Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAN 34. PESTA MINUM TEH
Aula timur istana siang itu dipenuhi cahaya lembut yang menembus kaca patri berwarna madu dan zamrud. Tirai-tirai tipis berwarna gading bergoyang pelan tersapu angin musim semi, sementara meja panjang yang ditata khusus untuk pesta minum teh permaisuri telah dipenuhi porselen terbaik kerajaan, cangkir bermotif bunga iris emas, teko perak berukir lambang kekaisaran, serta piring-piring kecil berisi kudapan manis yang harum mentega dan madu.
Di ruangan itu berkumpul para wanita bangsawan, Countess, Baroness, Viscountess, dengan gaun-gaun mahal yang berdesir setiap kali mereka bergerak. Tawa mereka ringan, namun mata mereka tajam. Senyum terlukis rapi, tapi di baliknya tersimpan kebiasaan lama: menguliti orang lain dengan kata-kata.
Permaisuri belum datang.
Dan seperti biasa, ketiadaan sosok tertinggi di antara mereka menjadi undangan tak tertulis untuk membuka pesta yang sebenarnya; gosip.
"Apakah kalian mendengar tentang Viscountess Ravel?" bisik seorang wanita berambut pirang pucat, menutup mulutnya dengan kipas renda seolah sedang membicarakan cuaca. "Katanya suaminya diam-diam memindahkan aset ke wilayah barat."
"Tentu saja," sahut wanita lain sambil tertawa kecil. “l"Bukankah itu karena Viscountess terlalu sibuk memamerkan perhiasan barunya? Pria mana pun akan melarikan diri jika istrinya lebih mencintai berlian daripada nama baik keluarga."
Tawa berderai, halus namun kejam.
Di sudut lain, sekelompok wanita mengerubungi seorang Countess; ibu tiri dari Duchess Ravens. Countess itu duduk anggun, kipasnya terbuka setengah, wajahnya tenang seperti permukaan danau beku. Ia tersenyum sopan, menanggapi basa-basi tanpa emosi berlebihan, seolah tak menyadari arah pembicaraan yang perlahan namun pasti mulai mengarah padanya.
Baroness Pennilia, wanita dengan mata kecil tajam dan bibir tipis yang selalu tampak siap mengucapkan sesuatu yang tak perlu, melirik ke arah Countess itu, lalu tersenyum penuh rasa ingin tahu.
"Ngomong-ngomong," kata Baroness, suaranya cukup keras untuk menarik perhatian beberapa meja di sekitar, "bagaimana keadaan putri Anda, Countess?"
Kipas Countess berhenti bergerak sesaat.
"Sejak menikah dengan Duke Alaric," lanjut Pennilia dengan nada dibuat ringan, "Duchess Ravens seperti ... menghilang. Kami hampir tak pernah melihatnya lagi."
Beberapa kepala menoleh. Beberapa senyum terbit.
Countess membuka kipasnya kembali, mengipasi wajahnya perlahan sebelum menjawab dengan suara lembut namun terdengar jelas.
"Aku juga tidak tahu. Putriku tidak memberi kabar pada kami. Padahal kami sungguh menunggu kabarnya dan tentu saja khawatir," jawab Countess.
Bisikan segera menyebar seperti asap tipis.
"Seperti biasa," gumam seseorang.
"Perilakunya memang tidak pernah baik," sahut yang lain.
"Aku selalu merasa ada yang salah dengan gadis itu," ucap yang lainnya.
Seorang wanita tertawa kecil, lalu berkata tanpa beban, "Kurasa Duke mengurung putri Anda di kediamannya. Mungkin dia malu punya istri bertubuh ... begitu."
Kata-kata itu tak perlu dijelaskan lebih lanjut.
Tawa pecah. Beberapa tertawa menutup mulut, beberapa sama sekali tak berusaha menyembunyikan ejekan. Cemohan demi cemohan meluncur ringan, seolah mereka sedang membicarakan gaun lama, bukan harga diri seseorang.
Countess tersenyum tipis, tak membela, tak menyangkal. Diamnya menjadi bahan bakar tambahan bagi mereka.
Hingga tiba-tiba ....
"Permaisuri Yang Mulia hadir!"
Suara pelayan menggema di aula.
Seperti satu tubuh, semua wanita bangkit berdiri. Kipas-kipas menutup, tawa menghilang, wajah-wajah kembali dipoles dengan ekspresi anggun. Mereka membungkuk hormat ketika Permaisuri melangkah masuk, berjalan tenang, anggun, dengan mahkota sederhana namun berwibawa di kepalanya. Wanita tercantik di kerajaan.
"Silakan duduk," ucap Permaisuri dengan senyum ramah. "Hari ini aku ingin suasana yang santai."
Para wanita kembali duduk, namun mata mereka segera tertarik pada sosok di sisi kiri Permaisuri.
Seorang wanita berambut merah.
Rambutnya jatuh lembut hingga punggung, berkilau seperti tembaga di bawah cahaya. Gaunnya sederhana namun potongannya sempurna, membingkai tubuh ramping dengan elegansi tenang. Wajahnya cantik, bukan cantik yang mencolok, melainkan cantik yang membuat orang ingin menatap lebih lama.
Aula mendadak hening.
Beberapa wanita mengerutkan kening.
Beberapa mencondongkan tubuh, mencoba memastikan apa yang mereka lihat.
"Siapa dia?" bisik seseorang.
"Cantik sekali. Aku belum pernah melihatnya," sahut yang lain terpana akan sosok di samping permaisuri.
Permaisuri melirik mereka, alisnya terangkat dengan ekspresi heran yang dibuat-buat.
"Astaga," kata permaisuri santai, "kalian tidak mengenalinya?"
Kebingungan menyebar.
Permaisuri lalu menoleh ke wanita berambut merah itu dan berkata dengan nada ringan namun penuh makna,
"Duchess, sepertinya kau benar-benar berubah sangat cantik sampai tidak ada orang yang mengenalimu," ujar Permaisuri lantang.
Wanita itu adalah Liora Ravens yang kini tersenyum indah.
"Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia," ujar Liora lembut. "Walau saya akui saya sedikit berubah, tapi saya tidak merasa secantik itu."
Permaisuri tersenyum, senyum yang membuat beberapa wanita menelan ludah.
"Kau terlalu merendah. Terkadang kau perlu percaya diri bahwa kau cantik, agar tidak ada sembarang wanita yang berani mengolokmu," kata permaisuri.
Permaisuri berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada bercanda dingin, "Ah, mana mungkin ada yang berani mengolok seorang Duchess, bukan? Kecuali mereka sudah bosan hidup."
Liora tertawa pelan.
"Permaisuri, bercanda Anda terlalu jauh. Anda membuat mereka semua takut," ujar Liora sopan.
Permaisuri melirik sekeliling; wajah-wajah yang tadi penuh tawa kini tegang, sebagian berkeringat dingin.
"Bodohnya aku," kata Permaisuri ringan. "Aku jadi merusak suasana. Suguhkan teh."
Para pelayan bergerak serentak.
Aroma teh menguar, menenangkan namun ironis di tengah ketegangan.
Liora menyesap tehnya dengan tenang. Dari sudut matanya, ia melihat Countess menatapnya, senyum terpasang, namun rahangnya mengeras, kipasnya digenggam terlalu kuat.
Ya, teruslah marah. Sampai kau kehilangan ketenanganmu. Hari ini hanya permainan kecil saja, pikir Liora tenang.
Percakapan berlanjut ke topik amal, kebangsawanan, donasi musim dingin. Liora lebih banyak diam, mendengarkan, menilai. Siapa yang tulus. Siapa yang berbohong. Siapa yang hanya ingin terlihat mulia.
Hingga Baroness Pennilia kembali membuka mulut.
"Duchess," ucap Baroness manis, "bagaimana kau bisa menjadi kurus dan secantik ini? Aku jadi iri."
Liora tersenyum ramah dan menjawab, "Mungkin karena menjadi Duchess membuatku bisa makan dan berolahraga dengan baik."
Pennilia tertawa kecil. "Artinya Anda diperlakukan baik di kediaman Duke, ya?"
Tatapan Liora mengeras.
"Baroness," panggil Liora tenang namun tajam, "Anda berkata seolah mengharapkan aku diperlakukan buruk. Bukankah itu sama saja Anda menyebarkan rumor tentang Duke?"
Wajah Pennilia pucat. "Tidak, tidak seperti itu! Bukan maksud saya-"
Countess menutup kipasnya agak keras.
"Duchess,” kata Countess dengan senyum palsu, "kenapa Anda sensitif sekali? Mereka hanya bertanya. Walau tampilan Anda berubah, Anda tetap mudah marah, ya."
Liora tersenyum.
"Apa aku tidak boleh marah, Countess? Ada yang berusaha membuat rumor buruk tentang Duke. Bagaimana aku bisa diam saja jika suamiku di cap buruk," tantang Liora.
Countess mendesah pura-pura sedih. "Kami hanya khawatir. Mengingat Duke meninggalkan Anda sendirian di hari pernikahan."
Liora menatapnya datar.
"Terima kasih atas kekhawatiran Anda. Tapi Duke memberitahuku alasannya. Hubungan kami baik-baik saja," jawab Liora santai.
"Oh, Duchess,” Countess melanjutkan, "Anda tidak perlu berbohong. Kau bisa cerita pada kami jika kau diperlakukan buruk di sana. Kami siap membantu."
Bantu menyebarkan rumor, pikir Liora dingin.
Bisikan kembali merebak.
Hingga pintu aula terbuka.
"Kaisar Yang Mulia dan Duke Alaric Ravens hadir!"
Aula membeku, semua berdiri lalu membungkuk memberi hormat.
Alaric melangkah masuk, tinggi, berwibawa, tatapannya tajam bersama Kaisar yang sama berwibawanya.
Permaisuri dengan senyum ramah bertanya kepada Kaisar, "Yang Mulia, ada apa Anda datang ke sini?"
Kaisar mencium punggung tangan permaisuri dan menjawab, "Hanya ingin menyapa karena kebetulan aku dan Alaric baru selesai bicara. Alaric bilang ingin menjemput istrinya."
Semua orang terkejut mendengar hal itu.
Dan saat itulah Alaric mendekat ke Liora, melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan mencium pucuk pucuk kepala Liora lalu berkata, "Apa aku mengganggumu, Sayang? Aku ingat kau berkata akan menghadiri pesta minum teh Permaisuri. Jadi aku sekalian ke sini setelah bertemu dengan Kaisar."
Liora tersenyum lembut, "Kau tidak mengganggu sama sekali. Kau datang di waktu yang tepat, Duke. Aku kebetulan sudah juga sudah ingin kembali."
Alaric tersenyum membuat semua orang terkejut karena pertama kalinya mereka melihat Duke tersenyum. Bahkan wajah mereka merona ketika melihat bagaimana Duke begitu mesra dengan Liora.
Alaric berkata, "Kalau begitu ayo pulang. Aku juga masih merindukanmu setelah berbulan-bulan di wilayah timur. Aku ingin menghabiskan seharian ini denganmu."
Liora tersenyum dan mengangguk.
Kaisar yang berdiri di samping permaisuri dan melihat kelakuan Alaric berbisik kepada permaisuri, "Aku yakin itu bukan sandiwara."
Permaisuri balas berisik, "Tentu saja bukan. Tapi itu cukup membuat orang bungkam. Mungkin setelah ini rumor buruk tentang Liora akan digantikan dengan Duke yang cinta istrinya."
Kaisar tertawa kecil.
Liora berbalik melihat semuanya termasuk Countess yang kini sudah tidak lagi dapat memalsukan senyum.
"Aku akan pulang lebih dulu. Terima kasih atas jamuannya. Dan permaisuri terima kasih karena sudah mengundang saya ke sini. Ini pesta yang sangat indah," ucap Liora.
Permaisuri tersenyum dan menjawab, "Tentu saja. Semua wanita berhak datang ke jamuan pesta teh yang aku buat, apalagi dirimu, Duchess."
Alaric masih melingkarkan tangannya di pinggang Liora lalu mereka berdua pamit pulang.
Alaric berbisik, "Kau luar biasa cantik hari ini. Pantas saja suasana di sana memanas."
Liora tertawa kecil. "Aku tahu kau sengaja datang dengan tujuan membuat keadaan semakin panas."
Alaric tersenyum pura-pura polos, "Aku tidak melakukan apa pun, aku hanya menjemput istriku pulang."
Kepulangan mereka diiringi tawa penuh kepuasan.
Walau mereka tidak tahu bahwa Countess kini tengah meremas kipasnya dengan wajah marah di perjamuan.
tapi nanti ada cerita lanjutan anak-anak ya 🙏🙏🙏🫰🫰👍👍
happy ending 👏👍
terimakasih thor 🙏, selalu sukses dgn karya-karyanya di novel dan tunggu cerita para bocil cadel juga Rowan 😍
𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐝𝐢 𝐫𝐞𝐢𝐤𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐮𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐦𝐞𝐥𝐢𝐡𝐚𝐭 𝐦𝐚𝐤𝐡𝐥𝐮𝐤 𝐠𝐚𝐢𝐛 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐠𝐚𝐫 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐫𝐬𝐛𝐭 𝐛𝐬 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐨𝐛𝐚𝐭𝐢 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 😁😁