Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Khawatir
Mobil yang dikemudikan Bimo berhenti tepat di depan rumah berlantai satu itu. Tanpa menunggu pintu dibukakan, Archio sudah lebih dulu turun. Wajahnya tampak tegang, langkahnya lebar dan tergesa saat ia menuju halaman.
Di depan rumah, ia berpapasan dengan Arumi yang berlari keluar. Wajah wanita itu masih merah, napasnya memburu, jelas baru saja dilanda amarah. Arumi tidak menoleh. Entah tidak menyadari kehadiran Archio atau memang tidak peduli, karena yang ada di kepalanya sekarang hanyalah pergi sejauh mungkin dari tempat itu.
Begitu pula bagi Archio, Arumi seperti tidak terlihat. Fokusnya hanya satu. Wanita yang masih berada di dalam rumah itu.
Memasuki bagian dalam, pandangan Archio bergerak cepat menyisir setiap sudut, mencari sosok yang membuat dadanya sejak tadi terasa sempit. Hingga akhirnya matanya berhenti ke arah kamar utama.
Aulia berdiri di sana.
Sebuah koper besar berada di samping kakinya. Namun tidak ada mata sembab, tidak ada wajah runtuh seperti yang ia bayangkan sepanjang perjalanan. Aulia berdiri dengan tenang, terlalu tenang bahkan, seolah badai baru saja lewat tanpa mampu merobohkannya.
Tanpa berkata apa pun, Archio langsung mendekat. Tangannya terulur hampir refleks, menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya sebelum Aulia sempat bereaksi.
“Aulia…” suaranya rendah, berat oleh cemas yang belum sepenuhnya reda, sangat bertolak belakang dengan ketegasan dingin yang ia tunjukkan di kantor beberapa waktu lalu.
“Kamu tidak apa-apa kan? Dia tidak menyakiti kamu?” lanjutnya cepat. “Bagian mana yang sakit? Hatimu kambuh lagi? Jangan pernah datang sendirian seperti ini, Aulia… kamu masih dalam proses memulihkan diri. Kamu ingat kata Sera, kamu tidak boleh menemui orang-orang yang bisa memicu trauma dan menghancurkanmu lagi. Lalu kenapa kamu tetap nekat datang?”
Kalimatnya mengalir tanpa jeda, sarat kekhawatiran yang tidak berusaha ia sembunyikan. Pelukannya pun belum mengendur, seolah baru sekarang ia bisa benar-benar bernapas setelah memastikan wanita itu baik-baik saja.
.
.
Aulia yang tidak siap dipeluk seerat itu langsung membeku. Tubuhnya kaku di dalam dekapan tersebut. Ia bahkan bisa merasakan degup jantung Archio yang berdentam tidak beraturan, seolah pria itu baru saja berlari jauh. Kekhawatiran yang terpancar darinya membuat Aulia kehilangan kata-kata.
“Aku… baik-baik saja, Pak,” ucapnya lirih, hampir seperti bisikan. Napasnya terasa tertahan. “Bisa… pelukannya dilepas? Sesak…”
Kalimat itu seketika menyadarkan Archio.
Ia segera menjauh, melepaskan pelukannya seolah baru tersentak dari sesuatu yang tidak ia sadari sejak awal. Pria itu mundur satu langkah, memberi jarak yang kini terasa canggung.
Wajahnya memperlihatkan campuran keterkejutan dan ketidakpercayaan—seakan ia sendiri tidak mengerti bagaimana bisa kehilangan kendali hingga memeluk Aulia sedemikian erat. Untuk sesaat, Archio hanya menatap wanita di hadapannya, rahangnya menegang samar, sementara napasnya masih belum sepenuhnya teratur.
“Maaf… Aulia,” ucapnya pelan, suaranya jauh lebih rendah dibandingkan nada tegas yang biasa ia gunakan. “Saya hanya khawatir terjadi apa-apa lagi sama kamu. Maaf… barusan refleks.”
Ia menarik napas sejenak, berusaha menata ulang ketenangan yang sempat runtuh.
“Saya hanya tidak ingin pengobatan kamu pada Dokter Sera sia-sia dan berakhir kambuh lagi hanya karena kamu menemui mereka. Kamu tidak perlu melakukan apa pun sendirian, Aulia,” lanjutnya, kini dengan nada yang lebih terkendali, meski kekhawatiran itu masih jelas terasa di setiap katanya.
Tatapan Archio melembut.
“Ada banyak orang di sekitar kamu. Ada teman-teman kamu, ada tante Kania, dan ada Leonel juga. Setidaknya… jangan membuat mereka kembali merasa khawatir dan takut.”
Ia berhenti sebentar, seolah menimbang kalimat berikutnya, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang lebih dalam.
“Apa pun itu, tolong libatkan mereka. Kamu juga… bisa melibatkan saya.”
"Terima kasih, Pak, atas rasa pedulinya, tapi aku sudah jauh lebih baik. Aku tidak apa-apa sekarang. Aku sudah mengikhlaskan semuanya, jadi aku pikir semuanya akan baik-baik saja," balas Aulia sambil tersenyum tipis, seolah ingin benar-benar meyakinkan pria di depannya bahwa luka itu tidak lagi menguasainya.
Archio mengangguk pelan, sorot matanya menelusuri wajah Aulia seakan memastikan sendiri kebenaran dari setiap kata yang barusan ia dengar.
"Syukurlah kalau begitu," ujarnya tenang. "Tapi tetap saja, kamu harus melibatkan orang lain. Kamu tidak sendirian lagi, banyak orang yang sayang sama kamu, Aulia. Saya harap tidak akan ada lagi kesedihan itu, karena kalau kamu kembali terpuruk, semua orang yang peduli padamu ikut merasakannya… termasuk anak saya, Leonel."
Kalimat itu terdengar wajar, namun entah mengapa ia tidak segera mengalihkan pandangan. Tatapannya masih tertahan pada wanita itu, terlalu lama untuk sekadar bentuk kepedulian biasa.
Dan tanpa ia sadari, ada satu pengakuan yang hanya berani ia selesaikan di dalam hati.
Bahwa melihat Aulia baik-baik saja menghadirkan lega yang tidak mampu ia jelaskan.
...****************...
Archio mengambil alih koper wanita itu dan menyeretnya keluar tanpa banyak bicara. Aulia berjalan mengekor di belakang dengan langkah tenang. Di depan rumah, Bimo sudah berdiri di dekat mobil sambil menatap ke arah pintu, raut wajahnya canggung, seperti orang yang tidak tahu harus berpura-pura tidak melihat atau benar-benar tidak peduli. Tadi ia sempat hendak masuk, namun urung saat menyaksikan atasannya memeluk wanita itu.
"Kopernya masuk ke dalam mobil aku saja, Pak," ujar Aulia. Keningnya sempat berkerut ketika menyadari Bimo ada di sana, tetapi dalam hitungan detik ekspresinya kembali netral.
Tanpa menanggapi, Archio mengangkat koper besar itu dan memasukkannya ke bagasi mobil Aulia. Setelah bagasi tertutup rapat, ia menoleh dan mengulurkan tangan.
"Kuncinya."
Aulia menghela napas pelan sebelum menjawab, "Saya kemudi sendiri mobilnya, Pak. Bapak pulang ke kantor sama Pak Bimo saja. Lagian… siapa yang kasih tahu kalau aku ada di sini? Sampai Bapak meninggalkan kantor begitu."
Nada penasarannya tidak bisa disembunyikan.
"Mobil saya biar Bimo yang bawa," jawab Archio tegas. "Saya pulang sama kamu, Aulia. Saya mau memastikan kamu benar-benar baik-baik saja." Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan, "Yang memberi tahu itu Tyas. Kalau dia tidak menghubungi saya, saya tidak akan tahu kamu datang ke sini sendirian."
Aulia mendesah dalam hati.
Si Tyas, kenapa pula harus lapor… jadi tidak enak sudah membuat Pak Archio meninggalkan pekerjaannya.
"Tapi Bapak tetap harus kembali ke kantor," katanya lagi, masih mencoba menolak.
Archio menggeleng ringan. "Di kantor masih ada adik saya, ada karyawan lain, dan nanti Bimo juga kembali ke sana. Lagi pula saya rindu putra saya." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Boleh, kan, kalau hari ini saya mampir menemuinya? Sekalian ingin mengunjungi Tante Kania. Sudah lama saya tidak bertemu beliau."
Alasan itu terdengar wajar, terlalu wajar sampai Aulia kehabisan sanggahan. Pada akhirnya ia menyerahkan kunci mobilnya.
Archio langsung membuka pintu kursi pengemudi dan masuk, gerakannya pasti, tidak memberi ruang bagi Aulia untuk menarik kembali keputusan barusan. Di sisi lain, Bimo masih duduk di dalam mobil mereka, menatap lurus ke depan seperti memilih tidak ikut campur urusan atasannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...