NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Menembus Cermin

Uap dingin merayap dari celah lantai stasiun bawah tanah, menyelimuti bot sepatu taktis yang dikenakan Arlan. Di bawah temaram lampu merkuri yang berkedip tidak stabil, dinding keramik stasiun tampak seperti kulit ular yang sedang mengelupas. Arlan berhenti tepat di depan sebuah cermin besar yang retak di ujung peron. Di belakangnya, Dante, Mira, dan Kael berdiri dengan napas yang tertahan, menciptakan uap putih di udara yang semakin endotermik.

"Koordinatnya tepat di sini," ucap Dante sambil memeriksa perangkat detektor frekuensinya yang terus berderit rendah. "Permukaan kaca ini bukan lagi sekadar pemantul cahaya. Ia telah beresonansi dengan inti gudang senjata Eraser di sisi lain."

Arlan melangkah maju, menatap refleksinya sendiri. Di dalam cermin, wajahnya tampak lebih pucat, namun matanya memancarkan ketegasan seorang pemimpin yang telah kehilangan terlalu banyak. Ia teringat bagaimana darah murninya pernah menghancurkan unit pengejar di lorong bunker, dan kini ia harus membawa kemurnian itu ke wilayah musuh yang paling tidak alami.

"Ingat protokolnya," Arlan berbalik, suaranya terdengar dingin dan tajam. "Jangan percaya pada apa yang dilihat mata kalian secara langsung. Di dalam sana, saraf kognitif kita akan dipaksa menerima logika yang terbalik. Jika kalian ingin melangkah ke kanan, gerakkan kaki kiri kalian. Jika kalian melihat pintu di depan, ketahuilah bahwa ia sebenarnya berada di belakang punggung kalian."

"Bagaimana jika otakku menolak?" Kael bertanya, jemarinya menggenggam erat laras senapan elektromagnetiknya yang bergetar selaras dengan nadi stasiun.

"Maka kau akan terjebak dalam lag frekuensi selamanya," jawab Arlan tanpa keraguan. "Kau akan melihat dirimu sendiri berjalan menjauh sementara tubuhmu tetap diam. Mira, kau tetap di dekatku. Gunakan kemampuan pendengaranmu untuk melacak denyut mekanis dari hulu ledak itu."

Mira mengangguk, wajahnya tegang namun matanya menunjukkan kepercayaan penuh pada Arlan. "Hampa Akustik di sini mulai mengalir, Arlan. Suara peron ini perlahan-lahan terserap ke dalam cermin."

Arlan mengulurkan tangannya, menyentuh permukaan kaca yang retak. Tidak ada rasa keras dari material kaca; tangannya justru tenggelam ke dalam permukaan yang terasa seperti air raksa padat. Dingin yang menyengat segera merambat ke sumsum tulangnya, sebuah sensasi yang mengingatkan Arlan pada koin perak yang ditemukan di saku satpam lama yang telah terhapus.

"Masuk sekarang," perintah Arlan.

Labirin Logika Terbalik

Satu per satu mereka menembus permukaan reflektif itu. Saat Arlan sepenuhnya berada di sisi lain, kepalanya dihantam oleh rasa pening yang hebat. Dunia seolah-olah ditarik secara lateral. Cahaya di ruangan itu tidak memancar dari langit-langit, melainkan berdenyut dari lantai logam yang bergetar pelan.

Arlan mencoba melangkah maju menuju sebuah lorong, namun tubuhnya justru bergerak mundur menabrak dinding.

"Sial," umpat Kael yang jatuh terduduk. "Lantainya seolah-olah menarikku ke arah yang salah."

"Fokus, Kael!" Arlan membentak sambil berusaha menyeimbangkan orientasi batinnya. "Jangan lawan dunianya, lawan persepsimu. Bayangkan kau adalah pantulan di permukaan air."

Arlan memejamkan mata sejenak, memicu kemampuan Echo miliknya. Di bawah kelopak matanya, ia melihat bayangan kabur dari struktur bangunan yang asli. Di dunia cermin ini, semua tulisan pada kotak logistik terbaca dengan benar, yang berarti di dunia nyata tulisan itu terbalik. Sebuah paradox visual yang menyesakkan.

"Arlan, dengar itu?" Mira berbisik, matanya terpejam rapat. "Ada denyut yang berirama di sebelah... tidak, di arah yang berlawanan dengan lorong ini."

"Itu adalah Arsitek," ucap Dante sambil berusaha berjalan dengan cara menyeret kakinya secara menyilang. "Mesin yang sedang membangun masa depan perak seperti yang kau lihat dalam visi koin dua ribu tiga puluh itu. Gudang senjata ini adalah paru-parunya."

Mereka mulai bergerak menyusuri lorong yang dindingnya terbuat dari logam halus yang terus beresonansi. Setiap kali mereka melangkah, suara langkah kaki mereka terdengar muncul satu detik kemudian dari arah yang berlawanan. Tekanan psikologis mulai menggerogoti ketenangan tim.

"Arlan, aku melihat... aku melihat diriku sendiri di ujung lorong itu," suara Kael mulai meninggi, napasnya menjadi manual dan berat. "Dia menatapku! Dia memegang pisau!"

"Itu hanya refleksimu yang tertinggal, Kael! Jangan menoleh!" Arlan menangkap kerah baju Kael sebelum pria itu berbalik. "Jika kau menoleh dan menatap matanya, kau akan mensinkronkan frekuensimu dengan dimensi ini. Kau akan menjadi bagian dari mereka!"

Keterpisahan di Zona Lag

Tiba-tiba, sebuah alarm sunyi bergetar melalui udara. Bukan suara sirine, melainkan gelombang frekuensi tinggi yang membuat gigi Arlan terasa linu. Cahaya biru di dinding mulai memancar lebih terang, berdenyut selaras dengan detak jantung musuh yang mendekat.

"Eraser," desis Dante. "Mereka mendeteksi kehadiran materi organik."

"Mira, lewat sini!" Arlan menarik tangan Mira.

Namun, saat mereka berbelok di sebuah persimpangan, sebuah distorsi visual yang tajam memisahkan mereka. Ruang di antara Arlan dan Mira seolah-olah meregang seperti karet yang ditarik maksimal. Mira tampak menjauh dengan kecepatan tinggi, meskipun ia sebenarnya hanya berdiri beberapa meter di depan Arlan.

"Arlan!" teriak Mira. Suaranya terdengar seperti kaset yang diputar terbalik dan melambat.

"Mira, jangan bergerak!" Arlan mencoba menerjang maju, namun logika navigasi terbaliknya membuatnya justru menjauh ke arah dinding kiri.

"Arlan, dia terjebak di zona lag!" Dante berteriak dari belakang. "Waktunya berjalan lebih lambat di sana! Jika kau tidak menariknya sekarang, dia akan membeku menjadi residu memori!"

Arlan melihat wajah Mira yang dipenuhi ketakutan. Air mata gadis itu keluar dan mengalir ke atas, menentang gravitasi normal, lalu membeku menjadi butiran perak kecil sebelum jatuh ke lantai. Emosi Arlan memuncak; ia tidak bisa membiarkan Mira berakhir seperti visi dalam koin tersebut—menjadi patung duka yang abadi.

"Aku akan mengambilnya," ucap Arlan dengan nada yang tidak menerima bantahan.

"Tapi penjaga gudang sedang menuju ke sini, Arlan! Kita harus mengamankan senjata itu dulu!" Kael panik.

"Dante, kau dan Kael teruskan ke ruang kendali suhu. Gunakan protokol sabotase panas ekstrim yang kita bicarakan di bunker semalam," Arlan memerintah tanpa menoleh. "Aku akan membawa Mira kembali. Ini perintah."

Dante menatap Arlan sejenak, melihat api tekad yang membakar di mata kurir itu. "Dua menit, Arlan. Lebih dari itu, pintu keluar stasiun akan terkunci secara otomatis oleh sistem pertahanan Eraser."

Arlan mengangguk singkat. Ia kini berdiri sendirian di depan celah dimensi yang meregang. Ia melihat bayangan Mira di dalam permukaan logam dinding—bayangan yang asli, yang tidak terdistorsi oleh dimensi cermin.

"Mira, lihat bayanganku!" Arlan berteriak, memfokuskan seluruh energinya pada kemampuan Echo-nya. "Jangan lihat aku yang di depanmu! Tangkap tanganku yang ada di dalam dinding!"

Arlan tidak mengulurkan tangannya ke arah Mira yang asli. Sebaliknya, ia menghantamkan tangannya ke arah permukaan logam yang halus di sampingnya. Tangannya menembus permukaan logam itu seolah-olah itu adalah lumpur hangat. Di dalam pantulan tersebut, jari-jarinya bertemu dengan jemari Mira yang gemetar.

Sentuhan di Balik Bayangan

Saat kulit mereka bersentuhan di dalam dimensi bayangan, sebuah gelombang kejut energi organik meledak. Darah Arlan yang mengalir di pembuluh nadinya beresonansi dengan ketakutan Mira, menciptakan jangkar kenyataan yang kuat. Arlan menarik napas manual, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya yang terasa mengecil.

"Sekarang!" Arlan menarik tangan Mira sekuat tenaga.

Dengan suara seperti kaca yang pecah dalam kesunyian, Mira terlempar keluar dari zona lag dan jatuh ke pelukan Arlan. Suhu tubuh gadis itu sangat dingin, hampir menyamai suhu logam di sekitar mereka.

"Aku pikir... aku pikir aku sudah hilang," bisik Mira, tubuhnya menggigil hebat.

"Kau tidak akan hilang selama aku masih memegang koin memori ini," Arlan membantunya berdiri. "Dengar, Mira. Suara denyut itu... apakah semakin dekat?"

Mira menempelkan telinganya ke udara yang padat. "Bukan hanya dekat, Arlan. Mereka sudah mengepung lorong ini. Tapi suara mereka... mereka tidak berjalan di lantai. Mereka merayap di langit-langit."

Arlan mendongak. Di atas sana, puluhan unit Eraser dengan tubuh yang cair dan wajah yang terus berubah mulai menetes ke bawah seperti hujan merkuri. Mata mereka yang biru pucat berpendar, mengunci target pada dua manusia asli yang berani menembus batas dunia mereka.

"Gunakan frekuensi koinnya, Arlan!" Mira berteriak.

Arlan merogoh saku rompi taktisnya, mengeluarkan wadah timah yang berisi koin tahun 2030. Saat ia membukanya, cahaya biru dari koin itu langsung berinteraksi dengan atmosfer gudang senjata. Ruangan itu bergetar hebat; dinding-dinding logam mulai melengkung menjauhi sumber cahaya masa depan tersebut.

"Kalian ingin masa depan ini?" Arlan menantang gerombolan peniru yang mulai membentuk wujud padat. "Kemarilah dan rasakan bagaimana rasanya terbakar oleh waktu yang kalian curi sendiri!"

Manipulasi Spektrum Refleksi

Unit-unit Eraser itu mulai memadat, menetes dari langit-langit dengan suara desis logam yang bertemu dengan suhu panas organik. Arlan merasakan koin 2030 di genggamannya berdenyut semakin kencang, memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya tampak beriak. Para peniru itu ragu-ragu; mereka tidak bisa mendekat karena frekuensi masa depan yang belum terkunci dari koin tersebut mengacaukan algoritma keberadaan mereka di masa kini.

"Mira, ikut aku!" Arlan menarik Mira menuju panel kendali pusat yang berada di tengah ruangan luas tersebut.

"Mereka mulai membentuk barisan, Arlan! Mereka akan menutup jalan keluar!" Mira memperingatkan, suaranya bergetar selaras dengan getaran lantai logam.

"Kita tidak akan keluar lewat pintu itu," Arlan menatap tumpukan hulu ledak frekuensi yang tersimpan di balik dinding kaca transparan. "Dante dan Kael seharusnya sudah mencapai sistem pengatur suhu. Kita hanya perlu memberi mereka waktu."

Arlan teringat pada protokol Third Option. Menyerang secara fisik hanya akan membuat mereka terkepung oleh massa perak yang tak terbatas. Ia mengambil beberapa keping koin perak memori dari kantong kecil di ikat pinggangnya—koin-koin dingin yang ia kumpulkan dari para korban di Sektor Tujuh. Dengan gerakan cepat, ia menyusun koin-koin itu di atas meja logam, membentuk sudut-sudut tertentu yang menghadap ke arah lampu-lampu biru yang berdenyut di dinding.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Mira bingung.

"Menciptakan buta frekuensi," jawab Arlan pendek. "Setiap koin ini membawa residu memori manusia asli. Jika cahaya predator mereka melewati koin-koin ini dan memantul ke arah sensor mereka sendiri, mereka akan mengalami feedback kognitif."

Saat unit Eraser pertama menerjang, cahaya biru dari sensor mata mereka menghantam susunan koin Arlan. Seketika, pantulan cahaya itu berubah warna menjadi spektrum putih yang menyilaukan—warna dari memori yang belum terdistorsi. Peniru yang terkena pantulan itu mendadak mematung, tubuh peraknya retak-retak dan mengeluarkan bunyi statis yang memekakkan telinga. Mereka mengalami malfungsi karena dipaksa memproses data kemanusiaan yang terlalu kompleks.

Sabotase di Jantung Cermin

Tiba-tiba, suara dentuman berat bergema dari bawah lantai. Suhu di dalam gudang senjata melonjak drastis secara mendadak. Udara yang tadinya beku kini terasa seperti uap mendidih. Arlan tahu Dante telah berhasil melakukan sabotase pada sistem pendingin cair mereka.

"Sistemnya mulai overload!" Mira berteriak di tengah kebisingan statis.

"Ambil satu unit hulu ledak itu, Mira! Yang paling kecil!" perintah Arlan.

Mira berlari menuju rak penyimpanan, tangannya dengan cepat menyambar sebuah silinder logam yang bergetar dengan irama konstan. Di saat yang sama, dinding-dinding dimensi cermin mulai tampak goyah, seolah-olah seluruh realitas itu hanyalah proyeksi film yang pita seluloidnya mulai terbakar.

"Arlan, kita harus pergi sekarang! Ruangan ini akan runtuh menjadi hampa!" Dante muncul dari lorong sebelah kiri, diikuti Kael yang tampak pucat pasi namun masih memegang senjatanya.

"Pintu keluarnya menghilang, Komandan!" Kael berteriak panik, menunjuk ke arah peron stasiun yang kini tertutup oleh dinding perak tebal. "Kita terjebak!"

Arlan menatap dinding perak itu, lalu beralih pada koin 2030 di tangannya. Ia melihat bayangan dirinya di masa depan melintas kembali di permukaan dinding yang mulai retak. Versi dirinya yang lebih tua itu menunjuk ke arah lantai, tepat di bawah kaki Arlan.

"Bukan ke depan, Kael," Arlan berbisik, matanya berkilat penuh deduksi. "Ke bawah. Di dunia cermin, jalan keluar tertinggi adalah titik terendah."

Lompatan Menuju Realitas

"Kalian gila? Itu hanya lantai logam!" Kael memundurkan langkah.

"Percaya padaku!" Arlan mencengkeram bahu Mira dan memberi isyarat pada Dante. "Lompat saat aku melepaskan frekuensi koin ini!"

Arlan menghantamkan koin 2030 itu ke lantai dengan seluruh tenaganya, bersamaan dengan tetesan darah murni yang mengalir dari luka di telapak tangannya. Perpaduan antara darah organik dan energi masa depan menciptakan ledakan resonansi yang menghancurkan struktur atom lantai logam tersebut. Bukannya hancur menjadi puing, lantai itu justru mencair menjadi lubang hitam yang jernih.

"Sekarang!" teriak Arlan.

Mereka terjun ke dalam kegelapan lubang tersebut. Sensasi jatuh itu terasa sangat lama, seolah-olah mereka ditarik melewati ribuan lembar kertas yang robek. Arlan merasakan paru-parunya sesak oleh Hampa Akustik yang ekstrem, hingga akhirnya tubuh mereka menghantam lantai beton yang keras dan berdebu.

Arlan tersedak, menghirup udara yang berbau tanah dan oli mesin tua. Ia membuka matanya dan melihat langit-langit stasiun bawah tanah yang kusam dan retak. Cahaya matahari pagi yang pucat merembes dari celah ventilasi di atas sana. Mereka kembali ke dunia nyata, ke tahun 2026 yang rapuh.

"Kita... kita berhasil?" Kael terengah-engah, memeriksa seluruh anggota tubuhnya.

Dante bangkit dengan perlahan, memegang hulu ledak frekuensi yang berhasil dibawa Mira. "Kita mendapatkan senjatanya. Tapi kita baru saja menyatakan perang terbuka pada pusat kota."

Mira duduk di samping Arlan, menyentuh perban di telapak tangan Arlan yang kini hangus hitam. "Kau melihatnya lagi, bukan? Dirimu yang di masa depan?"

Arlan menatap cermin di dinding stasiun yang kini hanya memantulkan bayangan dirinya yang lelah dan berantakan—seorang kurir yang kini memikul takdir dunia. Tidak ada lagi bayangan masa depan yang dingin di sana.

"Dia tidak bicara," jawab Arlan pelan. "Tapi tatapannya... dia ingin aku tahu bahwa setiap langkah yang kita ambil di sini, telah mengubah apa yang dia alami di sana."

Arlan berdiri, memandang ke arah lorong stasiun yang gelap. Ia tahu bahwa perjalanan selanjutnya adalah mencari sang Pencatat, satu-satunya orang yang memegang kunci tentang kebakaran 2012. Tekadnya kini telah mengeras, sekeras logam koin yang masih ia genggam erat di saku rompinya.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!