NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Romansa
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Didepan pintu maaf

Yoga sengaja tidak menyentuh makanan yang disiapkan pelayan. Bukan karena ia ingin melakukan mogok makan yang dramatis, melainkan karena setiap suapan terasa seperti menelan duri. Pikirannya terlalu penuh dengan rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya.

Setiap malam, ia akan duduk bersila di atas lantai marmer yang dingin, tepat di depan kamar istrinya. Ia baru akan beranjak saat fajar menyingsing, itu pun karena ia tidak ingin Mama Kanaya melihatnya dalam kondisi serapuh itu.

"Anin... aku di sini," bisiknya sangat lirih, menempelkan telinganya pada daun pintu kayu jati yang kokoh itu.

Hanya dari balik pintu itulah Yoga bisa merasa "hidup". Ia mendengarkan dengan saksama suara rintihan kecil Arya saat terbangun, atau suara langkah kaki Anindya yang lembut saat sedang menimang putra mereka. Suara-suara itu adalah oksigen bagi paru-parunya yang sesak.

"Mas, makanlah sedikit. Ibu khawatir kamu jatuh sakit di sini," ucap Diandra, adiknya yang sengaja datang dari Surabaya karena cemas mendengar kabar kakaknya. Diandra berdiri di ujung lorong sambil membawa nampan berisi sup hangat.

Yoga hanya menggeleng tanpa menoleh. "Jangan paksa aku, Diandra. Aku tidak pantas makan enak sementara aku sudah membiarkan Anin dan Arya kelaparan akan kehadiranku selama berbulan-bulan."

"Tapi kondisimu mengerikan, Mas! Matamu cekung sekali," Diandra mulai menangis melihat kehancuran kakaknya.

"Ini belum seberapa dibandingkan luka di hati istrimu, Di," jawab Yoga parau.

Di dalam kamar, Anindya bukannya tidak tahu. Ia bisa melihat bayangan sepasang kaki di celah bawah pintunya setiap malam. Ia tahu Yoga terjaga hingga subuh. Ia tahu suaminya itu kini tampak seperti mayat hidup.

Namun, rasa sakit itu masih terlalu segar. Setiap kali ia ingin membuka pintu dan memberikan pengampunan, ingatannya kembali pada malam di rumah sakit. Ia teringat bagaimana rasanya diabaikan oleh orang yang paling ia percayai.

Suatu pagi, Anindya membuka pintu dengan Arya di gendongannya. Ia terkejut melihat Yoga masih di sana, tertidur dengan posisi duduk dan kepala yang tertunduk lesu. Yoga tersentak bangun, matanya yang merah dan bengkak langsung menatap Anindya dengan penuh kerinduan.

"Anin... Sayang... Maaf, aku ketiduran di sini," Yoga langsung berdiri dengan terhuyung-huyung karena kakinya yang kram.

Anindya menatap wajah Yoga yang tersiksa. Ada kilas rasa iba di matanya, namun ia segera mengeraskan hatinya kembali.

 "Sampai kapan kamu mau melakukan drama ini, Mas? Kamu ingin Mama dan Papa jatuh kasihan padamu lalu memaksaku memaafkanmu?"

"Ini bukan drama, Anin. Ini aku. Ini aku yang hancur karena tanpamu, duniaku benar-benar runtuh. Aku tidak butuh belas kasihan mertuaku, aku hanya butuh kamu tahu kalau aku menyesal sampai ke sumsum tulangku," Yoga mencoba meraih tangan Anindya, namun ia hampir jatuh karena pening yang tiba-tiba menyerang kepalanya.

Anindya mundur selangkah, membentengi dirinya dengan dinding es yang sangat tebal. "Jika kamu ingin membuktikan duniamu runtuh, silakan. Tapi jangan harap rasa iba akan menghapus pengkhianatan waktu yang kamu lakukan padaku. Makanlah, Yoga. Aku tidak ingin Arya melihat ayahnya mati konyol hanya karena ego."

Anindya berlalu begitu saja melewati Yoga yang kembali harus menelan pil pahit penolakan. Yoga menatap punggung istrinya dengan pandangan kosong. Ia tidak peduli seberapa tebal dinding es itu, ia bersumpah akan terus berada di sana, menderita dalam penyesalan yang nyata, sampai kehangatan cintanya mampu meluluhkan hati Anindya kembali, atau sampai raganya benar-benar tak sanggup lagi bertahan.

Malam kian larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di lorong lantai dua kediaman Menteng. Yoga masih setia di posisinya, duduk termenung di sofa kecil tepat di depan pintu kamar Anindya. Namun, kali ini tubuhnya tidak lagi tegap. Kepalanya bersandar lemas pada sandaran sofa, napasnya terasa berat dan panas, sementara keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Dokter Reza yang baru saja kembali dari ruang kerjanya terhenti saat melihat menantunya. Sebagai seorang dokter senior, ia tahu ada yang tidak beres. Ia mendekat, menyentuh kening Yoga, dan seketika dahinya berkerut.

"Yoga, badanmu panas sekali. Ini bukan sekadar lelah, suhu tubuhmu sangat tinggi," ucap Dokter Reza tegas. "Ayo, Papa antar ke rumah sakit sekarang. Kamu butuh penanganan medis."

Yoga membuka matanya perlahan, sayu dan penuh penderitaan. Ia menggeleng lemah. "Tidak, Pa... Saya tidak mau ke mana-mana. Saya tetap di sini."

"Jangan keras kepala, Yoga! Kondisimu bisa drop!"

"Biarkan saja, Pa..." suara Yoga nyaris berbisik namun terdengar sangat nekat. "Jika Anin tidak mau memaafkan saya, saya lebih baik mati di depan pintu kamarnya daripada harus hidup tapi berpisah dengannya. Duniaku sudah selesai sejak dia pergi."

Dokter Reza menghela napas panjang. Ia melihat keputusasaan yang begitu nyata di mata pria yang biasanya sangat rasional ini. Tanpa bicara lagi, Reza berbalik dan mengetuk pintu kamar putrinya dengan ketukan yang berwibawa.

Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan wajah Anindya yang tampak lelah. "Ada apa, Pa?"

"Anin, lihat suamimu," Dokter Reza menunjuk ke arah sofa. "Dia mengalami demam tinggi, mungkin efek kelelahan fisik dan batin yang luar biasa. Papa menyuruhnya ke rumah sakit, tapi dia menolak. Dia bilang lebih baik mati di sini daripada kehilangan kamu."

Reza menatap mata putrinya dalam-dalam. "Anin, sebagai dokter, Papa tahu dia sedang kritis. Sebagai ayah, Papa memintamu untuk menanggalkan egomu sejenak. Maafkanlah dia, atau setidaknya, bantulah dia untuk sembuh. Jangan sampai penyesalan datang saat semuanya sudah terlambat."

Kata-kata ayahnya menghujam jantung

Anindya. Kemarahan yang selama ini ia pelihara mendadak goyah saat melihat sosok Yoga yang meringkuk lemah, wajahnya pucat pasi namun tetap menggumamkan namanya dalam igauan demam. Rasa cinta yang terkubur di balik luka itu menyeruak naik.

Anindya melangkah keluar, menghampiri Yoga. Air matanya jatuh saat melihat pria gagah itu kini begitu rapuh. "Mas... bangun, Mas. Masuk ke kamar ya," bisik Anindya lembut sambil menyentuh pipi Yoga yang membara.

Mendengar suara yang dirindukannya, Yoga membuka mata sedikit. "Anin... kamu... memaafkanku?"

"Masuk dulu, Mas. Jangan bicara yang aneh-aneh," jawab Anindya seraya membantu Yoga berdiri.

Dengan bantuan Dokter Reza, Yoga dibaringkan di atas ranjang besar di kamar Anindya—tempat yang selama seminggu ini hanya bisa ia impikan. Dokter Reza segera menyiapkan tiang infus dan memasangkan cairan elektrolit serta obat-obatan penurun panas ke pembuluh darah Yoga.

Mama Kanaya masuk dengan wajah prihatin. Ia segera mengambil Arya dari box bayi. "Anin, biar Arya Mama bawa ke kamar Mama dulu. Kamu fokus saja merawat suamimu. Dia butuh kamu sepenuhnya malam ini."

Kini, di dalam kamar itu hanya tersisa mereka berdua. Anindya melepaskan semua atribut kemarahannya. Dengan telaten, ia mengganti pakaian Yoga yang basah oleh keringat. Ia menyiapkan baskom air hangat dan dengan sabar mengompres kening serta lipatan tubuh suaminya.

"Makan dulu sedikit ya, Mas. Harus ada tenaga untuk minum obat," ucap Anindya saat menyuapi Yoga bubur hangat keesokan paginya.

Yoga menurut seperti anak kecil. Matanya tak lepas menatap Anindya, seolah takut jika ia berkedip, istrinya akan menghilang lagi. Meski badan terasa remuk, hati Yoga terasa hangat setiap kali tangan lembut Anindya menyentuh kulitnya. Malam harinya, Anindya tidak tidur di atas ranjang yang sama; ia memilih tidur di sofa dalam kamar, memastikan ia bisa mendengar jika Yoga membutuhkan sesuatu di tengah malam.

Dua hari berlalu dalam suasana yang tenang dan penuh perhatian. Pagi itu, cahaya matahari Jakarta menyelinap masuk melalui celah gorden. Yoga terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Panas di tubuhnya telah lenyap, menyisakan kesegaran yang sudah lama tidak ia rasakan.

Ia melihat Anindya sedang merapikan meja kecil di dekat jendela.

"Anin..." panggil Yoga dengan suara yang sudah mulai bertenaga.

Anindya menoleh, wajahnya masih terlihat dingin, namun tidak lagi menusuk. "Sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?"

"Jauh lebih baik. Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah merawatku, sudah memberiku izin masuk kembali ke duniamu," Yoga tersenyum tulus, ada binar harapan di matanya.

Tak lama kemudian, Dokter Reza masuk membawa tas medisnya. Ia memeriksa denyut nadi dan suhu tubuh Yoga, lalu menatap menantunya dengan tatapan yang sedikit lebih lunak.

"Kondisimu sudah stabil. Infeksi dan kelelahan akutnya sudah teratasi," ucap Dokter Reza sambil mulai mencabut jarum infus dari tangan Yoga dengan gerakan yang cekatan. "Papa lepas infusnya sekarang. Kamu sudah boleh beraktivitas ringan."

Reza menghela napas panjang setelah merapikan peralatannya. "Ingat Yoga, infus ini bisa dilepas karena fisikmu membaik. Tapi kepercayaan istrimu, itu belum sepenuhnya terpasang kembali. Jangan sia-siakan kesempatan kedua ini."

Yoga mengangguk mantap. "Saya mengerti, Pa. Terima kasih banyak."

Setelah Dokter Reza keluar, Yoga menatap Anindya yang masih sibuk membelakanginya. Ia tahu, perjuangan sesungguhnya bukanlah melawan demam, melainkan meruntuhkan sisa-sisa gunung es di hati istrinya yang masih membeku.

1
Mardiana
tegangggg.... kasihan Hanin nyawanya bolak balik terancam.....🤣🤣🤣
yuningsih titin: makasih komentarnya kak👍
total 1 replies
Siti Amyati
emang udah watak jahat di kasih kesempatan yg baik malah tetap bikin onar smoga dapat karma yg setimpal buat Dinda
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
emang la kekanak-kanakan kamu anin dikit-dikit ada masalah ngadu ke mama
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
yuningsih titin: makasih komentarnya kak
total 1 replies
Echy Izzafa
koq muter2 ga jelas alur ceritanya ga sesuai harapan
yuningsih titin
makasih komentarnya kak
Echy Izzafa
semangat yoga
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera
Siti Amyati
ngga suka sikap Anin,harusnya di omongi cari solusi bukanya setiap ada masalah lari ke ortu lanjut kak
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Semangat Yogaa
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!