NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tak Terduga

Pewaris Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Percintaan Konglomerat / Konflik etika / CEO Amnesia
Popularitas:218
Nilai: 5
Nama Author: Her midda

Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Ruang kerja Arya Pradikta terasa pengap meski pendingin ruangan menyala penuh. Aroma kopi hitam dan kayu tua bercampur, menciptakan suasana yang selalu membuat orang merasa kecil. Di balik meja besar berlapis marmer gelap, Arya duduk dengan punggung tegak, jemarinya saling bertaut, tatapannya tajam menunggu penjelasan.

Zane berdiri di depannya. Wajahnya tetap datar, namun sorot matanya menyimpan sesuatu—bukan ragu, melainkan perhitungan.“Ada informasi baru,” ujar Zane akhirnya.

Arya mengangkat alis. “Tentang apa?”

“Asisten pesuruhku di kantor. Gadis bernama Nadia.”

Arya bersandar sedikit ke belakang. “Kenapa dengan dia?”

Zane menatap ayahnya lurus. “Dia dekat dengan Gibran.”

Udara di ruangan itu seolah berhenti bergerak. Beberapa detik Arya terdiam. Lalu—senyum perlahan terbit di wajahnya. Bukan senyum hangat, melainkan senyum orang yang baru saja menemukan celah besar dalam permainan panjang yang ia susun bertahun-tahun.

“Benarkah?” tanyanya, nada suaranya terdengar… puas.

Zane mengangguk. “Sangat dekat.”

Arya terkekeh pelan. “Menarik sekali.”

Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekati jendela besar, menatap keluar tanpa benar-benar melihat apa pun.

“Selama ini Gibran terlalu bersih,” lanjut Arya. “Terlalu rapi. Sulit disentuh.”

Zane tetap diam.

Arya berbalik, matanya berbinar dengan ambisi yang tak disembunyikan.

“Dan sekarang,” katanya pelan, “kamu bilang ada gadis yang berarti bagi dia… dan gadis itu ada di tanganmu.”

“Papa ingin apa?” tanya Zane dingin.

Arya tersenyum lebar. “Pertahankan dia di kantor.”

Zane mengerutkan dahi. “Pa—”

“Bukan cuma dipertahankan,” potong Arya tegas. “Kalau bisa, buat dia merasa butuh kamu. Bergantung pada kamu.”

Tatapan Zane mengeras. “Dia hanya pegawai biasa.”

Arya tertawa kecil. “Justru itu kelebihannya. Gadis polos selalu jadi senjata paling ampuh.”

Ia melangkah mendekat, menepuk pundak Zane perlahan namun penuh tekanan.“Manfaatkan dia. Pelajari kelemahan Gibran lewat Nadia. Kalau gadis itu jatuh—Gibran akan ikut runtuh.”

Zane menatap ayahnya lama. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya, tapi suaranya tetap stabil.

“Dan kalau Nadia terluka?”

Arya menatapnya tajam. “Dalam perang, selalu ada korban. Kamu tahu itu sejak memilih nama Pradikta.”

Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Zane menghela napas pendek. “Aku nggak akan gegabah.”

Arya mengangguk puas. “Bagus. Aku percaya kamu tahu batas… atau setidaknya tahu cara menyembunyikan pelanggaranmu.”

Zane berbalik hendak pergi.

“Tunggu,” panggil Arya.

Zane menoleh.

“Jangan biarkan perasaan mengacaukan rencana,” kata Arya dingin. “Ingat, dia cuma alat.”

Zane tak menjawab. Ia hanya mengangguk singkat, lalu melangkah keluar.

Namun di balik pintu yang tertutup, satu kenyataan mulai mengendap perlahan,

Nadia bukan sekadar alat. Dan itulah yang paling berbahaya.

Langkah Zane menyusuri koridor kantor terdengar mantap, namun pikirannya tidak setenang yang ia perlihatkan. Dinding kaca di kiri-kanannya memantulkan bayangan dirinya sendiri—rapi, dingin, terkendali. Citra yang selama ini ia bangun tanpa cela.

Pintu lift menutup dengan dengusan halus. Begitu kabin bergerak turun, Zane menyandarkan punggung, menatap pantulan wajahnya di cermin lift. Kata-kata Arya kembali bergaung di kepalanya.

Dia cuma alat.

Zane mengepalkan tangan.

Sejak kapan alat membuat dadanya terasa sesak?

Di lantai bawah, Nadia duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer dengan fokus penuh. Jemarinya menari cepat di atas keyboard, merapikan laporan yang harus diserahkan sore ini. Ia tak menyadari tatapan dari balik kaca ruangan Zane.

Zane berdiri di sana cukup lama.

Tidak ada yang istimewa dari Nadia jika dilihat sekilas. Penampilannya sederhana, riasan nyaris tak ada. Namun justru itu yang membuatnya mencolok di antara hiruk-pikuk ambisi dan kepalsuan kantor Pradikta Group.

Ia bekerja tanpa banyak bicara. Tidak berusaha menarik perhatian. Tidak menjilat. Dan yang paling mengganggu Zane—Nadia selalu menatapnya tanpa takut, tanpa kagum berlebihan.

Seolah Zane Pradikta hanyalah… manusia biasa.

Zane keluar dari ruangannya. Langkah kakinya terhenti tepat di depan meja Nadia.

“Nadia.”

Nadia mendongak. “Iya, Pak?”

“Ada waktu sebentar?”

Ia mengangguk cepat, segera berdiri. “Ada, Pak.”

Zane memperhatikan caranya berdiri—tegak, sopan, tapi tidak kaku. Tidak seperti pegawai lain yang selalu terlihat waspada di hadapannya.

“Malam ini ikut aku,” ucap Zane datar.

Mata Nadia sedikit melebar. “Maaf, Pak?”

“Makan malam dengan klien,” jelas Zane. “Aku butuh kamu untuk mencatat beberapa hal.”

Nadia ragu sesaat, lalu mengangguk. “Baik, Pak.”

Jawaban itu sederhana. Terlalu mudah.

Dan justru di situlah Zane merasa tidak nyaman.

********

Di sisi lain kota, Gibran duduk di dalam mobilnya, menatap layar ponsel yang sejak tadi tak kunjung menyala. Pesan terakhirnya kepada Nadia belum dibalas.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan sesuatu yang mengganggu dadanya sejak pagi. Instingnya—yang jarang sekali meleset—berkata ada sesuatu yang salah.

Nama Zane Pradikta terlintas di benaknya.

Gibran menekan rahang. Ia tahu reputasi keluarga Pradikta. Tahu bagaimana Arya memainkan orang seperti bidak catur. Dan kini, tanpa sengaja, Nadia berada terlalu dekat dengan papan permainan itu.

“Jangan bodoh,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Tangannya kembali meraih ponsel.

Nad, kamu baik-baik saja?

Pesan terkirim.

Namun yang Gibran tak tahu—sementara ia mencoba melindungi dari kejauhan, Nadia justru sedang melangkah masuk ke pusaran yang jauh lebih gelap. Dan di tengah pusaran itu berdiri Zane, terjebak antara perintah ayahnya… dan perasaan yang mulai menentang logika.

********

Restoran itu dipenuhi cahaya temaram dan denting gelas kristal. Nadia duduk di seberang Zane, membuka buku catatannya, berusaha menempatkan diri sebagai asisten—bukan apa pun yang lain. Namun sejak mereka tiba, Zane hampir tak menyentuh makanannya.

Ia justru memperhatikan Nadia.

Cara Nadia mencatat cepat namun rapi. Cara ia mengangguk kecil setiap kali klien berbicara. Cara ia mengerutkan dahi saat ada istilah yang tak familiar, lalu segera mencari tahu tanpa bertanya berlebihan.

“Laporan keuangan triwulan ini,” kata klien itu, “akan kita bahas ulang minggu depan.”

“Baik,” jawab Nadia sambil menulis. “Minggu depan.”

Zane menangkap sekilas senyum kecil di bibirnya—senyum profesional yang tak dibuat-buat. Sesuatu di dadanya bergeser, nyaris tak terasa, tapi cukup untuk membuatnya kehilangan fokus sesaat.

Meeting berakhir dengan jabat tangan dan basa-basi. Begitu klien pergi, Nadia menutup bukunya dan menatap Zane.

“Masih ada yang perlu saya kerjakan, Pak?”

Zane menggeleng. “Tidak.”

Nadia berdiri. “Kalau begitu saya—”

“Tunggu,” potong Zane.

Ia terdiam, menatapnya.“Kamu kelihatan capek,” ucap Zane, datar tapi jujur.

Nadia tampak terkejut. “Oh… mungkin sedikit.”

Zane melirik jam tangannya. “Pesan makanan. Aku traktir.”

Nadia ragu. “Tidak perlu, Pak. Saya—”

“Itu perintah,” kata Zane cepat. Terlalu cepat.

Nadia mengangguk, duduk kembali. Keheningan menyelusup di antara mereka. Untuk pertama kalinya, Zane merasa perlu mengisi ruang kosong itu.

“Kamu… sering bertemu Gibran?”

tanyanya, seolah sekadar bertanya.

Tangan Nadia berhenti di udara. Ia menatap Zane, matanya jernih namun waspada. “Kami berteman.”

“Hanya itu?”

“Hanya itu,” jawab Nadia tegas.

Zane menahan senyum tipis. Kebohongan kecil, pikirnya. Atau pertahanan.

Setelah makan malam selesai, Nadia dan Zane akhirnya memutuskan untuk pulang.

“Nadia,” panggil zane.

Ia menoleh. “Iya Pak?"

“Kalau… ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman di kantor,"ucap Zane hati-hati, “katakan.”

Justru kamulah yang membuatku tak nyaman! 'gerutu Nadia dalam hati.

Nadia menatapnya lama. “Anda sedang khawatir pada pegawai?”

Zane terdiam. Lalu mengangguk. “Ya.”

Nadia tersenyum kecil. “Terima kasih. Tapi sejauh ini, saya baik-baik saja.”

Kata-kata itu menenangkan—dan sekaligus menyesakkan. Saat Nadia masuk ke mobil dan pergi, Zane tetap berdiri di tempatnya. Ia tahu, sejak percakapan dengan Arya, garis telah ditarik. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia sadar, ia sedang berdiri di sisi yang salah dari garis itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!