Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buah Salak dan Saus
Minggu-minggu terakhir kehamilan Alana membawa perubahan yang cukup drastis di kediaman Vance. Atmosfer rumah yang dulunya sedingin es kini berubah menjadi hangat, hampir seperti rumah tangga normal yang penuh dengan kasih sayang. Brixton, sang penguasa bisnis yang biasanya ditakuti di ruang rapat, kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi seorang suami yang siaga. Ia bahkan memindahkan sebagian besar pekerjaannya ke rumah agar bisa tetap mengawasi Alana setiap saat.
Pagi itu, cuaca sedang sangat bersahabat. Sinar matahari masuk melalui jendela besar di kamar utama, tempat Brixton dan Alana sedang bersantai. Alana bersandar di tumpukan bantal empuk sambil membaca buku tentang nama-nama bayi, sementara Brixton duduk di sampingnya, sibuk dengan laptop di pangkuannya. Namun, fokus Brixton seringkali teralihkan; setiap beberapa menit, ia akan mengulurkan tangan untuk sekadar mengusap perut buncit Alana atau mencium bahu istrinya.
Tiba-tiba, Alana menutup bukunya dengan suara pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu hidungnya kembang kempis seolah sedang mencium aroma yang tidak ada di ruangan itu.
"Brixton..." panggil Alana. Suaranya terdengar berbeda—lebih lembut, sedikit serak, dan penuh dengan nada yang mencurigakan.
Brixton segera menghentikan ketikannya. Ia menoleh dengan sigap. "Ya, Sayang? Kau butuh sesuatu? Punggungmu sakit lagi? Atau kau ingin air jeruk?"
Alana menggeleng pelan. Ia menatap Brixton dengan mata hijau zamrudnya yang berkilat nakal. "Aku... aku tiba-tiba ingin melihat sesuatu. Sesuatu yang sangat spesifik."
Brixton menutup laptopnya sepenuhnya. Ia merasa ini adalah tugas penting. Selama ini, ngidam Alana cukup normal; es krim, buah ceri, atau sesekali martabak di tengah malam. "Katakan saja. Apa pun itu, aku akan mencarikannya untukmu. Kau ingin makanan dari restoran mana?"
Alana tersenyum manis—senyum yang membuat bulu kuduk Brixton sedikit meremang. "Aku tidak ingin makanan dari restoran. Aku ingin kau, suamiku tercinta, memakan buah salak... dengan saus sambal ekstra pedas. Sekarang."
Keheningan seketika melanda kamar itu. Brixton mengerjap, mengira ia salah dengar.
"Maaf, apa? Salak? Dengan saus pedas?" Brixton mengulang kalimat itu seolah-olah itu adalah bahasa asing yang tidak masuk akal. "Alana, salak itu manis dan sepat. Saus sambal itu untuk ayam goreng atau kentang. Itu kombinasi yang akan menghancurkan sistem pencernaan manusia."
"Tapi aku ingin melihatnya, Brixton," rengek Alana. Ia mulai mengerucutkan bibirnya. "Bayi kita yang ingin. Sejak tadi dia menendang-nendang, seolah-olah dia sedang menagih janji Ayahnya."
"Sayang, mintalah yang lain. Aku akan membelikanmu berlian, atau kita pergi ke Paris setelah kau melahirkan. Tapi jangan memaksaku memakan eksperimen kimia seperti itu," Brixton mencoba bernegosiasi dengan logis. Sebagai pria yang sangat menjaga pola makan dan kebugaran, ide memakan buah bersisik dengan saus cabai botolan terasa seperti penghinaan terhadap selera makannya.
Alana tidak menyerah. Ia menggeser tubuhnya mendekati Brixton, melingkarkan lengannya di leher suaminya, dan menatapnya dengan pandangan paling manja yang pernah ia miliki.
"Brixton sayang... suamiku yang paling tampan dan baik hati..." Alana berbisik tepat di telinga Brixton, suaranya terdengar sangat manis hingga mampu melelehkan baja. "Hanya tiga buah salak saja. Aku hanya ingin melihat ekspresi wajahmu saat memakannya. Tolong ya, Sayang? Untuk istrimu yang sudah membawa beban berat ini selama sembilan bulan?"
Pertahanan Brixton runtuh seketika. Panggilan 'sayang' yang keluar dari bibir Alana dengan nada manja seperti itu adalah senjata pemusnah massal bagi egonya. Ia mendesah pasrah, menjatuhkan kepalanya di bahu Alana.
"Kau benar-benar tahu cara melumpuhkanku, Alana," gumam Brixton kalah. "Baiklah. Salak dan saus pedas. Tapi jika aku masuk rumah sakit karena sakit perut, kau harus menemaniku di bangsal."
Alana bersorak kegirangan dan mencium pipi Brixton berkali-kali. "Terima kasih, Sayang! Aku akan minta Bibi Martha menyiapkannya!"
Sepuluh menit kemudian, pemandangan aneh tercipta di ruang makan mewah keluarga Vance. Brixton duduk di kepala meja dengan wajah yang tampak seperti pria yang akan menghadapi eksekusi mati. Di depannya, terdapat sebuah piring putih berisi lima butir buah salak yang sudah dikupas bersih, dan semangkuk kecil saus sambal merah membara yang aromanya saja sudah membuat hidung perih.
Alana duduk di sampingnya, memegang ponselnya dengan posisi siap merekam. Ia tampak sangat antusias, matanya berbinar-binar seolah sedang menonton pertunjukan komedi terbaik dunia. Para pelayan, termasuk Bibi Martha, berdiri agak jauh di dapur, mencoba menahan tawa melihat Tuan mereka yang perkasa kini tak berkutik di depan buah salak.
"Ayo, Sayang. Mulailah. Yang itu, yang paling besar," desak Alana manja.
Brixton menatap buah salak itu dengan penuh kebencian. Ia mengambil satu, mencelupkannya ke dalam saus sambal hingga seluruh permukaannya tertutup warna merah, lalu menarik napas panjang.
"Demi masa depan keluarga Vance," gumam Brixton sebelum memasukkan buah itu ke mulutnya.
Satu detik. Dua detik.
Wajah Brixton yang biasanya pucat dan tenang seketika berubah warna. Mulai dari merah muda, merah tua, hingga ungu di bagian telinga. Matanya membelalak, dan ia mulai mengunyah dengan gerakan mekanis. Perpaduan rasa sepat, manis, dan rasa pedas yang membakar lidah menciptakan ledakan rasa yang sangat kacau di mulutnya.
"Bagaimana, Sayang? Enak?" tanya Alana sambil tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi Brixton yang berusaha keras untuk tetap terlihat tenang namun gagal total.
"Ini... ini sangat... unik," ucap Brixton dengan suara yang tercekik. Ia segera menelan paksa buah itu dan langsung menyambar gelas air es di sampingnya, meminumnya hingga tandas. "Lidahku merasa seperti sedang diinjak-injak oleh pasukan berkuda."
"Lagi, Sayang! Baru satu!" Alana tertawa semakin keras sampai-sampai ia harus memegangi perutnya.
Brixton menatap istrinya yang tertawa lepas. Melihat binar kebahagiaan itu, rasa pedas di lidahnya seolah menjadi tidak berarti. Ia tersenyum tipis, meski bibirnya mulai membengkak sedikit karena cabai. "Apapun untukmu, Alana."
Ia mengambil salak kedua, mencelupkannya lebih dalam lagi ke saus pedas, dan memakannya. Kali ini, ia mencoba berakting seolah-olah itu adalah makanan paling lezat di dunia. Ia mengunyah dengan perlahan, meskipun keringat mulai bercucuran di dahi dan pelipisnya.
"Wah, sepertinya kau mulai menyukainya!" goda Alana.
"Ya, tentu saja. Mungkin aku akan memasukkan menu ini ke dalam rapat pemegang saham minggu depan," canda Brixton dengan suara parau.
Kejadian lucu terus berlanjut. Brixton mulai merasa kepedasan yang luar biasa hingga ia harus berlari ke arah lemari es mencari susu, sementara Alana mengejarnya sambil tertawa dan terus merekam momen langka itu. Si penguasa bisnis yang biasanya tampil rapi, kini tampak berantakan dengan bibir merah merona dan wajah berkeringat, hanya karena keinginan ngidam istrinya.
Setelah drama salak pedas itu berakhir, mereka kembali ke ruang tengah. Brixton berbaring di sofa dengan handuk kecil berisi es batu yang ia tempelkan di bibirnya, sementara Alana duduk di sampingnya, memijat lembut kepala suaminya sebagai tanda terima kasih.
"Terima kasih ya, Brixton sayang. Kau benar-benar suami terbaik," ucap Alana tulus. Ia mencium kening Brixton yang masih sedikit berkeringat.
Brixton menarik Alana ke dalam dekapannya, membiarkan istrinya bersandar di dadanya. "Lain kali, bisakah kau ngidam sesuatu yang lebih normal? Seperti... memintaku membelikanmu pulau, atau membangunkanmu menara?"
Alana terkekeh. "Tidak seru kalau hanya barang mewah. Aku ingin melihat sisi kemanusiaanmu, Brixton. Dan melihatmu berjuang melawan salak pedas tadi adalah hal paling romantis yang pernah kulihat."
"Romantis?" Brixton mengangkat alisnya. "Lidahku terbakar dan kau menyebutnya romantis?"
"Iya. Karena kau melakukannya karena kau mencintaiku, bukan karena kau harus melakukannya. Itu perbedaannya."
Brixton terdiam, meresapi kata-kata Alana. Ia mengelus rambut merah jambu istrinya dengan penuh kasih. Memang benar, beberapa bulan yang lalu, ia mungkin akan membentak Alana jika diminta hal sekonyol itu. Namun sekarang, ia bahkan bersedia memakan api jika itu bisa membuat Alana tersenyum.
Suasana di ruang tengah itu menjadi sangat hangat. Mereka menghabiskan waktu sore itu dengan menonton rekaman video Brixton yang kepedasan tadi. Brixton berkali-kali mencoba merebut ponsel Alana untuk menghapus video tersebut karena malu, namun Alana dengan lincah menghindar, membuat mereka berakhir dengan aksi kejar-kejaran kecil di ruang tengah.
"Alana, hati-hati! Jangan lari-lari, kau sedang hamil besar!" teriak Brixton panik sekaligus tertawa.
"Tangkap aku dulu, Tuan Pemakan Salak!" tantang Alana.
Akhirnya, Brixton berhasil menangkap Alana di dekat jendela besar. Ia memeluk Alana dari belakang, melingkarkan lengannya di perut besar istrinya. Mereka berdua terengah-engah, namun tawa mereka memenuhi setiap sudut ruangan.
"Kau benar-benar sudah kembali, Alana," bisik Brixton di telinga istrinya. "Gadis ceria yang dulu aku sakiti... terima kasih sudah mau kembali padaku."
Alana berbalik dalam pelukan Brixton, menatap suaminya dengan penuh cinta. "Aku tidak pernah pergi, Brixton. Aku hanya sedang menunggumu menjemputku di tengah badai. Dan sekarang badai itu sudah lewat."
Malam harinya, kejadian lucu kembali terulang. Ternyata, efek saus pedas itu membuat perut Brixton benar-benar bergejolak. Ia harus bolak-balik ke kamar mandi, sementara Alana dengan setia menunggunya di depan pintu sambil membawakan minyak kayu putih dan air hangat.
"Masih sakit, Sayang?" tanya Alana dengan nada prihatin namun ada sedikit nada geli di suaranya.
Brixton keluar dari kamar mandi dengan wajah lemas. "Jangan tanya. Aku rasa anak kita ini akan lahir dengan bakat menjadi koki masakan pedas atau kritikus makanan yang kejam."
Alana membantu Brixton berbaring di tempat tidur. Ia mengoleskan minyak kayu putih di perut Brixton. "Maaf ya, aku tidak tahu efeknya akan separah ini bagi perut 'bangsawan' mu."
Brixton menarik Alana agar ikut berbaring di sampingnya. Ia memeluk Alana erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya. "Tidak apa-apa. Selama kau dan bayi kita bahagia, aku bersedia melakukan hal yang lebih gila dari ini."
Mereka tertidur dalam dekapan satu sama lain. Malam itu, kediaman Vance tidak lagi terasa seperti mansion mewah yang dingin dan angkuh. Rumah itu telah menjadi tempat tinggal yang sebenarnya—sebuah tempat di mana kesalahan masa lalu dimaafkan melalui hal-hal konyol seperti salak dan saus pedas, dan di mana cinta tumbuh di sela-sela tawa dan perhatian kecil.
Brixton menyadari bahwa kebahagiaan tidak ditemukan dalam kemegahan, melainkan dalam kesediaan untuk terlihat konyol demi orang yang dicintai. Dan Alana, dengan segala keajaiban ngidamnya, telah berhasil meruntuhkan tembok terakhir yang memisahkan mereka. Mereka siap menyambut anggota keluarga baru mereka dengan hati yang sudah pulih sepenuhnya.
Sumpah di atas luka itu kini telah benar-benar berubah menjadi cerita yang akan mereka ceritakan pada anak mereka nanti—bahwa Ayahnya pernah menjadi 'pahlawan' dengan menaklukkan buah