NovelToon NovelToon
Chasing Her, Holding Him

Chasing Her, Holding Him

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / One Night Stand / Tamat
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.

Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

​"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."

Bagi Pricillia Carolyna Hutapea, aroma parfum Danesha Vallois Telford adalah peta jalan hidupnya. Mereka telah berbagi oksigen yang sama sejak jemari mereka masih belepotan krayon di taman kanak-kanak.

Sekarang, di usia 20 tahun, peta itu tidak berubah, namun medannya terasa jauh lebih curam.

Malam itu, Danesha berbaring melintang di tempat tidur Pricillia, rutinitas menginap yang sudah dianggap legal oleh kedua orang tua mereka. Sambil menatap langit-langit kamar, Danesha bercerita.

"Pris, lo ingat Clarissa? Yang kemarin putus sama gue? Ternyata dia cuma mau rebound doang. First kiss gue sama dia bahkan rasanya hambar," gumam Danesha santai, seolah sedang membahas cuaca.

Pricillia hanya bergumam "hmm" sambil pura-pura sibuk membolak-balik diktat kuliah Hukum mereka. Di dalam dadanya, ada sesuatu yang retak, tapi dia sudah ahli dalam merekatnya kembali sebelum Danesha sempat melihat. Itulah kutukan menjadi sahabat terbaik.

Kamu mendapatkan kejujuran tanpa filter, termasuk detail tentang bibir wanita lain yang pernah ia sentuh.

Kehidupan kampus di semester ini terasa berbeda. Danesha, dengan segala pesona blasteran-nya yang ceroboh namun memikat, menemukan obsesi baru. Namanya Evangeline Geraldine Mantiri. Populer, cantik dengan aura ningrat, dan berada di fakultas yang sama dengan mereka.

"Lihat dia, Pris," Danesha menyikut lengan Pricillia saat mereka berada di kantin. Matanya berbinar, jenis binar yang tidak pernah ditujukannya pada Pricillia. "Gue bakal dapatin dia. Apapun caranya."

Pricillia mengikuti arah pandang Danesha. Evangeline sedang dikelilingi teman-temannya, tampak seperti pusat semesta.

"Dia tipe lo banget, Dan," jawab Pricillia pendek. Suaranya stabil, sebuah prestasi yang patut diberi penghargaan.

"Bukan cuma tipe, dia itu tujuan akhir gue. Lo bantuin gue, ya? Lo kan pinter baca situasi," pinta Danesha sambil merangkul bahu Pricillia erat.

Pricillia tersenyum tipis. Senyum yang menyembunyikan fakta bahwa setiap langkah yang Danesha ambil menuju Evangeline adalah satu langkah menjauh dari kemungkinan mereka.

Minggu-minggu berikutnya adalah siksaan yang manis bagi Pricillia. Dia membantu Danesha memilih kado untuk Evangeline, memberikan saran pesan singkat apa yang harus dikirim, bahkan mendengarkan Danesha mengeluh saat Evangeline bersikap dingin.

Pricillia berdiri di garis belakang, menjadi penopang saat Danesha lelah mengejar. Di dalam hatinya, ada mantra yang selalu ia rapalkan setiap malam sebelum tidur,

Jika bahagianya adalah dia, maka bahagiaku adalah melihatnya bahagia.

Sebuah kalimat klise yang ternyata jauh lebih sulit dipraktikkan daripada diucapkan. Pricillia mencintai Danesha dengan cara yang paling sunyi, mencintai tanpa menuntut, memeluk tanpa memiliki, dan patah hati tanpa pernah bersuara.

Lampu kamar sudah diredupkan, hanya menyisakan pendar hangat dari lampu meja di sudut ruangan. Di atas kasur yang sama, jarak antara Pricillia dan Danesha seolah lenyap, menyisakan ruang yang sangat privat, ruang yang bagi Danesha adalah zona nyaman, namun bagi Pricillia adalah medan tempur untuk hatinya.

Danesha tertawa lepas setelah menceritakan betapa konyolnya dia saat mencoba menyapa Evangeline di perpustakaan tadi siang. Tanpa peringatan, dia menjatuhkan kepalanya di paha Pricillia, menatap sahabatnya itu dari bawah dengan cengiran khasnya.

"Pris, lo harus liat muka gue tadi. Sumpah, kayak orang bego banget di depan dia. Lo kok nggak ketawa sih?" Danesha mulai usil, jemarinya tiba-tiba menyelinap ke arah pinggang Pricillia dan memberikan gelitikan maut.

"Dan! Berhenti! Hahaha... geli, Dan!" Pricillia memekik, tubuhnya meliuk berusaha menghindari serangan tangan Danesha.

Mereka akhirnya berguling-guling di atas kasur, saling menyerang dengan tawa yang memenuhi ruangan.

Dalam satu gerakan cepat, Danesha menarik tubuh Pricillia agar berhenti bergerak, memeluk pinggangnya erat dari samping hingga punggung Pricillia menempel pada dada Danesha.

"Diem dulu, capek gue ketawa mulu," bisik Danesha, nafasnya yang memburu terasa hangat di tengkuk Pricillia.

Tangannya masih melingkar protektif di pinggang gadis itu, seolah itu adalah posisi paling alami di dunia.

Pricillia membeku. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. Bau sabun mandi Danesha yang segar menyerang indranya. Di posisi ini, dia bisa merasakan setiap detak jantung laki-laki itu.

"Pris..." gumam Danesha lagi, suaranya melembut.

"Menurut lo, Evangeline bakal suka nggak ya kalau gue bawain bunga mawar putih besok? Gue denger itu bunga favoritnya."

Pricillia memejamkan mata rapat-rapat. Dia ingin berteriak bahwa dia juga suka bunga, bahwa dia ada di sini, memeluknya lebih erat dari siapapun.

Namun, yang keluar dari bibirnya justru dukungan yang tulus.

"Dia bakal suka, Dan. Siapa sih yang nggak suka diperhatiin segininya sama lo?" suara Pricillia parau, hampir hilang.

Danesha mengeratkan pelukannya di pinggang Pricillia, menenggelamkan wajahnya di bahu sahabatnya itu.

"Makasih ya, Pris. Gue nggak tahu harus gimana kalau nggak ada lo. Lo emang sahabat terbaik gue selamanya."

Pricillia hanya bisa menatap dinding kamar yang gelap, membiarkan jemarinya mengusap tangan Danesha yang melingkari pinggangnya. Dia ikut bahagia karena Danesha bahagia, meski itu berarti dia harus terus menjadi penonton dalam kisah cinta orang yang paling dia cintai.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰🥰🥰

1
Retno Isusiloningtyas
mdh2an happy ending
Retno Isusiloningtyas
mmm....
masih nyimak 🤣
Paon Nini
sinting
falea sezi
ngapain ngintil mulu g ada krjaan mending prgi sejauh nya lah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!