Sebuah peristiwa nahas menghancurkan hidup Leon dalam sekejap. Bukan hanya tubuhnya yang kehilangan fungsi, tapi juga harga diri, masa depan, dan perempuan yang pernah ia cintai sepenuh hati. Sosok yang dulu dikenal sebagai CEO muda paling gemilang di kota itu kini terkurung di balik dinding kamar, duduk di kursi roda, ditemani amarah dan rasa hampa yang tak pernah pergi.
Kepribadiannya berubah menjadi dingin dan kasar. Setiap perawat yang ditugaskan akhirnya menyerah, tak satu pun sanggup bertahan menghadapi kata-kata sinis dan ledakan emosinya. Hingga suatu hari, hadir seorang suster baru. Gadis muda dengan sikap lembut, namun menyimpan keteguhan yang tak mudah runtuh.
Ia merawat Leon bukan sekadar menjalankan kewajiban, melainkan menghadirkan kesabaran, kehangatan, dan secercah cahaya di tengah hidupnya yang gelap. Namun, akankah ketulusannya cukup untuk meruntuhkan benteng hati Leon yang telah membeku? Ataukah ia akan bernasib sama. Pergi, meninggalkan Leon. dalam keterpurukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Pertemuan ditaman
Nayla sedang bersiap-siap untuk kembali membawa pasiennya ke ruang perawatan, tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar dari belakang.
“Maaf… apakah saya mengganggu?”
Nayla menoleh. Seorang wanita paruh baya berdiri tak jauh darinya. Penampilannya rapi dan berwibawa, namun sorot matanya menyimpan kelelahan yang jelas terlihat.
“Tidak, Nyonya,” jawab Nayla sopan sambil tersenyum. “Ada yang bisa saya bantu?”
Wanita itu memperhatikan Nayla beberapa detik, seolah memastikan sesuatu, lalu berkata, “Saya memperhatikan cara Anda menangani pasien ini. Anda sangat telaten.”
Nayla sedikit terkejut. “Terima kasih, Nyonya. Saya hanya menjalankan tugas saya.”
Wanita itu tersenyum tipis. “Tetap saja, tidak semua orang melakukannya dengan hati.”
Ia kemudian mengulurkan tangan. “Perkenalkan, saya Gabriella Mahesa. Biasanya dipanggil Gaby.”
“Nayla Aurelia,” jawab Nayla sambil membalas jabatan tangan wanita itu dengan hormat.
Gaby melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Nayla. “Apakah saya boleh berbicara sebentar? Kalau tidak mengganggu pekerjaanmu.”
Nayla menoleh ke arah pasiennya, memastikan semuanya aman. “ Pak, Nyonya ini ada perlu sama saya, kita duduk lagi sebentar ya pak" Nayla terlebih dahulu meminta izin pada pasien nya. Tanpa diduga, Pria itu mengangguk tanda setuju.
Mereka akhirnya duduk kembali dikursi panjang itu.
Gaby langsung membuka pembicaraan, “Terus terang, Nayla, saya mendekatimu bukan tanpa alasan.”
Nayla mendengarkan dengan sikap profesional.
“Saya baru kali ini pergi ketaman ini,” lanjut Gaby. “Dan hari ini, saya melihat bagaimana kamu bersikap pada pasienmu. Bukan hanya cekatan, tapi juga sabar.”
Nayla tersenyum kecil. “Saya memang sering ke sini, Nyonya. Membawa pasien saya agar tidak bosan karena terlalu lama didalam sana," ucap Nayla sambil menunjuk rumah sakit yang berada diseberang taman. "Dan menjadi perawat adalah pilihan saya.” lanjut nya.
Gaby mengangguk pelan. “Kamu pasti punya alasan kuat memilih profesi ini.”
Untuk sesaat Nayla terdiam, lalu menjawab jujur, “Saya tinggal dengan ayah saya. Beliau sakit cukup serius, jadi… pekerjaan ini sangat berarti bagi saya.”
“Sakit apa ayahmu?” tanya Gaby lembut.
“Gagal ginjal stadium lanjut,” jawab Nayla lirih. “Beliau harus cuci darah rutin. Saat saya bekerja, bibi saya yang menjaga beliau.”
Ada getar halus di suara Nayla, meski wajahnya berusaha tetap tenang.
Gaby terdiam. Kalimat itu menampar perasaannya. Ia tahu betul betapa beratnya kondisi seperti itu baik secara fisik maupun finansial.
“Nayla,” ucap Gaby setelah beberapa saat, “saya ingin bicara terus terang.”
Nayla menatapnya penuh perhatian.
“Putra saya, Leon, mengalami kecelakaan sebulan lalu,” lanjut Gaby. “Sejak itu, ia lumpuh dan emosinya berubah drastis. Banyak perawat yang tidak sanggup bertahan.”
Nayla mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Saya membutuhkan seseorang yang bukan hanya profesional, tapi juga sabar dan kuat,” kata Gaby jujur. “Dan hari ini, saya melihat itu pada dirimu.”
Nayla terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat.
“Saya ingin menawarkan pekerjaan padamu,” sambung Gaby. “Menjadi perawat pribadi Leon di rumah. Dengan bayaran yang layak, dan jika kamu bersedia, tinggal di rumah kami.”
Tawaran itu terasa begitu besar, hampir menakutkan.
“Saya tahu ini mendadak,” ujar Gaby cepat, “dan saya tidak memaksa. Saya hanya berharap kamu mau mempertimbangkannya.”
Nayla menarik napas dalam. “Terima kasih atas kepercayaannya, Bu Gaby. Tapi saya perlu berbicara dulu dengan ayah dan bibi saya sebelum mengambil keputusan.”
Gaby tersenyum, jelas menghargai jawaban itu. Ia lalu mengeluarkan kartu nama dari tasnya.
“Hubungi saya kapan pun kamu siap,” katanya sambil menyerahkan kartu itu.
Nayla menerimanya dengan kedua tangan. “Baik, Bu. Terima kasih.”
Mereka berpisah dengan perasaan yang berbeda. Nayla melangkah sambil membawa pasiennya dengan pikiran penuh pertimbangan dan harapan, sementara Gaby meninggalkan taman dengan secercah keyakinan bahwa mungkin, akhirnya, ia menemukan orang yang tepat untuk menyelamatkan putranya dari keterpurukan.
Setelah jam kerja selesai, Nayla segera pulang ke rumah sederhananya.
Rumah kecil itu mungkin tak seberapa, namun bagi Nayla, di sanalah semua kenangan masa kecilnya tersimpan. Di dinding ruang tamu, masih tergantung beberapa foto keluarga yang sudah mulai memudar warnanya, menjadi saksi bisu kasih sayang seorang ibu yang kini telah tiada.
Kini, rumah itu hanya dihuni Nayla dan ayahnya yang tengah sakit.
Rumah bibi Nayla, adik dari sang ayah, berada persis di sebelah rumah mereka. Sejak ibunya meninggal, sang bibi-lah yang selalu hadir, membantu dan menjaga mereka berdua tanpa mengeluh.
Malam itu, setelah makan malam sederhana bersama, Nayla sengaja meminta bibinya untuk tidak buru-buru pulang.
"Bibi, jangan pulang dulu, ya? Ada hal penting yang ingin Nayla bicarakan," pinta Nayla lembut.
Sang bibi, seorang wanita paruh baya berhati hangat, mengangguk. "Ada apa, Nak? Ceritakan saja."
Ayah Nayla yang duduk bersandar di kursi roda juga memandang putrinya penuh perhatian.
Nayla menarik napas dalam-dalam, berusaha menyusun kata-kata.
"Siang tadi, saat Nayla kerja di rumah sakit, ada seorang yang menemui Nayla," Nayla mulai bercerita. "Beliau menawari Nayla sebuah pekerjaan , untuk menjadi perawat pribadi putranya yang sedang lumpuh akibat kecelakaan."
Sang bibi dan ayahnya menyimak dengan seksama.
"Nayla sempat ragu...," lanjut Nayla, suaranya bergetar, "karena pekerjaannya bukan hanya merawat, tapi Nayla juga harus tinggal di rumah mereka, supaya selalu bisa mengurus putranya."
Sang bibi bertanya lembut, "Bagaimana dengan pekerjaanmu di rumah sakit, Nak?"
Nayla menjawab, "Nyonya Gaby—beliau yang menawarkan pekerjaan itu—katanya akan berbicara langsung dengan pihak rumah sakit. Jadi Nayla tidak perlu khawatir soal izin atau cuti."
Ayah Nayla masih diam, wajahnya tampak berat.
"Bibi..." Nayla menoleh pada bibinya dengan mata berkaca-kaca, "Selama Nayla menginap di rumah majikan, Nayla mohon... tolong bantu jaga Ayah. Nayla tidak mungkin tenang kalau tidak ada yang menemani Ayah di rumah."
Sang bibi, dengan suara yang sedikit bergetar menahan haru, menjawab, "Tentu, Nak. Selama ini juga Bibi sudah menganggap kalian seperti anak sendiri. Bibi akan bantu semampu Bibi."
Nayla menggenggam tangan bibinya erat, berusaha menahan air mata.
"Lagipula," lanjut Nayla, berusaha tersenyum, "kalau Nayla menerima pekerjaan ini, Nayla bisa mendapatkan gaji yang lebih besar. Uang itu bisa Nayla pakai untuk biaya cuci darah Ayah, beli obat, dan juga sedikit-sedikit bantu kebutuhan Bibi."
Sang ayah yang dari tadi hanya diam akhirnya bersuara, suaranya parau dan berat.
"Maafkan Ayah, Nak... karena sakit ini, kamu harus bersusah payah."
Nayla segera berlutut di depan ayahnya, memegang kedua tangan lelaki tua itu.
"Jangan pernah berkata seperti itu, Ayah," ucap Nayla sungguh-sungguh. "Bagi Nayla, merawat Ayah adalah kehormatan. Ini adalah cara Nayla membalas semua kasih sayang Ayah sejak Nayla kecil."
Sang ayah menunduk, matanya memerah, menahan air mata yang hampir jatuh.
Suasana malam itu penuh dengan kehangatan meski sederhana.
Mereka bertiga, keluarga kecil yang saling mencintai, saling menguatkan satu sama lain di tengah ujian hidup yang berat.
Setelah suasana sedikit tenang, Nayla kembali berkata, "Besok Nayla akan menghubungi Nyonya Gaby untuk mengabarkan keputusan Nayla. Mohon doanya, ya, Bibi... Ayah..."
Sang bibi dan ayahnya mengangguk penuh restu.
Dengan tekad yang bulat, Nayla pun bersiap untuk memasuki babak baru dalam hidupnya, dengan harapan bahwa semua yang dilakukannya ini kelak akan membuahkan kebaikan bagi keluarganya.
Bisa-bisanya diplagiat tanpa rasa bersalah 👎👎👎👎👎👎👎👎👎