Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Cinta yang Tak Terucap
Jalan beras kuning yang terbentang di depan Kiara dan Bima tampak seperti jalan yang tak berujung. Setiap langkah mereka menimbulkan suara butiran beras yang terinjak, bersahut dengan gema bisik-bisik kabut yang masih berputar di sekitar goa. Udara terasa lembab dan dingin, namun aroma tanah dan bunga yang samar bercampur, membuat Kiara sedikit lega.
Namun ketenangan itu hanyalah tipuan. Dari balik bayangan, sosok-sosok berjubah gelap perlahan muncul, lebih banyak dari sebelumnya. Mereka melayang rendah, menatap Kiara dan Bima tanpa wajah, gerakan mereka serentak, cepat, dan mematikan.
“Bim… Siap?” suara Kiara berat tapi tenang. Matanya menilai setiap gerakan makhluk itu, tubuhnya yang penuh luka tetap stabil.
Bima mengangguk, meski wajahnya masih tampak tegang. “Siap… Tapi kalau aku tumbang duluan, jangan salahkan aku, ya,” gumamnya dengan nada setengah bercanda, setengah serius. Instingnya tetap mencoba meringankan ketegangan, meski hatinya berdebar karena melihat jumlah makhluk yang menghadang.
Sosok hitam itu menyerang bersamaan, dua dari kiri, satu dari kanan. Kiara dengan cepat menendang salah satu bayangan ke samping, kerisnya memotong bayangan lain hingga meledak menjadi serpihan asap. Bima mencoba membantu, menendang satu makhluk yang mendekat, tapi tubuhnya yang lemah akibat siksaan sebelumnya membuat gerakannya agak lambat.
“Ini…!” Kiara menoleh sebentar. Napasnya tersengal. “Terlalu banyak… Kita gak akan sanggup!”
Di saat itulah, dari sisi hutan yang lebih gelap, muncul sosok seorang wanita yang membuat udara di sekitar terasa tenang sekaligus… Angker. Rambutnya hitam pekat, digelung rendah rapi, dan di sisi rambutnya menjuntai untaian bunga melati. Kebaya putih gadingnya bergoyang perlahan ketika ia melangkah maju, aura misterius namun menenangkan memancar dari dirinya.
Kiara menelan ludah, dadanya terasa sedikit lega. “Laras…” gumamnya pelan, napasnya seolah lebih ringan.
Bima menatap Laras dengan mata terbelalak. “I-itu-Laras…?” ujarnya, suaranya dipenuhi rasa penasaran sekaligus terkejut. Dalam bayangannya, kuntilanak selalu menyeramkan, wajah pucat, rambut acak-acakan, mata menakutkan. Tapi Laras… Cantik, tenang, dan anggun, berbeda dari semua bayangan horor yang ada di pikirannya.
“Maaf baru datang,” Laras tersenyum tipis, matanya menatap Bima. “Aku ke sini untuk membantu kalian.”
Sosok-sosok gelap yang menyerang Kiara dan Bima seketika melambat, seakan merasakan aura Laras yang lebih kuat dari mereka.
Laras mengangkat tangan, dan dengan gerakan halus, gelombang energi lembut keluar dari tangannya, mendorong makhluk-makhluk itu menjauh dan menghancurkan sebagian bayangan yang menghalangi jalan.
“Terima kasih… Laras…” kata Kiara sambil menunduk sedikit, lega. “Aku… Aku nggak tahu harus bagaimana kalau kamu nggak muncul.”
Bima masih terpana, menatap Laras. Banyak pertanyaan ingin ia tanyakan, tapi ia memilih menahan diri dan memilih fokus untuk mencari jalan keluar.
Di sisi lain, Bara berdiri tak jauh dari Sky yang mulai terlihat kelelahan. Matanya merah menyala, tapi kali ini fokusnya bukan hanya pada Sky.
Laras melangkah maju, menghadapi Bara dengan tenang.
“Kau bisa berhenti,” kata Laras, suaranya lembut namun tegas. “Aku… Bersedia menerima perjodohan kita. Jadi, hentikan amarahmu dan biarkan mereka pergi.”
Bara menatap Laras sejenak, wajahnya menunjukkan campuran kemarahan dan keinginan. Namun amarahnya belum padam. “Hah… Kau pikir bisa menenangkan aku hanya dengan kata-kata? Aku belum bisa melupakan bagaimana kau menolak perjodohan kita dulu, dan mempermalukan aku demi manusia itu. Amarahku… Hanya akan reda kalau dia mati,” katanya sambil menatap Bima yang sudah berlari jauh bersama Kiara.
Laras menelan ludah. Situasi itu sulit. Kekuatan kuntilanaknya jelas tidak sebanding dengan bangsa genderuwo apalagi Bara yang di kenal sebagai pangeran genderuwo yang di kenal sangat kuat. Tapi matanya menatap Bima, dan tekadnya membara. “Kalau begitu… Aku tak punya pilihan selain melawanmu,” katanya tegas. “Asalkan Bima selamat… Aku akan melakukan apapun.”
Bara menggeram keras, aura kemarahannya semakin pekat. Tatapannya kini tertuju pada Laras. “Kau berani melawanku… Hanya demi melindungi manusia itu ? Hah…!” serunya, memuntahkan gelombang energi gelap ke arah Laras. Tidak cukup besar sebenarnya, karena ia hanya ingin menggertak Laras.
Namun Laras tetap tenang, menghindar dengan anggun dan memutar tubuh, mengirimkan gelombang balik yang menahan serangan Bara. Gerakan tangannya halus tapi mematikan, menciptakan jurang energi yang menahan Bara sementara Kiara dan Bima dapat kabur.
Di sisi lain, Sky yang melihat kedua sosok itu bertarung, segera berlari menyusul Kiara dan Bima. Meski awalnya ia merasa kesal pada Laras, karena ialah yang membuat Kiara nekat masuk alam ghaib untuk menyelamatkan Bima, namun kini rasa terima kasih membuncah di dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka, bantuan itu datang dari sosok yang awalnya ia pandang jahat.
Kiara menoleh ke belakang sekali, melihat Sky semakin dekat, napasnya tersengal tapi matanya tetap bersinar. “Sky… Cepat… kita harus keluar dari sini!” serunya.
Bima menggenggam tangan Kiara lebih erat. Jelas tak ingin kehilangan gadis itu.
Di belakang mereka, Laras kini lebih agresif. Bara yang masih dipenuhi kemarahan mencoba mengejar mereka bertiga, tapi setiap langkahnya dihalangi gelombang energi yang dikeluarkan Laras.
Ia menangkis serangan Bara, memutar tubuhnya dengan lincah, dan setiap kali Bara hampir mendekat, ia mengeluarkan gelombang putih yang menahannya.
“Laras… Bertahanlah,” Kiara berbisik, matanya tetap fokus pada jalan di depan.
Sementara itu, Sky akhirnya menyusul mereka. “Ayo… Kita keluar dari sini, cepat!” teriaknya sambil menyingkirkan beberapa bayangan yang mencoba menghadang. Ia memberi isyarat kecil pada Kiara dan Bima untuk bergerak lebih cepat.
Kiara menggenggam tangan Bima, menundukkan kepala sedikit. “Hati-hati, Bim… Jangan di lepas.”
Bima tersenyum tipis, menatap Kiara. “Kamu juga, Kiara… Aku nggak mau kehilangan kamu"
Gelombang energi Bara semakin besar, tapi Laras berdiri tegak, menghadapi semuanya dengan wajah yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa ini mungkin pertempuran yang mustahil, tapi matanya tetap menatap ke arah Bima yang sudah menjauh, memastikan pemuda yang ia cintai itu selamat.
Saat mereka berhasil meninggalkan bahaya langsung di belakang, udara mulai terasa lebih ringan. Jalan beras kuning tampak memudar ke arah cahaya samar di ujung jalan. Kiara dan Bima berlari sambil terus memeriksa kondisi satu sama lain. Sky di belakang mereka, menjaga jarak, dan Laras masih menahan Bara dengan segala kemampuannya.
Akhirnya, setelah beberapa menit penuh ketegangan, mereka mencapai gerbang terakhir yang ditandai Mbah Kromo. Kiara menoleh ke belakang, melihat Laras masih bertarung dengan Bara, tubuhnya anggun namun lelah. Hatinya terasa sesak melihat putri kuntilanak itu harus melawan sedemikian keras demi menyelamatkan mereka.
Bima menatap Laras dari jarak jauh, senyumnya tipis namun matanya tetap penuh rasa terima kasih. “Dia… hebat,” gumamnya. “Aku… Nggak tahu harus bilang apa.”
Kiara menepuk bahunya pelan. “Fokus keluar dulu… Kita nggak boleh tinggal di sini lebih lama.”
Di sisi lain, Laras menatap Bima dan Kiara yang bergerak menjauh. Matanya berkaca-kaca, napasnya tersengal.
Perasaan yang selama ini ia simpan, cinta yang tak pernah diungkapkan, terasa menyesakkan. Ia tahu Bima mungkin tak akan pernah tahu, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa ia temui lagi.
Namun satu hal pasti. Ia akan selalu melindunginya, meski harus menahan Bara sendirian, meski hatinya patah. Mata Laras menyala penuh tekad. Tak ada lagi tatapan obsesinya dulu, yang ada hanya tatapan penuh ketulusan yang jarang di miliki oleh makhluk astral sepertinya. Aura lembutnya kini terasa lebih kuat dari sebelumnya, meski diselimuti kesedihan yang mendalam.
Bara berteriak marah di balik kabut, tapi Laras tetap menatap Bima untuk terakhir kali, suara hatinya bergema, “Selamat tinggal Bima… dan… Jaga diri kamu. Aku… Akan selalu jaga kamu, meski kamu tak tahu.”
Dan dengan itu, Kiara, Bima, dan Sky akhirnya melangkah keluar dari jangkauan Bara. Setiap langkah membawa mereka semakin dekat ke dunia nyata, ke cahaya yang menjanjikan keselamatan, meninggalkan bayangan horor, misteri, dan rasa cinta yang tak terucapkan di belakang mereka.