan tenang.
“Tidak apa-apa,” ucapnya lembut. Kayla mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan Hanan begitu menenangkan. “Kita belajar pelan-pelan, Allah tidak pernah meminta kita langsung sempurna.”
Kayla terdiam. Ia menatap wajah suaminya itu cukup lama.
“Yang penting… kita punya niat dulu,” kata Hanan lagi. “Dan malam ini adalah malam yang baik untuk memulai sesuatu yang baik.”
Kayla menelan ludah pelan. Hanan lalu mengambil mukena yang sudah ia siapkan tadi. Ia menyerahkannya kepada Kayla dengan penuh hormat.
“Kalau tidak hafal, kamu bisa ikut gerakanku saja,” ujarnya sabar. “Nanti aku yang membaca.”
Kayla masih terlihat ragu. Namun entah kenapa, sikap Hanan membuat hatinya terasa lebih tenang. Ia menerima mukena itu perlahan. Tangannya menggenggam kain putih lembut itu.
“Benar… boleh begitu?” tanya Kayla pelan.
Hanan mengangguk.
“Boleh. Karena aku imam kamu.” Lalu ia menambahkan dengan senyum hangat.
Dan ucapan itu membuat dada Kayla terasa hangat. Perlahan ia mulai mengenakan mukena itu. Sementara Hanan kembali duduk di sajadahnya.
Selesai sholat, suasana kamar terasa jauh berbeda dari sebelumnya.
Jika tadi Kayla dipenuhi rasa gugup dan pikiran yang berlarian ke mana-mana, kini hatinya terasa lebih tenang. Ada kehangatan yang perlahan mengalir di dadanya setelah mereka berdiri berdampingan dalam sholat.
Hanan masih duduk di atas sajadahnya, menunduk sejenak memanjatkan doa. Untuk beberapa saat ia hanya memperhatikan. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Hanan beribadah.
‘Dia memang laki laki sempurna,’ gumam Kayla dalam hati. Ia semakin merasa kecil di depan suaminya.
Laki laki itu begitu tenang, Khidmat. Dan penuh kesungguhan.
Tak lama, Hanan menoleh, mengulurkan tangan. Dengan hormat, Kayla meraih tangan itu dan perlahan ia mencium punggung tangan nya.
Sebuah gestur sederhana yang kini terasa berbeda. Karena sekarang… laki-laki itu benar-benar adalah suaminya.
Hanan tersenyum kecil. Dengan lembut ia mengusap ubun-ubun kepala Kayla. Sentuhan itu terasa hangat dan menenangkan.
Lalu Hanan menunduk sedikit. Bibirnya bergerak pelan, membisikkan sebuah doa di dekat kepala Kayla.
“Bismillāh, Allāhumma jannibna asy-syaithāna wa jannibis syaithāna mā razaqtanā.”
Setelah itu ia meniupkan napas lembut. Dan mengecup pelan ubun-ubun Kayla. Sentuhan itu sangat ringan. Namun cukup membuat Kayla memejamkan matanya.
Entah kenapa… ia benar-benar menikmati ketenangan itu. Tidak ada kegugupan yang tadi memenuhi pikirannya. Yang ada hanya rasa hangat dan damai.
Perlahan Kayla membuka matanya lagi. Ia menatap Hanan dengan sedikit penasaran.
“Itu tadi doa apa?” tanya Kayla.
Hanan menatap istrinya dengan lembut.
“Doa yang diajarkan Rasulullah untuk suami istri,” jawabnya tenang. Hanan kemudian menjelaskan dengan sabar. “Artinya… kita meminta kepada Allah agar dijauhkan dari gangguan setan. Dan jika suatu saat Allah memberikan kita keturunan, semoga anak itu juga dijauhkan dari gangguan setan.”
‘K—keturunan? Fiks, aku benar benar akan di garap malam ini. Bahkan dia sudah meminta izin langsung sama Allah,’ jerit Kayla dalam hati dengan jantung yang berdegup sangat kencang.
...💠💠💠...
...Kamar ini, kayaknya gak lama ya Sayang ya. Karena ini hanya edisi Ramadhan. jadi jangan berharap penuh konflik pelakor 🙈 kita cuma cari adem ayem nya aja 🙈🤣...
...Mommy kasih 2 bab hari ini. Anggep aja spesial jumat berkah 😭😭🤣🤣🤣...
aamiin
hmm btw dr semarang nanti ke magelang ya putar balik aku tunggu dirumah🤭
semoga Kayla,Hanan dan Arash baik-baik aja,selamat sampai dirumah tanpa kekurangan apa pun ya😀🙏
memaafkan itu sangat sulit tp Kayla berhasil melakukan nya. sungguh kuad hati mu kay... klo aku ad d posisi mu mgkn udh dr dulu tggal nama 😭😭😭😭
lma...lupain nya ...tau ...