NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9 adonan daging dan darah malam

Malam itu, bulan bersembunyi di balik awan tebal, seolah enggan menyaksikan dosa yang akan terjadi di kaki Gunung Awan Merah. Angin menderu membawa hawa dingin, namun di dalam gubuk kayu Han Shuo, udara terasa panas dan mencekik oleh aura pembunuhan.

Han Shuo tidak langsung berlari keluar. Kemarahan yang meledak-ledak adalah resep untuk kegagalan. Seperti sup yang mendidih terlalu cepat akan merusak tekstur daging, tindakan gegabah hanya akan membuatnya masuk ke dalam perangkap Wang He. Ia menarik napas panjang, menekan amarahnya ke titik terdalam di ulu hati, mengubahnya menjadi fokus yang dingin dan tajam.

Ia menyelinap keluar dari gubuknya, bergerak menyusuri bayang-bayang menuju asrama murid elit. Tujuannya bukan gerbang keluar, melainkan paviliun Li Mei.

Jendela kamar Li Mei sedikit terbuka. Aroma herbal yang menenangkan menguar dari dalam. Han Shuo mendarat tanpa suara di lantai kayu balkon.

"Siapa di sana?" suara Li Mei terdengar waspada dari balik tirai.

"Aku," bisik Han Shuo.

Tirai tersibak. Li Mei muncul dengan jubah tidur sutra putih, rambut panjangnya terurai. Wajahnya menunjukkan keterkejutan, yang segera berubah menjadi kekhawatiran saat melihat mata Han Shuo. Mata itu gelap, hampa, seperti sumur tanpa dasar.

"Han Shuo? Kau gila? Jika patroli melihatmu di sini..."

Han Shuo tidak menjawab. Ia menyerahkan gulungan kertas berdarah yang ia terima tadi.

Li Mei membacanya di bawah cahaya lilin yang remang. Wajahnya memucat, tangannya gemetar. "Panti asuhan... adik perempuanmu? Mereka menggunakan anak kecil sebagai sandera? Keluarga Wang benar-benar binatang!"

"Aku harus turun gunung sekarang," kata Han Shuo datar.

"Kau tidak bisa," potong Li Mei cepat. "Panitia turnamen memasang Formasi Deteksi Kehadiran di sekitar asrama peserta. Jika hawa keberadaanmu menghilang dari area sekte lebih dari satu jam, kau akan didiskualifikasi. Wang He pasti sudah memperhitungkan ini. Dia ingin kau memilih: gelar juara atau nyawa adikmu."

"Aku tidak akan memilih," Han Shuo menatap lurus ke mata Li Mei. "Aku akan mengambil keduanya. Karena itu aku butuh bantuanmu."

Han Shuo mengeluarkan sebongkah besar adonan tepung gandum dari balik bajunya. Adonan itu bukan tepung biasa; ia telah mencampurnya dengan sedikit darahnya sendiri dan sisa lemak Harimau Bertaring Kristal.

"Ini adalah teknik kuno dari Kitab Rasa Semesta—Raga Roti Bernyawa. Aku bisa membentuknya menyerupai tubuh manusia, tapi adonan ini tidak memiliki aura kehidupan yang meyakinkan. Aku butuh keahlian alkimiamu untuk memberinya 'napas' palsu."

Li Mei menatap adonan itu, lalu menatap Han Shuo dengan takjub. Ide itu gila, tidak masuk akal, tapi entah mengapa terdengar mungkin jika Han Shuo yang mengatakannya.

"Kau ingin aku menggunakan Bubuk Ilusi Roh untuk menipu formasi sekte agar mengira adonan ini adalah kau?" Li Mei berpikir cepat. Ia berbalik menuju rak obat-obatannya, mengambil sebuah botol kristal ungu dan serbuk akar mandrake.

"Kita hanya punya waktu sedikit. Adonan ini akan mengeras dalam dua jam. Kau harus kembali sebelum matahari terbit, atau 'kembaran' mu ini akan retak dan terbongkar," kata Li Mei sambil mulai meracik ramuan.

Mereka bekerja dalam diam. Han Shuo membentuk adonan itu dengan kecepatan tangan yang mengerikan. Ia memijat, menarik, dan menekan tepung itu hingga membentuk postur tubuh yang identik dengannya. Sementara itu, Li Mei menaburkan serbuk bercahaya di atasnya, merapalkan mantra kecil untuk mengikat aura Han Shuo pada boneka tepung tersebut.

Dalam lima belas menit, sesosok "Han Shuo" duduk bersila di tengah ruangan gubuk Han Shuo (mereka memindahkannya dengan hati-hati). Boneka itu bernapas pelan, dadanya naik turun, memancarkan aura Tahap Penyulangan Qi Tingkat Dua.

"Sempurna," bisik Li Mei, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Sekarang pergilah. Aku akan mengawasi boneka ini. Jangan mati, Han Shuo. Resep yang kau janjikan padaku belum lunas."

Han Shuo mengangguk singkat. "Terima kasih, Li Mei."

Ia berbalik dan melompat keluar jendela, menghilang ke dalam kegelapan malam. Kali ini, ia tidak menahan diri. Ia berlari menuruni jalan setapak gunung dengan kecepatan penuh, kakinya dibalut oleh aliran Qi yang membuatnya meluncur seperti minyak di atas wajan panas.

Desa Lembah Awan terletak lima belas kilometer di kaki gunung. Itu adalah desa miskin tempat sekte biasanya membuang sampah atau mencari buruh kasar. Di sanalah panti asuhan tua itu berdiri, sebuah bangunan kayu reyot yang menampung anak-anak korban perang dan kelaparan—termasuk Han Ling, satu-satunya keluarga Han Shuo yang tersisa.

Han Shuo tiba di pinggiran desa kurang dari setengah jam. Napasnya teratur, tidak ada tanda-tanda kelelahan. Latihan fisiknya di dapur—mengangkat karung beras ratusan kilo dan memotong ribuan bahan—telah memberinya stamina monster.

Desa itu sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara anjing menggonggong.

Hidung Han Shuo berkedut. Ia mencium aroma yang ia benci: aroma tembakau murah, keringat pria dewasa, dan besi yang diasah. Aroma para pembunuh bayaran.

Ia bergerak menuju panti asuhan. Pintunya terbuka sedikit.

Di dalam aula utama panti, tiga orang pria bertubuh kekar sedang duduk mengelilingi api unggun kecil, tertawa sambil meminum arak. Di sudut ruangan, terikat pada sebuah tiang kayu, seorang gadis kecil berusia tujuh tahun duduk meringkuk. Mulutnya disumpal kain, matanya bengkak karena menangis.

Han Ling.

Melihat adiknya dalam kondisi seperti itu, darah Han Shuo mendidih. Namun, ia tidak berteriak. Ia justru menjadi sangat tenang, ketenangan yang dimiliki seorang jagal sebelum menyembelih ternak.

"Bos, kapan kita bunuh bocah ini?" tanya salah satu preman yang memiliki bekas luka di wajahnya. "Si koki itu tidak mungkin datang. Dia pasti lebih sayang pada turnamennya."

Pria yang dipanggil Bos—seorang kultivator Tahap Penyulangan Tingkat Tiga dengan pedang besar di punggungnya—mendengus. "Tuan Muda Wang bilang tunggu sampai fajar. Jika kakaknya tidak datang, kita potong satu jari gadis ini dan kirim ke arena. Itu akan menghancurkan mentalnya saat memasak."

"Kejam sekali," preman ketiga tertawa. "Aku suka."j

Han Shuo mengambil segenggam Lada Hitam Penghancur dari kantongnya. Ini bukan lada biasa; ia telah menyangrainya dengan racun kelabang tanah sampai kering.

Dengan gerakan cepat, ia menendang pintu depan hingga terbuka lebar.

BRAK!

Ketiga preman itu terlonjak kaget, senjata mereka langsung terhunus.

"Siapa?!"

Han Shuo berdiri di ambang pintu, pisau dapur berkarat di tangan kanan, segenggam bubuk hitam di tangan kiri. Cahaya api unggun membuat bayangannya memanjang, menutupi tubuh mungil Han Ling di belakang.

"Kalian memesan kematian," suara Han Shuo datar. "Pesanan diantar."

Sebelum mereka sempat bereaksi, Han Shuo melemparkan bubuk lada itu ke arah api unggun.

Fwoosh!

Bubuk lada yang terkena api meledak menjadi awan asap pedas yang menyengat. Seketika, ruangan itu dipenuhi teriakan kesakitan. Asap itu membakar mata dan selaput lendir para preman, membuat mereka batuk darah dan buta sesaat.

"Mataku! Mataku terbakar!"

Han Shuo tidak memberi ampun. Ia melesat masuk ke dalam asap. Ia tidak butuh mata untuk melihat; ia mendengar napas mereka, ia mencium rasa takut mereka.

Teknik Pemotongan: Memisahkan Urat.

Han Shuo muncul di belakang preman berbekas luka. Pisau dapurnya menyabet horizontal, tepat di belakang lutut.

"Arghhh!"

Pria itu jatuh berlutut. Sebelum ia menyentuh tanah, Han Shuo memutar pisaunya dan menusuk tepat di titik antara leher dan bahu, memutus saraf pergerakan lengan kanannya.

Satu lumpuh.

Preman ketiga mencoba mengayunkan goloknya secara membabi buta di dalam asap. "Mati kau! Mati!"

Han Shuo merunduk, menghindari ayunan golok itu dengan selisih rambut. Ia melihat celah di pertahanan pria itu—perutnya terbuka lebar.

Teknik Dapur: Mengeluarkan Isi Perut Ikan.

Han Shuo menghantamkan gagang pisaunya ke ulu hati pria itu dengan kekuatan penuh Qi. Pukulan itu begitu keras hingga terdengar suara tulang rusuk yang retak. Pria itu terbungkuk, memuntahkan isi perutnya. Han Shuo menyusul dengan tendangan lutut ke wajah, membuatnya pingsan seketika.

Dua tumbang.

Kini tinggal sang Bos.

Asap mulai menipis. Sang Bos telah berhasil melompat mundur keluar dari jangkauan asap dan kini berdiri di dekat Han Ling, pedang besarnya diarahkan ke leher gadis kecil itu.

"Berhenti!" teriak Bos itu, wajahnya merah dan berair karena asap, tapi matanya penuh kegilaan. "Selangkah lagi kau maju, kepala adikmu menggelinding!"

Han Shuo berhenti. Jarak mereka lima meter. Han Ling menatap kakaknya dengan mata terbelalak, air mata mengalir deras, namun ia menggelengkan kepala, mencoba memberi isyarat agar Han Shuo lari.

"Lepaskan dia," kata Han Shuo. "Dan aku akan membiarkanmu pergi dengan kakimu sendiri."

Sang Bos tertawa gugup. "Kau pikir aku bodoh? Kau baru saja melumpuhkan dua anak buahku dalam sekejap mata. Kau bukan pelayan dapur biasa! Siapa kau sebenarnya?"

"Aku koki," jawab Han Shuo. Tangannya perlahan meraba saku belakangnya.

"Jangan bergerak!" bentak Bos itu, menekan pedangnya lebih dekat ke leher Han Ling. Darah segar mulai menetes dari kulit leher gadis itu.

Melihat darah adiknya, pupil mata Han Shuo mengecil. Waktu seolah berhenti. Dalam pandangan Mata Rasa-nya, ia melihat aliran darah di leher Bos itu, detak jantungnya yang cepat, dan ketegangan otot di lengannya.

Ada jeda sepersekian detik saat Bos itu berkedip untuk membersihkan sisa bubuk lada di matanya.

Itu adalah celah.

Han Shuo tidak melempar pisaunya. Itu terlalu berisiko. Sebaliknya, ia menjentikkan jarinya.

Sebuah jarum perak kecil—jarum yang biasa ia gunakan untuk menusuk daging agar bumbu meresap—meluncur dari sela jarinya. Jarum itu tidak mengarah ke Bos, melainkan ke lampu minyak yang tergantung tepat di atas kepala Bos tersebut.

Ting!

Jarum itu memutus tali lampu.

Lampu minyak itu jatuh.

Sang Bos secara refleks mendongak karena suara di atas kepalanya. Konsentrasinya terpecah.

Pada saat itulah Han Shuo bergerak.

Ia meledakkan seluruh Qi di kakinya. Lantai kayu di bawahnya hancur. Tubuhnya melesat seperti peluru.

Bos itu menyadari kesalahannya dan mencoba menebas Han Ling. Terlambat.

Tangan kiri Han Shuo menahan bilah pedang besar itu dengan telapak tangannya sendiri. Besi tajam mengiris daging tangannya hingga ke tulang, darah muncrat ke mana-mana. Namun, Han Shuo tidak bergeming. Cengkeramannya sekuat catut besi, menahan pedang itu agar tidak menyentuh adiknya.

"Kau..." Bos itu terbelalak ngeri melihat kegilaan di mata Han Shuo.

Tangan kanan Han Shuo, yang memegang pisau dapur, bergerak dalam satu garis lurus yang bersih.

Teknik Pemotongan Tingkat Lanjut: Memenggal Tanpa Rasa Sakit.

Sret.

Tidak ada suara benturan. Pisau Han Shuo melewati leher Bos itu dengan mulus, memutus jalan napas dan aliran darah seketika.

Bos itu masih berdiri mematung selama dua detik, matanya masih melotot, sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke samping.

Han Shuo segera melepaskan pedang yang ia tahan, lalu berlutut memeluk adiknya. Ia tidak peduli pada luka menganga di tangan kirinya yang terus mengeluarkan darah.

Han Ling menangis histeris di pelukan kakaknya. "Kakak! Tanganmu... tanganmu..."

"Tidak apa-apa, Ling'er. Ini hanya goresan," Han Shuo merobek bajunya, membalut lukanya dengan cepat. Ia lalu memotong tali yang mengikat adiknya.

"Kita tidak punya banyak waktu. Kita harus pergi dari sini."

Ia tidak bisa meninggalkan Han Ling di panti asuhan. Tempat ini sudah tidak aman. Han Shuo menggendong adiknya di punggung. Ia berlari menuju hutan di belakang desa, ke arah sebuah gubuk pemburu tua yang terbengkalai dan tersembunyi di balik semak berduri. Tempat itu adalah markas rahasianya saat kecil dulu.

"Ling'er, dengarkan Kakak," ucap Han Shuo saat meletakkan adiknya di dalam gubuk tersembunyi itu. Ia memberikan sisa roti kering dan sebotol air. "Kau harus bersembunyi di sini. Jangan keluar sampai Kakak menjemputmu. Ada mantra pelindung di pintu ini yang akan menyembunyikan baumu dari binatang buas."

Han Ling mengangguk, masih terisak. "Kakak mau ke mana? Jangan pergi..."

Han Shuo menghapus air mata di pipi adiknya. "Kakak harus kembali menyelesaikan masakan Kakak. Kalau Kakak menang, kita akan punya rumah besar dan tidak ada yang berani mengganggu kita lagi. Percaya pada Kakak?"

"Percaya," bisik Han Ling.

Han Shuo mencium kening adiknya, lalu menutup pintu gubuk itu dan menyamarkannya dengan dedaunan.

Ia melihat ke langit timur. Garis cahaya ungu mulai terlihat. Fajar sebentar lagi menyingsing.

"Sial," umpatnya.

Ia harus kembali ke puncak gunung dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Dengan kondisi tangan kiri yang terluka parah dan energi Qi yang terkuras, itu adalah misi bunuh diri.

Han Shuo merogoh sakunya, mengambil sebuah pil hitam kecil. Itu adalah Pil Pembakar Darah yang ia rampas dari mayat Bos preman tadi. Pil ini memberikan lonjakan energi sesaat dengan bayaran rasa sakit yang luar biasa setelahnya.

Tanpa ragu, ia menelan pil itu.

"Arghh!" Han Shuo mengerang saat energi panas membakar meridiannya. Otot-otot kakinya membesar. Ia melesat menaiki gunung, meninggalkan jejak kaki yang retak di tanah bebatuan.

Sementara itu, di gubuk Han Shuo di dalam sekte.

Li Mei duduk dengan gelisah. Boneka adonan "Han Shuo" mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Kulit tepungnya mulai retak-retak, dan aura ilusi yang menyelimutinya mulai memudar, memperlihatkan warna asli adonan yang kekuningan.

Di luar, suara langkah kaki terdengar mendekat. Itu adalah patroli pagi yang dipimpin oleh petugas turnamen untuk membangunkan para peserta.

"Peserta Nomor 49, Han Shuo! Bangun! Waktunya persiapan babak kedua!" teriak petugas dari luar pintu.

Li Mei menahan napas. "Gawat."

"Han Shuo? Kenapa tidak menjawab?" Petugas itu mulai mendorong pintu.

Li Mei bersiap mengeluarkan jarum biusnya untuk melumpuhkan petugas itu—tindakan yang pasti akan membuatnya dihukum berat oleh sekte.

Pintu terbuka.

Petugas itu melongok ke dalam.

Di sana, Han Shuo sedang duduk di tepi tempat tidur, mengenakan baju ganti yang bersih, sedang mengikat tali sepatunya. Wajahnya tampak segar, meski sedikit pucat.

"Ah, maaf Penatua. Saya sedang bermeditasi mendalam, telinga saya agak tersumbat," kata Han Shuo tenang sambil berdiri.

Petugas itu mengerutkan kening, menatap Han Shuo dari atas ke bawah. Ia merasakan aura yang sedikit tidak stabil, tapi itu wajar bagi peserta yang gugup. "Cepatlah. Jangan terlambat ke arena."

Setelah petugas itu pergi, Han Shuo menutup pintu dan langsung merosot jatuh ke lantai. Napasnya memburu hebat.

Li Mei segera menghampirinya. Ia melihat tangan kiri Han Shuo yang terbalut kain penuh darah. "Kau... kau benar-benar kembali tepat waktu. Tapi tanganmu..."

"Hanya... kecelakaan kecil saat memotong daging," Han Shuo mencoba bercanda, tapi wajahnya meringis kesakitan.

Li Mei membuka balutan itu dan terkesiap. Lukanya dalam, hampir memutus tendon. "Kau tidak bisa memasak dengan tangan seperti ini! Babak kedua adalah tentang teknik pisau. Kau butuh dua tangan untuk menstabilkan bahan!"

Han Shuo menatap tangannya yang gemetar. Efek Pil Pembakar Darah mulai hilang, digantikan oleh rasa lemas yang luar biasa.

"Aku masih punya tangan kanan," katanya lemah.

"Jangan bodoh! Kau akan melawan murid-murid terbaik sekte. Dengan satu tangan, kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri," Li Mei segera mengeluarkan salep penyembuh terbaiknya. "Salep ini bisa menutup luka luarnya, tapi otot di dalamnya butuh waktu tiga hari untuk pulih. Kau tidak akan bisa memegang bahan dengan kuat."

Han Shuo membiarkan Li Mei mengobati lukanya. Ia menatap ke luar jendela, ke arah matahari yang kini bersinar terang.

"Li Mei," panggilnya pelan.

"Apa?"

"Terima kasih sudah menjaga punggungku. Dan... maaf sudah melibatkanmu dalam kekacauan ini."

Li Mei menunduk, fokus membalut luka itu dengan rapi. "Kau memang menyebalkan. Tapi... kau satu-satunya orang di sekte ini yang membuat hidupku tidak membosankan. Jadi, jangan berani-berani kalah."

Han Shuo tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri, menyembunyikan tangan kirinya yang terluka di balik lengan baju panjangnya.

"Jangan khawatir. Jika aku tidak bisa memegang bahan dengan tanganku," mata Han Shuo berkilat tajam, "maka aku akan memaksanya diam dengan pisauku."

Ia berjalan keluar gubuk, menuju arena. Di sana, Wang He sudah menunggu dengan senyum kemenangan, yakin bahwa rencananya telah berhasil menghancurkan mental Han Shuo—atau bahkan membunuhnya.

Wang He tidak tahu, bahwa ia baru saja menciptakan monster. Han Shuo yang memasuki arena pagi ini bukanlah Han Shuo yang kemarin. Han Shuo hari ini telah mencicipi darah musuhnya, dan ia lapar akan kemenangan.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!