Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
“Ya, Tuan. Saya segera bangun dan menemui Anda di ruang kerja,” kata Ranra setelah berupaya membuat suaranya terdengar sedikit serak, meyakinkan Hugo bahwa ia benar-benar baru terbangun.
“Saya tidak suka menunggu, jadi sebaiknya kamu bergegas.”
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki menjauh dari pintu kamar Ranra.
“Anda tidak bisa keluar sekarang. Tunggu di ruang ganti.” Ranra menarik tangan Karina menuju sebuah pintu di dekat lemari besar, lalu dengan lembut mendorongnya masuk. “Saya akan kembali, tapi jangan keluar sebelum saya kembali.”
Tanpa menunggu jawaban Karina, Ranra pun bergegas pergi.
Karina menatap pintu yang telah tertutup, lalu berbalik mengamati ruangan itu. Ruang ganti berukuran sedang tersebut dipenuhi sepatu, tas, dan pakaian-pakaian yang tampak asing untuk manusia zaman sekarang.
“Apa itu?” Karina menyipitkan mata ke arah sebuah kotak abu-abu berukuran sedang yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Kotak itu pasti milik Ranra, tetapi rasa penasaran membuatnya tak mampu menahan diri untuk tidak membukanya.
Ia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi.
Demon silence mulai kehilangan pijakan, itu pantas mereka dapatkan.
Andamon pergi dengan marah, membawa kutukan anak suci di malam kehancuran.
Rasanya menyenangkan melihat mereka harus bersembunyi padahal dulu adalah yang terkuat.
Kemana anak suci pergi? Apa dia mati? Apa dia musnah?
Karina memahami bahasa yang digunakan dalam tulisan itu, tetapi ia tidak mengerti maknanya.
Demon Silence? Andamon? Siapa mereka? Karina mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin, seolah ada embusan angin yang baru saja melewatinya. Ia menoleh ke belakang, namun tak ada siapa pun di sana.
“Kenapa aku merasa tidak asing dengan Demon Silence dan Andamon?” gumam Karina pelan. Ia tidak bisa mengingat di mana pernah mendengar kedua nama itu, tetapi perasaannya mengatakan bahwa ia pernah mengetahuinya.
Karina kemudian mengambil lembar kertas kedua dan mulai membacanya dengan saksama.
Mansion merah mulai kehilangan warna, pemimpin Demon silence meminta agar ingatan segera dipulihkan.
Ingatannya sudah hilang, itu yang terbaik. Dia tidak seharusnya datang, dia harus pergi.
Karina yakin sekali kata ‘dia’ dalam tulisan ini merujuk padanya, karena ia yang telah kehilangan ingatan meskipun ia tidak tahu ingatan yang mana yang hilang.
Entah sudah berapa lama Karina duduk membaca dan berusaha memahami isi tulisan itu. Ia seolah terlena, seperti akhirnya menemukan sesuatu yang pernah hilang.
“Karina.” Ranra membuka pintu dengan tergesa-gesa, lalu menutupnya kembali secepat mungkin.
“Apa ini, Ranra?” tanya Karina sambil mengangkat kertas dari dalam kotak.
Ranra melangkah mendekat, melirik kertas di tangan Karina. “Itu sesuatu yang seharusnya kamu ketahui. Tapi karena kamu melupakannya, tak ada gunanya aku menjelaskannya sekarang.”
“Siapa Demon Silence? Siapa Andamon?” Karina mengabaikan perkataan Ranra dan tetap bertanya.
“Itu cerita panjang,” jawab Ranra pelan. “Aku hanya bisa mengatakan sedikit. Demon Silence adalah keturunan vampir setelah pecahnya perang besar antar tiga klan.” Ia merebut kertas-kertas dari tangan Karina dan memasukkannya kembali ke dalam kotak. “Mereka tidak sehaus darah para vampir, tetapi jauh lebih kejam dan licik.”
Karina berdiri, menatap wajah Ranra yang pucat. “Apakah Hugo Demon Silence?”
Ranra segera menutup kotak itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Ia lalu mengambil sebuah jubah hitam bertudung dari dalam lemari.
“Jawab aku, Ranra. Apakah semua orang di rumah ini Demon Silence? Dan apa maksudnya turunan vampir?” desak Karina.
“Ya. Tuan Fuller adalah seorang Demon Silence,” jawab Ranra lirih sambil menyerahkan jubah hitam itu pada Karina. “Pakai ini dan pergilah.”
“Apa kamu juga seorang Demon Silence?” tanya Karina.
Ranra menggeleng. “Bukan.”
“Lalu kamu siapa?”
“Aku bukan siapa-siapa.”
Jawaban itu terdengar ambigu, membuat Karina merasa tidak puas.
“Kenapa kamu menolongku?” tanya Karina sambil mengenakan jubah hitam tersebut.
“Karena menolongmu sama dengan menolong diriku sendiri.”
“Aku masih tidak mengerti. Makhluk apa sebenarnya Demon Silence itu? Apa yang membuat mereka berbeda dari vampir?”
“Kamu tidak akan mengerti sekarang, Karina,” ujar Ranra, enggan menjelaskan lebih jauh. “Yang terpenting, kamu harus pergi dan bersembunyi dari para Demon Silence.”
“Ayo, kita harus cepat. Malam ini satu-satunya kesempatan untuk pergi,” kata Ranra sambil mengulurkan tangannya. Karina ragu sejenak, menatap telapak tangan Ranra yang gemuk, lalu beralih ke wajahnya. Senyum tipis selalu terpatri di sana, misterius dan sulit ditebak.
Namun, karena ia memang harus pergi, Karina akhirnya meletakkan tangannya di atas telapak tangan Ranra.
Ranra memejamkan mata sejenak, lalu membawa Karina ke sudut ruangan, tempat sebuah meja bundar berdiri. Ia menggeser meja itu, menyingkap sebuah lubang yang cukup besar untuk dilalui manusia. Karina langsung tahu, itu jalan menuju bawah tanah.
“Masuklah. Kamu hanya perlu berjalan lurus. Saat menemukan persimpangan, belok ke kiri, lalu kamu akan melihat tangga yang mengarah ke atas. Itulah jalan keluar. Kamu akan tiba di belakang pagar rumah ini setelah keluar dari sana. Pergilah ke arah timur dan carilah rumah tanpa pintu. Masuklah melalui satu-satunya jendela. Seseorang akan mengenalimu dan membantumu pergi,” jelas Ranra. Ia melepaskan tangan Karina dan mengangguk, memberi isyarat agar Karina segera berangkat.
“Bagaimana denganmu? Kalau Hugo tahu, dia akan membunuhmu.” Karina ragu meninggalkannya di sana.
“Dia tidak akan tahu. Akan ada seseorang yang bertanggung jawab atas hilangnya kamu,” jawab Ranra dengan senyum menenangkan.
“Tapi—”
“Mengorbankan seseorang bukanlah hal bijak,” potong Ranra, seolah tahu apa yang hendak Karina katakan. Dengan suara rendah, ia menambahkan, “Pergilah. Saat ingatanmu kembali, kamu akan berterima kasih atas apa yang kulakukan hari ini.”
“Terima kasih, Ranra,” ucap Karina pelan, sebelum akhirnya masuk ke dalam lubang itu dengan enggan.
Setelah Karina tak lagi terlihat, Ranra menggeser meja kembali ke tempat semula. Senyumnya perlahan melebar, berbeda dari biasanya. Ia lalu melangkah keluar ruangan, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor