"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.
"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"
Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.
"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.
"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.
Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.
Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.
Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?
Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS
Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemas
Jery, Irwan, Anton ketua federasi dan Malik ketua panitia turnamen juga Jeny berdiri mengelilingi Ambar yang duduk di kursi dengan kepala tertunduk.
"Ini peringatan untuk mu, Ambar. Semoga sanksi dari federasi membuatmu merenungi kesalahanmu."
Ambar tertunduk makin dalam mendengar penjelasan Anton. Tangannya saling menggenggam--dingin. Sesekali ia menyeka air mata.
"Karena sudah jelas dinyatakan di diskualifikasi, Ambar bisa pulang pak Jery, " ujar Malik.
"Baik, Pak." Jery mengangguk tegas.
"Ambar kamu bisa pulang. Kalau memang orang tua mu perlu penjelasan, kabari saya. Saya akan mampir ke rumah setelah pertandingan hari ini. Tapi...sebaiknya kamu sendiri yang menceritakan masalah ini pada mereka."
Ambar mengangguk lemah, lalu berdiri.
"Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan saya ini. Terima kasih sudah memberikan keringanan sanksi untuk saya. Saya akan merenungi kesalahan saya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Saya mohon pamit, " ujar Ambar lesu, lalu membungkuk pada para tetua di hadapannya.
"Pulanglah, Terima kasih sudah berlatih keras. Semoga kamu semakin lebih baik di moment turnamen berikutnya, " timpal Irwan.
Jery menepuk pundak Ambar pelan, dan menyuruhnya mengambil tas untuk pulang.
Beberapa rekannya hanya menatap kecewa dari kejauhan. Semakin berkurang perwakilan dari kota mereka. Setelah Jeny...lalu Ambar. Yang akhirnya terbukti bersalah memberikan doping dengan dosis tinggi di minuman Jeny. Hasil tes dan pengakuannya menjadi bukti kuat.
"Saya mohon ijin tetap di sini, Pak. Setidaknya untuk mendampingi dan membantu melatih teman-teman yang bertanding. Saya tak ingin nenek saya kecewa kalau melihat saya tak hadir di turnamen, " ijinnya pada Malik.
"Baik, itu terserah kamu saja, " sahut Malik. Lalu minta ijin untuk kembali bertugas.
"Jadi, untuk sanksi Jeny bisa di pastikan pak Anton hanya diskualifikasi turnamen ini saja?" tanya Jery dengan tatapan penuh harap.
"Betul, pak Jery. Saya yang akan menjamin kalau ada miskom di belakang hari. Jeny juga membantu mengungkap pelakunya. Saya juga tak percaya kalau Jeny pakai doping. Performanya selalu bagus meski bukan turnament. Jeny memang karateka sejati, " ujar Anton sambil menepuk pelan pundak Jeny.
Jeny tertunduk malu. "Terima kasih, pak Anton. Saya sangat menghargai usaha Bapak. Saya berharap cuma kali ini terjadi di Dojo kami."
"Tidak apa-apa Jeny, kemampuanmu sudah diakui pak Walikota. Kebetulan saja ada kejadian seperti ini. Sebaiknya diusut lagi alasan utama Ambar melakukan itu padamu."
"Baik, Pak Irwan. Terima kasih atas kepercayaannya. Nanti sambil saya bicarakan lagi dengan Sinpei Jery."
Irwan dan Anton meninggalkan mereka berdua untuk kembali mengawasi pertandingan.
"Jadi, siapa yang menyuruh Ambar melakukan itu, Jen? Dia bicara padamu? "
Jeny mengangguk, tatapannya penuh kesedihan dan kekecewaan. Ia menghela nafas panjang.
"Mona, putri bungsu pak rektor, Sinpei."
Jery tertegun, "Ada urusan apa dia sampai menyuruh Ambar melakukan itu? "
"Aku tak tahu pasti, tapi kemungkinan ada kaitannya dengan Gilang. Karena Mona menyukai Gilang."
Jery ternganga. "Gilang yang membantumu mengklarifikasi soal kejadian sepatu di Dojo waktu itu? "
Jeny mengangguk. Jery menggeleng heran.
"Bagaimana kita mengusut soal ini? apa perlu aku laporkan pada Pak Herman? "
Jeny terdiam, dia ingin sekali membuat Mona jera. Kejadian sebelumnya hanya berlalu begitu saja. Tapi ia belum punya ide yang pas untuk membuat perempuan itu berhenti mengganggunya.
"Sinpei, apa boleh kasus ini aku viralkan di kampus? kebetulan aku sempat membujuk Ambar untuk membuat pengakuan, dia juga mengirim bukti transfer dari kakaknya Mona. Kalau aku langsung lapor ke pak rektor pasti kasus ini tenggelam begitu saja dan dia berulah lagi menargetku. "
"Jeny, pertimbangkan beasiswamu. Kamu jangan berkonfrontasi dengan pejabat kampus, terlalu beresiko. Aku cenderung langsung lapor ke Yayasan. Rektor pasti tak berkutik."
"Baik, Pak. Aku coba pikirkan caranya, agar laporan itu sampai ke yayasan."
Jery mengangguk, "Kalau begitu gantikan pak Irwan mengawasi kumite putri."
"Os, Sinpei."
Jeny membuka atasan baju karatenya , lalu bergegas menghampiri Irwan.
***
'Sial, Erwin belum ada kabar lagi, ' hardik Gilang dalam hati.
Ia menatap jam di layar handphonenya dengan gelisah. Tertulis jam dua belas yang berarti jam empat sore di dalam negeri. Buku di hadapannya masih tergeletak menganggur.
Mona juga sudah pergi meninggalkannya bertemu dospem sendiri. Gilang menolak tegas saat Mona merengek minta di temani bimbingan.
Saat ditanya dia berbuat ulah atau tidak, Mona buru-buru merapikan berkasnya. Ia tak menjawab, seolah tak mendengar pertanyaan Gilang.
Ponsel Gilang bergetar di atas meja.
"Halo Win, bagaimana? "
"Lang, Ambar pelakunya. Tapi kata Jeny dia juga disuruh seseorang dan dijanjikan bayaran uang. Jeny sudah memaafkan Ambar, karena Ambar juga akhrinya di diskualifikasi dan kena sanksi tak bisa ikut turnamen. Masih untung ia tak kena denda."
"Lalu Jeny?"
"Hanya diskualifikasi turnamen kali ini saja. Beruntung Jeny bisa membuktikan dia tak bersalah. Tapi panitia tak memberi toleransi, karena hasil tesnya jelas positif."
Gilang tertunduk lesu, dia ikut kecewa karena ia tahu Jeny berlatih keras untuk turnamen kali ini.
"Baiklah, bagaimana denganmu? Lolos? "
"Ya, untuk hari ini perwakilan kota kita semuanya berhasil melewati babak penyisihan pertama. Masih ada beberapa hari lagi."
"Aku do'akan kalian semuanya berhasil, setidaknya untuk mengobati kesedihan Jeny."
"Betul, Sinpei juga berkata begitu pada kami tadi. Kasihan Jeny, tapi dia tetap bertahan disini mendampingi kami. Ia tak mau neneknya sedih tahu dia tak bertanding."
"Oh ya, soalnya sebelumnya aku masih penasaran sampai sekarang. Apa Jeny sudah menanyakan pada Boby, benar dia yang menyebarkan berita itu? "
"Aku yang bertanya langsung pada Boby. Jeny sudah tahu, tapi dia menolak bercerita. Boby mengakuinya dan minta maaf padaku. Tapi pada Jeny sepertinya belum. Mereka sudah berbulan-bulan tak bicara, baru tadi aku sempat melihat dari jauh mereka berdua bicara serius."
"Apa motif Boby menceritakan soal itu pada Mona? "
"Dia tak mungkin mengaku, aku sudah menanyakannya. Tapi aku curiga satu hal."
"Apa itu? " tanya Gilang cepat.
"Boby sepertinya....menyukai Jeny."
DEG
Nafas Gilang tercekat, jantungnya berdetak cepat. Ada desir kesal dalam hatinya... tapi ada rasa mengerti kenapa hal itu bisa terjadi.
Jeny pernah cerita pada Gilang. Sejak kejadian pembulyan dan kasus sepatu waktu lalu, Boby yang paling sering melindungi dan menjaga Jeny dibanding teman kecilnya yang lain.
Boby yang bertubuh lebih besar dan tinggi selalu berdiri di depan Jeny melawan setiap pembuly. Ia juga yang mengajak Jeny untuk bergabung dengan Dojo karate sekolah mereka.
Jadi, Gilang merasa maklum jika rasa itu bisa tumbuh di hati Boby. Tak ada persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan, apalagi pertemanan sejak kecil seperti Jeny dan teman-temannya.
"Lang, Gilang, " panggil Erwin memecah lamunannya.
"Eh, iya sori. kenapa? "
"Aku tutup dulu, kami mau kumpul untuk evaluasi sebelum pulang."
"Oke siap, kabari lagi ya kalau ada apa-apa."
"Oke, Sip."
TUTTUTTUT
Gilang menekan tombol merah pada layar.
Ada perasaan hampa dihatinya. Ingin sekali ia menghubungi Jeny, tapi ia tahu bukan sekarang. Mungkin malam siang atau nanti setelah Jeny sampai dirumah.
Krucuuuk~~
Gilang memegang perutnya yang berbunyi keras. Akhirnya ia melangkah keluar dari perpustakaan menuju kafe depan kampus setelah membereskan bukunya ke dalam tas. Perutnya sudah memanggilnya minta diisi.