NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Panggilan dari Hutan Sanubari

Keajaiban medis yang disaksikan para dokter di ruang UGD menyisakan tanda tanya besar bagi mereka. Namun bagi Rian, itu adalah jawaban atas doa yang terus ia bisikkan dalam hati di tengah rasa kalut yang luar biasa. Setelah kondisi Aruna dinyatakan stabil sebuah pemulihan yang dianggap mustahil, ia segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif yang lebih tenang.

Ruangan itu hanya diterangi cahaya lampu yang redup. Hanya ada suara napas Aruna yang teratur dan bunyi detak jantung dari layar monitor yang kini terasa sangat menenangkan di telinga Rian. Suara itu adalah bukti bahwa Aruna masih di sini, bersamanya. Pak Baskara sedang di luar, sibuk mengurus kepolisian dan memastikan "tikus" yang menyerang Aruna tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi sebagai orang bebas.

Rian mendekat ke sisi tempat tidur dengan langkah berat. Ia masih mengenakan kemeja yang sama. Kemeja yang kini terasa kaku dan kasar karena noda darah Aruna yang mulai menghitam. Ia tidak peduli betapa berantakan penampilannya saat ini. Matanya hanya tertuju pada wajah Aruna yang mulai menunjukkan sedikit rona merah, tidak lagi terlihat sepucat saat ia memeluknya di lantai marmer tadi.

Dengan tangan yang masih gemetar, Rian duduk di kursi plastik samping tempat tidur. Ia meraih tangan Aruna yang bebas dari selang infus, lalu menggenggamnya seerat mungkin. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat tangguh dan tenang ini merasakan ketakutan yang begitu hebat sampai-sampai ia sulit bernapas.

"Kamu hampir membuatku gila, Aruna," suara Rian tak jelas, terdengar berat dan serak seolah ia baru saja berteriak selama berjam-jam.

Rian berdiri dan memeluk tubuh Aruna dengan sangat hati-hati, seolah gadis itu adalah kaca retak yang bisa hancur kapan saja. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Aruna, menghirup aroma melati yang tipis dan menenangkan. Wangi khas Hutan Sanubari yang entah bagaimana masih tertinggal di sana, seolah kekuatan alam itu baru saja selesai membalut luka Aruna.

Rian memejamkan mata rapat-rapat dalam posisi itu. Di tengah keheningan, seluruh tembok tinggi yang ia bangun untuk menjaga profesionalitasnya runtuh begitu saja. Ia tidak lagi peduli pada tugasnya sebagai penjaga atau urusan Adiwangsa. Di detik itu, ia akhirnya mengakui pada dirinya sendiri bahwa dunianya akan benar-benar kiamat jika Aruna tidak ada di dalamnya.

"Jangan lakukan itu lagi," gumam Rian di balik pelukan itu.

"Jangan pernah berpikir untuk pergi tanpaku. Aku belum siap melepaskanmu."

Rian tidak tahu apakah Aruna bisa mendengarnya, namun tepat saat itu, ia merasakan jemari Aruna memberikan remasan sangat tipis pada tangannya. Hanya sebentar, namun cukup untuk membuat jantung Rian berdegup kencang karena bahagia.

Perlahan, kelopak mata Aruna bergerak. Ia seolah baru saja ditarik kembali ke dunia setelah tenggelam dalam rasa sakit yang begitu menyesakkan. Namun, bukannya aroma obat-obatan, hal pertama yang ia rasakan justru kehangatan dari seseorang yang sedang memeluknya dengan sangat erat. Sebuah pelukan yang terasa seolah takut kehilangannya.

"Rian...?" suara Aruna hampir tak terdengar, serak dan sangat lemah.

Rian terdiam sesaat, tak berani bergerak karena takut suara itu hanya khayalannya saja. Ia segera menarik diri dan menatap wajah Aruna dengan tatapan yang bergetar hebat. Ada sisa ketakutan di matanya, namun kini mulai tenggelam oleh rasa syukur yang luar biasa. Melihat mata Aruna yang akhirnya terbuka, pertahanan Rian hampir hancur lagi. Namun, ia segera tersadar saat melihat Aruna sedikit meringis menahan sakit di perutnya.

​"Aruna! Kamu sadar? Tunggu, jangan banyak bergerak dulu," ucap Rian cepat, suaranya masih terdengar bergetar.

Tanpa membuang waktu, Rian menekan tombol darurat di samping tempat tidur berkali-kali. Tak sampai semenit, suara langkah kaki yang cepat dan terburu-buru menutupi keheningan koridor, menandakan bantuan medis telah tiba di depan pintu.

"Dokter! Suster! Dia sudah sadar! Cepat periksa kondisinya!" teriak Rian setengah memerintah saat dokter jaga dan dua orang perawat masuk ke ruangan dengan tergesa.

​Rian terpaksa mundur beberapa langkah untuk memberi ruang bagi tim medis. Ia berdiri di sudut ruangan, kedua tangannya terkepal kuat sementara matanya tidak sedetik pun lepas dari sosok Aruna yang kini mulai dikerubungi dokter. Meskipun hatinya masih ingin memeluk gadis itu dan memastikan ia tidak akan pergi lagi, Rian tahu bahwa saat ini keselamatan Aruna adalah prioritas adalah

Aruna menoleh lemah ke arah Rian di tengah pemeriksaan dokter. Meskipun tubuhnya terasa sangat sakit, melihat wajah Rian yang kotor dan berantakan karena dirinya membuat Aruna memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya yang kering. Senyum yang seolah mengatakan bahwa ia telah kembali dari gerbang Sanubari demi pria itu.

Jantung Rian berdegup kencang, seolah-olah ritmenya mencoba menyamai bunyi bip pada monitor di samping tempat tidur Aruna. Senyum tipis itu meskipun terlihat lemah dan dipaksakan. Terasa lebih mematikan bagi pertahanan diri Rian daripada peluru mana pun.

Sial, apa aku benar-benar jatuh cinta padanya? Rian bergumam dalam hati, merasakan dadanya sesak oleh pengakuan yang selama ini selalu ia hindari.

Kesadaran itu menamparnya dengan keras, membuat Rian merasa sangat bodoh. Selama ini ia berbohong pada diri sendiri bahwa segala bentuk perhatiannya hanyalah bagian dari pekerjaan. Namun, rasa sesak yang hampir mencekiknya saat melihat Aruna berlumuran darah tadi tidak bisa lagi ia tutupi dengan alasan profesionalitas. Itu bukan lagi soal melindungi klien, melainkan ketakutan luar biasa kehilangan seseorang yang tanpa ia sadari telah menjadi pusat dunianya.

"Ehem."

Tepukan di bahunya membuyarkan Rian dari lamunan. Seketika tubuhnya menegang; insting yang sudah tertanam selama bertahun-tahun hampir membuatnya melayangkan serangan balasan, sebelum akhirnya matanya mengenali siapa yang sedang berdiri di hadapannya.

"Pak Baskara," gumam Rian, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat terlihat emosional.

Pak Baskara menatap Rian dengan tatapan yang sulit diartikan di balik kacamatanya. Ia melihat kemeja Rian yang berantakan, lalu beralih menatap tangan Rian yang masih sedikit gemetar. Pengacara tua itu tidak berkata apa-apa soal kegelisahan Rian, namun sorot matanya menunjukkan bahwa ia paham betul apa yang baru saja terjadi di ruangan ini.

"Dokter bilang kondisinya adalah sebuah keajaiban," ucap Pak Baskara pelan, suaranya tetap tenang meski ada gurat kelelahan yang dalam di wajahnya. "Dan keajaiban itu tidak akan sampai ke rumah sakit ini jika kamu tidak bergerak secepat tadi, Rian."

Rian hanya terdiam, matanya kembali melirik ke arah Aruna yang masih diperiksa dokter.

​"Polisi sudah membawa direktur itu," lanjut Baskara sambil memberikan sebuah map kecil. "Tapi ada yang aneh. Sebelum diseret keluar, dia terus mengoceh soal 'perintah terakhir' dari Baron. Sepertinya penusukan ini bukan sekadar aksi nekat karena dendam pribadi. Baron sudah menyiapkan skenario ini sebagai rencana cadangan jika dia benar-benar terdesak."

Rian mengerutkan kening, rasa waspadanya kembali muncul, menenggelamkan gejolak asmaranya untuk sementara. "Maksud Bapak, masih ada ancaman lain?"

Pak Baskara mengangguk pelan dengan ekspresi yang sangat serius. "Kita harus memperketat pengamanan di sini. Sampai Aruna benar-benar pulih, jangan biarkan siapa pun mendekati ruangan ini tanpa seizinku. Termasuk mereka yang mengaku sebagai keluarga jauh Adiwangsa."

Rian mengangguk tegas. Sorot matanya yang tadinya sempat rapuh, kini berubah menjadi sedingin es dan penuh kewaspadaan.

"Pintu ini tidak akan terbuka untuk siapa pun, Pak," ucap Rian dengan suara yang kembali rendah dan mengancam. "Kali ini, saya pastikan tidak akan ada satu orang pun yang bisa mendekati Aruna, apa pun caranya."

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!