Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Ruang yang Berubah
Malam pertama di apartemen setelah sah secara siri terasa begitu sunyi, namun penuh ketegangan elektrik. Zea duduk di tepi ranjang kamar barunya, memerhatikan kamar yang sangat "Antares"—serba abu-abu, rapi, dan fungsional.
Tiba-tiba pintu terbuka. Antares masuk membawa segelas susu hangat dan sebuah kotak kecil.
"Minum ini. Supaya kamu bisa tidur nyenyak," kata Antares pelan.
Zea menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih... Antar."
Antares kemudian duduk di kursi kerja dekat jendela, membuka kotak kecil tadi yang ternyata berisi salep medis. "Sini. Saya tahu tubuh kamu masih sakit dan banyak lebam. Saya akan obati."
Zea tersentak, wajahnya memerah hebat. "Nggak usah! Aku bisa sendiri."
Antares menatapnya datar, tatapan dosen yang tidak menerima bantahan. "Zea, saya yang menyebabkan luka-luka itu. Biarkan saya yang mengurusnya. Saya tidak akan melakukan 'lebih' jika kamu tidak mengizinkan."
Zea akhirnya menurut. Saat jemari panjang dan dingin Antares mengoleskan salep ke lebam di bahu dan lengannya dengan sangat lembut, Zea menyadari sesuatu. Pria ini bisa menjadi badai yang menghancurkan di satu malam, tapi bisa menjadi penawar yang paling menenangkan di malam berikutnya.
"Maaf," bisik Antares saat jarinya menyentuh lebam di tulang selangka Zea. "Semalam saya benar-benar kehilangan akal."
Zea mendongak, menatap mata tajam suaminya. "Kenapa kamu nggak pakai nama Bagaskara buat yakinin Papa tadi?"
Antares berhenti mengoleskan salep. "Karena saya mau kamu mencintai saya sebagai Antares, bukan sebagai pewaris harta yang tidak saya inginkan. Dan saya mau Papa kamu tahu, anaknya dijaga oleh seorang pria, bukan oleh sebuah korporasi."
Zea tertegun. Di sinilah ia sadar, ia tidak hanya terjebak dengan dosen yang dingin, tapi dengan seorang pria yang memiliki hati seluas angkasa yang ia teliti.
Hening malam di apartemen Antares terasa begitu berat, seolah udara di sana dipenuhi oleh statis yang siap memercikkan api kapan saja. Antares baru saja selesai mengobati lebam di bahu Zea. Suasananya seharusnya tenang dan suportif, tapi posisi mereka—Zea yang duduk di tepi ranjang dengan kemeja kebesaran dan Antares yang berlutut di depannya—menciptakan gravitasi yang berbahaya.
Antares menutup tutup salepnya, namun ia tidak segera berdiri. Matanya yang tajam terpaku pada bagaimana kemeja putih miliknya merosot di bahu Zea, memperlihatkan kulit pualam yang masih menyisakan jejak merah darinya.
"Sudah selesai. Tidurlah," ucap Antares, suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti geraman yang ditahan.
Zea, yang dasarnya memang emosional dan spontan, bukannya berterima kasih dan membiarkan Antares pergi, malah menahan lengan pria itu. "Antar... kenapa kamu sabar banget malam ini?"
Antares menatap tangan kecil Zea di lengannya. "Karena saya tidak mau menjadi monster untuk kedua kalinya, Zea. Kamu sedang sakit."
Zea menggigit bibir bawahnya—sebuah kebiasaan yang tidak ia sadari selalu berhasil memicu sisi gelap Antares. "Tapi kamu... kamu nggak kangen sama yang semalam?" tanya Zea polos, namun ada nada menggoda yang tidak sengaja keluar karena sifat manjanya.
Rahang Antares mengeras. Ia berdiri perlahan, menjulang di depan Zea, memberikan bayangan yang mendominasi. "Zea, jangan memancing hal yang tidak bisa kamu tangani. Saya sedang berusaha menjadi pria baik-baik di sini."
Zea malah berdiri, menantang tatapan Antares. Tinggi mereka yang terpaut jauh membuat Zea harus mendongak. "Kalau aku bilang aku nggak takut lagi, gimana?"
"Zea—"
"Tadi kamu bilang aku istri kamu," potong Zea, tangannya kini merayap naik ke dada Antares, merasakan detak jantung suaminya yang mulai menggila di balik kaus hitamnya. "Semalam aku mabuk, aku nggak ingat semuanya dengan jelas. Aku cuma ingat rasanya... dan sekarang aku sadar sepenuhnya."
Antares memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali seluruh logika sainsnya. Namun, wangi vanila dari rambut Zea dan sentuhan jari gadis itu di dadanya benar-benar menghancurkan pertahanannya.
"Kamu benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti, ya?" bisik Antares.
Dalam satu gerakan cepat, Antares mencengkeram pinggang Zea dan menariknya hingga tubuh mereka tidak memiliki jarak sepeser pun. Satu tangannya yang lain mengunci tengkuk Zea, memaksa gadis itu menatap api yang berkobar di matanya.
"Saya sudah bilang, saya punya kontrol diri yang buruk kalau itu menyangkut kamu," suara Antares serak, penuh dengan ancaman gairah. "Kalau saya mulai sekarang, saya tidak akan berhenti hanya karena kamu menangis lelah seperti semalam. Masih mau menantang saya, Zea Anora?"
Zea menelan ludah, nyalinya menciut sekaligus merasa tertantang. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan panas menekan perutnya, bukti bahwa Antares sudah berada di titik didih. Bukannya mundur, Zea malah melingkarkan kakinya di pinggang Antares, persis seperti malam di hotel itu.
"Buktikan kalau kamu memang punya hak atas aku, Antares," bisik Zea tepat di depan bibir Antares.
Hancur sudah. Seluruh prinsip green flag dan kesabaran Antares menguap ke udara. Ia menyambar bibir Zea dengan ciuman yang jauh lebih lapar daripada semalam. Kali ini tanpa pengaruh alkohol, hanya ada kesadaran murni bahwa mereka terikat, dan Antares akan memastikan Zea merasakan setiap inci dari dominasinya sebagai seorang suami.
Antares membanting tubuh Zea ke atas kasur empuknya, menyusul di atasnya tanpa memberikan Zea waktu untuk bernapas. Malam ini, di apartemen yang dingin itu, Antares menunjukkan bahwa seorang ilmuwan bisa menjadi pria paling liar saat anomali favoritnya menyerahkan diri sepenuhnya.
Apartemen yang biasanya sunyi dan hanya berisi suara detak jam dinding itu kini berubah menjadi medan magnet yang panas. Di atas ranjang, Antares benar-benar membuktikan bahwa logikanya sudah mati. Yang tersisa hanyalah insting seorang pria yang ingin menandai wilayahnya secara mutlak.
Antares menanggalkan kaus hitamnya dalam satu gerakan cepat, memperlihatkan tubuh atletisnya yang kokoh dengan otot-otot yang menegang sempurna. Ia kembali menindih Zea, mengunci kedua tangan gadis itu ke atas kepala agar ia bisa bebas menjelajahi leher dan bahu Zea dengan ciuman yang dalam dan menghisap.
"Nghhh... Antar..." Zea melenguh pelan, kepalanya mendongak saat merasakan bibir panas Antares bermain di titik sensitifnya. Suaranya terdengar serak, bergetar di antara gairah dan rasa linu yang masih tersisa.
"Masih mau menantang saya, hm?" bisik Antares rendah. Suaranya yang berat bercampur dengan napas yang memburu tepat di telinga Zea, mengirimkan gelombang panas ke sekujur tubuh istrinya itu.
Antares mulai bergerak dengan ritme yang lebih terkendali daripada semalam, namun jauh lebih intens karena kini mereka berdua sadar sepenuhnya. Setiap gerakan Antares terasa sangat presisi, seolah ia tahu persis di mana harus menekan untuk membuat Zea kehilangan napas.
"Ah! Pelan... Antar... sssh," Zea merintih, kakinya melilit erat di pinggang Antares, berusaha mencari pegangan di tengah badai kenikmatan yang menyerangnya. Desahan Zea yang biasanya ceria kini berubah menjadi erangan-erangan pendek yang memicu kegilaan di otak Antares.
"Sebut nama saya, Zea. Terus sebut," perintah Antares dengan nada otoriter. Ia mencium bibir Zea dengan kasar, membungkam suara desahannya sendiri yang mulai lolos dari tenggorokannya.
"Antares... ahhh... Antar!" Zea menjerit kecil saat Antares meningkatkan tempo gerakannya. Pria itu bergerak dengan kekuatan yang luar biasa, seolah ingin memastikan bahwa setiap inci tubuh Zea mengingat siapa pemiliknya sekarang.
Suara gesekan kulit, napas yang bersahutan, dan erangan dalam dari dada Antares memenuhi kamar itu. Antares tidak lagi memberi ruang bagi Zea untuk beristirahat. Ia terus memacu gairahnya, membiarkan peluh mereka menyatu di bawah temaram lampu kamar. Saat Zea hampir mencapai puncaknya, Antares membungkuk, menyatukan kening mereka dan menatap dalam ke mata Zea yang tampak sayu dan liar.
"Kamu... milik saya, Zea. Selamanya," geram Antares sebelum akhirnya mereka berdua terhempas dalam ledakan kenikmatan yang luar biasa, meninggalkan mereka dalam napas yang tersengal-sengal dan pelukan yang tak mau lepas.