Bukan keinginannya masuk dalam pernikahan ini. Dia tahu jika suaminya tidak akan pernah menganggapnya sebagai istri, Marvin hanya akan memandangnya sebagai penyebab kematian dari calon istrinya yang sebenarnya.
Kecelakaan yang menimpa Kakak beradik ini, membuat dunia seorang Raina hancur. Kakaknya yang sebentar lagi akan menikah dengan kekasih hatinya, harus pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Raina yang sebagai orang yang selamat, pasti akan disalahkan di pojokkan. Meski dia juga tidak pernah mau hal ini terjadi.
Dalam keluarganya, hanya Amira yang peduli padanya dan menganggapnya keluarga. Tapi sosok seperti malaikat tak bersayap itu, malah harus pergi untuk selamanya. Meninggalkan Raina seorang diri untuk menghadapi kejamnya hidup.
Entah sampai kapan pernikahan ini akan bertahan, apa Raina akan sanggup terus bertahan disamping suaminya, atau pergi untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 ~ Memulai Hidup Baru
Marvin terbangun pagi hari, tubuhnya terasa remuk dengan kepala yang berat dan pusing. Semalam dia terlalu mabuk sampai tidak ingat lagi apa yang terjadi. Namun ketika dia bangun dan melihat jika dirinya berada di kamarnya, mungkin teman-temannya yang membawanya pulang. Marvin turun dari tempat tidur saat tiba-tiba mual, berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel. Beberapa kali dia muntah, memegang kepalanya yang terasa sakit dan berat.
"Sial, terlalu banyak minum semalam jadi seperti ini"
Marvin mencuci wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut yang berantakan dan wajah yang sedikit pucat. Dia membuka bajunya dan berendam di bak mandi, pagi ini tetap harus pergi ke Perusahaan. Apalagi Papa yang masih belum mau berbicara dengannya setelah perceraian itu.
Setelah mandi dan siap, Marvin turun ke lantai bawah. Melihat ada Mbak Eni yang tidak sengaja lewat di dekat tangga. "Mana Raina? Apa dia sudah berangkat kerja?"
Mbak Eni seketika tertegun dengan pertanyaan Marvin barusan. Mengerjap beberapa kali karena terlalu kaget. "Tuan, apa Tuan lupa jika Nona sudah tidak berada disini sejak kemarin"
Deg... Marvin berhenti melangkah di anak tangga terakhir. Terdiam dengan tangan berpegangan pada pembantas tangga, sejenak hanya diam dengan tatapan yang kosong.
"Em, Tuan mau sarapan dulu?"
Marvin kembali mengerjap kaget saat mendengar suara Mbak Eni yang sengaja mengalihkan pembicaraan saat melihat Marvin yang terdiam dengan wajah terkejut seperti itu.
"Buatkan kopi saja"
"Baik Tuan"
Marvin duduk di sofa, mengangkat satu kakinya yang ditumpukan pada kaki sebelahnya. Tubuhnya bersandar dengan mata terpejam, bisa-bisanya dia lupa tentang perceraian yang terjadi kemarin dan masih menanyakan keberadaan Raina.
"Silahkan kopinya Tuan" Mbak Eni menatap Tuannya yang seperti mulai frustasi, wajahnya pun tidak seperti biasanya. Sedikit lebih pucat. "Kenapa Tuan tidak suka sarapan? Padahal Nona selalu memasak sarapan untuk Tuan, tapi sayangnya Tuan tidak pernah sarapan. Masakan Nona itu enak sekali loh Tuan"
Marvin menatap Mbak Eni dengan tatapan yang cukup tajam. Dingin menusuk, namun seperti menyimpan arti lain. "Maksudnya? Dia memaksa untukku?"
Entah kenapa Mbak Eni seperti ini membongkar semuanya, ingin Marvin tahu apa saja yang sudah dilakukan Raina hanya karena ingin mencoba memperbaiki hubungan pernikahan ini. Selama ini Mbak Eni tidak pernah benar-benar punya kesempatan untuk menceritakan semua ini pada Marvin.
"Nona selalu berkata jika dia ingin mencoba untuk menggantikan Nona Amira. Jadi dia memasak untuk Tuan, menyiapkan sarapan setiap pagi. Tapi Tuan tidak pernah datang ke ruang makan hanya untuk sarapan bersamanya. Saya sudah pernah bilang untuk Nona tidak terus melakukan itu, tapi Nona selalu mengatakan jika dia hanya sedang berusaha menjadi pengganti Nona Amira yang sesungguhnya, meski tidak di hargai sekalipun"
Marvin terdiam, menyimpan gelas kopi di tangannya. Tiba-tiba dadanya cukup sesak, ada rasa yang tidak bisa dia jelaskan. Namun, mendengar ucapan Mbak Eni barusan, cukup membuat dadanya sesak sekali.
"Saya permisi dulu, Tuan" ucap Mbak Eni, memilih pergi dari hadapan Marvin yang sedang melamun sendirian, setelah mendengar ucapannya, wajah Marvin benar-benar berubah, membuat Mbak Eni jadi mulai takut jika untuk terus berada di depannya, takut dia akan mendapatkan kemarahannya yang temperamental itu.
Hembusan napas panjang yang berat itu terdengar di ruangan ini. Mata yang terpejam dengan kepala yang bersandar pada sandaran sofa. Menunjukan wajah frustasi yang entah karena apa? Marvin mulai berpikir kenapa dia jadi seperti orang kehilangan arah tujuan setelah Raina tidak berada lagi di sampingnya.
"Ayolah Marvin, dia hanya wanita pengganti yang seharusnya kamu tidak perlu memikirkannya lagi setelah berpisah dengannya"
Meski mencoba meyakinkan diri dan hati agar dia tidak lagi memikirkan Raina. Tapi semakin dia mencoba melupakan, wajah mantan istrinya itu malah semakin terbayang dalam ingatannya begitu jelas.
*
"Neng Sahila, ini ada makanan dari Ibu"
Raina tersenyum saat dia sedang menyapu di teras rumah dan Wahyu datang dengan sebuah rantang di tangannya. Disini, Raina sengaja mengenalkan diri pada setiap orang dengan nama Sahila. Nama Rainama Sahila, dan sengaja dia memakai nama Sahila disini, karena tujuannya datang kesini adalah untuk memulai hidup baru yang lebih baik. Membuka lembaran baru dengan panggilan Sahila.
"Terima kasih ya Kang, padahal tidak perlu repot-repot"
"Ibu masak banyak, jadi ingat buat kirim sama Neng Sahila katanya"
Raina hanya tersenyum dan menerima rantang yang dibawa oleh Wahyu. Pria berkacamata itu terlihat cukup baik dan tulus padanya. Dan Raina memang baru mengenal Wahyu dan Ibunya saja saat berada disini.
"Em, Neng Sahila apa ada kegiatan atau rencana hari ini?"
"Niatnya mau mencari pekerjaan Kang, aku disini baru jadi masih mencari-cari pekerjaan"
"Mau ditemani? Saya bisa berikan beberapa rekomendasi untuk Neng Sahila"
"Memangnya tidak merepotkan ya, Kang Wahyu juga pasti ada kegiatan dan pekerjaan lain"
"Hari ini saya tidak bekerja, jadi bisa menemani Neng Sahila"
"Kalau begitu saya siap-siap dulu ya, Kang. Nanti di kabari lagi"
Setelah Wahyu pergi, Raina segera masuk ke dalam rumah. Membuka rantang makanan yang dibawakan oleh Wahyu tadi. Menatanya di atas meja makan kecil di dapur.
"Syukurlah ada orang seperti Kang Wahyu dan Ibunya yang baik sama aku. Semoga saja aku akan selalu dikelilingi orang-orang baik disini"
Raiina memakan makanan yang diberikan Wahyu tadi. Memakannya dengan lahap, dia memang sudah lapar karena tidak sempat sarapan. Selesai makan, Raina segera mandi dan bersiap pergi bersama Wahyu. Semalam mereka sempat bertukar nomor ponsel, hingga memudahkan Raina untuk menghubunginya.
"Neng, kita naik motor saja ya. Biar lebih cepat" ucap Wahyu yang sudah siap dengan motor matic terbaru yang berukuran cukup besar.
"Ah iya Kang, boleh"
Raina akhirnya naik ke jok motor Wahyu dengan sedikit susah karena ukuran motor ini yang besar dan tinggi. Setelah diberikan helm, Raina segera memakainya.
"Pegangan ya Neng, nanti takut jatuh"
"Em, i-iya Kang"
Raina memegang bahu Wahyu dengan sedikit canggung, karena sebenarnya dia juga tidak mungkin memeluk pinggangnya. Raina terlalu malu dan canggung untuk itu.
"Rencana mau melamar di tempat seperti apa, Neng?"
"Em, saya punya pengalaman di Perusahaan Kang. Apa mungkin bisa bekerja lagi di sebuah Perusahaan, meski Perusahaan kecil juga tidak papa. Yang penting saya mendapatkan penghasilan saja"
"Bagaimana kalau mencoba di Perusahaan tempat saya bekerja saja Neng? Meski bukan Perusahaan yang begitu besar, tapi cukup maju juga"
"Boleh Kang, kalau ada lowongan saya bisa bekerja dimana saja"
"Kalo gitu kita pergi ke Perusahaan tempat saya bekerja saja ya, coba masukan dulu lamaran"
"Iya Kang"
Raina benar-benar akan memulai hidup barunya disini. Mengubah nama panggilannya, dan mencari pekerjaan yang cukup nyaman juga. Dia akan mempersiapkan segalanya karena dia hidup sendiri disini.
Bersambung