Novel ini adalah sekuel dari novel yang berjudul: Dinikahi Sang Duda Kaya yang sudah tamat sebelumnya.
Alea Ardiman, "The Smiling Shark" yang jenius namun anti-cinta, harus berurusan dengan dr. Rigel Kalandra setelah jatuh pingsan. Rigel, dokter bedah saraf yang dingin, adalah satu-satunya pria yang berani membanting laptop kerja Alea dan mengabaikan ancaman kekayaannya.
"Simpan uang Anda, Nona Alea. Di ruangan ini, detak jantung Anda lebih penting daripada Indeks Harga Saham Gabungan."
Alea merasa tertantang, tanpa menyadari bahwa Rigel sebenarnya adalah pewaris tunggal konglomerat farmasi sekaligus "Investor Paus" yang diam-diam melindungi perusahaannya. Ketika Ratu Saham yang angkuh bertemu Dokter Sultan yang diam-diam bucin, siapakah yang akan jatuh cinta duluan di bawah pengawasan ketat Papa Gavin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Gencatan Senjata
Alea mendorong dada Rigel dengan sisa tenaga yang dia punya. Bukan karena ingin menolak, tapi karena paru-parunya butuh oksigen. Ciuman itu benar-benar menyedot seluruh kewarasannya.
"Lo..." Alea terengah-engah, memegang bibirnya yang terasa bengkak dan panas. Wajahnya merah padam, kontras dengan angin malam yang dingin dari pendingin ruangan kantor mewah itu. "Lo nyuri first kiss gue, sialan!"
Rigel tidak tampak menyesal sedikitpun. Dia justru menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, matanya menatap Alea dengan intensitas yang membuat lutut Alea lemas.
"Itu bukan pencurian. Itu pembuktian," jawab Rigel santai, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. "Lagian, kamu tadi minta putus. Saya cuma memastikan kita nggak putus sebelum jadian."
"Gue masih marah!" Alea membuang muka, berjalan cepat menuju pintu kaca balkon untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Dia butuh udara segar. Jantungnya berisik sekali.
Rigel mengikutinya keluar. Angin malam Jakarta di ketinggian lantai teratas Kalandra Tower langsung menerpa wajah mereka. Pemandangan lampu kota di bawah sana terlihat seperti hamparan berlian yang berserakan, tapi bagi Rigel, pemandangan di depannya jauh lebih menarik.
Rigel berdiri di samping Alea, menyandarkan sikunya di pagar pembatas kaca.
"Maaf kalau saya bohong soal identitas," ucap Rigel, nadanya kali ini serius. "Saya nggak berniat mempermainkan kamu."
"Terus apa namanya kalau bukan mempermainkan?" Alea menoleh sengit, rambutnya beterbangan tertiup angin. "Lo biarin gue pamer harta, lo biarin gue ngajarin lo saham kayak orang bego, lo biarin gue ngehina mobil lo. Lo pasti ketawa kan dalem hati?"
"Nggak, Alea. Saya justru kagum," bantah Rigel.
"Kagum?! Lo gila?"
"Saya serius. Kamu tau berapa banyak perempuan yang mendekati saya cuma karena nama belakang saya?" Rigel menatap langit malam yang gelap. "Mereka senyum manis, pura-pura baik, cuma karena tau saya pewaris Kalandra. Tapi kamu?"
Rigel menoleh ke arah Alea, tersenyum tipis.
"Kamu menghina mobil saya rongsokan, kamu ngomel-ngomel karena saya ajak makan ketoprak, kamu nuduh jam tangan saya palsu. Tapi anehnya... kamu tetap naik mobil rongsokan itu pas saya ajak. Kamu tetap makan ketoprak itu sampai habis. Dan kamu tetep belain saya di depan temen-temen kamu yang sombong tadi."
Alea terdiam. Kata-kata Rigel menohok hatinya.
"Saya butuh seseorang yang melihat saya sebagai Rigel. Bukan sebagai ATM berjalan atau tiket masuk sosialita," lanjut Rigel lembut. Dia meraih tangan Alea yang bertumpu di pagar balkon, menggenggamnya hangat. "Dan saya nemuin itu di kamu, Ratu Saham yang gengsinya setinggi langit tapi hatinya lembek."
"Gue nggak lembek!" elak Alea, meski dia tidak menarik tangannya. "Gue cuma... gue cuma nggak suka liat orang ditindas. Itu aja."
"Iya, iya. Kamu galak," kekeh Rigel. "Jadi gimana? Masih mau marah? Atau kita gencatan senjata?"
Alea menunduk menatap sepatu heels-nya. Rasa marahnya sudah menguap entah kemana sejak ciuman tadi, digantikan rasa hangat yang menjalar di dada. Tapi egonya masih tersisa sedikit.
"Gue malu, Rigel," cicit Alea pelan. "Gue udah sombong banget ke lo. Gue malu."
"Nggak usah malu. Lucu kok," Rigel mengacak puncak kepala Alea gemas. "Jadi, kita resmi pacaran?"
Alea mendongak, menatap mata Rigel yang penuh harap. "Tapi Papa... Papa Gavin benci banget sama lo sekarang. Dia kira lo cowok benalu yang mau morotin gue kayak yang lain. Kalau dia tau lo anak Kalandra, dia bakal mikir lo beli gue pake duit bapak lo. Harga diri Papa tinggi banget, Gel."
"Saya tau. Papamu tipe orang tua yang protektif dan keras," Rigel mengangguk paham. "Kalau saya datang tiba-tiba bawa nama Kalandra, dia pasti tersinggung. Dia bakal merasa kalah telak."
"Terus gimana?" Alea bingung.
"Kita backstreet," usul Rigel mantap.
"Hah? Backstreet? Kayak anak SMA?"
"Kenapa nggak? Seru kan?" Rigel menyeringai nakal. "Kita pacaran diam-diam di belakang Papa kamu. Biar saya buktikan dulu ke dia kalau saya laki-laki yang pantas buat kamu, tanpa embel-embel kekayaan Kalandra. Saya mau dia restu karena saya Rigel, bukan karena saya kaya."
Alea berpikir sejenak. Ide itu gila. Ratu Saham dan Pewaris Farmasi main kucing-kucingan? Tapi membayangkan sensasi sembunyi-sembunyi dari Papa Gavin dan bodyguard-nya membuat adrenalin Alea terpacu.
"Oke. Deal," putus Alea. "Tapi awas ya kalau ketahuan! Papa bisa nebas leher lo pake tongkat golf."
"Saya ahli bedah saraf, Alea. Saya tau cara nyambungin saraf yang putus. Tenang aja," canda Rigel.
Rigel menarik tubuh Alea mendekat, memeluk pinggang ramping wanita itu dari samping. Mereka berdiri bersisian menatap gemerlap Jakarta yang menjadi saksi bisu kesepakatan rahasia mereka.
"Berarti mulai detik ini, kamu pacar saya," bisik Rigel posesif di telinga Alea.
"Iya, Dokter Bawel," jawab Alea sambil menyandarkan kepalanya di bahu Rigel. Rasanya nyaman sekali. Jauh lebih nyaman daripada kursi CEO manapun.
Rigel mengeratkan pelukannya. Dia menatap pantulan wajah mereka di kaca jendela.
"Oh ya, satu lagi," ucap Rigel, nadanya berubah serius layaknya sedang memberikan diagnosa medis.
"Apa?"
"Mulai sekarang, saham kamu saya yang jaga," ucap Rigel mantap, lalu menempelkan keningnya ke pelipis Alea. "Hati kamu juga."
Alea terkekeh pelan, mencubit pinggang Rigel.
"Awas kalau loss! Gue minta ganti rugi sepuluh kali lipat!"
aya Aya wae nich dokter satu......
Alea di tantangin......
papa jual......Alea beli....