NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Jangan panggil saya Pak!

Selepas Isya, suasana di rumah Wa Apud mendadak riuh. Tetangga sekitar berbondong-bondong datang, memenuhi ruang tamu yang beralas tikar, penasaran ingin menyaksikan pernikahan dadakan antara Zora dan lelaki kota yang disebut-sebut sebagai calon suaminya.

Sore tadi, sebelum takdir ini benar-benar diikat, mereka sempat berziarah ke makam orang tua Zora. Di bawah langit yang mulai jingga, Dimas juga sempat menghubungi ibunya, menyampaikan berita yang sangat mendadak ini. Tentu saja Bu Lastri memberikan restu penuh; napasnya di telepon terdengar lega, seolah doa yang ia rapalkan bertahun-tahun akhirnya terjawab.

Kini, Dimas duduk tegap di hadapan Pak Ustaz dan Pak RT. Di sudut ruangan, dekat pintu kayu yang mulai lapuk, Irpan berdiri mematung, menatap pemandangan itu dengan perasaan yang sulit ditebak. Sementara itu, Zora masih disembunyikan di dalam kamar Wa Minah.

"Bagaimana, Wa? Bisa kita mulai sekarang pernikahan Neng Rara?" tanya Pak Ustaz, memecah kesunyian.

"Silakan, Pak Ustaz. Takut keburu malam," balas Wa Apud mantap.

"Muhun, atuh. Mari kita mulai."

Dengan disaksikan warga kampung dan cahaya lampu neon yang berpendar pucat, Wa Apud menjabat tangan Dimas. Dengan satu tarikan napas yang mantap, Dimas mengucapkan janji suci itu. Ia memberikan kalung emas seberat 15 gram sebagai mas kawin,sebuah perhiasan yang tadinya tersimpan di dashboard mobil sebagai hadiah cadangan, namun kini berubah menjadi simbol pengikat takdir.

"Sah!"

Seruan hamdalah menggema di seluruh ruangan begitu para saksi mengangguk. Detik itu juga, status mereka berubah selamanya. Dimas resmi menjadi suami Zora,gadis yang dahulu hanya duduk di bangku kelas mendengarkan suaranya sebagai guru.

Pintu kamar terbuka pelan. Dimas seolah lupa cara bernapas saat melihat Zora melangkah keluar. Gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu tampil begitu bersahaja namun memukau dengan gamis berwarna putih tulang. Gamis yang sama yang pernah Dimas lihat saat pengajian di rumah Bumi beberapa bulan lalu. Ternyata, keindahan yang dulu hanya bisa ia kagumi dari jauh, kini sepenuhnya menjadi miliknya.

Pukul sebelas malam.

Keheningan mulai merayap di rumah Wa Apud setelah tamu terakhir berpamitan dua jam yang lalu. Kini, hanya ada Dimas dan Zora, duduk bersandar di dinding kayu yang terasa dingin di punggung.

Zora tampak sibuk menikmati kue bugis,kudapan dari tepung ketan berisi parutan kelapa dan gula merah cair yang dibungkus daun pisang. Ia makan dengan lahap, seolah rasa manis gula merah itu bisa sedikit mengusir kegugupannya. Dimas di sampingnya hanya memperhatikan dengan kening mengernyit, tampak asing dengan jajanan pasar tersebut.

"Enak?" tanya Dimas, suaranya terdengar rendah di tengah keheningan malam.

Zora menoleh dan mengangguk antusias. "Bapak mau coba?"

Baru saja Zora hendak meraih kue bugis yang baru di atas piring, gerakan tangannya tertahan oleh cengkeraman lembut jemari Dimas.

"Aku mau yang ini saja," ucap Dimas pelan.

Tanpa permisi, pria itu menarik tangan Zora yang tengah memegang sisa kue bugis, lalu memakannya langsung dari sana. Zora mematung. Napasnya seolah berhenti di tenggorokan saat melihat bibir Dimas menyentuh bekas makanannya.

"Eum... lumayan," gumam Dimas setelah menelan kunyahannya. Ia menatap Zora dengan tatapan yang jauh lebih manis dari gula merah di dalam kue itu. "Aku mau lagi, Sayang."

Deg.

"A-pa?" tanya Zora terbata-bata. Jantungnya kini berdentum hebat, lebih kencang dari suara jangkrik di luar rumah.

"Itu... aku mau lagi," balas Dimas santai, seolah panggilan 'sayang' tadi bukanlah hal besar yang baru saja memporak-porandakan pertahanan Zora. Ia menunjuk bungkusan daun pisang di piring dengan dagunya.

"Oh... i-iya, ini." Zora buru-buru menyodorkan piring dengan tangan gemetar. Ia benar-benar salah tingkah, bahkan tidak berani menatap mata pria yang kini sudah resmi memiliki hak atas dirinya itu.

Tiba-tiba, Wa Minah muncul dari arah dapur, memecah kecanggungan yang baru saja terbangun.

"Neng, kamar di rumahmu sudah Uwa rapikan. Sekarang istirahatlah. Kalian pasti sangat lelah, baru datang dari Bandung langsung menikah," ucap Wa Minah lembut namun penuh maksud.

Keduanya saling pandang dengan wajah yang mendadak memerah padam. Mereka benar-benar lupa jika malam sudah sangat larut, dan secara teknis, ini adalah malam pertama mereka sebagai pasangan sah.

"Wa, Neng... Neng tidur di sini saja ya?" pinta Zora gugup, mencari alasan agar tidak perlu berduaan dengan Dimas di rumah sebelah.

Dimas hanya menyimak dengan dahi berkerut. Dalam hati ia bertanya-tanya, jika mereka menginap di sini, di mana mereka akan tidur? Kamar di rumah Wa Apud hanya satu, dan pria paruh baya itu sudah mendengkur di dalamnya.

"Lho, masa pengantin baru tidur di ruang tamu, Neng? Sudah, sana bawa suamimu pulang ke rumah. Kasihan dia kecapekan," balas Wa Minah tegas, sambil memberikan dorongan kecil di bahu Zora.

Zora tak punya pilihan lain selain mengangguk pasrah. "Iya, Wa." Ia lalu menoleh pelan pada Dimas. "Ayo, Pak... kita ke rumah sebelah."

Mereka melangkah menembus udara malam yang dingin menuju rumah peninggalan orang tua Zora yang tadi siang sempat mereka bersihkan bersama. Dimas terkekeh pelan saat kaki mereka melintasi ambang pintu. Ia teringat betapa konyolnya takdir; siang tadi mereka hanyalah dua orang asing yang canggung, dan dalam hitungan jam, status mereka sudah terikat di depan Tuhan.

"Pak Dimas mau tidur di kamar yang ini atau yang itu?" tanya Zora, suaranya mencicit saat mereka berdiri di ruang tengah yang sepi.

"Kamar kamu yang mana?" Dimas balik bertanya.

"Ini, Pak." Zora menunjuk sebuah pintu dengan gorden motif Hello Kitty yang tampak mencolok.

"Ya sudah, kamar ini saja," putus Dimas santai.

Zora bernapas lega,atau setidaknya itu yang ia kira. "Baiklah. Kalau begitu, silakan Pak Dimas istirahat. Saya akan tidur di kamar mendiang Ibu saja."

Langkah Dimas terhenti seketika. Ia menoleh cepat, menatap Zora dengan pandangan tak percaya. "Apa?"

"Silakan Pak Dimas pakai kamar ini, saya pakai kamar yang satunya lagi," ulang Zora polos.

Dimas berkacak pinggang, lalu melangkah maju mendekati Zora hingga gadis itu terdesak ke dinding kayu. "Maksudmu, kita tidur terpisah? Kamu lupa, beberapa jam yang lalu kita baru saja disahkan sebagai suami istri?"

Dimas meraih dagu Zora dengan wajah yang mendekat."Jangan,panggil saya pak lagi!"

Sementara Zora,gadis itu merasa jantungnya hampir copot terlebih wajah Dimas yang perlahan mendekat...

1...2...3...

Bersambung

1
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
suryani duriah
ceritanya baguuus👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!