NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Bayangan Masa Lalu yang Terungkap

Keesokan Harinya Arkan Datang Lagi

Pagi itu, Arkan datang ke toko Yura seperti biasa.

Tapi kali ini… ada sesuatu yang berbeda dalam langkahnya.

Tidak terburu-buru. Tidak tegang.

Hanya… tenang.

Bel pintu berbunyi.

Yura, yang sedang menata kue di etalase, menoleh.

Begitu melihat Arkan, ekspresinya… tidak sekaku kemarin.

Tidak ada ketegangan di bahu. Tidak ada tatapan waspada penuh.

Tapi juga… tidak ada senyuman.

Hanya tatapan datar netral.

"Selamat pagi," sapa Arkan pelan, berusaha terdengar ramah.

Yura mengangguk singkat. "Pagi."

Arkan berjalan ke kasir. "Boleh… pesan kopi seperti biasa?"

Yura tidak menjawab langsung. Ia hanya mengangguk, lalu berbalik untuk membuat kopi.

Arkan duduk di tempat biasanya meja sudut dekat jendela dan menatap punggung Yura yang sibuk di balik mesin kopi. Ia ingin bicara. Ingin melanjutkan percakapan kemarin.

Tapi ia… tidak tahu harus mulai dari mana.

Beberapa menit kemudian, Yura membawakan kopi dan meletakkannya di meja dengan pelan.

"Ini," katanya singkat, lalu berbalik untuk kembali ke kasir.

"Yura," panggil Arkan pelan.

Yura berhenti, tapi tidak menoleh.

"Terima kasih… untuk kemarin," kata Arkan. "Terima kasih… sudah mendengarkan."

Yura diam sejenak, lalu menoleh tatapannya masih sulit dibaca.

"Aku tidak melakukan apa-apa," jawabnya datar. "Aku cuma… cuma....cuma."

Arkan tersenyum tipis. "Itu sudah lebih dari cukup."

Yura menatapnya lama bingung, tapi tidak takut.

Lalu ia kembali ke belakang kasir tanpa berkata apa-apa lagi.

Arkan menyeruput kopinya perlahan, matanya sesekali melirik ke arah Yura.

Dia tidak lari.

Dia masih di sini.

Itu sudah… kemajuan.

Beberapa menit kemudian, Arkan mencoba lagi.

"Yura," panggilnya pelan.

Yura menoleh, ekspresinya sedikit lelah tapi tidak kesal.

"Iya?"

Arkan ragu sejenak, lalu bertanya dengan hati-hati. "Kau… suka bekerja di sini?"

Yura mengerutkan dahi. "Kenapa tanya?"

"Aku hanya… ingin tahu. Kau terlihat… lebih tenang di sini."

Yura terdiam. Ia tidak menyangka Arkan akan memperhatikan hal seperti itu.

"Iya," jawabnya akhirnya. "Aku lebih tenang di sini. Tidak ada tekanan. Tidak ada… drama."

Arkan mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis pahit. "Aku dulu… membuat drama untukmu, kan?"

Yura tidak menjawab.

Tapi tatapannya… tidak menyangkal.

Arkan menunduk, menatap cangkir kopinya.

"Aku… tidak pandai menunjukkan perasaan dengan cara yang benar," katanya pelan. "Aku hanya tahu cara… mengendalikan. Memaksa. Karena itu satu-satunya cara yang aku tahu agar… tidak kehilangan."

Yura menatapnya lama.

Dan untuk pertama kalinya… ia merasa sedikit mengerti.

Tapi itu tidak berarti ia memaafkan.

"Kalau kau benar-benar ingin berubah," kata Yura pelan, tapi tegas, "kau harus belajar… melepaskan kontrol."

Arkan mengangkat kepala, menatap Yura dengan tatapan serius.

"Aku… sedang belajar," jawabnya jujur.

Yura tidak tersenyum. Tapi… ia tidak memalingkan wajah lagi.

Dan itu… sudah cukup untuk Arkan.

Sore Itu Adrian Datang ke Toko

Tak lama setelah Arkan pergi, bel pintu berbunyi lagi.

Yura menoleh dan tersenyum kecil saat melihat Adrian masuk.

"Adi!" sapanya hangat.

Adrian tersenyum, tapi… senyumnya tidak seperti biasa.

Ada sesuatu di matanya ketegangan.

"Yura," sapanya. "Aku… boleh ngobrol sebentar?"

Yura mengangguk, lalu menunjuk kursi. "Ayo, duduk. Mau pesan apa?"

"Kopi aja," jawab Adrian sambil duduk.

Yura membuatkan kopi untuk Adrian, lalu duduk di seberangnya dengan segelas teh untuk dirinya sendiri.

"Ada apa, Adi? Kamu kelihatan… serius," tanya Yura.

Adrian menatap Yura lama, lalu bertanya hati-hati. "Yura… aku mau tanya sesuatu. Dan tolong… jawab jujur."

Yura mengerutkan dahi. "Apa?"

Adrian menarik napas. "Siapa… pria yang tadi ngobrol sama kamu?"

Yura terkejut. "Kamu… lihat?"

Adrian mengangguk. "Aku sempat lewat sini tadi. Dan aku lihat… kamu ngobrol sama dia. Ekspresimu… tidak nyaman."

Yura terdiam.

Ia tidak sadar… kalau ekspresinya terlihat seperti itu.

"Dia…" Yura ragu. "Dia… mantan klienku. Namanya Arkan."

Adrian mengerutkan dahi. "Arkan Mahendradatta?"

Yura terkejut. "Kamu… kenal dia?"

Adrian tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto yang ia ambil tadi dari jauh.

"Ini dia, kan?"

Yura menatap foto itu, lalu mengangguk pelan. "Iya… itu dia."

Adrian menarik napas panjang, lalu menatap Yura dengan serius.

"Yura… aku harus tahu. Dia… pernah ganggu kamu? Pernah… memaksa kamu melakukan sesuatu?"

Yura terdiam.

Dadanya sesak.

Ia teringat ciuman paksa itu. Ia teringat saat ia dipaksa masuk mobil.

Tapi… ia juga teringat cerita Arkan kemarin. Tentang orang tuanya. Tentang kesepiannya.

"Adi…" Yura bicara pelan. "Kenapa… kamu tanya begitu?"

Adrian menatapnya lurus. "Karena aku… menemukan sesuatu tentang dia."

Yura menegang. "Apa?"

Adrian mengeluarkan tablet dari tasnya, lalu membuka file.

"Arkan Mahendradatta. CEO Arkan Tech Solutions. Usia 30 tahun. Tidak menikah."

Ia menggulir layar.

"Tapi… ada laporan lama. Tahun 2019. Seorang wanita mantan asistennya pernah melaporkan bahwa dia… diintimidasi, diawasi, dan dipaksa untuk tetap bekerja bahkan setelah resign."

Yura membeku.

Adrian melanjutkan dengan nada serius. "Kasus itu ditutup. Tidak ada bukti. Tidak ada saksi. Dan wanita itu… menghilang. Pindah ke luar kota. Tidak pernah terdengar lagi."

Yura menatap layar tablet itu dengan tangan gemetar.

"Dan bukan cuma itu," lanjut Adrian. "Ada beberapa kasus lain karyawan yang tiba-tiba resign tanpa alasan jelas, mitra bisnis yang menarik diri setelah 'pertemuan pribadi' dengan dia. Semua… pola yang sama."

Adrian menatap Yura dengan tatapan penuh kekhawatiran.

"Yura… pria ini berbahaya. Dia punya pola obsesif. Dan aku takut… kamu jadi target berikutnya."

Yura tidak bisa bicara.

Dadanya sesak. Pikirannya kacau.

Arkan… pernah melakukan ini sebelumnya?

Dia… berbahaya?

Tapi… kenapa kemarin ia terlihat… begitu rapuh?

Kenapa ceritanya… terasa begitu jujur?

"Adi…" Yura bicara pelan, suaranya gemetar. "Aku… tidak tahu harus bilang apa."

Adrian memegang tangan Yura dengan lembut. "Kamu tidak perlu bilang apa-apa sekarang. Tapi aku mau kamu tahu… kalau kamu dalam bahaya, aku akan lindungi kamu. Aku janji."

Yura menatap Adrian matanya berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya… ia merasa benar-benar aman.

Tapi juga… bingung.

Karena sebagian dari dirinya… masih ingin percaya pada Arkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!