NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Abu di Atas Emas

Langit malam di atas pelabuhan sektor selatan mendadak berubah menjadi oranye terang. Ledakan itu tidak hanya menghancurkan gudang penyimpanan emas ilegal milik Julian Thorne, tetapi juga mengirimkan gelombang kejut yang menggetarkan kaca-kaca gedung pencakar langit dalam radius dua kilometer. Aruna berdiri di balkon safe house, menatap pendar cahaya di ufuk jauh itu melalui teropong malam. Ia tidak tersenyum, namun ada ketenangan yang mengerikan di wajahnya.

​"Satu pesan terkirim, Julian," bisiknya pada angin malam.

​Di belakangnya, pintu geser terbuka. Enzo masuk dengan napas yang masih memburu. Pakaian taktisnya dipenuhi debu konstruksi. "Sudah selesai, Nyonya. Gudang itu rata dengan tanah. Tidak ada emas yang tersisa untuk diperdagangkan esok pagi. Kita kehilangan tiga orang dalam baku tembak di gerbang belakang, tapi tujuan utama tercapai."

​Aruna menurunkan teropongnya. "Tiga orang?" Ia terdiam sejenak. "Pastikan keluarga mereka menerima santunan sepuluh kali lipat dari biasanya. Dan Enzo... jangan sebut mereka sebagai korban. Sebut mereka sebagai martir bagi keluarga Valerius."

​Enzo mengangguk, namun matanya menatap Aruna dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia telah melayani Dante selama belasan tahun, dan ia tahu Dante adalah pria yang brutal. Namun, Dante biasanya membakar sesuatu untuk mengambil isinya. Aruna membakar segalanya hanya untuk membuktikan sebuah poin. Ada jenis kekejaman baru yang sedang tumbuh di sini—kekejaman yang lahir dari rasa cinta yang terdesak.

​Keesokan paginya, suasana di dalam rumah aman itu mencekam. Berita tentang ledakan di pelabuhan menjadi headline di semua media nasional, meski narasi yang dibangun adalah "kecelakaan pipa gas". Di kamar utama, Dante sudah sadar sepenuhnya. Ia duduk di kursi roda dekat jendela, menatap ke arah hutan pinus yang berkabut.

​Aruna masuk membawa baki sarapan, namun Dante bahkan tidak menoleh.

​"Kenapa kau melakukannya, Aruna?" tanya Dante. Suaranya rendah, serak, dan mengandung nada yang belum pernah didengar Aruna sebelumnya: kekecewaan.

​Aruna meletakkan nampan di meja kecil. "Melakukan apa?"

​"Meledakkan gudang itu. Enzo melaporkan semuanya. Kau tidak mengambil emasnya, Aruna. Kau membakarnya. Kau tahu berapa nilai aset di sana? Itu adalah modal yang bisa kita gunakan untuk menyuap separuh pejabat di kota ini agar mereka berhenti memburu kita."

​Aruna berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Dante. "Aku tidak butuh emas itu, Dante. Aku butuh Julian Thorne tahu bahwa aku tidak bisa dibeli. Dia mengirim cokelat kepada anakku. Dia masuk ke area pribadi kita seolah-olah kita ini hanya pajangan di museumnya. Jika aku hanya mencuri emasnya, dia akan menganggapku sebagai pencuri biasa. Tapi dengan membakarnya, aku menunjukkan padanya bahwa aku adalah kehancuran yang tidak bisa dia kendalikan."

​Dante memutar kursi rodanya, menatap Aruna dengan mata elangnya yang tajam. "Kau bermain dengan api yang kau sendiri belum tahu cara memadamkannya. Julian Thorne bukan Marco. Marco adalah badak yang mengamuk, kau bisa menembaknya. Julian adalah racun di dalam air minummu. Kau tidak akan tahu kau sedang mati sampai kau mulai memuntahkan darah."

​"Maka aku akan berhenti minum, Dante," balas Aruna tanpa gentar. "Kau yang mengajariku bahwa di dunia ini, hanya ada pemangsa dan mangsa. Aku menolak menjadi mangsa lagi. Jika kau tidak suka caraku memimpin sementara kau terluka, maka berdirilah dan ambil kembali cincin ini."

​Aruna mengulurkan tangan kirinya, memperlihatkan cincin perak Valerius yang melingkar di jarinya.

​Dante terdiam. Ia melihat api di mata Aruna—api yang dulu tidak ada saat wanita itu menjahit luka di perutnya dengan tangan gemetar. Ia menyadari bahwa ia telah menciptakan sesuatu yang mungkin tidak bisa ia jinakkan kembali. Perlahan, Dante meraih tangan Aruna, namun bukannya mengambil cincin itu, ia justru mencium punggung tangan Aruna.

​"Simpanlah," gumam Dante. "Tapi ingat satu hal, Aruna. Sekali kau melintasi garis itu, tidak ada jalan pulang ke Jalan Kenanga. Kau tidak akan pernah bisa menjadi penjahit biasa lagi. Kau akan menjadi monster, sama sepertiku. Apakah kau siap melihat Bumi menatapmu dengan rasa takut suatu hari nanti?"

​Pertanyaan itu menghantam Aruna tepat di ulu hati. Ia teringat tatapan polos Bumi pagi ini. Namun, ia segera mengeraskan hatinya. "Bumi akan menatapku sebagai ibunya yang masih hidup, bukan sebagai ibunya yang sudah menjadi mayat di bawah kaki Julian Thorne."

​Sementara itu, di sebuah galeri seni pribadi yang tertutup untuk umum, Julian Thorne sedang berdiri di depan sebuah lukisan abstrak berwarna merah darah. Ia memegang ponsel satelitnya yang terus bergetar.

​"Tuan, kerugian kita mencapai ratusan juta dolar. Para investor menuntut penjelasan," suara asistennya terdengar panik melalui pengeras suara.

​Julian tidak tampak marah. Sebaliknya, ia tampak terpesona. "Cantik sekali," gumamnya, merujuk pada lukisan atau mungkin pada berita kehancurannya. "Dia benar-benar membakarnya. Tanpa ragu. Dante telah menemukan berlian yang belum diasah."

​"Apa kita akan menyerang balik, Tuan? Tim pemukul sudah siap."

​"Tidak," Julian menyesap teh kamomilnya. "Jangan kirim tentara. Kirimkan undangan. Aku ingin mengundang Nyonya Valerius untuk makan malam secara resmi. Jika dia ingin membakar dunia, aku akan memberinya korek api yang lebih besar. Katakan padanya, jika dia tidak datang, aku akan memastikan setiap panti asuhan dan sekolah di sektor utara kehilangan donaturnya mulai besok pagi."

​Pesan itu sampai ke Aruna dua jam kemudian. Enzo membawanya dalam bentuk kartu undangan fisik yang dilapisi emas.

​"Ini jebakan, Nyonya. Jangan pergi," tegas Enzo.

​"Jika aku tidak pergi, dia akan menghancurkan fasilitas publik sebagai balas dendam. Dia ingin menunjukkan bahwa dia punya kendali atas kehidupan orang banyak, bukan hanya atas emasnya," Aruna merobek ujung undangan itu. "Siapkan gaun terbaik yang ada di lemari ini. Dan Enzo... siapkan tim penyamar. Jika aku masuk ke sana, aku ingin kalian berada di setiap sudut restoran itu."

​"Tuan Dante tidak akan mengizinkan ini," ucap Enzo ragu.

​"Maka jangan beritahu dia sampai aku sudah berada di sana," perintah Aruna.

​Malam itu, Aruna bersiap. Ia mengenakan gaun beludru berwarna merah marun yang sangat pekat, senada dengan warna darah. Ia menatap dirinya di cermin. Ia tidak lagi melihat Aruna yang malang. Ia melihat seorang penguasa yang sedang bersiap masuk ke dalam liang singa.

​Ia masuk ke kamar Bumi sebentar, mencium dahi putranya yang sedang tidur, lalu melangkah keluar menuju limosin yang sudah menunggu. Di dalam kamar, Dante yang sebenarnya tidak tidur, membuka matanya. Ia mendengar deru mesin mobil yang menjauh.

​Dante bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah, menyeret kakinya yang masih lemah menuju laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah pemancar radio kuno yang tidak bisa dilacak oleh sistem digital modern.

​"Unit Bayangan," suara Dante terdengar sangat dingin. "Ikuti dia. Jika Julian Thorne menyentuh kulitnya, ratakan gedung tempat mereka berada. Jangan tinggalkan satu saksi pun."

​Dante duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur, memegang perutnya yang berdarah kembali. Ia tahu, malam ini bukan hanya tentang diplomasi gelap. Ini adalah awal dari pertempuran dua kutub yang akan menentukan siapa yang akan menguasai kota ini: Sang Vulture yang terluka, atau Sang Bankir yang sosiopat. Dan di tengah-tengah mereka, ada seorang wanita yang baru saja menyadari bahwa mahkota yang ia pakai mulai meneteskan darah di dahinya sendiri.

​Limosin Aruna berhenti di depan sebuah restoran mewah yang telah dikosongkan untuk malam itu. Julian Thorne berdiri di depan pintu, menunggunya dengan payung hitam di bawah gerimis.

​"Selamat malam, Aruna," sapa Julian dengan suara yang sangat lembut, seolah-olah ledakan semalam tidak pernah terjadi. "Mari kita bicarakan tentang bagaimana cara kita membagi dunia ini menjadi dua."

​Aruna melangkah keluar dari mobil, menatap Julian dengan kebencian yang berkilau di balik ketenangannya. "Aku tidak ke sini untuk membagi dunia, Julian. Aku ke sini untuk memberitahumu di mana aku akan menguburmu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!