NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:197
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Malaikat Tanpa Sayap

# BAB 3: MALAIKAT TANPA SAYAP

Arjuna terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Lehernya kaku, punggungnya sakit. Tikar tipis di lantai keras memang tidak sebanding dengan kasur empuknya dulu di desa, tapi setidaknya ia masih punya tempat tidur. Masih punya atap di atas kepala.

Cahaya matahari pagi masuk lewat celah jendela yang ditutup kain lusuh. Ia dengar suara-suara dari luar, anak-anak berteriak, motor lewat, seseorang berargumen keras tentang harga sayur. Hidup di perkampungan kumuh ini dimulai sejak subuh, tidak pernah sunyi, tidak pernah tenang.

Ia duduk, gosok matanya. Di sudut ruangan, Sari sudah bangun, sedang melipat selimut tipisnya dengan rapi. Wanita tua yang Arjuna tahu bernama Bu Lastri sedang di dapur kecil, memasak sesuatu yang mengeluarkan aroma sederhana tapi menghangatkan.

"Kau sudah bangun," Sari menoleh, rambutnya masih acak-acakan. "Aku kira kau bakal tidur sampai siang. Kemarin kelihatan lelah sekali."

"Aku... aku tidak terbiasa tidur lama." Arjuna berdiri, lipat tikarnya sendiri, meniru cara Sari. "Dan aku tidak mau jadi beban. Kalau ada yang bisa aku bantu, bilang saja."

Bu Lastri tertawa pelan dari dapur. "Anak yang sopan. Jarang sekali sekarang ada anak muda yang mau bantu-bantu. Kau bisa bantu cuci piring nanti kalau mau."

"Dengan senang hati, Bu."

Mereka sarapan bubur encer dengan sedikit kecap. Sederhana, tapi hangat. Arjuna makan perlahan kali ini, tidak seperti kemarin yang ia lahap seperti orang kelaparan. Ia perhatikan Sari yang makan sambil baca buku lusuh. Judulnya "Pendidikan untuk Semua". Buku tebal yang sampulnya sudah robek di beberapa bagian.

"Kau... kau guru?" tanya Arjuna.

Sari mengangguk tanpa angkat kepala dari bukunya. "Sukarelawan. Bukan guru beneran. Aku tidak punya ijazah resmi atau sertifikat. Cuma ngajar anak-anak di sini baca tulis, hitung-hitungan dasar."

"Tidak dibayar?"

"Kadang dapat uang lelah sedikit dari sumbangan. Tapi lebih sering tidak dapat apa-apa." Sari tutup bukunya, tatap Arjuna. "Kenapa? Kau mau ikut? Kami butuh tenaga tambahan. Anak-anak di sini... banyak yang putus sekolah. Orang tua mereka tidak mampu bayar. Atau mereka harus kerja bantu orang tua."

Arjuna terdiam. Ia tidak pernah berpikir untuk jadi guru. Tapi... tapi mungkin ini cara yang baik untuk berbaur. Untuk tidak mencurigakan saat ia cari informasi tentang Adrian Mahendra.

"Aku... aku tidak tahu cara ngajar."

"Tidak susah. Kau cuma perlu sabar. Dan ikhlas." Sari berdiri, ambil tasnya yang sudah penuh sobekan. "Ayo. Sekolahnya mulai jam delapan. Aku tunjukkan tempatnya."

Mereka berjalan menyusuri gang-gang sempit. Arjuna ikuti Sari yang melangkah cepat, seolah ia hapal setiap sudut, setiap lubang di jalan, setiap anjing liar yang harus dihindari. Orang-orang menyapa Sari dengan akrab. "Pagi, Mbak Sari!" "Sari, nanti main ke rumah ya, ada kue!" "Mbak, anakku nanti berangkat sekolah kok!"

Sari balas semua sapaan itu dengan senyum hangat. Senyum yang berbeda dari wajah dinginnya kemarin. Senyum yang... yang tulus.

"Kau... kau populer di sini," kata Arjuna.

"Bukan populer. Cuma... cuma sudah lama tinggal di sini. Orang-orang di sini baik. Mereka susah, hidup pas-pasan, tapi mereka tidak kehilangan kemanusiaan mereka." Sari berhenti di depan bangunan kecil yang catnya mengelupas. Tulisan di atas pintu: "Sekolah Cahaya Harapan".

Cahaya Harapan. Nama yang ironis untuk tempat yang terlihat begitu... begitu rapuh.

Mereka masuk. Di dalam, ada satu ruangan besar dengan lantai semen yang retak. Tidak ada meja, tidak ada kursi. Anak-anak duduk di tikar lusuh, ada yang bawa bantal dari rumah. Ada papan tulis kecil di depan yang sudah buram, spidol yang sudah hampir habis tintanya.

Tapi anak-anak itu... anak-anak itu tersenyum. Mata mereka berbinar saat lihat Sari masuk.

"Kak Sari!" seorang anak perempuan kecil berlari, peluk kaki Sari. "Aku kangen!"

"Kita baru ketemu kemarin, Ayu." Sari elus kepala anak itu pelan, senyumnya melebar. "Kak Sari juga kangen. Kalian sudah sarapan?"

Beberapa anak mengangguk. Beberapa menggeleng pelan, tatapan mereka jatuh ke lantai.

Sari menghela napas, lalu tersenyum lagi. "Oke. Yang belum sarapan, nanti setelah belajar, kita makan roti bersama ya. Kak Sari bawa."

"Yey!" anak-anak bersorak.

Arjuna berdiri di belakang, tenggorokannya tercekat. Ia lihat tas Sari yang tipis. Ia tahu gadis ini tidak punya banyak uang. Tapi ia... ia bawa roti untuk anak-anak yang lapar?

Sari menoleh. "Arjuna, bantu aku ya. Kau pegang kelompok kanan, yang lebih kecil. Ajari mereka huruf. Aku yang pegang kelompok kiri."

"Tapi aku... aku tidak..."

"Pegang ini." Sari sodorkan buku tipis dan pensil. "Mulai dari A. Pelan-pelan. Mereka anak baik, tidak akan nakal."

Arjuna terima buku itu dengan tangan gemetar. Ia duduk di tikar, dikelilingi lima anak kecil yang menatapnya dengan mata penasaran.

"Siapa ini, Kak Sari?" tanya salah satu anak laki-laki.

"Ini Kak Arjuna. Dia guru baru. Kalian harus baik-baik ya sama dia."

"Baik, Kak!" mereka kompak jawab.

Arjuna mulai. Canggung. Tangannya gemetar saat ia tulis huruf A di buku kecil itu. Tapi anak-anak itu... anak-anak itu mendengarkan dengan serius. Mata mereka fokus, tangan kecil mereka mencoba menulis di tanah dengan ranting karena mereka tidak punya kertas.

Satu jam berlalu. Dua jam. Arjuna tidak sadar waktu berjalan. Ia tenggelam dalam mengajari anak-anak itu, menjawab pertanyaan mereka yang polos, tertawa saat mereka salah tulis tapi dengan semangat mencoba lagi.

Dan untuk pertama kalinya sejak desa hancur, Arjuna merasa... merasa ada tujuan. Ada alasan untuk tersenyum.

Saat istirahat, anak-anak berlarian keluar bermain. Sari bagi roti untuk yang belum sarapan, potong kecil-kecil supaya semua kebagian meski rotinya cuma tiga bungkus.

Arjuna mendekat. "Kau... kau beli roti itu pakai uang kau sendiri?"

"Iya. Memang kenapa?"

"Tapi kau... kau sendiri hidup susah. Kenapa kau..."

"Karena mereka lebih susah dariku." Sari potong roti terakhir, berikan pada anak perempuan kecil tadi, Ayu. "Aku masih bisa makan dua kali sehari. Mereka? Kadang sekali. Kadang tidak sama sekali."

"Tapi kau tidak akan bisa selamatkan mereka semua. Tidak akan bisa buat hidup mereka lebih baik dengan roti seharga lima ribu rupiah."

Sari menatapnya tajam. Tatapan yang bikin Arjuna merasa ia salah bicara.

"Aku tahu aku tidak bisa selamatkan mereka semua," suara Sari dingin sekarang. "Aku tahu roti ini cuma bertahan beberapa jam di perut mereka. Tapi setidaknya... setidaknya untuk beberapa jam itu, mereka tidak lapar. Untuk beberapa jam itu, mereka bisa belajar tanpa perut mereka berbunyi keras. Dan itu sudah cukup untukku."

Arjuna terdiam. Ia merasa bodoh. Merasa seperti sampah karena mempertanyakan kebaikan orang lain.

"Maaf," bisiknya. "Aku... aku tidak bermaksud..."

"Lupakan." Sari berdiri, lap tangannya yang penuh remah roti. "Ayo lanjut. Masih ada pelajaran matematika."

Sore hari, saat semua anak sudah pulang, Arjuna bantu Sari membersihkan ruangan. Menyapu lantai, lap papan tulis, rapikan tikar. Mereka bekerja dalam diam, tapi bukan diam yang tidak nyaman.

"Terima kasih," kata Sari tiba-tiba. "Kau bagus dengan anak-anak. Mereka suka kau."

"Aku... aku tidak melakukan apa-apa istimewa."

"Kau sabar. Kau mendengarkan. Itu sudah istimewa." Sari tersenyum tipis. "Kau mau lanjut besok?"

"Kalau kau tidak keberatan."

"Aku senang malah. Jadi aku tidak sendirian."

Mereka keluar dari sekolah kecil itu. Langit sudah berwarna jingga, matahari mulai tenggelam di balik gedung-gedung tinggi di kejauhan. Sari berhenti di warung kecil, beli nasi bungkus dua untuk makan malam nanti.

"Biar aku yang bayar," kata Arjuna cepat, keluarkan uangnya.

"Tidak usah. Kau harus irit. Uang kau cuma dua ratus ribu, ingat?"

"Tapi kau sudah terlalu banyak bantu aku. Biarkan aku..."

"Arjuna." Sari menatapnya. "Kalau kau mau balas budi, jangan dengan uang. Uang kau butuh untuk bertahan hidup. Balas dengan tenaga. Dengan waktu. Dengan... dengan jadi teman yang baik."

Teman. Kata itu terasa asing di telinga Arjuna. Setelah semua yang terjadi, ia bahkan tidak yakin ia masih tahu caranya punya teman.

Tapi ia angguk. "Oke. Teman."

Mereka sampai di rumah Bu Lastri saat hari sudah gelap. Makan malam sederhana: nasi dan tempe goreng. Tapi cukup. Lebih dari cukup.

Setelah makan, Bu Lastri pergi tidur duluan. Arjuna bantu Sari cuci piring di ember kecil. Tangannya basah, air dingin bikin jarinya kaku, tapi ia tidak peduli.

"Sari," ia mulai, suaranya pelan. "Boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanya aja."

"Kenapa kau di sini? Maksudku... kau bilang kau dulu tidak tinggal di sini. Kau dari mana?"

Sari berhenti cuci piring. Tangannya diam di air, tatapannya kosong menatap gelembung sabun. Lama. Terlalu lama.

"Aku dari panti asuhan," jawabnya akhirnya, suaranya datar. "Lahir di sana. Besar di sana. Tidak punya orang tua. Tidak tahu siapa ayah ibuku. Tidak tahu kenapa mereka buang aku."

Dada Arjuna sesak. "Maaf. Aku... aku tidak bermaksud buat kau ingat hal tidak mengenakkan."

"Tidak apa-apa. Sudah lama. Sudah biasa." Sari lanjut cuci piring, tangannya bergerak mekanis. "Aku keluar dari panti saat umur delapan belas. Kerja serabutan. Pernah jadi penjaga toko, pelayan kafe, tukang cuci baju orang. Sampai akhirnya ketemu Bu Lastri yang ngasih aku tempat tinggal gratis asal aku mau bantu-bantu di rumah."

"Dan... dan sekolah itu?"

"Aku dirikan sendiri. Dua tahun lalu. Dengan sisa uang kerjaku. Sewa bangunan itu murah karena sudah hampir roboh. Tidak ada yang mau sewa kecuali aku." Sari tersenyum pahit. "Orang bilang aku gila. Ngapain buang-buang uang dan waktu untuk ngajari anak-anak yang tidak akan bisa bayar. Tapi aku... aku tidak peduli apa kata mereka."

"Kenapa kau melakukannya?" Arjuna bertanya pelan. "Kalau bukan untuk uang, bukan untuk nama, kenapa?"

Sari menatapnya. Mata gadis itu berkaca-kaca, tapi tidak ada air mata yang jatuh.

"Karena aku tahu rasanya bodoh," bisiknya. "Tahu rasanya tidak bisa baca tulisan di papan pengumuman. Tahu rasanya diejek karena tidak bisa hitung uang dengan benar. Tahu rasanya... rasanya kau tidak berharga karena kau tidak pintar."

Suaranya bergetar sekarang.

"Dulu ada orang yang ngajari aku baca tulis. Pria tua yang baik hati. Dia tidak dapat bayaran. Cuma datang ke panti setiap minggu, bawa buku, ajari kami yang mau belajar. Dia bilang... dia bilang pendidikan itu hak semua orang. Bukan cuma orang kaya. Dan aku... aku pengen jadi seperti dia. Pengen kasih apa yang pernah dia kasih padaku."

Arjuna membeku. Pria tua. Ngajari di panti. Setiap minggu.

"Pria itu... pria itu siapa?" suaranya serak.

Sari lap matanya cepat. "Namanya Pak Hendrawan. Hendrawan Surya. Dia... dia orang paling baik yang pernah aku kenal."

Dunia Arjuna berputar. Hendrawan Surya. Ayahnya. Ayahnya ngajari Sari?

"Kau... kau kenal dia?" bisiknya, hampir tidak percaya.

"Dulu. Sepuluh tahun lalu. Tapi dia tiba-tiba berhenti datang. Aku dengar dia kabur dari kota, sembunyi di desa entah dimana." Sari tersenyum sedih. "Aku selalu pengen ketemu dia lagi. Bilang terima kasih. Bilang kalau aku... kalau aku jadi guru seperti yang dia mau. Tapi aku tidak tahu dia ada dimana."

Arjuna tidak bisa bicara. Tenggorokannya tersumbat. Ayahnya. Ayahnya pernah ngajari gadis ini. Dan sekarang gadis ini... gadis ini jadi guru karena ayahnya.

"Kau... kau tidak pernah ketemu dia lagi?" suaranya nyaris tidak terdengar.

"Tidak. Tapi aku punya fotonya. Foto terakhir yang dia kasih sebelum pergi. Dia bilang, kalau aku rindu, aku bisa lihat fotonya. Bodoh ya?" Sari tertawa pelan, suara yang terdengar seperti orang menangis. "Rindu sama orang yang bahkan bukan keluarga."

Sari berdiri, keringkan tangannya. "Ayo. Aku tunjukkan."

Mereka masuk ke kamar kecil yang jadi ruang tidur Sari. Hanya ada tikar, bantal lusuh, dan kardus kecil untuk pakaian. Tapi di dinding, ditempel dengan selotip, ada sebuah foto.

Arjuna melangkah mendekat. Tangannya gemetar. Dan saat ia lihat foto itu...

Saat ia lihat foto itu, dadanya terasa ditusuk pisau.

Itu foto ayahnya. Hendrawan Surya. Tersenyum lebar, tangan merangkul seorang gadis kecil. Gadis kecil yang... yang pasti Sari. Mereka berdua di depan panti asuhan, terlihat bahagia.

"Itu dia. Pak Hendrawan," kata Sari, suaranya lembut penuh kenangan. "Orang yang ngajari aku kalau aku... kalau aku punya nilai. Meski aku anak buangan."

Arjuna jatuh berlutut. Tangannya menutupi mulutnya, menahan isak tangis yang naik dari tenggorokan. Ayahnya. Ayahnya ngajari gadis ini. Ayahnya kasih dia harapan. Dan sekarang ayahnya...

Ayahnya mati.

"Arjuna? Kau kenapa?" Sari jongkok di sebelahnya, panik. "Kau sakit? Kau..."

"Dia mati." Suara Arjuna pecah. Pecah berkeping-keping. "Dia mati, Sari. Pak Hendrawan... dia mati."

"Apa?" Sari menatapnya dengan mata membulat. "Apa... apa maksudmu?"

"Dia ayahku." Arjuna menatap Sari, air matanya mengalir deras. "Hendrawan Surya itu ayahku. Dan dia... dia dibunuh. Tiga hari lalu. Desaku dibakar. Semua orang mati. Ayahku... ayahku tidak ada lagi."

Sari terdiam. Wajahnya pucat. Bibirnya bergetar.

"Tidak," bisiknya. "Tidak. Kau... kau bohong."

"Aku tidak bohong!" Arjuna meraung. "Aku datang ke sini karena ayahku mati! Karena seseorang membunuhnya! Dan aku... aku mau balas dendam! Aku mau..."

Sari menampar pipinya. Keras. Begitu keras sampai kepala Arjuna menoleh.

Tapi gadis itu menangis. Menangis dengan suara yang keluar dari tempat paling dalam, paling sakit.

"Kenapa..." suaranya serak. "Kenapa Pak Hendrawan... kenapa orang sebaik dia harus mati... KENAPA?"

Ia jatuh berlutut, tangannya mencengkeram baju Arjuna, menangis di dada pemuda itu. Menangis begitu keras sampai tubuhnya bergetar.

Dan Arjuna memeluknya. Memeluk gadis yang juga kehilangan orang yang sama. Orang yang memberi mereka cahaya di dunia yang gelap.

Mereka menangis bersama. Di kamar kecil yang dingin, di bawah foto pria yang tersenyum, tidak tahu kalau dua orang yang ia sayangi sekarang hancur berkeping-keping karena kehilangannya.

"Aku janji," bisik Arjuna di telinga Sari, suaranya bergetar. "Aku janji akan balas dendam untuknya. Untuk ayahku. Untuk guru kau. Aku akan buat yang melakukan ini membayar."

Sari tidak jawab. Cuma menangis lebih keras, cengkeraman tangannya di baju Arjuna semakin kuat, seolah ia takut kalau ia lepaskan, Arjuna juga akan hilang.

Seperti semua orang yang ia sayangi selalu hilang.

Seperti dunia ini selalu mengambil cahaya darinya, meninggalkannya sendirian di kegelapan.

Lagi.

Dan lagi.

Dan lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!