Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Thaddeus Bertemu Hugo di Hutan
Kupu-kupu kaca itu masih hinggap diujung jari Thaddeus. Ia tidak mengusirnya, hanya membiarkannya saja.
Thaddeus duduk di tepi ranjang, menatap kupu-kupu kaca itu.
"Kenapa kau di sini?" gumamnya pelan
Kupu-kupu itu diam, lalu beberapa saat kemudian terbang pelan dan kembali hinggap di kusen jendela.
Suara batuk terdengar dari kamar Chelyne dan Arion. Sebenarnya Thaddeus ingin menemani ibunya lagi tapi mengingat ayahnya yang keras kepala, Ia lebih memilih mengalah saja.
Suara ketukan pintu kamar Thaddeus terdengar. Ia langsung berdiri dari ranjangnya dan membuka pintu.
Suara anak kecil memanggilnya
"Kakak" itu adalah Greta
"Greta, kenapa kau keluar dari kamar ibu?" tanya Thaddeus sambil berlutut didepan Greta
Greta hanya menggeleng.
Di kedua tangannya, ia memegang sesuatu dengan bangga.
"Kumbang," katanya ceria.
"Capung." lanjut Greta lagi
Thaddeus menunduk dan melihat seekor kumbang koksi merah mengilap merayap di jari Greta, sementara seekor capung biru kehijauan bertengger di telapak tangannya yang lain, sayapnya bergetar pelan.
"Apa kau bosan?" tanya Thaddeus
Greta mengangguk.
Thaddeus memegang tangan kecil Greta dan membawanya ke air pancur.
Ia juga sebenarnya tidak tega melihat adiknya yang selalu dikurung di dalam castle.
Greta perlahan melepaskan serangganya. Dalam sekejap, capung itu terbang ke luar castle.
"Hei." Greta memanggil capungnya.
Sebelum Thaddeus sempat bereaksi, gadis kecil itu sudah berlari mengejar capungnya.
"Greta!" panggil Thaddeus panik.
Pengawal yang berjaga digerbang sedang lengah, berbincang pelan, tidak menyadari sosok kecil lewat dari gerbang itu.
Thaddeus langsung berlari menyusul.
"Greta, berhenti!"
Namun Greta cepat. Terlalu cepat untuk anak seusianya. Ia hanya fokus pada capungnya saja.
Mereka melewati gerbang dan masuk ke jalur hutan yang pernah didatangi oleh Thaddeus. Hutan itu tempat dimana Thaddeus mengambil kupu-kupu kaca untuk Greta.
...****************...
Di dalam hutan itu, Greta akhirnya berhenti. Capung itu hinggap di sebuah dahan rendah, persis di tempat yang pernah Thaddeus datangi sebelumnya.
"Dapat kau." kata Greta puas
Ia melangkah mundur, tapi kakinya tersandung akar. Tubuh kecilnya terhuyung.
Refleks, seseorang bergerak lebih cepat dari Thaddeus.
Sepasang tangan kasar namun kokoh menangkap Greta sebelum ia jatuh.
Itu adalah Hugo.
Pemuda itu tertegun saat menatap wajah Greta dari dekat. Mata heterochromianya yang pertama kali ini dilihat oleh Hugo secara langsung.
"Maaf," katanya gugup, segera menurunkan Greta ke tanah.
Greta menatapnya balik tanpa takut. Justru ia mengangkat lengannya.
"Kumbangku," katanya polos.
Seekor kumbang koksi merah ternyata hinggap di lengan Hugo.
Hugo tersenyum kikuk. "Oh. Ini punyamu?"
"Iya. Itu kumbangku." jawab Greta
Hugo membiarkan Greta mengambilnya dengan hati-hati.
Thaddeus mendekat, napasnya tersengal-sengal karena mengejar Greta tadi.
"Hugo," katanya pelan.
Hugo terkejut, lalu buru-buru menunduk
"Maaf Pangeran–"
"Jangan," potong Thaddeus cepat.
"Jangan membungkuk."
Hugo ragu, tapi menurut. Ia perlahan menaikkan kepalanya namun ada rasa gugup yang terasa.
"Ini adik perempuanku." ujar Thaddeus pada Hugo
"Ini Greta Oto Wright." Lanjut Thaddeus menyebutkan nama lengkap adiknya.
Hugo mengangguk. "Saya tahu... maksud saya, saya sudah mengetahui dari orang-orang.
Sebenarnya Thaddeus tidak ingin secanggung ini dengan Hugo. Ia ingin memakai bahasa layaknya seorang teman bukan dihapit oleh status sebagai pangeran dan rakyat biasa.
Thaddeus melihat Hugo yang sedang mengumpulkan kayu di hutan itu
"Untuk apa itu?" tanya Thaddeus ingin tahu
"Kayu ini untuk ajir tanaman diladang kami." Jawab Hugo agak gugup.
Sudah lama mereka tidak berbicara seperti ini. Andai masalah itu tidak menimpa keluarga Hugo, pasti sekarang mereka masih bermain bersama tanpa memandang status mereka.
Sebelum ada yang bisa berkata lagi, terdengar suara langkah dan panggilan pengawal dari kejauhan.
Thaddeus langsung menggendong Greta.
"Ayo," bisiknya.
Saat Thaddeus berbalik, seorang pria paruh baya yang sedang memanggul kayu berhenti dan menatap mereka sekilas. Tatapannya jatuh pada Greta, lalu pada Hugo.
Ia berkata pelan.
"Putri kerajaan selalu buat masalah" gumamnya pada Hugo.
"Bahkan dia tidak bisa diam di castle."
Hugo tidak menjawab. Ia hanya memegang kayunya lebih erat, menatap ke arah Thaddeus yang menjauh ke dalam bayangan.
Pria paruh baya itu lalu pergi meninggalkan Hugo sendirian di hutan.
Hugo menatap ke arah pohon besar disampingnya. Terlihat kupu-kupu kaca berterbangan disekitar pohon itu.
Kupu-kupu kaca itu indah seperti mata Greta. Seolah-olah memang heterochromia itu ditakdirkan untuk Greta sebagai simbol yang cocok.
"Jadi itu putri kerajaan. Putri Greta tidak seperti pembawa sial." batinnya.