Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layvin yang Khawatir
Dua hari setelah kejadian di tangga kafe, Layvin ga bisa tidur. Dia terus mikirin Naura, terus ngebayangin kalau Naura beneran jatuh waktu itu, kalau Naura gak berhasil pegangan, kalau...
Layvin menggeleng keras, mengusir pikiran mengerikan itu. Dia harus lakuin sesuatu, harus bilang ke Naura tentang bahaya yang mengintainya.
Meski ga punya bukti konkrit, Naura mungkin gak akan percaya. Tapi Layvin harus coba.
Pagi itu Layvin datengin mansion tanpa bilang bilang, dia tau Nathan lagi di luar kota buat meeting penting, jadi ini waktu yang pas buat ketemu Naura pribadi. Jam sepuluh pagi dia sampe, Bi Ijah yang bukain pintu dengan ekspresi kaget.
"Pak Layvin? ada keperluan apa? Tuan Nathan lagi gak ada."
"Aku tau, Bi, aku kesini mau ketemu Nyonya Naura, bisa?"
Bi Ijah ngeliat Layvin dengan pandangan yang sulit dijelasin, kayak tau ada sesuatu tapi ga berani ngomong. "Nyonya lagi di perpustakaan, saya antarkan."
Naura lagi duduk di sofa perpustakaan kecil mansion, baca buku tentang kehamilan sambil sesekali mengelus perutnya yang masih rata, dia pakai dress rumahan simple warna putih, rambut diiket asal, ga pake makeup, keliatan natural dan cantik.
Layvin berhenti di pintu sebentar, ngeliatin Naura yang ga sadar dia lagi diperhatiin. Ada perasaan aneh di dada Layvin. Perasaan hangat yang dia coba bunuh berkali kali tapi tetep tumbuh.
"Nyonya," panggil bi Ijah
Naura ngangkat muka, matanya melebar pas liat Layvin. "Layvin? Kenapa kamu kesini?"
"Maaf mengganggu, Nyonya. Ada yang mau aku bicarakan, ini penting." Layvin masuk dengan langkah ragu.
Bi Ijah ngerti isyarat, dia keluar dan nutup pintu perpustakaan, ninggalin mereka berdua.
Naura nutup bukunya, naruh di meja, "Ada apa? Nathan kenapa kenapa?"
"Bukan tentang Tuan Nathan." Layvin duduk di sofa seberang Naura, jarak aman tapi cukup deket buat ngobrol serius. "Ini tentang Nyonya."
"Aku?" Naura bingung
Layvin napas panjang, tangannya mengepal di lutut. "Nyonya, akhir-akhir ini sering jalan sama Nona Mahira kan?"
Nama Mahira bikin Naura sedikit tegang, "I-iya, memangnya kenapa?"
"Nyonya harus hati-hati sama dia."
Hening, Naura menatap Layvin gak percaya. "Apa maksudnya?"
"Ada yang gak beres sama wanita itu Nyonya, aku punya feeling, dia lagi menyusun sesuatu yang jahat, buat mencoba menyakiti Nyonya." Layvin bilang serius.
Naura berdiri dengan cepet, ekspresinya berubah jadi defensif. "Layvin! kamu gak bisa ngomong kayak gitu! Mahira sahabat terbaikku! dia gak mungkin nyakitin aku!"
"Nyonya dengerin aku dulu."
"Gak! kamu yang dengerin aku!" Naura naikin suaranya, jarang banget dia marah tapi sekarang dia kesel. "Mahira itu orang yang selalu ada buat aku waktu aku susah, dia yang bantuin aku waktu ibu sakit, dia yang dengerin aku nangis waktu patah hati, dia lebih dari sahabat, dia kayak kakak buat aku!"
"Tapi Nyonya."
"Aku tau kamu gak suka dia karena dia mantan Tuan Nathan, tapi itu bukan alasan kamu nuduh dia kayak gini!" Naura jalan mondar mandir, tangannya gemetar karena emosi.
Layvin berdiri juga, "Ini bukan tentang dia mantan Tuan Nathan, ini tentang keselamatan Nyonya."
"Keselamatan? kamu lebay Layvin!"
"Aku gak lebay!" Layvin juga naikin suaranya, frustrasi. "Aku liat sendiri Nyonya! waktu di kafe kemarin, dia sengaja nyenggol tas Nyonya biar Nyonya jatuh dari tangga!"
Naura berhenti jalan, menatap Layvin dengan mata melebar. "Kamu ikutin aku?"
Shit.
Layvin sadar dia salah ngomong.
"Aku hanya kebetulan lewat situ."
"Bohong! kafe itu jauh dari kantor! kamu sengaja ikutin aku kan?!" Naura makin marah, "Kamu ga punya hak ngontrol hidup aku Layvin! kamu bukan siapa siapa aku!"
Kata kata itu nyakitin Layvin lebih dari yang Naura tau. Layvin emang bukan siapa-siapa, dia cuma asisten Nathan. Cuma orang luar.
"Nyonya bener, aku bukan siapa-siapa." Layvin bilang pelan, suaranya berubah sedih. "Tapi aku peduli sama Nyonya, aku gak mau ada terjadi sesuatu sama Nyonya."
"Peduli?" Naura tertawa pahit. "Kamu peduli tapi kamu tuduh sahabat terbaikku tanpa bukti? itu bukan peduli Layvin, itu namanya paranoid!"
"Aku punya feeling Nyonya."
"Feeling, bukan bukti!"
"Tapi feeling aku jarang salah!" Layvin melangkah lebih deket. "Please Nyonya, percaya sama aku, ada yang gak beres sama Mahira, matanya waktu Nyonya hampir jatuh itu bukan mata orang yang khawatir, tapi mata orang yang kecewa karena Nyonya gak jatuh."
Naura mundur selangkah, "Kamu kelewatan Layvin, kamu terlalu jauh."
"Aku cuma mau Nyonya selamat."
"Selamat dari apa?! dari sahabatku sendiri?!" Naura ngelap air mata yang tiba tiba keluar "Kamu gak ngerti Layvin, kamu gak ngerti betapa sendiriannya aku di rumah ini, Mahira satu-satunya temen yang aku punya, satu satunya orang yang mau dengerin aku, yang mau nemenin aku, dan sekarang kamu mau ambil itu dari aku?!"
Layvin ngerasa dadanya tercabik cabik denger tangisan Naura.
"Nyonya."
"Keluar." Naura bilang pelan
"Nyonya, please."
"AKU BILANG KELUAR!" Naura berteriak sambil nunjuk pintu.
Layvin berdiri disitu, tangannya mengepal erat, rahangnya mengeras, mata dia berkaca kaca tapi dia tahan.
"Setidaknya..." dia ngomong dengan suara bergetar "Setidaknya jaga diri Nyonya baik-baik, please, buat aku."
Naura menatap Layvin dengan air mata ngalir. "Kenapa kamu begitu peduli sama aku Layvin?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, Layvin menatap Naura lama. Hatinya berteriak pengen jawab jujur, pengen bilang karena aku cinta kamu. Karena aku gak bisa tidur mikirin kamu, kamu satu-satunya hal yang membuat hidup aku berarti. Tapi mulutnya ngomong yang lain.
"Karena itu tugas aku." dia berbisik sambil menunduk. "Tugas aku sebagai asisten Tuan Nathan, yang harus menjaga, orang-orang yang Tuan Nathan sayangi."
Nathan bahkan gak sayang sama Naura, tapi Layvin harus bohong. Harus tutup perasaannya, karena Naura istri Nathan dan Layvin gak punya hak.
"Tugas." Naura mengulang kata itu dengan suara hampa. "Jadi cuma tugas ya."
Layvin ga jawab, ia cuma berdiri disitu dengan kepala tertunduk.
"Pergi Layvin, aku capek." Naura duduk di sofa, mengelap air matanya.
Layvin berjalan ke pintu dengan kaki berat banget, setiap langkah terasa kayak ada beban ton di kaki. Pas di pintu dia berhenti, noleh ke Naura yang lagi nangis pelan.
"Nyonya," dia bilang terakhir kali. "Aku gak akan berhenti untuk menjaga Nyonya. Mau Nyonya marah atau benci sama aku, aku akan pastikan bahwa Nyonya tetap aman."
Dan Layvin keluar, nutup pintu pelan, Naura sendirian di perpustakaan, nangis sambil memeluk bantal.
Layvin bilang Mahira berbahaya, tapi Mahira sahabatnya. Sahabat yang udah bertahun tahun bareng dia.
Ga mungkin Mahira nyakitin dia kan? Tapi kenapa hati Naura bergetar pas Layvin bilang soal mata Mahira?
Kenapa Naura inget tatapan Mahira pas dia hamper jatuh kemarin? Kenapa ada bagian kecil di hati Naura yang bisik bisik "mungkin Layvin bener"?
Naura menggeleng keras, gak mungkin Mahira sahabatnya akan mengkhianati dia.
***
Di luar mansion, Layvin duduk di mobilnya sambil ngegencet setir keras.
"Sialan," dia pukul setir keras sampe tangannya sakit.
Ponselnya berbunyi, dan Keysa menelpon.
...📞...
"Layvin, aku dapet info baru tentang Mahira"
^^^"Apa?"^^^
"Dia lagi cari info tentang kehamilan, browsing tentang hal hal yang bisa bikin keguguran, aku hack laptopnya dan liat history browsernya."
Keisya bilang serius, jantung Layvin seketika terasa berhenti.
^^^"Dia tau Nyonya Naura hamil?"^^^
"Kayaknya iya, dan dia lagi nyari cara buat..."
Keisya gak meneruskan ucapannya, tapi Layvin udah ngerti, Mahira mau bunuh bayi Naura.
^^^"Kirim semua buktinya padaku, sekarang." ^^^
Layvin bilang dengan nada yang gak bisa ditolak.
"Oke, tapi Layvin. Ini belum cukup kuat buat lapor polisi, ini cuma browsing history, bisa aja dia bilang cuma penasaran atau research buat orang lain."
"Aku tau, tapi setidaknya ini bukti buat tunjukin ke Nyonya Naura bahwa aku ga paranoid."
Layvin menyalakan mesin mobil.
"Kamu terus pantau Mahira, lapokan setiap gerakan dia, aku gak mau ada yang kelewat."
^^^"Siap."^^^
Telepon ditutup, Layvin menatap mansion dari jendela mobil. Naura ada di dalam sana, Naura yang marah sama dia, Naura yang gak percaya sama dia.
Tapi Layvin tetep akan menjaga dia, dan melindungi dia. Cinta itu membuat Layvin rela, melakukan apapun buat Naura.
ada laki2 lain yg perhatian dn menjaga,kenapa gk sm laki2 itu
lagian nathan jg selingkuh lbh baik naura pergi menjauh dari nathan.
daripd sakit hati tiap hari.
suami yg blm lepas dr masa lalunya gk akn percaya sm omongan istri sah nya.
buat apa tetap cinta dn bertahan.
pergi,cari kebahagiaanmu bersama anakmu sj