Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Takut dan Marah
Motor Aditya baru saja berhenti tepat di depan rumah ketika Kiara langsung turun.
Bukan turun-
melompat.
Langkahnya tergesa, hampir berlari, napasnya masih belum teratur. Pintu pagar dibuka tanpa basa-basi, suara besinya beradu cukup keras sampai membuat Bu Rina yang sedang menyapu teras menoleh kaget.
“Kiara?” panggil ibunya.
Biasanya, Kiara akan menjawab.
Biasanya, Kiara akan tersenyum kecil, atau setidaknya mengangguk.
Biasanya, Kiara tidak pernah masuk rumah tanpa salam.
Tapi kali ini....
Kiara sama sekali tidak berhenti.
Ia melewati ruang tamu begitu saja, tasnya masih menggantung di bahu, sepatu bahkan belum dilepas.
“Kiara, Nak?” suara Bu Rina terdengar lagi, kali ini lebih khawatir.
Rafa yang sedang duduk di lantai sambil bermain ponsel mendongak. “Kak Kiara kenapa?”
Tidak ada jawaban.
Sky melayang mengikuti Kiara dari belakang, ekspresinya tegang. Aditya yang baru mematikan mesin motor ikut masuk, langkahnya ragu, matanya mengikuti punggung Kiara yang semakin menjauh.
Kiara sampai di depan kamarnya.
Membuka pintu.
Masuk.
BAM.
Pintu ditutup keras.
Kunci diputar.
Sunyi.
Bu Rina berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Sapunya berhenti di udara. “Itu… kenapa Kiara?”
Aditya menghela napas pelan. Ia menggaruk tengkuknya, jelas kebingungan. “Aku juga nggak tahu, Tante. Tadi di rumah sakit… dia mendadak kayak gitu.”
“Rumah sakit?” ulang Bu Rina cepat.
“Iya. Temannya Kiara, Bima, lagi dirawat.”
Mata Bu Rina langsung berubah. “Dirawat? Sakit apa?”
Aditya membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia benar-benar tidak tahu harus menjelaskan dari mana. “Aku… jujur nggak ngerti juga. Kiara baik-baik aja selama di jalan. Tapi begitu lihat temannya keluar dari ruang rawat… dia langsung pucat. Gemetar. Terus minta pulang.”
Bu Rina menelan ludah. “Bima… yang sering main ke sini itu?”
“Iya, Tante.”
Bu Rina hendak bertanya lagi, tapi sebelum satu kata pun keluar-
“Bu.”
Suara Kiara terdengar dari balik pintu kamarnya.
Pelan.
Tapi tegas.
“Tolong… jangan bahas apa pun dulu.”
Ada jeda.
Nada suara itu bukan nada anak remaja yang ngambek.
Itu suara seseorang yang sedang menahan diri agar tidak runtuh.
Bu Rina terdiam. Tangannya mengepal pelan. “Iya, Nak,” jawabnya akhirnya. “Ibu ngerti.”
Rafa menatap pintu kamar kakaknya dengan wajah bingung. “Kak Kiara kenapa sih…”
Bu Rina mengusap kepala Rafa. “Main dulu di kamar kamu, ya.”
Aditya berdiri beberapa detik lagi, menatap pintu kamar Kiara seolah ingin mengetuk, tapi akhirnya mengurungkan niatnya. Ia tahu, kalau Kiara mengunci diri seperti itu, berarti ia butuh ruang.
----
Malam turun perlahan.
Lampu ruang makan menyala. Aroma masakan memenuhi rumah, tapi satu kursi tetap kosong.
Kiara tidak keluar.
Pak Rahmat baru pulang tak lama kemudian. Ia melepas sepatu dan duduk di meja makan, menatap sekeliling. “Kiara belum pulang?”
Bu Rina menuangkan nasi ke piring. “Sudah.”
“Terus?”
Bu Rina melirik ke arah kamar Kiara. “Dia lagi nggak enak badan.”
Pak Rahmat berhenti menyendok. “Sakit?”
“Lebih ke… capek.”balas Bu Rina.
Pak Rahmat mengangguk pelan. Ia mengenal putrinya. Terlalu baik, terlalu diam, dan terlalu sering memendam. Jika Kiara memilih mengurung diri, itu bukan hal sepele.
“Biarin dulu,” kata Pak Rahmat akhirnya. “Nanti Ibu cerita.”ujar sang istri.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Karena ia tahu...
putrinya itu tidak sedang mengalami masa pubertas seperti remaja biasanya.
Makan malam berlangsung tanpa banyak bicara. Rafa sesekali menoleh ke arah lorong kamar. Aditya ikut makan, tapi pikirannya jelas tidak di meja itu.
Sementara itu...
Di balik pintu kamar yang terkunci....
Kiara berbaring di tempat tidurnya, tubuhnya sepenuhnya terbungkus selimut. Seolah jika ia tidak melihat apa pun, dunia di luar sana akan berhenti mengejarnya.
Napasnya perlahan mulai teratur, tapi dadanya masih terasa sesak. Bayangan mata merah itu masih jelas. Terlalu jelas.
Sky berdiri di samping tempat tidur.
Diam.
Ia tidak mencoba menghibur.
Tidak bertanya.
Tidak memaksa Kiara bicara.
Ia hanya ada.
Dan entah kenapa, itu jauh lebih berarti.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang berat.
Lalu Sky akhirnya membuka suara.
“Kiara…”
Nada suaranya rendah.
“Aku minta maaf.”
Tubuh Kiara langsung menegang di balik selimut.
Sky menunduk sedikit, tangannya mengepal tanpa sadar. “Sejak aku muncul… hidup kamu berubah. Kamu jadi lihat hal-hal yang seharusnya nggak perlu kamu lihat.”
Ia tertawa kecil, hambar. “Aku datang bawa kekacauan. Dan sekarang… kamu harus lihat itu.”
Kiara diam. Tapi rahangnya mengeras.
“Aku nggak pernah berniat-”
“Berhenti.”
Selimut itu bergerak. Kiara duduk, wajahnya pucat tapi matanya menyala dengan emosi yang tertahan.
Ia menatap Sky langsung.
“Jangan.”
Sky terdiam.
“Jangan minta maaf atas sesuatu yang bukan kendali kamu,” lanjut Kiara, suaranya bergetar tapi tegas. “Kamu mati. Itu bukan pilihan kamu.”
Sky membuka mulut, tapi Kiara tidak memberinya kesempatan.
“Aku juga nggak minta kamu datang. Tapi kamu datang. Dan aku bisa lihat kamu. Itu juga bukan salah kamu.”
Kiara menghela napas kasar. “Aku bukan marah sama kamu, Sky.”
“Terus…?”
Kiara menunduk, jemarinya mencengkeram seprai. “Aku marah sama diriku sendiri.”
Sky menegang. “Kenapa?”
“Karena aku tahu.”
Suaranya pecah.
“Aku tahu apa yang terjadi sama Bima. Aku lihat. Aku sadar. Tapi aku nggak bisa ngelakuin apa-apa.”
Matanya berkaca-kaca. “Aku cuma berdiri di sana. Takut. Gemetar. Dan pulang.”
Ia tertawa kecil, pahit. “Hebat banget, kan? Bisa lihat dunia lain tapi nggak bisa nolong siapa pun.”
Sky mendekat, suaranya lembut. “Kiara…”
“Kalau aku nggak bisa apa-apa,” lanjut Kiara, air matanya akhirnya jatuh, “terus gunanya semua ini apa?”
Kamar itu sunyi lagi.
Sky berdiri di depan Kiara. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ekspresinya bukan bercanda atau santai.
“Dengerin aku,” katanya pelan. “Kamu belum gagal.”
Kiara mengangkat wajahnya.
“Kamu cuma belum tahu caranya,” lanjut Sky. “Dan percaya atau nggak… fakta kalau kamu masih hidup, masih di sini, dan masih peduli—itu mungkin alasan kenapa kamu yang bisa lihat.”
Kiara mengusap matanya kasar. “Aku takut.”
“Wajar,” jawab Sky jujur.
“Dan aku marah,” tambah Kiara.
“Lebih wajar lagi.”
Kiara terdiam lama. Lalu akhirnya berkata pelan, hampir seperti janji pada dirinya sendiri.
“Tapi aku nggak mau lari terus.”
Sky tersenyum tipis. “Itu baru Kiara.”
Di luar kamar, rumah tampak tenang.
Tapi Kiara tahu....
Ketenteraman itu rapuh.
Karena genderuwo itu tahu ia bisa melihat.
Dan sesuatu yang tahu…
tidak akan tinggal diam.