Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13:Aku benci
Bus yang membawaku kembali ke asrama pada hari Minggu di sore hari itu terasa lambat. Sepanjang perjalanan, aku hanya termenung menatap ke luar jendela, melihat deretan pepohonan yang berlari menjauh, seandainya saja aku bisa lari dari kenyataan secepat itu. Bahuku masih terasa kaku dan berat, terbebani oleh sisa perkataan ibu yang kemarin.
"Kamu itu pembawa sial di rumah ini, Hanie. Kembali saja ke asrama sana, datang saja juga nyusahin ajar.Masih bersyukur dibiayai!"
Aku tahu Mak sedang lelah, aku tahu beban hidupnya berat. Namun, sebutan "pembawa sial" seperti paku yang menusuk perih di hatiku. Setiap kali napas ditarik, paku itu terasa memberi luka baru. Aku kembali ke asrama dengan satu-satunya harapan yang tersisa,aku ingin menemui Kak Qasrina. Aku ingin menumpahkan seluruh air mataku di bahunya. Aku ingin berbisik padanya bahwa aku sudah tidak kuat lagi, bahwa benteng yang kubangun sudah runtuh total.
Sesampainya di depan Bilik 7, langkahku terhenti saat telingaku terdengar sesuatu. Pintu kamar sedikit terbuka, menyisakan celah kecil yang membiarkan cahaya dari dalam kamar tumpah ke lorong yang remang. Aku mendengar suara gelak tawa yang riuh dari dalam. Jantungku berdegup kencang saat telingaku menangkap suara yang sangat aku kenal, suara yang selama ini menjadi tempatku bernaung.
"Kalian tahu tidak, Hanie itu sebenarnya sangat membosankan dan merepotkan. Setiap hari sering mengikuti aku ke mana-mana. Kadang-kadang aku kasihan, makanya aku layani saja. Tapi kalau sudah setiap hari mengadu hal yang sama, aku juga risih dan muak dibuatnya."
Itu suara Kak Qasrina. Lembut, namun kali ini nadanya terdengar begitu sinis.
Duniaku serasa berhenti berputar. Aku terpaku di balik dinding, napasku tercekat di tenggorokan. Di dalam sana, Kak Qasrina ternyata sedang duduk bersenda gurau dengan Syasya dan Hilya. Mereka, yang selama ini terlihat bermusuhan di kelas, rupanya tengah "bersatu" di belakangku, merayakan kehancuranku.
"Benar kan, Kak Qas? Dia itu memang seperti itu. Dia pikir hanya dia sendiri yang punya masalah di dunia ini. Dia pikir Kakak benar-benar mau jadi kakaknya apa?" Syasya menimpali, nadanya penuh dengan kemenangan yang memuakkan.
Aku tidak sanggup masuk. Aku berbalik arah dengan kaki yang lemas, lalu berlari sekencang mungkin menuju gudang di belakang blok asrama yang sunyi dan berdebu. Aku duduk meringkuk di antara tumpukan barang-barang lama yang sudah dilupakan, memeluk lututku kuat-kuat seolah-olah sedang berusaha menyatukan kepingan tubuhku yang mulai hancur.
Aku mengeluarkan cermin kecil itu dari saku. Cermin yang selama ini menjadi saksi bisu setiap kali aku diremehkam oleh Arif, setiap kali ibu memarahiku tanpa alasan. Aku menatap pantulan wajahku sendiri yang sudah basah oleh air mata yang tak terbendung.
"Kamu bodoh, Hanie... kamu bodoh karena percaya ada orang yang benar-benar menyayangimu,emangnya aku bisa mengharap apa pada manusia?!" bisikku dalam isak tangis yang kucoba redam agar tidak terdengar oleh siapapun.
Pada saat itu, aku merasa seluruh dunia sudah benar-benar gelap. Tidak ada lagi cahaya. Amani pergi, Syasya memanfaatkanku, ibu membenciku, dan sekarang... Kak Qasrina pun hanya menganggapku sebagai beban dihidupnya.
Namun, di tengah semua rasa sakit ini, ada satu wajah yang terus menghantui pikiranku dengan rasa benci yang mendarah daging Arif dan Devian Azka. Jika ada satu alasan yang membuat hatiku jauh lebih sakit saat memikirkan Azka, itu adalah fakta bahwa dia memiliki sepasang mata berwarna hazel yang indah, namun digunakan untuk memandangku seolah-olah aku adalah kotoran di bawah sepatunya.Jahat itu yang bisa ku terbitkan dibibir.
Ada satu kejadian yang membuatku sangat sakit hati padanya sebelum akhir pekan ini. Di kantin, ketika aku sedang duduk sendirian, Azka mendekat. Dengan mata hazel-nya yang berkilat nakal, dia meletakkan sebuah ponsel di depanku. Dia menunjukkan sebuah video pendek yang diambil secara sembunyi-sembunyi saat aku sedang menangis di belakang perpustakaan minggu lalu.
"Lihat ini, Hanie. Bagus kan videonya? Aku pikir mau kukirim ke grup kelas. Supaya semua orang tahu seberapa sering 'drama queen' kita ini membuat drama" bisiknya dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.
Yang membuatku paling sakit hati bukan hanya ancamannya, tapi bagaimana dia bisa memiliki hati sebusuk itu. Dia tahu aku tidak punya siapa-siapa untuk membelaku. Mata hazel itu,yang sering dipuji-puji oleh siswi lain bagiku adalah mata iblis yang paling menyeramkan. Dia sengaja menghancurkan reputasiku sedikit demi sedikit, menikmati setiap tetes air mataku yang jatuh sebagai hiburan pribadinya. Aku masih tertanya-tanya bagaimana dia bisa diidamkan banyak siswi dengan sikapnya yang kurang ajar itu.Dia adalah penghancur kehidupan bahagiaku yang tersisa paling , orang yang memastikan bahwa tidak ada satu hari pun bagiku untuk bernapas dengan tenang di sekolah ini.Sama saja dengan si Arif brengsek itu.
Aku mengangkat cermin kecil itu tinggi-tinggi. Rasanya aku ingin sekali menghantamkan cermin itu ke lantai semen yang keras, membiarkannya hancur berkeping-keping sebagaimana hatiku saat ini. Namun, aku tidak melakukannya. Dengan tangan gemetar, aku hanya mampu mencium permukaan kaca cermin yang dingin itu sambil tersedu-sedu.
"Tolonglah... aku juga manusia biasa yang ingin merasakan dicintai dan diperlukan tanpa syarat..."
Malam itu, aku kembali ke Bilik 7 dengan wajah yang kosong, hampa dari segala emosi. Ketika Kak Qasrina menegurku dengan suaranya yang lembut dan "palsu" itu, aku hanya mampu mengangguk pelan. Tidak ada lagi keinginan untuk bercerita. Tidak ada lagi keinginan untuk mengadu.
Karena aku akhirnya sadar, di dunia yang kejam ini, tempat yang paling aman untuk menyimpan air mataku hanyalah pada diriku.Tidak ada satu pun manusia yang benar-benar ikhlas untuk menadah dukaku. Aku menyadari satu hal yang paling pahit: manusia tidak akan selalu ada untuk kita. Mereka datang saat kita berguna, dan pergi saat kita membutuhkan.Dan aku harus belajar menerima itu.
Aku merebahkan tubuhku di kasur, menatap langit-langit kamar yang gelap. Dinginnya malam di asrama ini seakan meresap ke dalam tulang-tulangku. Mulai saat ini, aku akan menutup hatiku rapat-rapat. Biarlah cermin ini saja yang tahu rahasia hidupku. Karena di setiap penderitaan yang harus kujalani, pengkhianatan inilah yang paling ingin aku hapus dari ingatanku.