Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 28: Si tukang siram
Langkah Reggiano dan Caspian terhenti secara paksa saat Proctor 01 melambaikan tangannya yang transparan. Seketika, balkon batu hitam itu retak, pecah menjadi ribuan kepingan kristal yang melayang ke atas, lalu menyusun diri kembali menjadi dinding-dinding kaca yang tak berujung.
"Selamat datang di Labirin Refleksi Dosa," suara Proctor 01 bergema, menjauh hingga menghilang. "Sebelum kau memangkas takdir, lihatlah dulu pohon yang telah kau tebang."
Caspian mencoba menjentikkan jarinya untuk membuka celah dimensi, namun ia terhuyung. "Sial... Reggi, cermin-cermin ini... mereka menyerap energi dimensi. Aku tidak bisa melihat jalan keluar!"
Reggiano tidak menjawab. Matanya terpaku pada dinding cermin di depannya. Refleksi yang muncul di sana bukan lagi sosok tukang roti dengan celemek hijau, melainkan sosok masa lalunya yang paling ia benci.
Di dalam cermin itu, Reggiano melihat dirinya sendiri—beberapa tahun yang lalu—berdiri di tengah hujan salju merah di Distrik Utara. Ia mengenakan jubah eksekutor hitam legam, wajahnya tertutup topeng besi dingin. Di bawah kakinya, puluhan target dari faksi lawan tergeletak tak bernyawa. Reggiano muda dalam cermin itu mengangkat sabitnya, menghabisi seorang pria yang sudah memohon ampun dengan satu tebasan tanpa emosi sedikit pun.
"Itu... itu bukan aku yang sekarang," bisik Reggiano, suaranya bergetar.
Namun cermin di sebelah kiri menunjukkan kejadian lain. Reggiano melihat momen di mana ia membakar sebuah arsip berisi ribuan data nyawa manusia hanya untuk memenuhi perintah Organisasi. Ia melihat matanya sendiri di masa lalu; mata yang kosong, tanpa kilat kehidupan, benar-benar sebuah mesin pembunuh yang hanya mengenal "jalur lurus" menuju target.
"Reggi! Jangan dilihat!" seru Caspian, mencoba menarik lengan Reggiano. "Itu hanya proyeksi psikis! Mereka mencoba memecah konsentrasimu agar frekuensi energimu turun!"
Tiba-tiba, suara Seraphine terdengar di benak Reggiano, sangat tipis dan terganggu statis.
"Reggiano... jangan... tersesat... di bayangan... Kunci Malachai... tetap bersinar... kau adalah... penjaga... bukan hanya... pembantai..."
"Seraphine?" Reggiano menoleh, namun yang ia lihat di cermin hanyalah bayangan dirinya yang sedang mencekik seorang informan tua.
Cermin-cermin itu mulai merapat, mengurung mereka dalam ruang yang semakin sempit. Setiap permukaan kaca memutar ulang setiap jeritan, setiap cipratan darah, dan setiap nyawa yang pernah dipadamkan oleh tangan Reggiano.
"Kau ingin menyelamatkan satu benih?" suara Proctor 01 kembali terdengar dari segala arah. "Bagaimana dengan ribuan benih yang telah kau injak-injak di masa lalu, Eksekutor? Apakah tangan yang berlumuran darah lama layak memegang masa depan yang suci?"
Reggiano berlutut, kepalanya terasa seperti akan meledak. Tekanan mental dari labirin ini jauh lebih menyakitkan daripada serangan fisik apa pun dari Aristhos. Ia merasa sabitnya, The Reaper’s Thorn, mulai bergetar hebat, energi merah pekatnya mulai berubah menjadi hitam, terpengaruh oleh rasa bersalah yang memuap dari batinnya.
Caspian, meskipun terluka dan energinya terbatas, berdiri di depan Reggiano, menghalangi pandangan temannya dari cermin-cermin itu dengan tubuhnya sendiri.
"Dengarkan aku, kau mesin kaca sialan!" teriak Caspian ke arah langit-langit tanpa langit itu. "Dia mungkin memang seorang monster di masa lalu! Tapi dia monster yang sekarang membuatkan roti untuk anak yatim piatu! Dia monster yang melindungiku saat aku hampir mati! Masa lalu itu hanyalah tumpukan abu, dan Reggi sudah membakarnya!"
Caspian menoleh ke arah Reggiano, mencengkeram bahunya dengan keras. "Reggi! Bangun! Kalau kau menyerah di sini, Seraphine dan Elena akan sendirian menghadap Arbiters! Kau ingin mereka melihatmu kalah oleh bayanganmu sendiri?!"
Mendengar nama Elena, Reggiano mengangkat kepalanya. Matanya yang tadi meredup kini kembali berpendar hijau zamrud, namun kali ini bercampur dengan api emas yang tenang.
Ia berdiri perlahan. Sabit emasnya muncul kembali, namun kali ini ia tidak mengayunkannya untuk menyerang. Reggiano menyentuhkan ujung sabitnya ke dadanya sendiri, tepat di mana tanda mawar berada.
"Aku tidak menyangkal mereka," ucap Reggiano, suaranya kini stabil dan berat. "Setiap nyawa yang kuambil adalah beban yang kubawa selamanya. Aku tidak mencari pengampunan, Proctor. Aku mencari tanggung jawab."
Reggiano menghantamkan gagang sabitnya ke lantai kristal labirin itu.
"EXCLUSIVE ART: ROOTS OF REDEMPTION!"
Bukannya menebas cermin, akar-akar emas murni meledak dari kaki Reggiano. Akar-akar itu merayap naik ke setiap dinding cermin, bukan untuk menghancurkannya, tapi untuk menyelimutinya dengan bunga mawar putih yang indah. Suara jeritan di dalam labirin itu perlahan berubah menjadi senandung doa yang damai.
Kristal-kristal labirin itu mulai retak dan hancur, bukan karena kekuatan kasar, tapi karena kebenaran emosional yang melampaui manipulasi Proctor.
"Masa laluku adalah tanah tempat mawar ini tumbuh," Reggiano menatap ke depan saat labirin itu runtuh menjadi debu bintang. "Tanpa kegelapan itu, aku tidak akan pernah tahu betapa berharganya cahaya yang kuperjuangkan sekarang."
Labirin menghilang. Mereka kembali berada di jalanan utama Kota Tanpa Langit. Proctor 01 berdiri beberapa meter di depan mereka, tubuh galaksinya tampak sedikit bergetar, seolah terkejut karena "virus" ini berhasil menetralisir sistem pemurnian mental mereka.
"Kau... kau menerima kegelapan itu sebagai nutrisi?" Proctor 01 bertanya dengan nada yang tidak lagi monoton.
Caspian menyeringai, menepuk-nepuk jas birunya yang terkena debu kristal. "Itulah bedanya kami dengan kalian yang terbuat dari kaca, Kawan. Kami bisa hancur, kami bisa kotor, tapi kami bisa tumbuh. Sekarang, tunjukkan jalan ke Menara itu sebelum temanku ini memutuskan untuk menanam mawar di seluruh kotamu yang membosankan ini."
Labirin Runtuh. Tekad Reggiano Semakin Kuat.
Reggiano telah melampaui ujian mental pertamanya, namun Menara Arbitrase kini semakin dekat, dan High Arbiters lainnya mulai bersiap.
Langkah Reggiano dan Caspian di jalanan utama Kota Tanpa Langit terhenti ketika sebuah bayangan melesat dari balik pilar kristal yang retak. Sesosok pria tua dengan pakaian compang-camping—yang tampak seperti perpaduan antara jubah teknologi kuno dan dedaunan kering yang membatu—muncul dengan langkah terseok-seok.
Wajahnya penuh dengan garis-garis luka yang berpendar biru redup, dan salah satu matanya telah digantikan oleh lensa mekanis yang terus berputar mencari fokus.
"Eksekutor... Jangan lewat jalur utama," suara pria tua itu parau, seperti gesekan batu gerinda. "Proctor 01 hanya ingin menggiringmu ke arah penyembelihan massal. High Arbiters tidak suka kalian lolos dari Labirin Refleksi. Mereka sedang menyiapkan Protokol Pemangkasan di gerbang depan Menara."
Reggiano mengangkat sabitnya, ujungnya berpendar merah waspada. "Siapa kau? Di tempat ini, tidak ada yang menolong tanpa alasan."
Pria tua itu terkekeh, batuknya mengeluarkan serbuk perak. Ia menatap Reggiano dengan mata organiknya yang tersisa, mata yang tampak menyimpan kesedihan yang sama dengan yang pernah Reggiano lihat pada ibunya.
"Namaku Silas. Dahulu, aku adalah 'Tukang Siram' di kebun Grand Gardener... sebelum aku membantu seorang wanita bernama Elena melarikan diri dari penjara benih ini," Silas menarik kerah bajunya, memperlihatkan tato mawar hitam yang identik dengan simbol keluarga Reggiano, namun tato itu tampak terbakar dan rusak. "Aku mengenal ibumu, nak. Aku yang membukakan pintu dimensi terakhir agar dia bisa membawamu dan adikmu ke dunia bawah yang kau sebut rumah."
Caspian menyipitkan mata, tangannya bermain dengan koin perak di saku. "Cerita yang bagus, Kekek Tua. Tapi kalau kau pengkhianat sehebat itu, kenapa kau masih hidup di kota yang 'suci' dan penuh aturan ini?"
"Hidup?" Silas tertawa pahit.
"Aku adalah buronan yang tidak bisa mati karena mereka mencabut konsep 'akhir' dari garis waktuku. Aku terjebak di sini, bersembunyi di sela-sela pipa pembuangan energi, memakan sisa-sisa memori yang dibuang. Aku menunggu selama tiga puluh tahun hanya untuk melihat apakah benih yang dibawa Elena akan tumbuh menjadi duri atau hanya menjadi pupuk."
Silas menunjuk ke sebuah celah sempit di bawah menara kristal yang tampak seperti gang gelap dan kotor.
"Ikuti aku lewat Jalur Akar Terlupakan. Itu adalah jalur nutrisi yang sudah mati, Arbiters tidak memantaunya karena mereka pikir tidak ada yang bisa bertahan di sana tanpa kehilangan akal sehat. Itu akan membawamu langsung ke ruang pribadi Grand Gardener, melewati semua pasukan penjaga."
Reggiano terdiam sejenak. Di benaknya, suara Seraphine kembali terdengar, kali ini lebih jernih.
"Reggiano... aku merasakan... koneksi lama. Pria itu... dia membawa bau tanah yang sama dengan kenangan ibumu. Tapi hati-hati... Kota Tanpa Langit bisa memalsukan segalanya, kecuali rasa sakit."
"Pimpin jalannya, Silas," perintah Reggiano. "Tapi jika ini jebakan, kau akan menjadi orang pertama yang merasakan bagaimana sabitku memangkas keabadianmu."
Silas hanya mengangguk dan masuk ke dalam celah gelap itu. Caspian mengikuti di belakang Reggiano, berbisik pelan, "Reggi, aku tidak suka ini. Orang tua ini baunya seperti buku sejarah yang terbakar. Tapi kurasa kita tidak punya pilihan kalau mau cepat sampai."
Di dalam jalur rahasia itu, suasananya sangat berbeda. Dinding-dindingnya terbuat dari serat kayu raksasa yang sudah membatu dan berwarna abu-abu. Cairan berpendar ungu menetes dari langit-langit, menciptakan kolam-kolam kecil yang jika diinjak akan membisikkan memori orang-orang yang pernah gagal di kota ini.
"Aristhos hanyalah seorang amatir," ucap Silas sambil berjalan di depan, tongkat kayunya mengetuk lantai dengan ritme aneh.
"Dia mencoba meniru apa yang Grand Gardener lakukan secara alami. Dia ingin 'Darah Bumi' Elena bukan hanya untuk hidup abadi, tapi untuk menyambungkan realitasnya yang sekarat ke inti Yggdrasil. Dia ingin menjadi 'Gardener' kedua."
"Kenapa Grand Gardener begitu terobsesi pada keluarga kami?" tanya Reggiano sambil menebas beberapa sulur berduri yang mencoba menghalangi jalan.
"Karena ibumu mencuri sesuatu yang lebih dari sekadar hidupnya," Silas berhenti sejenak, menoleh ke arah Reggiano.
"Dia mencuri 'Benih Kesadaran'. Yggdrasil bukan sekadar pohon energi; itu adalah entitas yang bisa berpikir. Grand Gardener ingin mengaturnya seperti mesin, tapi ibumu ingin memberinya kebebasan untuk tumbuh secara liar. Elena, adikmu... dia adalah perwujudan dari kebebasan itu. Selama dia ada, Grand Gardener tidak bisa memiliki kendali mutlak atas aliran kehidupan di multiverse ini."
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh lorong. Suara raungan logam terdengar dari atas mereka.
"Mereka tahu!" Silas berteriak. "Arbiters sedang menyuntikkan cairan pembersih ke dalam jalur akar ini! Kita harus lari!"
Caspian menjentikkan koinnya, mencoba menciptakan pelindung. "Reggi! Cairan itu! Itu asam dimensi! Jika menyentuh kulitmu, kau akan terhapus dari ingatan siapa pun yang mengenalmu!"
Reggiano melihat cairan ungu pekat mulai membanjiri lorong dari arah belakang mereka dengan kecepatan tinggi.
"Silas! Di mana pintu keluarnya?!" seru Reggiano.
"Di depan! Lewati jembatan serat itu!" Silas menunjuk ke sebuah jembatan gantung yang terbuat dari jalinan cahaya yang mulai meredup.
Reggiano, Caspian, dan Silas sedang berlari demi nyawa mereka sementara "asam ingatan" mengejar di belakang.