NovelToon NovelToon
EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

EMPIRE OF GANG [1] : Sang Adik Ternyata Pembunuh Paling Di Takuti

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mata-mata/Agen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: lirien

Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berpura-pura

Kael masih menatap Mirea tanpa berkedip, matanya tajam, seolah menilai setiap gerakan dan detail pada dirinya. Farel yang duduk di sebelahnya, sambil masih bertepuk tangan mengikuti suasana pesta, menoleh ke arah Kael dengan rasa penasaran. Ia memperhatikan reaksinya dengan seksama, dari kepala hingga kaki, mencoba menangkap maksud di balik tatapan itu.

Saat itu, botol win yang Kael pegang sedikit melenceng saat ia menuangkannya ke gelas. Beberapa tetes minuman jatuh ke meja, membasahi permukaannya dengan lembut, dan menimbulkan percikan kecil yang cukup terlihat oleh Farel. Tanpa menunggu lebih lama, Farel menyenggol tubuh Kael perlahan.

“Kael,” panggilnya lirih, suaranya cukup untuk menarik perhatian Kael. Matanya yang sebelumnya fokus ke Mirea akhirnya tersadar ke arah percikan minuman.

“Minumanmu tumpah,” ujar Farel sambil menunjuk ke meja, nada suaranya tenang tapi penuh perhatian.

Kael menarik napas sebentar, ekspresinya tetap tenang, lalu dengan gerakan halus dan cekatan ia memperbaiki botolnya, menuangkan sisa win ke dalam gelas dengan hati-hati, memastikan tidak ada tetes yang jatuh lagi.

Adela, dengan tangan disilangkan di depan dada, menatap Mirea sambil menyipitkan mata, nada suaranya penuh sombong tapi menyelipkan sedikit keraguan. "Dia… nona Mirea Rothwell?" ujarnya lirih, seakan merendah, tapi pandangannya menyisir sekeliling aula, mencari sekutu atau dukungan.

Namun yang dilihatnya justru membuatnya terperangah. Para tamu yang hadir di aula semuanya tampak terpana. Wajah mereka bercampur antara kagum dan tak percaya. Bahkan Boris, menatap Mirea dengan mulut sedikit ternganga, seolah tak bisa menahan kekagumannya sendiri.

Seorang wanita dari kelompok tamu di samping Adela tak kuasa menahan diri. "Dia sungguhan… dulunya hidup di panti asuhan?" tanyanya dengan nada penuh heran, suaranya nyaris berbisik tapi cukup terdengar oleh orang di dekatnya.

"Penampilan dan auranya… melebihi putri-putri kaya lainnya," sahut wanita lain sambil menatap Mirea dengan mata berbinar, kagum.

"Ya… benar-benar sempurna," timpal seorang lagi di sampingnya, suaranya terdengar mantap, seakan menegaskan apa yang dilihatnya.

Riuh sorak dan bisik-bisik kagum mulai terdengar di seluruh aula, seolah setiap langkah Mirea di tangga tadi baru saja menciptakan gelombang kekaguman yang menular ke semua tamu.

Tepuk tangan mulai mereda. Tiba-tiba Kael menyerahkan gelas wine yang ia pegang kepada Farel. Farel yang menerima gelas itu hanya bisa menatapnya sebentar dengan bingung, lalu menggenggamnya tanpa banyak tanya.

Tak lama setelah itu, Kael melangkah perlahan ke arah Mirea. Tubuhnya tegap, langkahnya tenang, dengan senyum tipis yang sulit diartikan. Mirea yang melihat itu masih diam di tempat, menatap Kael sejenak, lalu berpikir cepat.

Kael menatapnya cukup lama. Baru saat itulah Mirea tersadar, lalu menurunkan pandangannya ke arah heels di kakinya.

“Gawat… aku hampir lupa. Peranku di sini adalah gadis miskin dari panti asuhan,” batin Mirea.

“Harusnya aku nggak terbiasa pakai sepatu tinggi.”

Ia berpikir cepat, jantungnya berdegup.

“Kalau jatuh dari sini… harusnya nggak apa-apa, kan? Aku harus kelihatan lemah.”

Tak lama kemudian, ia sengaja menggeser kakinya, pura-pura kehilangan keseimbangan.

“Aa…” desis Mirea pelan, matanya terpejam saat tubuhnya terhuyung dan jatuh ke depan.

Noel dan Theo yang berada di belakangnya langsung panik dan refleks bergerak, tapi mereka kalah cepat. Kael sudah lebih dulu melangkah maju, memutar sedikit tubuhnya, lalu menangkap Mirea tepat di pelukannya.

Mirea yang mengira dirinya akan benar-benar terjatuh justru terdiam.

“Eh… kenapa nggak sakit?” batinnya.

Ia membuka mata perlahan, dan langsung terkejut. Tepat di depannya adalah wajah Kael yang tersenyum tipis, lengannya masih memeluk tubuhnya dengan kuat.

“Nona Mirea,” ujar Kael dengan nada ringan tapi penuh makna, “apa kamu sedang melemparkan diri ke pelukan orang lain?”

Mirea membeku sejenak. Wajahnya memerah karena malu. Ia refleks ingin segera menjauh, tapi pelukan Kael terlalu kuat, membuatnya tidak bisa langsung melepaskan diri.

“Cepat lepaskan adikku!” Noel dan Theo langsung bergerak cepat, turun dari tangga menghampiri Mirea, dan melepaskan pelukannya dari Kael.

Mirea menunduk, wajahnya memerah. “Maaf, Tuan Kael,” ujarnya lirih. “Aku belum terbiasa pakai sepatu tinggi…” Ia menatap ke arah kakinya, bibirnya bergetar sedikit. “Kamu jadi lihat hal yang memalukan,” tambahnya, suaranya terdengar lemah.

“Dik Mirea, aku antar kamu istirahat,” ujar Noel menenangkan. Mirea mengangguk pelan, menerima tawaran itu. Noel kemudian menuntunnya menjauh, dengan lembut mendorong tubuhnya agar berjalan stabil. Kael hanya menatap mereka pergi, senyum tipis masih terlukis di wajahnya. “Cantik banget…” batinnya.

“Kael,” panggil Farel dari belakang, nada suaranya penuh perhatian. “Tunanganmu diperhatikan oleh cowok-cowok lain. Apa kamu benar-benar mau diam saja?” Ia menunjuk ke arah Mirea yang kini berjalan bersama Noel.

Kael mengangkat bahu santai, matanya masih mengikuti Mirea. “Emangnya dia cantik?”

Farel terkejut. “Aku rasa…” Kael berhenti sejenak, menimbang kata-katanya. “Lumayan,” jawabnya singkat.

Farel menatapnya tak percaya. “Yang benar saja? Cewek seperti itu kamu tolak begitu saja?”

Kael tetap tenang, matanya tak lepas dari arah Mirea. “Memangnya… kamu sungguhan mau menikahi seorang bos geng? Emang kamu yakin bisa mengendalikannya?” tanya Farel, suaranya campur heran dan khawatir.

Kael tersenyum tipis, tetap tak tergesa.

1
Mo Xiao Lam
oh ada gula aren di sini 🙏
Aksara: Ahaha ini lucu banget nih😭🌷
total 1 replies
Aria Sabila
👍😁
Aksara: Hallo lirelovrsss🌷
nantikan terus ya kelanjutan cerita serunya🫶🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!