Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perencanaan
Perjalanan mengalir begitu saja—konvoi mobil-mobil super car melintasi jalanan yang mulai sepi saat malam turun.
Lampu kota perlahan menghilang di belakang mereka, digantikan oleh kegelapan pinggiran yang hanya diterangi lampu jalan sesekali.
Mansion mewah pinggiran kota muncul di kejauhan—bangunan tiga lantai dengan arsitektur modern minimalis, dinding kaca luas yang memantulkan cahaya bulan, halaman luas dengan taman yang terawat sempurna.
Pagar besi tinggi dengan sistem keamanan canggih membuka otomatis saat mereka mendekat—facial recognition yang sudah menyimpan data mereka semua.
Satu per satu mobil masuk ke halaman mansion, parkir dengan formasi yang rapi di garasi bawah tanah yang bisa menampung dua puluh mobil.
Rafael turun dari BMW i8 Kimberly, meregangkan tubuh yang sedikit pegal setelah duduk lama.
Mansion ini—tempat dimana semuanya dimulai.
Tempat dimana mereka pertama kali berkumpul untuk merencanakan operasi melawan organisasi kriminal.
Tempat yang penuh dengan kenangan—baik manis maupun pahit.
Hari ini Rafael sudah mengatur semua jadwalnya dengan detail.
Tidak ada yang spontan.
Semuanya terencana dengan baik.
***
Pertama—diskusi dengan tim untuk mengatur segalanya dengan lebih baik.
Diskusi tentang AGE, tentang dampak kembalinya Rafael ke publik, tentang strategi jangka panjang.
Tapi harus bertahap.
Tidak bisa sekaligus.
***
Kedua—mengunjungi rumah keluarga Jefferson.
Thomas Jefferson yang memberikan segalanya saat Rafael pertama kali tiba di Amerika tanpa apa-apa selain mimpi dan tekad.
Thomas yang mendaftarkan Rafael di Greenwich Preparatory School—sekolah elite yang biaya masuknya saja bisa membeli rumah mewah.
Thomas yang memberikan apartemen untuk Rafael tinggal—apartemen di Upper East Side Manhattan yang disewa tahunan dengan harga yang membuat orang biasa pusing.
Thomas yang memberikan dukungan tanpa reserve, yang mengajarkan Rafael tentang saham, tentang dunia investasi, tentang bagaimana mengubah uang menjadi lebih banyak uang.
***
Ketiga—mengunjungi makamnya sendiri.
Ironi yang aneh tapi perlu.
Rafael perlu melihat nisannya, perlu meminta penjaga makam untuk mencabutnya. Karena dia tidak mati.
Dan nisannya tidak seharusnya ada di sana.
***
Terakhir—mengunjungi AGE.
Kantor yang dia bangun, perusahaan yang dia dirikan dari nol.
Meskipun sekarang dia bukan lagi yang menjalankan operasional—dia tetap founder.
Dan founder perlu melihat apa yang terjadi dengan perusahaannya.
***
Mansion Pinggiran Kota – Ruang Keluarga.
Mereka semua berkumpul di ruang keluarga—ruangan luas dengan sofa-sofa mewah berbentuk U menghadap ke fireplace besar yang menyala dengan api yang hangat.
Dinding kaca besar menampilkan pemandangan taman dengan kolam renang yang airnya berkilau di bawah lampu underwater.
Rafael duduk di sofa tengah.
Kimberly di sebelah kanannya, Ryzen di kiri.
Zen berdiri di belakang sofa dengan tangan dilipat.
Kael duduk di single sofa dengan postur tegap, tablet di tangannya siap mencatat.
Seraph duduk dengan kaki dilipat di bawahnya—posisi yang elegant tapi casual.
Aurelia bersandar di dinding dengan mata yang fokus.
Adrian duduk di lantai, di depan Ryzen. seperti anak kecil yang manja ke orang tuanya.
Draven duduk di lantai. Dia lebih nyaman di sana daripada di sofa yang terlalu kecil untuk tubuh mereka.
***
Kael membuka diskusi—suaranya tenang tapi tegas, seperti komandan yang memberikan briefing.
"Rafael kembali," katanya langsung to the point.
"Tapi dia tidak bisa kembali dengan normal. Harus melalui gebrakan yang lebih besar."
Semua mata tertuju padanya.
"Dengan munculnya Rafael melalui konferensi pers tadi," Kael melanjutkan,
"itu sudah menjadi salah satu gebrakan besar. Tapi itu baru awal. Rafael sudah tidak bisa kembali seperti dulu yang low profile. Publik sudah tahu dia. Media sudah meliput dia. Sekarang setiap gerakannya akan diawasi."
Rafael mendengarkan tanpa ekspresi. Dia sudah expect ini.
"Gaya hidup Rafael harus ditingkatkan," kata Kimberly sambil mengeluarkan tablet dari tasnya.
Dia membuka beberapa foto.
"Gue sudah membelikan mobil yang sesuai dengan image Rafael sekarang."
Layar tablet menampilkan foto McLaren 765LT Spider berwarna hitam metalik—supercar dengan design yang aggressive, spoiler besar di belakang, body kit carbon fiber yang membuat mobil terlihat seperti predator yang siap menerkam.
"McLaren 765LT Spider," kata Kimberly dengan nada bangga.
"765 horsepower. 0-100 km/h dalam 2.8 detik. Top speed 330 km/h. Ini mobil yang menggambarkan Rafael—kuat, cepat, dan tidak bisa diabaikan."
Mereka semua mengangguk—menyetujui pilihan ini.
Ryzen bahkan tersenyum tipis.
"Good choice. Rafael harus sering-sering menggunakan mobil ini. Image is everything sekarang."
"Dan bukan hanya mobil," tambah Seraph sambil membuka laptopnya.
Dia menampilkan foto-foto properti.
"Saat ini penghasilan AGE sudah lebih dari banyak. Revenue tahunan menembus 2 miliar dollar. Net profit hampir 800 juta. Rafael deserve lifestyle yang matching dengan status itu."
Layar laptop menampilkan foto mansion modern dengan design yang futuristik—dinding kaca luas, infinity pool di rooftop, home theater pribadi, gym lengkap, wine cellar.
"Riverdale Modern Estate di pinggiran New York," kata Seraph.
"Luas tanah 5 hektar. Bangunan utama 12.000 square feet. 7 kamar tidur, 9 kamar mandi, 4 living room, private office dengan sound proofing sempurna."
Dia menggeser layar—menampilkan foto sistem keamanan.
"Security state-of-the-art. Facial recognition di setiap pintu. Motion sensor di seluruh perimeter. Panic room dengan dinding reinforced steel. CCTV dengan AI yang bisa detect threat sebelum terjadi."
Seraph menatap Rafael. "Ini tempat tinggal yang cocok buat lo. Lo butuh privasi. Butuh keamanan yang ketat. Dan butuh ketenangan. Tidak ada tempat yang lebih cocok dari Riverdale."
Dia menutup laptop dengan bunyi klik yang final.
"Tenang. Seluruh fasilitas sudah lengkap. Furniture sudah dipilih sesuai taste-lo—modern minimalis dengan aksen kayu. Smart home system yang bisa dikontrol dari smartphone. Bahkan kulkas sudah diisi penuh. Tinggal menempati."
Rafael menatap foto mansion itu dengan perasaan campur aduk.
Ini bukan yang dia inginkan.
Tapi mungkin ini yang dia butuhkan.
Lalu Kael bicara lagi—dan kali ini nada bicaranya lebih serius.
"Terakhir—dan ini yang paling penting," katanya sambil menatap Rafael langsung.
"Rafael tidak bisa kembali lagi ke AGE. Tidak untuk menjadi CEO."
Rafael mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena timing-nya salah," jawab Kael dengan logika yang cold tapi accurate.
"Jika Rafael ingin kembali menjabat—tidak sekarang. Tidak saat AGE masih dalam tahap pertumbuhan."
Kimberly menambahkan dengan suara yang lebih lembut.
"AGE sekarang sedang dalam fase ekspansi brutal. Kami sedang membangun kantor baru—gedung 80 lantai di tengah Manhattan. Kami sedang negotiate dengan puluhan perusahaan untuk partnership. Kami sedang launching produk-produk baru setiap bulan."
Dia menatap Rafael dengan mata yang serius.
"Kalau lo kembali sekarang sebagai CEO—media akan fokus pada comeback story-lo. Bukan pada produk kami. Bukan pada growth kami. Semua spotlight akan tertuju ke lo. Dan itu akan distract dari tujuan utama—membuat AGE menjadi perusahaan terbesar di dunia."
"Tunggu saat AGE sudah benar-benar besar dan layak," kata Ryzen.
"Tunggu sampai kami finish kantor baru. Tunggu sampai revenue tembus 10 miliar. Baru lo masuk sebagai CEO dengan grand entrance yang epic."
Rafael ingin protes.
Mulutnya terbuka—tapi Seraph memotong.
"Rafael, please," katanya dengan nada yang jarang dia gunakan—serious, no flirtation.
"Serahin AGE ke kita. Kita yang akan handle. Kita yang akan grow. Kita yang akan make sure perusahaan ini jadi monster yang unstoppable."
Kael menambahkan,
"Lo masih punya hak untuk mengatur dan melihat dokumen penting. Lo masih bisa ikut campur sebagai founder. Tapi day-to-day operations—leave it to us."
Aurelia bicara untuk pertama kalinya malam ini—suaranya dingin tapi persuasive.
"Yang harus lo lakukan hanya menikmati hidup lo saja. Sekolah. Belajar. Trading—karena itu passion-lo yang sebenarnya."
Zen menambahkan dengan suara yang rendah,
"Sejujurnya kita udah tau alasan lo mendirikan AGE, lo mendirikan perusahaan itu bukan atas kemauan lo sendiri. Tapi atas tuntutan untuk setara dengan Salma. Untuk membuktikan bahwa lo worthy untuk berdiri di sampingnya."
Keheningan.
Rafael merasakan kata-kata itu menusuk tepat di ulu hatinya. Karena itu benar.
AGE bukan mimpinya.
AGE adalah tools untuk mencapai mimpinya—Salma.
Dia menghela nafas panjang. Lalu mengangguk pelan.
"Oke," katanya.
"Gue pasrah. AGE di tangan kalian."
Mereka semua tersenyum—relief terlihat jelas di wajah mereka.
"Diskusi berhenti sampai di sini," kata Kael sambil mematikan tabletnya.
"Kita semua butuh istirahat. Besok kita lanjutkan dengan planning detail."
***
Satu per satu mereka bangkit. Draven dan Adrian pergi duluan. Kael dan Aurelia pergi bersama—berbisik tentang sesuatu yang tidak terdengar. Zen menepuk pundak Rafael sebentar sebelum pergi dengan Ryzen.
Kimberly dan Seraph yang terakhir. Kimberly memeluk Rafael dari samping—quick hug—lalu berbisik, "Welcome home."
Seraph hanya tersenyum—senyum yang sedikit berbeda dari biasanya.
Ada sesuatu di matanya yang membuat Rafael sedikit uncomfortable.
Tapi dia mengabaikannya.
***
BERSAMBUNG...