NovelToon NovelToon
Sumpah Cinta Matiku

Sumpah Cinta Matiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Duda / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: dtf_firiya

Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.

Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.

Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.

Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.

Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?

Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Good Idea

Siang itu, koridor Fakultas Seni Rupa terasa lebih tenang dari biasanya. Aroma cat minyak yang khas dan debu kayu dari bengkel patung menyeruak di udara, menciptakan atmosfer kreativitas yang kental.

Idris berjalan menyusuri lorong dengan langkah mantap, membawa beberapa bundel silabus dan sketsa kurikulum baru. Namun, tujuannya bukan ke ruang kelas, melainkan ke ruang kerja senior yang paling ia segani sekaligus calon mertuanya: Pak Gunawan.

Di depan pintu kayu jati yang terukir indah, Idris mengetuk perlahan. Dari dalam, terdengar suara bariton yang sudah sangat akrab. "Masuk, Idris."

Pak Gunawan sedang duduk di balik meja besarnya yang penuh dengan tumpukan buku referensi seni, beberapa kuas yang belum dicuci, dan sebuah maket pameran. Ia mendongak, kacamatanya melorot sedikit ke ujung hidung. Tatapannya tajam namun hangat, khas seorang maestro yang telah melahirkan banyak seniman besar.

"Ah, rekan sejawatku yang sebentar lagi jadi anakku," sambut Pak Gunawan dengan senyum tipis yang penuh makna. "Duduklah. Jangan kaku begitu, kita sedang di kampus, bukan di ruang tamu rumah saya."

Idris duduk di hadapan Pak Gunawan. Ia meletakkan dokumennya, namun perhatiannya segera tertuju pada sebuah lukisan setengah jadi di sudut ruangan—sebuah komposisi abstrak dengan sapuan warna tanah dan sedikit aksen oranye terang.

"Saya lihat Bapak mulai menggunakan palet warna 'Merbabu Sunrise'," goda Idris dengan sopan.

Pak Gunawan tertawa renyah, suara tawanya memenuhi ruangan. "Tia itu memang luar biasa pengaruhnya. Sejak dia viral dengan kue-kuenya, dia sering menguliahi saya soal 'estetika rasa'. Tapi sejujurnya, Idris, lukisan ini tentang keberanian. Garis oranye itu adalah momen saat cahaya menembus gelap. Persis seperti apa yang kamu lakukan pada putri saya."

Idris terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. "Saya hanya memberikan dorongan kecil, Pak. Tia sendiri yang punya kekuatan untuk lari menuju jurang itu dan terbang."

"Itu masalahnya, Idris," lanjut Pak Gunawan sambil memutar-mutar sebuah pensil sketsa. "Dalam seni rupa, kita sering terjebak pada teknik. Kita mengajari mahasiswa cara mengarsir, cara mencampur warna, tapi kita sering lupa mengajari mereka cara 'merasakan' objeknya. Tia sempat kehilangan rasa itu saat dia jadi karyawan kantoran. Dan kamu, sebagai sesama pendidik seni, pasti tahu betapa sulitnya mengembalikan 'rasa' yang sudah tumpul."

Pak Gunawan kemudian mendorong maket pameran di atas meja ke arah Idris. "Saya ingin kita mengadakan pameran kolaborasi fakultas bulan depan. Temanya 'Transisi'. Saya ingin kamu yang memimpin kurasi karya mahasiswa tingkat akhir. Tapi saya punya satu ide gila."

Idris mencondongkan tubuh, tertarik. "Ide apa, Pak?"

"Saya ingin pameran ini tidak hanya visual. Saya ingin ada elemen sensorik lain. Saya ingin Crumbs & Clouds masuk sebagai bagian dari instalasi seni. Bukan sebagai katering, tapi sebagai karya seni kuliner. Kita akan menyandingkan patung-patung kontemporer dengan kue-kue buatan Tia yang terinspirasi dari alam."

Idris terpana. "Itu brilian, Pak. Itu akan mendobrak batasan antara seni murni dan seni terapan. Mahasiswa akan belajar bahwa seni tidak hanya berakhir di bingkai lukisan."

"Tepat," sahut Pak Gunawan. "Tapi ada syaratnya. Sebagai kurator dan calon suaminya, kamu harus memastikan Tia tidak stres. Saya tahu putri saya kalau sudah bekerja bisa lebih gila dari saya."

...----------------...

Suasana diskusi yang tadinya formal perlahan berubah menjadi lebih intim. Pak Gunawan berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah taman kampus yang asri.

"Idris," panggil Pak Gunawan tanpa berbalik.

 "Kamu tahu kenapa saya merestui kamu begitu cepat? Bahkan sebelum Eyang Ratu memberikan lampunya?"

"Karena kita sama-sama dosen, Pak?" tebak Idris.

Pak Gunawan menggeleng. "Bukan. Banyak dosen seni yang hanya pintar bicara tapi tidak punya jiwa pelindung. Saya melihat kamu saat kita mendiskusikan karya mahasiswa tempo hari. Kamu tidak hanya mengkritik teknik mereka, kamu mencoba memahami visi mereka. Kamu memperlakukan karya orang lain dengan hormat."

Ia berbalik, menatap Idris dengan mata yang berkaca-kaca sedikit. "Menjaga seorang seniman seperti Tia itu sulit. Dia punya perasaan yang sangat peka. Kadang dia bisa terbang terlalu tinggi sampai lupa cara mendarat, atau dia bisa terpuruk sangat dalam kalau karyanya gagal. Saya butuh seseorang yang bisa jadi jangkar tanpa harus mengekang sayapnya. Dan saya rasa, SUV hitam kamu itu adalah metafora yang pas: kuat, stabil, tapi bisa dibawa ke mana saja."

Idris berdiri, merasa sangat terhormat. "Terima kasih, Pak. Menjadi bagian dari keluarga Bapak adalah pameran terbesar dalam hidup saya. Saya janji akan selalu menjadi bingkai yang kuat untuk Tia."

...----------------...

Diskusi sore itu berakhir dengan kesepakatan teknis mengenai pameran "Transisi". Namun lebih dari itu, sebuah ikatan baru telah terbentuk. Bukan hanya sebagai rekan sejawat di fakultas seni, tapi sebagai dua pria yang memiliki satu misi yang sama: menjaga kebahagiaan wanita yang mereka cintai.

Saat Idris hendak keluar ruangan, Pak Gunawan berteriak kecil. "Eh, Idris! Jangan lupa bawa brownies yang 'The Landing' itu ke rapat dosen besok. Saya mau pamer kalau anak saya punya bisnis yang lebih sukses dari gaji dosen kita!"

Idris tertawa lepas sambil menutup pintu. Ia berjalan menyusuri lorong fakultas dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Di luar, matahari Jakarta mulai turun, memberikan warna yang sama dengan lukisan Pak Gunawan tadi.

Malam ini, ia akan menemui Tia di tokonya, membawa kabar gembira tentang kolaborasi besar ini. Perjalanan dari ruang kelas menuju pelaminan kini terasa seperti sebuah sketsa yang mulai diisi dengan warna-warna yang indah dan harmonis.

Idris sudah sampai di toko Tia. Dia memarkirkan mobilnya di parkiran depan crumbs and clouds.

Tia sudah selesai. Dia melihat Idris saat berada pas didepan pintu. Dia berlari kecil lalu memeluk Idris dengan erat. "How's your day mas?"

Idris tersenyum hangat "I'm well sayang. Everything is good!" Idris mengelus punggung tia dengan pelan. Menyalurkan kasih sayang yang tiada tara.

Tia mengajak Idris untuk duduk didepan karena semua pintu sudah di kunci bahkan Lita dan Anggun juga sudah pulang.

Idris berdehem pelan "ehmm Tia sebenarnya papa kamu tadi bicara sama aku soal pameran kurasi mahasiswa akhir nanti. Temanya Transisi" Tia berpikir dengan keras, "Jadi?...".

Idris menjelaskan lebih lanjut "Maksudnya papa kamu ingin membuat pameran yang tidak hanya tentang visual, tapi ada elemen sensorik lain. Beliau ingin Crumbs And Clouds masuk sebagai instalasi seni. Bukan sebagai katering tapi sebagai karya seni kuliner.Kita akan menyandungkan kue kamu dengan patung kontemporer" jelasnya.

"Tapi susah nggak si mas? Aku takutnya gabisa" ucapnya dengan nada pelan. Wajahnya terlihat berpikir keras dan terlihat seperti tidak yakin duluan.

Idris menggenggam tangan Tia saat mengetahui ketidakyakinan di wajahnya "Sayang kan ada aku, I'll always at your back. I'll always help you" idris mencoba meyakinkan Tia.

"Alright Terimakasih ya mas!"

"Yaudah ayo kita pulang!" Idris menggandeng tangan Tia. Dia membukakan pintu mobil untuknya.

1
partini
hah belum siap ,, aneh kali ya kalau masih pacaran ok lah kan dah nikah pasangan yg aneh
partini
salah kamu dris harusnya istrimu di ajak bertemu aihhh malah peluk segala pula ,,semoga sebelum pulang tuh video udah yampe biar berantem salah salah sendiri ga jujur
partini
hemmm so sweet
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
partini
sinopsisnya di rubah ya Thor
mantan ga ada
dtf_firiya: yes thank you sebentar ya I'll look for a fitting description
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!