NovelToon NovelToon
PENYESALAN SEORANG ISTRI

PENYESALAN SEORANG ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mata yang Menatap Dalam

Siang itu, udara di kawasan Sudirman terasa sangat kering. Hilman berdiri di balik sebuah pilar beton besar yang menjadi penyangga jembatan penyeberangan, tak jauh dari pintu masuk sebuah kafe mewah bergaya Eropa. Tubuhnya yang terbalut jaket kusam tampak sangat kontras dengan gedung-gedung kaca yang menjulang tinggi di sekelilingnya.

Hilman seharusnya berada di pabrik. Namun, pagi tadi ia meminta izin keluar sebentar dengan alasan harus ke puskesmas. Kenyataannya, firasat yang menghimpit dadanya sejak semalam membawanya ke sini. Ia melihat Andini keluar rumah dengan dandanan yang terlalu istimewa hanya untuk sekadar "mencari udara segar". Maka, dengan sisa tenaga di kakinya, Hilman mengikuti istrinya dari kejauhan, menumpang bus kota yang sesak hingga akhirnya ia tiba di tempat ini.

Dari balik pilar, Hilman menatap lurus ke arah jendela kaca kafe yang luas. Di sana, di sudut ruangan yang paling nyaman, ia melihatnya.

Andini sedang tertawa.

Tawa itu... Hilman memejamkan mata sejenak, merasakan perih yang luar biasa di ulu hatinya. Itu adalah tawa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia dengar di rumah. Tawa yang biasanya hanya muncul saat Andini mendapatkan tas baru, kini diberikan secara cuma-cuma kepada pria yang duduk di hadapannya.

Pria itu—Reno—tampak begitu bersinar di bawah lampu kristal kafe. Ia mengenakan kemeja yang harganya mungkin setara dengan gaji Hilman selama tiga bulan. Hilman melihat bagaimana Reno memegang tangan Andini, mengelusnya dengan gerakan yang begitu akrab, seolah-olah Andini adalah miliknya.

Hilman mengepalkan tangannya di balik saku jaket. Di dalam saku itu, jemarinya yang masih terbalut perban kotor karena luka kemarin terasa berdenyut kencang. Ia ingin sekali berlari ke dalam sana. Ia ingin menggebrak meja itu, meneriaki Reno sebagai perusak rumah tangga, dan menyeret istrinya pulang. Ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa pria tua yang mereka anggap "pecundang" ini masih memiliki harga diri sebagai seorang suami.

Namun, kakinya seolah terpaku di atas trotoar.

Setiap kali ia berniat melangkah, bayangan wajah Andini yang penuh penghinaan kembali muncul di benaknya. Ia teringat kata-kata istrinya kemarin: "Pria yang cuma kasih ratusan ribu itu bukan pria, tapi pecundang!"

Hilman menunduk, menatap sepatunya yang sudah jebol di bagian samping, menatap celana kainnya yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci. Ia menyadari posisinya. Jika ia masuk ke kafe mewah itu sekarang, ia hanya akan mempermalukan Andini. Ia akan terlihat seperti pengemis yang sedang mengganggu makan siang kaum bangsawan. Andini tidak akan merasa bersalah; justru ia akan semakin membenci Hilman karena telah merusak "momen indahnya".

“Aku tidak berani,” bisik Hilman pada dirinya sendiri. Suaranya hilang ditelan bising knalpot kendaraan yang melintas.

Ia tidak berani bukan karena takut pada Reno. Ia tidak berani karena ia sadar bahwa hatinya sudah terlalu hancur untuk menerima satu lagi cacian dari mulut istrinya di depan umum. Ia tidak sanggup mendengar Andini berteriak, "Siapa kamu? Pergi dari sini! Kamu bukan suamiku, kamu cuma beban dalam hidupku!"

Hilman kembali menatap ke dalam kafe. Ia melihat Reno mengeluarkan sebuah kotak kecil. Hilman tahu itu perhiasan. Ia melihat mata Andini berbinar, sebuah binar kebahagiaan yang tidak bisa ia beli dengan gaji buruhnya.

Saat itulah, rasa sesak di dadanya kembali menyerang. Bukan hanya sesak karena cemburu, tapi sesak fisik yang nyata. Hilman terbatuk hebat, ia segera menutupi mulutnya dengan sapu tangan. Ia bersembunyi semakin dalam di balik pilar agar Andini tidak menoleh dan melihatnya dalam keadaan mengenaskan seperti itu.

Sapu tangannya kembali basah. Warnanya merah gelap.

Hilman bersandar pada beton yang dingin, air mata perlahan merembes dari matanya yang mulai cekung. Ia tertawa getir dalam hati. Di dalam kafe itu, istrinya sedang merayakan masa depan baru dengan pria yang menjanjikan kemewahan. Sementara di luar sini, di bawah terik matahari dan polusi, suaminya sedang meregang nyawa hanya untuk memastikan wanita itu memiliki satu miliar rupiah di rekeningnya suatu hari nanti.

"Kenapa, Andini? Kenapa harus sekarang?" ratap Hilman dalam diam. "Satu juta lagi... hanya satu juta lagi uang itu genap. Kenapa kamu tidak bisa bersabar sedikit lagi saja sebelum kamu meninggalkanku?"

Hilman melihat Reno mencium tangan Andini. Pemandangan itu membuatnya merasa mual. Ia tidak bisa lagi bertahan di sana. Ia merasa seperti pengintip dalam hidupnya sendiri. Dengan langkah yang gemetar dan pandangan yang mulai mengabur, Hilman berbalik. Ia berjalan menjauh dari kafe mewah itu, meninggalkan bayangan istrinya yang sedang dimabuk asmara palsu.

Ia berjalan tak tentu arah di trotoar Sudirman. Di tengah kerumunan orang-orang berkantor yang rapi, Hilman tampak seperti hantu yang tersesat. Ia sampai di sebuah bangku taman yang sepi. Ia duduk di sana, memegangi dadanya yang terasa seolah diremas-remas.

Ia merogoh saku lainnya, mengeluarkan buku tabungan depositonya. Ia menatap angka 999.000.000 itu dengan tatapan kosong.

"Hanya satu juta lagi, Tuhan... beri aku kekuatan untuk bekerja malam ini. Setelah itu, jika Andini ingin pergi dengan pria itu, setidaknya dia tidak akan kelaparan. Setidaknya dia tidak akan dihina karena miskin seperti dia menghinaku," doa Hilman dalam isak yang tertahan.

Pengkhianatan yang ia saksikan dengan matanya sendiri tadi seharusnya membuatnya marah. Seharusnya ia menarik semua tabungan itu dan membiarkan Andini membusuk bersama Reno yang penipu. Tapi Hilman adalah pria yang aneh. Cintanya terlalu dalam, terlalu murni, hingga ia merasa bahwa jika ia tidak bisa membahagiakan Andini dengan kehadirannya, maka ia harus membahagiakan Andini dengan kepergiannya yang meninggalkan harta.

Hilman berdiri kembali. Ia harus kembali ke pabrik. Ia harus memohon pada mandor agar diizinkan bekerja double shift malam ini. Ia butuh satu juta rupiah terakhir itu untuk menggenapkan janjinya pada diri sendiri.

Sepanjang perjalanan pulang ke pabrik, bayangan Andini yang tertawa di kafe itu terus menghantui pikirannya. Setiap tawa itu terasa seperti paku yang dipukul masuk ke jantungnya. Namun, ia tidak akan melabrak. Ia tidak akan pernah melabrak.

Ia akan membiarkan Andini bermain dengan mimpinya, sementara ia sendiri akan menyelesaikan tugas terakhirnya sebagai suami yang "tidak berguna" ini.

Malam itu, di pabrik, Hilman bekerja seperti orang kesurupan. Ia mengabaikan rasa sakit di jarinya, ia mengabaikan rasa perih di paru-parunya. Ia terus mengangkut barang, matanya hanya tertuju pada satu hal: jam kerja yang akan memberinya upah tambahan.

Di sisi lain kota, Andini baru saja pulang dengan perasaan berbunga-bunga, memandangi cincin baru di jarinya tanpa tahu bahwa suaminya baru saja melihatnya dikhianati oleh mimpinya sendiri. Andini merasa telah menang, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menyaksikan punggung pria terakhir di dunia yang mau mencintainya hingga titik darah penghabisan, menjauh darinya dalam diam dan luka yang tak tersembuhkan.

Hilman tetap diam. Karena baginya, melabrak tidak akan mengembalikan cinta Andini. Melabrak hanya akan merusak satu juta terakhir yang sedang ia perjuangkan dengan nyawanya.

1
SisAzalea
sepatutnya ini waktu tidur ,malah nangis2 aku
SisAzalea
penasaran bagaimana mereka berjodoh
Mistikus Kata: panteng terus update tiap hari 19:00
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!