Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Pertarungan Akhir
Kegelapan di terowongan gua itu bukan sekadar gelap—ia hidup, lembab, dan haus. Air hitam yang mengalir di bawah kaki mereka terasa seperti darah dingin yang mengelus betis, sementara dinding batu berlumut hijau kehitaman mengeluarkan bau amis sungai purba yang menusuk hidung.
Ekor Raja Biawak melingkar erat di pinggang Siti Aisyah dan Sari Wangi, sisiknya licin tapi kasar seperti amplas basah, menekan kulit mereka dengan kekuatan yang tak bisa ditolak. Kedua perempuan itu terseret semakin dalam, kaki mereka terseret di genangan air dingin, jarik batik basah menempel ketat di tubuh seperti kulit kedua yang tak mau lepas.
Siti Aisyah berusaha berjuang, tangannya mencakar sisik ekor itu, kuku jarinya patah karena kerasnya sisik. “Lepaskan kami! Ini cukup! Aku sudah membayar malam itu!” jeritnya, suaranya pecah bergema di terowongan. Payudaranya montok naik turun cepat di balik kebaya merah tipis yang robek di bahu, kain sutra basah menempel seperti kulit kedua, putingnya mengeras karena dingin dan ketakutan. Rambut hitam panjangnya terurai basah, menempel di leher dan punggung, beberapa helai menutupi wajahnya yang pucat.
Sari Wangi di sampingnya menangis tersedu, tubuhnya gemetar hebat. Jarik batik coklat tuanya robek di pinggir, memperlihatkan paha mulusnya yang berkilau air. Payudaranya yang lebih montok dan penuh tertekan kain basah, garis lekuknya jelas terlihat di bawah cahaya samar dari obor yang jauh di belakang. “Jangan... tolong... Daeng... tolong...” isaknya, suaranya hilang ditelan kegelapan.
Nyai Biawak tertawa—tawa gemuruh yang menggetarkan dinding gua, seperti air terjun yang menghantam batu. “Kalian berdua... tubuh molek yang sempurna. Siti Aisyah, aku sudah menikmati tubuhmu malam itu—lidahku masih ingat rasa manis di antara pahamu, payudaramu yang empuk di genggaman sisikku. Dan kau, Sari Wangi... pinggulmu lebih lebar, payudaramu lebih berat, kulitmu lebih hangat. Aku akan menikmati kalian berdua sampai puas... di sini... di kedalaman ini... sampai jiwa kalian menyerah.”
Ekor itu menarik mereka ke ruang dalam gua yang lebih luas—sebuah kamar bawah tanah berbentuk lingkaran, dindingnya ditumbuhi lumut tebal yang bercahaya hijau samar, seperti ribuan mata kecil yang mengawasi. Di tengah ruangan ada batu datar besar yang licin, seperti altar alami yang sudah lama menunggu korban. Raja Biawak melempar kedua perempuan itu ke atas batu tersebut. Tubuh mereka terhempas basah, jarik batik robek semakin parah, memperlihatkan kulit kuning langsat yang berkilau air sungai purba.
Raja Biawak membungkuk di atas mereka, tubuh raksasanya menutupi cahaya samar. Mata kuning vertikalnya menyala ganas, lidah bercabang panjangnya menjulur, menjilat udara di antara kedua perempuan itu.
“Lihat... kalian berdua basah seperti ini... begitu menggoda.”
Ia mulai dengan Siti Aisyah. Tangan bersisiknya yang besar meremas payudara montok itu dari luar kain basah, kuku hitam melengkung menggores pelan kulit kuning langsat di sekitar puting, meninggalkan goresan merah tipis yang langsung memerah. Siti Aisyah menggigit bibir, menahan jeritan, tapi tubuhnya menggigil saat lidah bercabang itu menjilat lehernya, turun ke belahan dada, merasakan rasa asin keringat dan air sungai. “Jangan... cukup... aku sudah bayar...” gumamnya, suaranya pecah.
Raja Biawak tak mendengar. Ekornya melingkar di paha Siti Aisyah, menarik jarik batik putih motif coklat itu sampai robek sepenuhnya, memperlihatkan bagian intimnya yang mulus tanpa bulu, basah oleh air dan ketakutan. Lidah bercabang itu menjilat pelan di sana—rasa manis dan asin bercampur, membuat tubuh Siti Aisyah kejang hebat, pinggulnya naik turun tak terkendali meski hatinya menolak.
Sari Wangi di sampingnya menangis melihat itu, tapi Raja Biawak tak memberi waktu. Tangan sisiknya beralih ke Sari, meremas payudara montoknya yang lebih berat, jari panjangnya mencubit puting sampai merah, sementara ekornya menarik jarik Sari, memperlihatkan lekuk tubuh yang subur dan hangat.
“Berdua... sempurna...” geram Nyai Biawak, suaranya bergema seperti guntur di gua. Lidahnya menjilat bergantian—dari payudara Siti Aisyah yang montok ke paha Sari yang mulus, mencicipi keduanya seperti makanan terlarang yang sudah lama dirindukan. Tubuh kedua perempuan itu basah kuyup, kulit mereka berkilau di bawah cahaya lumut hijau, napas mereka tersengal campur tangis dan getar kenikmatan yang dipaksa. Siti Aisyah mencoba bicara lagi, “Ini... cukup... lepaskan Sari... aku yang bayar semuanya...” tapi suaranya hilang saat lidah bercabang itu menjilat lebih dalam, membuat tubuhnya kejang lagi.
Di luar, pertarungan di gua utama semakin sengit. Daeng Tasi dan Kang Asep menebas pasukan siluman biawak yang semakin banyak, badik sakti dan golok Ciomas berputar seperti badai kecil, darah hitam siluman berceceran di lantai batu. “Nen! Sari!” jerit Daeng Tasi, suaranya pecah saat melihat istrinya dan Sari ditarik ke kegelapan terowongan. Kang Asep di sampingnya menebas tiga siluman sekaligus, golok Ciomas memotong ekor dan cakar dengan bunyi besi yang memekakkan telinga. Bang Jaim menyemprotkan sisa air suci sambil melantunkan mantra keras, membuat puluhan siluman memudar menjadi asap hitam.
Mereka akhirnya berhasil tembus ke terowongan gelap, tapi di mulutnya sudah menunggu puluhan siluman lagi. Pertarungan akhir tak bisa dielakkan—cakar siluman menyambar lengan Daeng Tasi, meninggalkan goresan berdarah, tapi badik sakti memotong kepala siluman itu. Kang Asep berteriak memanggil nama Siti Aisyah istrinya, golok Ciomasnya menebas seperti angin ribut, memotong badan siluman menjadi dua.
Di ruang dalam, Raja Biawak masih menikmati tubuh Siti Aisyah dan Sari—lidah bercabangnya menjilat bergantian, tangan sisiknya meremas payudara montok mereka, ekornya melingkar di paha dan pinggul, menarik mereka lebih dekat ke tubuhnya yang licin dan panas. Jeritan dan isak tangis kedua perempuan itu bergema, tubuh mereka basah kuyup, kulit kuning langsat berkilau air dan keringat, payudara naik turun cepat, paha mulus gemetar tak terkendali.
Tapi di luar, suara mantra Bang Jaim semakin keras. Daeng Tasi dan Kang Asep akhirnya menembus barisan siluman terakhir, masuk ke ruang dalam dengan badik dan golok berlumur darah hitam.
“Lepaskan mereka!” raung Daeng Tasi, badik sakti diacungkan.
Raja Biawak mengangkat kepala, mata kuningnya menyala ganas. “Terlambat... mereka sudah jadi milikku...”
Pertarungan akhir benar-benar dimulai.
***
Di ruang dalam gua yang gelap dan lembab itu, waktu seolah berhenti, tapi hati setiap orang berdegup seperti genderang perang yang tak mau diam. Air hitam di bawah kaki mereka tak lagi mengalir tenang—ia bergolak seperti darah yang hidup, naik setinggi dada, membentuk pusaran raksasa yang berwarna merah pekat seperti lautan darah yang terbangun dari mimpi buruk terdalam.
Dari pusaran itu muncul ilusi terkuat yang pernah mereka lihat: sungai darah raksasa yang membentang seluas gua, permukaannya bergelombang ganas seperti napas monster yang sedang marah, dan dari dalamnya ribuan bayang anak-anak kecil muncul—wajah-wajah polos yang menjerit tanpa suara, tangan mungil mereka mencoba meraih permukaan dengan putus asa, mata mereka terbuka lebar penuh ketakutan yang tak terucapkan. Jeritan itu tak terdengar oleh telinga, tapi menusuk langsung ke dada—seperti ribuan jarum dingin yang menusuk hati, membuat napas tersengal, air mata mengalir tanpa sadar, dan rasa bersalah yang lama terkubur bangkit kembali seperti mayat yang hidup.
Siti Aisyah merasakan tusukan itu paling dalam. Setiap jeritan bayang anak seperti jeritan dirinya sendiri saat kecil—saat tangan Mbah Saroh menariknya dari pelukan ibu, saat api membakar gubuk, saat ia lolos tapi meninggalkan luka yang tak pernah sembuh di hati seorang dukun yang tersiksa. Air matanya jatuh deras, membasahi batu altar licin, tubuhnya gemetar hebat di atas batu itu.
Payudaranya montok naik turun cepat, napasnya tersengal campur isak yang tak bisa ditahan. “Mereka... mereka seperti aku dulu... tak berdosa... tapi tersiksa karena dosa kami...” gumamnya, suaranya pecah, penuh rasa sakit yang selama ini ia pendam di balik senyum untuk anak-anaknya.
Sari Wangi di sampingnya menangis tersedu-sedu, tangannya mencengkeram batu altar sampai jari-jarinya memutih. Trauma malam penculikan Lilis kembali menghantamnya seperti ombak ganas—gambar bayinya direnggut dari pelukannya, rasa tak berdaya yang membuat dadanya sesak, rasa bersalah karena tak bisa melindungi darah dagingnya sendiri. “Lilis... anak-anak itu... mereka seperti Lilis... aku tak mau mereka tersiksa lagi...” isaknya, air matanya jatuh ke payudara montoknya yang basah, membuat kain jarik robek semakin menempel ketat di kulit kuning langsatnya yang berkilau air dan keringat.
Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dingin gua, tapi karena gelombang emosi yang tak tertahankan: cinta ibu yang hampir kehilangan segalanya, rasa takut yang masih membekas, dan harapan kecil yang mulai tumbuh setelah doa di masjid.
Raja Biawak berdiri di tengah pusaran, tubuh raksasanya setengah tenggelam dalam darah ilusi, sisik hijau kehitamannya berkilau merah oleh cahaya samar lumut dinding. Ekor panjangnya masih melingkar lemah di pinggang Siti Aisyah dan Sari Wangi, tapi cengkeramannya mulai goyah. Ia tertawa—tawa gemuruh yang menggetarkan dinding gua, tapi di balik tawa itu ada nada rapuh yang baru muncul, seperti seseorang yang mulai sadar bahwa kekuatannya bukan abadi.
“Lihat... ini kekuatanku yang sebenarnya. Dendam Mbah Saroh memberiku energi. Kalian datang untuk akhiri? Kalian hanya akan tenggelam bersama!” geramnya, suaranya bergema seperti guntur yang marah, tapi ada getar kecil di ujung kata-katanya—seperti monster yang mulai merasakan kesepian.
Daeng Tasi maju ke depan, badik sakti leluhur di tangan kanan bergetar pelan seperti merasakan energi gelap di udara. Botol air suci di tangan kirinya tinggal separuh, tapi matanya penuh tekad yang membara. Air matanya jatuh tanpa suara saat melihat istrinya dan Sari dalam cengkeraman itu—rasa takut kehilangan, rasa bersalah karena tak bisa melindungi lebih cepat, dan cinta yang dalam membuat dadanya sesak.
“Ini bukan pertarunganmu dengan kami,” katanya keras, suaranya menggema melawan tawa Raja Biawak, tapi ada getar emosi yang tak bisa disembunyikan. “Ini pertarunganmu dengan dendam yang kau pinjam dari Mbah Saroh. Dan dendam itu... bisa dipotong!”
Ia mulai melantunkan mantra Bugis-Makassar dengan suara yang pecah karena emosi:
“Bismillah... ya Allah, potong tali dendam yang mengikat jiwa tersiksa. Lunakkan hati yang keras, kembalikan kedamaian pada yang hilang. Ya Rahman, ya Rahim... lepaskan energi gelap dari bayang ini... kembalikan yang benar kepada yang benar... ampuni kami... ampuni dia...”
Sambil melantunkan, ia menyemprotkan sisa air suci ke pusaran sungai darah itu. Air bertemu ilusi—permukaan bergoyang hebat, jeritan bayang anak-anak semakin kencang, tapi kali ini jeritan itu terdengar seperti tangis bayi yang haus kasih sayang, bukan ancaman. Kang Asep maju di sampingnya, golok Ciomas leluhurnya diayunkan dengan doa keras, bilah lebar itu menebas udara di atas pusaran, menciptakan kilatan cahaya putih yang memotong bayang-bayang anak seperti pisau memotong kain hitam. Air mata Kang Asep jatuh saat melihat Siti Aisyah menangis tersedu—rasa takut kehilangan istri yang selama ini ia lindungi, rasa bersalah karena godaan malam itu, dan cinta yang membara membuat tangannya tak goyah.
Bang Jaim melantunkan mantra lebih keras dari belakang, tangannya menyemprotkan air suci yang tersisa. Pak Kades dan warga lain berdoa bersama, suara takbir dan istighfar menggema seperti gelombang yang menentang gelombang darah ilusi. Ilusi mulai retak—bayang anak-anak memudar satu per satu, jeritan mereka berubah menjadi isak pelan yang penuh kerinduan, lalu lenyap. Sungai darah raksasa menyusut, warnanya memudar menjadi merah muda, lalu bening kembali, mencerminkan cahaya obor dan wajah-wajah rombongan yang basah air mata.
Raja Biawak menggeram, tubuhnya goyah hebat. “Kalian... kalian potong ikatanku!” Ekornya melemah sepenuhnya, melepaskan Siti Aisyah dan Sari Wangi yang terjatuh ke batu altar, batuk air dan tersengal napas.
Sari merangkak ke arah Daeng Tasi, tangannya mencari suaminya dengan isak yang penuh kelegaan. Siti Aisyah bangkit pelan, tubuhnya gemetar, tapi matanya penuh tekad yang lebih kuat dari sebelumnya.
Dan di tengah pusaran yang hampir lenyap, Nenek Gerandong muncul lagi—kali ini bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bayang yang rapuh, hampir transparan. Rambut kelabu panjangnya mengapung pelan seperti daun kering di angin, mata merahnya berkedip lemah, tubuh kurusnya melayang seperti asap yang hampir habis. Ia menatap Siti Aisyah dengan tatapan yang penuh luka—luka yang selama puluhan tahun ia pendam di balik dendam.
Siti Aisyah maju ke depan, langkahnya goyah tapi pasti. Air matanya jatuh deras, membasahi batu altar licin. Ia berlutut di depan bayang Nenek Gerandong, tangannya terulur, lalu memeluk bayang itu—meski hanya udara dingin yang ia rasakan, ia memeluk dengan segenap jiwa. Tubuhnya gemetar hebat, isak tangisnya pecah seperti bendungan yang jebol.
“Mbah Saroh... aku tahu kau tersiksa... aku tahu suamimu mati dibunuh Inggris -Belanda, bayi mati karena kau trauma habis di perkosa beramai ramai. Kamu menderita karena pengusiran warga, kau dibakar hidup-hidup karena kami ingkar janji... aku tahu kau menderita sendirian, tak ada yang mendengar tangismu, tak ada yang pegang tanganmu saat kau kesakitan... aku tahu kau jadi begini karena kami... karena aku yang lolos, karena desa ini yang tak pernah minta maaf...”
Tangisnya semakin keras, suaranya pecah-pecah. “Maafkan kami, Mbah... maafkan atas nama semua orang... maafkan kesalahan yang membuatmu jadi monster... maafkan karena kami tak pernah paham luka hatimu... maafkan karena kami biarkan kau sendirian dalam api itu... maafkan... aku minta maaf dari lubuk hati terdalam... lepaskan dendam itu... biarkan kau istirahat... biarkan kami hidup damai... biarkan kau pulang...”
Sari Wangi merangkak mendekat, tangannya ikut memeluk bayang Nenek Gerandong dari sisi lain. Air matanya jatuh deras, suaranya tersendat. “Maafkan Sari, Mbah... maafkan karena Sari tak bisa lindungi Lilis malam itu... maafkan karena kami tak pernah tahu penderitaanmu... maafkan... kami salah... kami benar-benar salah...”
Rombongan diam, obor mereka bergoyang pelan. Daeng Tasi menurunkan badik sakti, air matanya jatuh tanpa suara—rasa sakit melihat istrinya menangis seperti itu, rasa bersalah karena tak bisa melindungi lebih cepat, dan rasa syukur karena melihat akhir dari mimpi buruk. Daeng Tasi memeluk Istrinya. Kang Mamat yang penuh luka mendekat memeluk Adiknya Sari dan Iparnya daeng Tasi.
Kang Asep memeluk Siti Aisyah dari belakang, matanya basah, tangannya gemetar memegang istrinya yang masih gemetar. Bang Jaim berhenti melantunkan mantra, hanya berlutut dan berdoa dalam hati, air mata mengalir di pipinya.
Nenek Gerandong diam lama sekali. Matanya merah berkedip pelan, lalu air mata—air mata gaib yang berwarna merah tipis—jatuh dari sudut matanya, menetes ke batu altar dan lenyap seperti embun pagi. Bayangnya mulai memudar, tapi bukan karena dihancurkan—ia memudar seperti kabut yang ditiup angin hangat dari hati yang terbuka.
“Anakku... kalian... mengerti...” bisiknya, suaranya serak tapi penuh kelegaan yang lama tertahan, seperti orang yang akhirnya bisa bernapas setelah puluhan tahun tercekik. “Dendamku... sudah cukup. Raja Biawak... dia tak lagi punya ikatan denganku. Aku... aku bebas... terima kasih...”
Bayang Nenek Gerandong lenyap pelan, seperti asap yang naik ke langit-langit gua dan menghilang ke udara malam. Gua kembali hening sepenuhnya. Air hitam surut, meninggalkan genangan bening yang mencerminkan cahaya obor dan wajah-wajah rombongan yang basah air mata. Bau kemenyan hilang selamanya, digantikan aroma tanah basah yang segar, seperti hutan yang baru saja dicuci hujan.
Siti Aisyah dan Sari saling peluk, menangis bersama—bukan tangis sedih, tapi tangis lega yang dalam, tangis yang membersihkan luka lama. Daeng Tasi memeluk Sari erat, mencium kening istrinya dengan air mata, suaranya pecah: “Kau aman... kau pulang...” Kang Asep memeluk Siti Aisyah, tangannya gemetar memegang istrinya, bisiknya penuh rasa syukur: “Terima kasih, Nen... kau selamatkan kami semua...”
Rombongan berlutut, berdoa syukur panjang dengan suara yang tersendat air mata. Raja Biawak tak muncul lagi. Ikatannya dengan dendam telah putus. Gua itu kini hanya gua biasa—lembab, dingin, tapi tak lagi menyeramkan.
Mereka keluar dari gua saat fajar menyingsing. Langit di atas hutan mulai terang, cahaya matahari pagi menyusup melalui celah pohon durian, menerangi wajah-wajah mereka yang lelah tapi penuh kedamaian. Desa Durian Berduri menunggu di bawah bukit, dan untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, tak ada lagi tawa serak di malam hari.
Dendam telah berakhir. Bukan dengan darah, tapi dengan air mata, pelukan, dan pengampunan yang tulus dari hati yang akhirnya mengerti.
***