Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Antara Imajinasi dan Realitas
Suasana di dalam mobil SUV itu terasa begitu sunyi, hanya diiringi suara mesin yang halus dan deru AC. Jordan sesekali melirik Airin dari sudut matanya. Gadis itu tampak sangat tenang, jemarinya bertaut di atas pangkuan, sementara matanya menatap pendar lampu jalanan yang mulai menghiasi kota.
Saat mobil melewati gundukan jalan yang cukup tinggi, tubuh Airin sedikit limbung. Ia tampak kehilangan keseimbangan di kursinya dan secara refleks mencoba berpegangan pada dasbor. Namun, kakinya seolah tersangkut karpet mobil, membuatnya hampir terjerembap ke arah depan.
Dengan gerakan yang sangat sigap, Jordan melepaskan satu tangannya dari kemudi dan menahan bahu Airin. Tangan besar Jordan yang hangat mendekap lengan Airin, menariknya kembali ke posisi duduk yang aman. Detik itu juga, gerakan mereka terhenti. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, hingga deru napas masing-masing bisa terasa di kulit.
Tatapan mereka terkunci. Jordan menatap dalam ke netra cokelat Airin yang tampak jernih sekaligus rapuh. Di bawah cahaya lampu jalan yang masuk menembus kaca mobil, bibir Airin yang merah alami tampak begitu mengundang. Tanpa sadar, Jordan memajukan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa hingga ia bisa mencium bibir Airin dengan sangat lembut, mengecap rasa manis yang selama ini hanya ia bayangkan.
"Pak Jordan?"
Suara lembut itu memecah segalanya. Jordan tersentak dan mengerjapkan matanya berkali-kali. Ia masih memegang kemudi dengan erat, dan mobilnya baru saja berhenti sempurna di depan lobi apartemen Airin. Tidak ada sentuhan, tidak ada ciuman. Semuanya hanyalah imajinasi liar yang mampir di kepalanya selama beberapa detik tadi.
Jordan berdehem berat, berusaha menutupi rasa gugup dan jantungnya yang berdegup kencang karena khayalan barusan.
"Sudah sampai, Pak. Terima kasih banyak sudah mau mengantar saya," ucap Airin sambil melepaskan sabuk pengamannya. Ia tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipinya yang manis, tanpa tahu apa yang baru saja melintas di pikiran dosennya itu.
Saat Airin hendak membuka pintu mobil, sebuah tangan yang kokoh namun lembut menahan pergelangan tangannya. Airin menoleh dengan raut bingung. Kulit mereka bersentuhan, dan Jordan bisa merasakan betapa halusnya tangan gadis itu.
"Tunggu, Airin," suara Jordan terdengar sedikit serak. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku kemeja.
"Berikan nomor ponselmu."
Airin mengerutkan kening sedikit, tampak ragu. "Untuk apa ya, Pak?"
Jordan kembali memasang wajah cueknya untuk menutupi niat terselubung. "Sebagai asisten kelas sementara. Kamu yang paling paham materi, saya mungkin butuh bantuanmu untuk mengoordinasikan tugas atau presentasi teman-temanmu. Kamu keberatan?"
Karena kepolosannya, Airin mengangguk pelan. Ia berpikir mungkin ini memang bagian dari tanggung jawabnya sebagai mahasiswa yang cukup menonjol di kelas. "Baik, Pak. Ini nomor saya."
Setelah Airin mengetikkan deretan angka di ponsel Jordan, ia kembali berpamitan. "Saya duluan, Pak. Selamat malam."
"Malam, Airin. Masuklah," jawab Jordan pendek. Ia menunggu sampai sosok Airin menghilang di balik pintu lobi sebelum menjalankan kembali mobilnya.
Baru saja mobil SUV hitam itu melaju pergi dari area apartemen, sebuah mobil kota berwarna putih masuk ke area parkir yang sama. Tak lama kemudian, Thea, Dion, dan Kriss keluar dari mobil tersebut dengan wajah penuh semangat sekaligus lelah.
"Rin! Untung lo belum naik!" teriak Thea saat melihat Airin yang baru saja hendak melangkah ke arah lift.
Airin menoleh, wajahnya menunjukkan keterkejutan. "Kalian? Kok ke sini?"
"Kita nggak bisa belajar sendiri, Rin!" Dion menyahut sambil menenteng plastik berisi camilan dan kopi instan. "Otak kita bertiga digabung pun nggak bakal sanggup ngelawan soal-soal Pak Jordan besok. Jadi, kita sepakat buat mengungsi di apartemen lo malam ini. Boleh ya?"
Airin menghela napas pendek, lalu tersenyum maklum melihat tingkah sahabat-sahabatnya. "Ya sudah, ayo naik. Tapi jangan berisik ya."
"Siap, Tuan Putri!" seru Kriss.
Mereka pun berjalan bersama menuju lift, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa menit yang lalu, seorang CEO sekaligus dosen yang mereka takuti baru saja meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang berkecamuk.