Lana (17 tahun) hanyalah siswi SMA yang memikirkan ujian dan masa depan. Namun, dunianya runtuh saat ia dijadikan "jaminan" atas hutang nyawa ayahnya kepada keluarga konglomerat Al-Fahri. Ia dipaksa menikah dengan putra mahkota keluarga itu: Kolonel Adrian Al-Fahri.
Adrian adalah pria berusia 29 tahun yang dingin, disiplin militer, dan memiliki kekayaan yang tak habis tujuh turunan. Baginya, pernikahan ini hanyalah tugas negara untuk melindungi aset. Bagi Lana, ini adalah penjara berlapis emas.
Di sekolah, ia adalah siswi biasa yang sering dirundung. Di rumah, ia adalah nyonya besar di mansion mewah yang dikawal pasukan elit. Namun, apa jadinya saat sang Kolonel mulai terobsesi pada "istri kecilnya"? Dan apa jadinya jika musuh-musuh Adrian mulai mengincar Lana sebagai titik lemah sang mesin perang?
"Tugas saya adalah menjaga kedaulatan negara, tapi tugas utama saya adalah memastikan tidak ada satu pun peluru yang menyentuh kulitmu, Lana."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Siapa Suami Lana Sebenarnya?
Siapa suami Lana sebenarnya yang sanggup memberikan pengawasan militer bahkan hingga ke dalam lingkungan sekolah yang paling pribadi sekalipun? Pertanyaan itu terus menggema di dalam benak Lana saat ia duduk di pojok perpustakaan sekolah yang sangat sepi dan tersembunyi dari keramaian.
Ia mengeluarkan bros emas pemberian Adrian dan memperhatikannya dengan teliti di bawah cahaya lampu ruangan yang sedikit temaram. Lana mencoba menekan bagian tengah burung garuda tersebut hingga muncul sebuah cahaya biru kecil yang berkedip dengan sangat cepat.
Tiba-tiba sebuah suara statis terdengar pelan dari balik benda kecil itu dan membuat Lana hampir saja menjatuhkannya ke atas lantai kayu. Ia mendekatkan telinganya dan mendengar suara beberapa pria yang sedang membicarakan koordinat lokasi yang sangat asing baginya.
"Target berada dalam perlindungan penuh, jangan biarkan ada lalat yang mendekati area gedung pendidikan tersebut," suara itu terdengar sangat dingin dan tegas.
Lana merasa sekujur tubuhnya menjadi sangat kaku saat menyadari bahwa suara tersebut berasal dari salah satu ajudan pribadi Adrian Al-Fahri. Ia mulai mencari informasi melalui gawai miliknya tentang silsilah keluarga Al-Fahri yang selama ini sangat tertutup dari pemberitaan media massa.
Hasil pencarian tersebut justru membawa Lana pada sebuah artikel lama mengenai sebuah dinasti militer yang menguasai berbagai sektor industri strategis di negara ini. "Kenapa informasi tentang pernikahan kami sama sekali tidak ada di sini, apakah aku benar-benar hanya sebuah rahasia negara?" gumam Lana dengan perasaan yang sangat getir.
Tiba-tiba sebuah tangan besar menepuk pundak Lana hingga ia berteriak kecil karena rasa terkejut yang luar biasa hebat. Di sana berdiri seorang pemuda tampan dengan seragam osis yang rapi dan senyum yang tampak sangat ramah namun misterius.
Pemuda itu adalah ketua murid di sekolah mereka yang dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan koneksi keluarga yang sangat luas. "Sedang mencari tahu tentang suami rahasiamu, Lana?" tanya pemuda itu dengan nada yang sangat santai seolah sedang membicarakan cuaca.
Lana segera mematikan gawainya dan menyembunyikan bros emas itu ke dalam saku seragamnya dengan gerakan yang sangat kikuk. Ia menatap pemuda di depannya dengan pandangan penuh kecurigaan karena tidak ada seorang pun di sekolah ini yang boleh mengetahui status aslinya.
Jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari bahwa kerahasiaan hidupnya kini mulai terancam oleh orang-orang di sekitarnya. "Saya tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan, saya hanya sedang belajar untuk ujian sejarah besok," balas Lana sambil mencoba melangkah pergi.
Pemuda itu menghalangi jalan Lana dengan meletakkan tangannya di atas rak buku tua yang berdebu hingga membuat Lana terpojok. Ia membisikkan sesuatu yang membuat seluruh aliran darah Lana seakan berhenti mengalir ke seluruh bagian tubuhnya saat itu juga.
Ia menyebutkan sebuah gelar kehormatan militer yang hanya dimiliki oleh segelintir orang di negeri ini termasuk Adrian. "Berhati-hatilah, karena tidak semua orang di sekolah ini adalah teman yang tulus untukmu," ucap pemuda itu sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkan kegelapan.
Lana berdiri mematung sambil mencoba mencerna semua kejadian yang baru saja ia alami di dalam keheningan perpustakaan tersebut. Ia menyadari bahwa kejutan di loker tadi hanyalah permulaan dari sebuah permainan besar yang melibatkan nyawa dan juga harga dirinya.
Rasa takut yang mendalam kembali menyelimuti hatinya saat ia membayangkan konsekuensi jika ia melanggar aturan militer yang sudah ditetapkan oleh Adrian. Pesta ulang tahun teman yang terlarang akan menjadi ujian berikutnya bagi Lana untuk menguji sejauh mana Adrian sanggup melacak keberadaannya.