"Bagimu, Ibu adalah surga. Tapi bagiku, caramu berbakti adalah neraka yang menghanguskan masa depan anak kita."
Disa mengira pernikahannya dengan Abdi adalah akhir dari perjuangan, namun ternyata itu awal dari kemelaratan yang direncanakan. Abdi adalah suami yang sempurna di mata dunia anak yang berbakti, saudara yang murah hati. Namun di balik itu, ia diam-diam menguras tabungan pendidikan anak mereka demi renovasi rumah mertua dan gaya hidup adik-adiknya yang parasit.
Saat putra mereka, Fikri, butuh biaya pengobatan darurat, barulah Disa tersadar: Di dompet Abdi, ada hak semua keluarganya, kecuali hak istri dan anaknya sendiri.
Kini, Disa tidak akan lagi menangis memohon belas kasih. Jika berbakti harus dengan cara mengemis di rumah sendiri, maka Disa memilih untuk pergi dan mengambil kembali setiap rupiah yang telah dicuri darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bakti Suami Derita Istri
Malam hari pukul 19.30 WIB.
Disa membuka pintu kontrakan dengan langkah yang jauh lebih mantap. Aroma parfum kantor yang elegan masih samar menempel di kemejanya, memberikan rasa percaya diri yang tidak pernah ia rasakan selama tiga tahun terakhir.
Namun, baru saja satu langkah kakinya masuk, aura dingin langsung menyambutnya.
Di ruang tamu yang lampunya sengaja tidak dinyalakan, Abdi duduk bersandar di kursi kayu. Hanya cahaya dari ponsel di tangannya yang menerangi wajahnya yang tampak kaku dan merah padam.
"Dari mana saja kamu?" suara Abdi terdengar berat, menahan ledakan amarah.
Disa menyalakan lampu ruang tamu tanpa menjawab. "Dari kantor lahMas. Jam segini kan memang jamnya pulang kerja karena aku ambil lembur."
"Amel telepon sambil nangis-nangis!" Abdi berdiri suaranya mulai naik. "Dia bilang kamu sudah gila! Kamu menghina dia di depan umum, bahkan bawa-bawa pengacara. Kamu juga berani ancam dia soal penjara? Apa-apaan ini, Disa?!"
Disa meletakkan tas kerjanya di meja dan menoleh perlahan. "Amel nangis? Ya baguslah Mas kan setidaknya dia masih punya air mata setelah selama ini tertawa di atas penderitaanku. Dan soal ancaman itu... itu bukan ancaman, Mas karena aku bicara fakta. Siapa pun yang memakai uang asuransi anakku untuk gaya hidup, memang tempatnya di penjara."
"Cukup!" Abdi menghantam meja dengan telapak tangannya. "Kamu jangan sok tahu soal keuangan keluarga! Dan satu lagi, siapa yang kasih kamu izin bawa Fikri ke kampung? Kamu sengaja menjauhkan Fikri dari aku dan Ibuku, kan?"
Disa tertawa getir. Tawa yang sangat pendek tapi menusuk. "Izin? Mas, saat Fikri butuh lima juta buat deposit rumah sakit dan kamu bilang uangnya nggak ada karena buat bayar cicilan mobil Amel, di mana izin kamu sebagai ayah? Aku bawa Fikri ke tempat yang aman, ke tempat yang makanannya terjamin, bukan ke tempat yang ibunya harus puasa supaya anaknya bisa makan nasi."
Abdi terdiam sejenak, wajahnya kaku. Ia mencoba mencari celah lain. "Tetap saja! Besok Ibu dan Andi mau ke sini. Kamu harus minta maaf sama Amel dan jelaskan semuanya!"
"Aku nggak ada waktu buat ngobrol sama parasit, Mas. Besok kan aku kerja," jawab Disa sambil melangkah menuju dapur.
Di dapur, Disa mulai mengeluarkan bahan makanan yang ia beli sore tadi. Bukan lagi telur satu butir atau mie instan. Ia mengeluarkan potongan daging sapi segar dan sayuran hijau yang mahal. Ia mulai memasak untuk dirinya sendiri.
Aroma daging yang gurih memenuhi ruangan kontrakan yang sempit itu.
Abdi, yang perutnya hanya terisi kopi sejak siang karena uang di dompetnya menipis, mengikuti Disa ke dapur. Perutnya bergejolak mencium aroma masakan itu.
"Enak ya, bisa makan daging sendirian sementara suamimu lagi pusing?" sindir Abdi sambil bersandar di pintu dapur.
Disa membalik daging di atas penggorengan dengan tenang. "Enak banget lah Mas. Daging ini harganya setara dengan uang jajan Andi yang kamu kasih kemarin. Rasanya jauh lebih nikmat daripada rasa sabar yang selama ini aku telan."
"Disa! Kamu benar-benar sudah berubah jadi wanita materialistis ya sejak kerja lagi!"
Disa mematikan kompor dan menatap Abdi tepat di matanya. "Bukan materialistis, Mas. Tapi realistis karena selama tiga tahun aku jadi istri yang sholehah versimu. Aku nurut, aku diam, aku kelaparan, aku biarkan gajimu dikuras keluargamu. Hasilnya apa? Anakku masuk rumah sakit dan kamu nggak punya uang sepeser pun."
Disa mengangkat piringnya, hendak membawanya ke meja makan. "Sekarang, aku cari uang sendiri. Nutrisi yang masuk ke tubuhku adalah hasil keringatku. Kalau Mas lapar, silakan telepon Ibu kamu Mas mintalah daging ke beliau, kan Mas sudah setor lima belas juta bulan ini?"
Abdi merasa wajahnya seperti ditampar bolak-balik. "Kamu... kamu benar-benar mau perang sama aku?"
"Aku nggak perang, Mas. Aku cuma lagi melakukan audit," bisik Disa tepat di samping telinga Abdi sebelum melangkah pergi. "Dan sejauh ini, saldo kesetiaanku padamu sudah minus besar. Jangan kaget kalau sebentar lagi aku akan melakukan penagihan total."
Disa duduk di meja makan, menikmati makan malamnya dengan tenang meski Abdi menatapnya dengan penuh kebencian dari kejauhan. Di dalam kamarnya nanti, Disa sudah berencana menghubungi Pak Baskara lagi.
Ia tidak akan membiarkan esok hari berjalan sesuai keinginan Abdi. Jika Abdi ingin membawa "pasukan" keluarganya ke sini besok siang, maka Disa akan menyiapkan penyambutan yang tidak akan pernah mereka lupakan seumur hidup.
"Silakan datang mah untuk besok, Silakan datang dan semua adiknya mas Abdi juga. Aku sudah menyiapkan 'tagihan' yang harus kalian bayar", batin Disa sambil menyuap potongan daging terakhirnya.
Sementara itu, Abdi duduk di ruang tamu, perutnya perih dan kepalanya pening. Ia merasa otoritasnya sebagai kepala keluarga sudah hancur lebur. Ia mengambil ponselnya, mengetik pesan ke grup keluarga besarnya.
Abdi: "Ibu, Andi, besok jangan lupa ke sini jam 12 siang. Disa sudah nggak bisa dikasih tahu baik-baik. Kita harus buat dia tunduk lagi sebelum dia makin melunjak."
Abdi tidak tahu, bahwa besok bukan Disa yang akan tunduk, melainkan rahasia besarnya yang akan meledak di depan wajah ibunya sendiri.
Selesai makan, Disa tidak mencuci piringnya yang kotor di wastafel. Ia membiarkannya begitu saja. Saat Abdi hendak masuk ke kamar, Disa menahan pintu kamar utama.
"Mulai malam ini Mas tidur di sofa. Kamar ini aku yang bayar cicilan kasurnya lewat uang tabunganku yang dulu pernah kamu pinjam dan nggak pernah balik. Jadi, silakan keluar."
Abdi ternganga. "Disa! Ini kamarku juga!"
"Kamar ini milik orang yang bayar, Mas dan saat ini kamu cuma tamu yang menunggak sewa batin di hidupku." Ucap Disa dan langsung masuk kedalam kamar lalu menutup serta mengunci dari dalam.