Di sebuah dunia yang damai, tempat berbagai ras hidup berdampingan, seorang gadis ras campuran menjalani kehidupan normalnya yang tampak biasa.
Namun, perlahan sesuatu yang terasa asing menghampiri. Mimpi yang terasa nyata.
Aroma kematian yang menyusup. Dan sesuatu yang mengincarnya dari balik kegelapan.
Rahasia masa lalu, makhluk terkutuk, dan gerbang yang seharusnya tetap tertutup perlahan bergerak menuju satu titik temu.
Tak semua yang melindungi berniat baik. Tak semua mimpi ingin dilupakan.
Ketika kebenaran akhirnya menuntut harga, hanya satu pertanyaan yang tersisa:
apa sebenarnya yang ada dibalik dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amateurss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lardwyn
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan sopan pada pintu kayu ek berukir anggun itu menembus keheningan kamar, perlahan membangunkan Vivi yang masih terlelap di balik selimut wol tebalnya. Ia mengerjap, mencoba mengusir sisa kantuk sebelum menyahut dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Masuk..."
Vivi beranjak duduk di tengah ranjang empuknya yang luas, mungkin cukup untuk menampung empat orang sekaligus. Tak lama, pintu terbuka lebar. Seorang wanita paruh baya dengan seragam pelayan yang rapi melangkah masuk. Dengan gerakan yang luwes, ia membuka jendela besar berbahan gading dan menyibakkan gorden sutra yang menjuntai indah.
Seketika, cahaya mentari yang baru saja menyembul dari cakrawala laut menyerbu masuk, memantul keemasan pada furnitur kayu yang dipoles mengkilap. Suara deburan ombak yang menghantam karang di bawah tebing membawa aroma garam laut yang segar, menyusup ke dalam kamar Vivi yang luasnya lebih mirip perpustakaan kecil ketimbang ruang tidur, lengkap dengan deretan rak buku tinggi yang padat di setiap sudutnya.
"Selamat pagi, Nona Muda," sapa pelayan itu dengan nada hormat. "Matahari sudah hampir terbit sepenuhnya. Sudah saatnya Nona bersiap."
Tanpa menunggu perintah, sang pelayan mulai menyiapkan segala keperluan akademi Vivi, mulai dari tas kulit, seragam yang telah disetrika sempurna, hingga sepiring kecil kudapan pagi berupa buah anggur dan handuk hangat yang diletakkan di dekat kamar mandi.
Vivi meraih anggur yang telah disiapkan dan menyantapnya perlahan untuk mengganjal perut. Sang pelayan menunggu dengan sikap sempurna di sudut ruangan, menjaga jarak yang sopan. Selesai dengan kudapannya, Vivi beranjak menuju kamar mandi.
Selama Vivi membersihkan diri, sang pelayan dengan sigap merapikan ranjang dan menata kembali barang-barang yang berserakan di meja belajar, sebelum akhirnya kembali mematung di depan pintu kamar mandi untuk menunggu sang nona keluar. Tak lama kemudian, Vivi muncul di balik pintu yang terbuka, diiringi uap hangat yang membawa aroma wangi herbal menenangkan. Tanpa banyak bicara, sang pelayan membantu Vivi mengenakan seragam akademinya yang kaku dan menata rambut merah sebahunya hingga rapi.
Segalanya berlangsung dalam kesunyian, sebuah rutinitas harian yang sudah mendarah daging bagi mereka berdua.
Setelah memastikan penampilan Vivi tanpa celah, wanita paruh baya itu bertanya pelan, "Apakah Nona Muda ingin sarapan di ruang makan, atau haruskah saya membawakannya ke mari?"
"Di ruang makan saja," jawab Vivi singkat.
Pelayan itu mengangguk hormat lalu bergegas keluar untuk menyiapkan hidangan. Vivi sempat terdiam sejenak di tengah kamarnya yang megah, menatap deretan buku di raknya sembari mengingat-ingat jadwal pelajaran yang akan ia hadapi hari ini. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia meraih tas kulitnya dan melangkah menuju pintu kamarnya yang dihiasi ukiran indah.
Vivi melangkah keluar dari kamarnya, menyusuri lorong panjang yang dihiasi jajaran lukisan mahal dan artefak antik yang terpajang artistik di sepanjang dinding. Langkah kakinya bergema pelan saat ia menuruni tangga pualam yang dingin menuju lantai bawah. Di perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa pelayan yang sibuk memoles furnitur atau menyapu lantai, setiap kali Vivi lewat, mereka menghentikan aktivitas sejenak dan menunduk hormat.
Setibanya di ruang makan, sebuah meja marmer raksasa yang tampaknya sanggup menjamu dua puluh orang terbentang di hadapannya. Para pelayan segera bergerak sigap menghidangkan berbagai menu hangat yang mengepulkan aroma menggoda.
Namun, di meja seluas itu, hanya satu kursi yang ditarik untuk Vivi. "Ibu dan Ayah di mana?" tanya Vivi datar kepada seorang pelayan laki-laki yang berdiri siaga di sudut ruangan.
"Tuan dan Nyonya Besar sudah berangkat ke pelabuhan sebelum fajar untuk mengecek pemberangkatan armada hari ini, Nona Muda. Rombongan kapal dagang Golden Crest akan segera berlayar menuju rute utama," jawab pelayan itu dengan nada sangat sopan.
Vivi hanya mengangguk pelan. Jawaban itu bukanlah hal baru baginya. Ia pun duduk, lalu mulai menyantap sarapannya dalam kesunyian di tengah kemegahan rumah yang terasa kosong itu.
Vivi hanya makan sedikit, seperti biasanya. Ia kemudian beranjak berdiri dan melangkah menuju pintu utama. Para pelayan dengan sigap membukakan pintu kayu raksasa yang berat, menghamparkan dengan pemandangan halaman rumah yang asri dan taman bunga yang tertata rapi. Beberapa tukang kebun tampak sibuk bekerja di sela-sela embun pagi.
Di ujung jalan setapak, sebuah kereta kuda mewah telah menunggu. Seorang kusir dengan seragam rapi, kemeja putih bersih dan celana hitam formal, berdiri tegap menyambut kehadirannya.
Begitu Vivi menaiki kereta, sang kusir menyapa dengan ramah, "Selamat pagi, Nona Muda." Ia segera memacu kudanya, membawa kereta meluncur halus melewati gerbang besar yang dijaga oleh beberapa penjaga pribadi keluarga.
"Pagi, Pak Hans... Sekarang kita menuju akademi, gerbang timur ya," ujar Vivi.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang yang empuk dan mengembuskan napas panjang. Vivi memejamkan mata sejenak, membiarkan tubuhnya rileks seolah baru saja melepaskan beban tak tampak yang menghimpitnya selama berada di dalam rumah.
"Siap, Nona Muda," jawab Hans dengan nada santai, terdengar keakraban yang seakan beda dengan kekakuan para pelayan di dalam rumah.
Kereta kuda itu melaju stabil, membelah jalanan yang melewati pos-pos dermaga. Area itu belum terlalu ramai, namun pemandangan belasan kapal dagang raksasa yang bersandar rapi di pelabuhan tetap memukau, simbol kekuasaan keluarga yang megah.
"Pak Hans, mampir ke sana sebentar, ya..." ujar Vivi dengan senyum tipis yang penuh rahasia.
Hans mengembuskan napas panjang, sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. "Waduh, Nona Muda... bukannya kemarin lusa baru saja ke sana?"
"Ayolah... cuma sebentar kok. Tidak sampai lima menit!" rengek Vivi, kehilangan sejenak imej anggunnya.
Hans akhirnya menyerah dan tertawa kecil. "Baiklah, baiklah... tapi jangan banyak-banyak ya, Nona. Tidak sehat," ujarnya sembari membelokkan kereta menuju sebuah toko kecil yang baru saja membuka daun pintunya.
Vivi melompat turun dengan gerakan nyaris girang. Tak butuh waktu lama, ia kembali masuk ke dalam kereta dengan sebuah bungkusan di tangan dan wajah berseri-seri.
"Hehehe... terima kasih, Pak Hans! Tolong jangan bilang Ayah, ya? Bisa bisa dia marah nanti kalo aku ketahuan makan jajanan gak sehat seperti ini..." pintanya sembari mengerling nakal.
Hans hanya tersenyum simpul menanggapi tingkah majikannya. "Nona Muda benar-benar suka lardwyn, ya? Padahal kata Nyonya Besar, itu cuma makanan tidak sehat, tepung goreng berisi krim gula melimpah," Hans terkekeh. "Sebenarnya, apa sih istimewanya kue itu, Nona?"
"Sshhtt! Sudah, diam saja!" potong Vivi cepat sembari menyelipkan beberapa koin tembaga ke dekat kursi kusir.
Hans tertawa geli melihat sogokan kecil itu. "Tidak perlu, Nona... tenang saja, gak akan lapor pada Tuan Besar,kok." ujarnya sembari kembali menarik kendali. Kereta kuda itu pun kembali melesat, menembus jalanan kota yang belum sepenuhnya bangun.