Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Pengkhianatan Archivist
Lampu minyak di lorong bunker itu berdenyut tidak stabil, memancarkan cahaya kuning pucat yang bergetar seiring dengan fluktuasi frekuensi di udara. Arlan melangkah dalam keheningan yang menekan, tangannya meraba dinding beton yang terasa lebih lembap dari biasanya. Bau ozon dan debu logam menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan paru-paru. Sejak kembali dari gudang logistik tempat ia melihat cetakan wajahnya sendiri di dalam tangki, Arlan merasa seolah-olah seluruh dunia sedang menciut, mengurungnya dalam sebuah kotak kecurigaan yang gelap.
"Kau terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja meledakkan pabrik manusia, Arlan," bisik Mira yang berjalan di belakangnya. "Hampa Akustik di lorong ini terasa aneh. Suaranya tidak merambat, tapi memantul seolah-olah dinding ini terbuat dari kaca, bukan beton."
"Ketukan kakiku tidak lagi beresonansi dengan lantai," sahut Arlan tanpa menoleh. "Ada penurunan suhu yang drastis di arah ruang kerja Dante. Kau merasakannya?"
"Suhu tubuh di sekitar area itu jatuh di bawah dua puluh derajat," Mira mengonfirmasi, tangannya gemetar saat ia menyentuh sensor di telinganya. "Arlan, jangan katakan kalau..."
"Aku melihat bayangan di atap tadi, Mira. Bayangan yang gerakannya memiliki jeda frekuensi yang identik dengan kita," Arlan berhenti tepat di depan pintu besi ruang kerja Dante. "Dan jangan lupa apa yang dikatakan oleh pria tua di ruang arsip. Pengkhianatan tidak selalu datang dari luar, tapi dari mereka yang paling tahu cara menyimpan rahasia."
Arlan menarik napas secara manual, memaksa dadanya naik dan turun dalam ritme yang teratur untuk meredam debar jantungnya yang kian liar. Ia meraba kunci tua di sakunya. Logam itu terasa hangat, kontras dengan udara dingin yang mulai memadat di sekitar pintu.
"Dante?" Arlan memanggil sambil mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.
Audit Biometrik Emosional
Dante sedang duduk di balik meja kayu besarnya yang dipenuhi peta Lentera Hitam asli tahun 2012. Ia tampak sedang mempelajari rute evakuasi warga yang gagal diselamatkan saat penghapusan distrik sebelumnya. Namun, ada yang salah. Dante tidak menoleh saat Arlan masuk. Ia tetap mematung, menatap selembar kertas yang seolah-olah menjadi satu-satunya realitas yang ia miliki.
"Operasinya sukses, Dante. Pabrik itu sudah hilang dari dimensi ini," Arlan memulai, matanya mengamati setiap detail gerakan mentornya.
"Aku tahu," sahut Dante. Suaranya terdengar datar, menyerupai statik radio yang tipis. "Aku merasakannya melalui getaran frekuensi di markas ini. Kau melakukan tugasmu dengan baik, Arlan."
Arlan melangkah mendekat, sengaja masuk ke dalam ruang pribadi Dante. "Kau tampak tidak sehat. Suhu di ruangan ini sangat rendah. Apa sistem pemanas bunker sedang bermasalah?"
"Hanya fluktuasi kecil," Dante akhirnya mendongak. Wajahnya terlihat pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu minyak. "Proses penyalinan dunia mulai mengikis fondasi bunker kita. Kita kehabisan waktu."
"Bicara soal waktu, aku teringat sesuatu," Arlan duduk di kursi di depan meja, meletakkan tangannya yang masih terbungkus perban karena luka biometrik sebelumnya. "Ingat saat kita pertama kali bertemu di stasiun kereta yang terbakar itu? Kau memberikan aku sepotong roti kering karena aku kelaparan setelah melarikan diri dari apartemen. Rasanya sangat pahit, tapi itu menyelamatkanku."
Dante terdiam sejenak. Matanya bergetar halus, sebuah gerakan yang terlalu cepat untuk ukuran manusia biasa. "Tentu saja. Itu adalah momen di mana aku menyadari bahwa kau memiliki potensi besar sebagai kurir."
Mata Arlan menyipit. "Benarkah? Karena seingatku, kita pertama kali bertemu di basement gudang bawah tanah, dan kau tidak pernah memberiku roti, melainkan menodongkan pistol ke kepalaku karena kau mengira aku adalah peniru. Kau memberiku koin, bukan makanan."
Udara di dalam ruangan itu seolah-olah berhenti mengalir. Mira yang berdiri di ambang pintu menahan napasnya. Arlan bisa merasakan suhu tubuh Dante turun lebih dalam lagi, menciptakan embun tipis pada permukaan meja kayu di depan mereka.
Logika Cacat Sang Mentor
"Ah, maafkan aku," Dante berkata pelan, suaranya sedikit pulih namun tetap terdengar mekanis. "Memoriku mulai tumpang tindih dengan data dari koin-koin perak yang aku kumpulkan. Fragmentasi memori adalah risiko dari pekerjaan kita, kau tahu itu."
"Risiko atau kegagalan sistem?" Arlan bangkit dari kursinya, tangannya kini menggenggam gagang kunci tua dengan erat. "Dante, letakkan tanganmu di atas meja. Aku ingin melihat sidik jarimu."
"Arlan, apa yang kau lakukan?" Mira menyela dengan nada panik. "Ini Dante! Dia yang menyelamatkan kita semua!"
"Diam, Mira," perintah Arlan dingin. "Dante, letakkan tanganmu. Sekarang."
Dante perlahan mengulurkan tangannya. Permukaan kulitnya tampak mulus, terlalu halus untuk pria seusianya yang telah bertahun-tahun hidup di bawah tanah. Saat Arlan menyentuh ujung jari Dante, ia tidak merasakan tekstur kasar dari sidik jari, melainkan sensasi licin seperti menyentuh porselen atau plastik yang baru dicetak.
"Kau mendingin, Dante," bisik Arlan. "Bukan karena ruangan ini, tapi dari dalam selmu sendiri. Kau mulai kehilangan panas tubuhmu."
"Aku tidak mengkhianati siapapun, Arlan," Dante menatap Arlan dengan mata yang kini berkaca-kaca—namun cairan yang keluar bukan air mata bening, melainkan sesuatu yang lebih kental dan memiliki kilauan perak yang samar. "Aku hanya... aku hanya lelah menahan beban memori orang-orang yang sudah dihapus. Setiap kali aku menyentuh koin, sebagian dari diriku ikut tersalin ke dalam sana."
"Kau tahu prosedurnya, Dante. Jika seorang Archivist mulai kehilangan panas tubuh, dia harus diisolasi atau dihentikan," Arlan menodongkan kunci tuanya ke arah dada Dante. "Siapa bayangan yang aku lihat di atap gudang tadi? Kenapa mereka tidak menyerang kami saat kami keluar dari pabrik?"
"Mereka tidak menyerang karena mereka sedang menunggu," sahut Dante dengan suara yang mulai pecah menjadi beberapa frekuensi. "Menunggu aku memberikan kode akses terakhir ke markas ini. Arlan, dengarkan aku... kau harus pergi sekarang juga."
"Jadi kau benar-benar membawa mereka ke sini?" Arlan berteriak, amarahnya meluap hingga tangannya yang terluka mulai bergetar hebat. "Setelah semua yang kita bangun? Setelah kau mengajariku tentang martabat manusia yang tidak bisa disalin?"
"Justru karena itu!" Dante memukul meja dengan kepalan tangannya, menciptakan bunyi dentang logam yang tidak wajar. "Aku membawa mereka ke sini agar kau bisa melarikan diri lewat jalur bawah tanah yang tidak mereka ketahui. Jika aku tidak memberikan umpan, mereka akan melacakmu sampai ke ujung dunia."
Pengakuan di Ambang Kehampaan
Lampu minyak di atas meja Dante bergetar hebat, apinya mengecil hingga hanya menyisakan titik biru yang berdenyut selaras dengan napas Dante yang semakin berat. Arlan masih tidak menurunkan tangannya. Ujung kunci tua itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari jantung mentornya. Ia bisa merasakan hawa dingin yang memancar dari dada Dante, sebuah fenomena endotermik yang menandakan bahwa proses penyalinan seluler sudah mencapai tahap kritis.
"Apa maksudmu dengan memberikan umpan, Dante?" suara Arlan bergetar karena amarah yang tertahan. "Kau memberikan lokasi bunker ini pada mereka? Kau mengorbankan semua orang yang ada di sini?"
"Hanya aku, Arlan. Hanya aku yang mereka inginkan sebagai pusat data memori faksi," Dante terbatuk, dan kali ini gumpalan perak cair keluar dari mulutnya, mengalir pelan di atas peta tahun 2012. "Jika aku tetap tinggal, mereka akan menyedot habis seluruh isi bunker ini melalui frekuensiku. Aku harus memutus sambungan itu dengan cara memancing mereka ke satu titik koordinat yang salah."
"Kau berbohong!" Mira berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Hampa Akustik di luar mulai menebal. Aku bisa mendengar suara mesin Eraser yang sedang sinkronisasi tepat di atas kepala kita!"
"Dengar, Arlan," Dante mencengkeram tepi meja hingga kayunya retak di bawah tekanan tangannya yang membeku. "Di dalam laci meja ini, ada koin perak bertahun dua ribu tiga puluh. Koin itu... itu bukan milikku. Aku menemukannya di saku jaketmu saat kau pingsan di pabrik tadi. Kau adalah wadah yang mereka incar. Kau bukan sekadar kurir, kau adalah jangkar yang bisa menarik kembali realitas asli."
Arlan tertegun. Ia meraba sakunya dan menyadari koin itu memang tidak ada di sana. Dante mengambilnya untuk melindunginya.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?" Arlan menurunkan senjatanya, rasa bersalah mulai merayap di rongga dadanya.
"Karena aku harus memastikan kau cukup kuat untuk membenciku jika itu perlu," Dante tersenyum pahit, memperlihatkan gusi yang mulai berubah warna menjadi logam kelabu. "Seorang Komandan tidak boleh ragu untuk memotong bagian yang terinfeksi, bahkan jika itu adalah tangannya sendiri. Pergilah lewat terowongan logistik di balik rak buku. Kereta hantu akan lewat di sana dalam sepuluh menit."
Pengepungan yang Tak Terelakkan
Suara ledakan tumpul bergema dari arah koridor utama. Getaran itu merambat melalui ubin beton, mengguncang rak-rak buku yang berisi arsip sejarah manusia yang tak ternilai. Arlan bisa merasakan dinding bunker mulai beresonansi dengan frekuensi penghapus. Cahaya di ruangan itu mendadak berubah menjadi hijau kebiruan yang tajam—spektrum warna milik Eraser.
"Mereka sudah masuk," Mira menarik tangan Arlan. "Arlan, kita harus bergerak!"
"Dante, ikutlah dengan kami. Kita bisa mencari cara untuk menstabilkan frekuensimu di zona netral," Arlan mengulurkan tangannya, sebuah gestur terakhir untuk mempertahankan martabat mentornya sebagai manusia.
"Tidak bisa. Aku sudah menjadi bagian dari transmisi mereka sekarang," Dante menggeleng, ia berdiri dengan kaku, gerakannya menunjukkan lag visual yang parah. "Jika aku ikut, aku hanya akan menjadi pelacak bagi mereka. Biarkan aku memberikanmu waktu."
Dante meraih sebuah detonator manual dari balik bajunya. Wajahnya kini hampir sepenuhnya tertutup lapisan perak yang halus, namun matanya tetap menatap Arlan dengan kehangatan yang terakhir.
"Berjanjilah padaku satu hal, Arlan," bisik Dante di tengah suara pintu markas yang mulai dijebol secara paksa. "Jangan biarkan mereka menyalin duka yang kau rasakan. Biarkan luka itu tetap nyata. Itulah satu-satunya hal yang membuktikan kau masih hidup."
Arlan terdiam sejenak, menatap sosok yang telah mengajarinya cara melihat dunia melalui retakan cermin. Ia merasakan beratnya tanggung jawab yang kini berpindah sepenuhnya ke pundaknya. "Aku berjanji, Dante. Aku akan membawa memori ini sampai ke realitas aslinya."
Pelarian ke Lorong Gelap
Arlan menyambar ranselnya dan mendorong rak buku di sudut ruangan, mengungkapkan sebuah lubang gelap yang menuju ke jalur rel bawah tanah yang sudah lama tidak digunakan. Ia memaksa Mira masuk terlebih dahulu, lalu menoleh sekali lagi ke arah Dante.
Mentornya itu kini berdiri menghadap pintu masuk ruang kerja, tangannya memegang detonator sementara tubuhnya mulai bersinar dengan cahaya perak yang intens. Dante bukan lagi seorang pria tua; ia telah menjadi suar frekuensi yang siap meledak.
"Jaga Mira, Arlan!" teriak Dante saat pasukan Eraser tanpa wajah mulai membanjiri ruangan dengan senjata laser mereka.
Arlan menutup kembali pintu rahasia itu tepat saat suara ledakan frekuensi tinggi memecahkan seluruh kaca di bunker. Getaran ledakan itu mendorong Arlan jatuh ke dalam kegelapan terowongan. Di dalam sana, suasana sangat sunyi dan dingin, hanya ada suara tetesan air yang jatuh ke rel logam yang berkarat.
"Arlan... Dante..." Mira terisak di kegelapan, suaranya teredam oleh Hampa Akustik terowongan.
"Jangan berhenti," ucap Arlan, suaranya kini terdengar sangat dingin dan instruktif, persis seperti nada bicara Dante saat pertama kali melatihnya. "Napas manual, Mira. Sinkronkan detak jantungmu dengan langkah kaki. Kita punya waktu tujuh menit sebelum kereta itu lewat, atau kita akan terjebak di sini selamanya."
Arlan melangkah maju di kegelapan terowongan, menggunakan cahaya lemah dari koin perak yang baru saja ia ambil kembali dari meja Dante. Setiap langkahnya terasa seperti menginjak kepingan hatinya yang baru saja hancur, namun matanya menatap lurus ke depan. Di ujung terowongan, ia bisa mendengar suara gemuruh roda kereta yang melaju di atas rel yang membeku—sebuah pelarian yang hanya akan membawanya ke pertempuran yang lebih besar.
"Selamat tinggal, Guru," batin Arlan saat ia merasakan getaran terakhir dari ledakan bunker memudar di balik punggungnya. "Sekarang, giliranku yang memegang kompas dunia ini."