NovelToon NovelToon
Kontrak Kerja Dengan Mantan

Kontrak Kerja Dengan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kehidupan di Kantor / Pernikahan Kilat / CEO / Nikah Kontrak / Playboy
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memberi Harapan

Sejak pertemuan keluarga itu, Lola mulai sering datang ke kantor.

Kadang membawa bekal makan siang yang ditata rapi dalam kotak cantik, kadang hanya membawa minuman dan camilan buatan rumah. Selalu dengan senyum lembut dan sikap manja yang pas tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat orang merasa diperhatikan.

Baskara menanggapinya dengan tenang dia tidak menolak tidak juga terlalu berlebihan.

Baskara memberi harapan secukupnya. Senyum singkat, ucapan terima kasih, dan sesekali makan siang bersama. Cukup untuk membuat keluarga besar senang, cukup untuk membuat Lola merasa diinginkan.

Hari itu pun sama seperti biasanya.

Baskara dan Lola makan siang bersama di ruangannya. Pintu tertutup, tirai setengah terbuka. Dari luar, suasananya tampak hangat dan rapi pasangan yang cocok, bos sukses dengan calon pendamping yang sempurna.

Sementara itu, Baskara memanggil Ririn.

“Rin,” katanya singkat. “Hasil rapat pagi tadi disalin, buatkan laporannya. Kirim ke email saya sore ini.”

“Iya, Pak,” jawab Ririn seperti biasa.

Tanpa bertanya tanpa ekspresi berlebihan Ririn kembali ke mejanya, membuka laptop, dan mulai bekerja. Jari-jarinya bergerak cepat, menyalin poin-poin rapat, merapikan kalimat, menyusun laporan dengan format yang sudah dia hafal di luar kepala.

Di sela pekerjaannya, Ririn tersenyum kecil akhirnya, bos punya pacar serius untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa lega yang muncul.

Kalau dia menikah nanti, pikirnya pasti gue bebas dari tugas-tugas aneh itu mana mungkin gue masih disuruh ngurus belanja, apartemen, atau hal-hal di luar kantor.

Ririn menatap layar laptopnya sambil terus mengetik masak iya setelah bos nikah gue masih harus ngurusin urusan pribadi kayak gitu senyumnya bertahan, tipis tapi tulus.

Ririn makin yakin kali ini berbeda.

Pagi itu Baskara memanggilnya ke ruangan dengan nada yang lebih rapi dari biasanya, tidak tergesa, tidak dingin berlebihan.

“Rin,” katanya sambil menutup map di tangannya.

“Iya, Pak?” jawab Ririn, berdiri tegak seperti biasa.

“Hari ini ulang tahun Lola,” ucap Baskara datar tapi jelas. “Saya mau kirim hadiah dan karangan bunga.”

Ririn mengangguk cepat. “Baik, Pak. Seperti biasa saya yang urus?”

“Iya. Tapi kartu ucapannya saya tulis sendiri.”

Ririn sempat terdiam sepersekian detik. Sendiri?

“Baik, Pak,” katanya akhirnya.

Baskara menarik kertas kecil dari laci mejanya, sudah berisi tulisan tangan yang rapi.

“Ini kata-katanya. Jangan diubah satu pun.”

Ririn menerima kertas itu dengan hati-hati, matanya sempat membaca sekilas.

“Tulisannya, manis, Pak,” ucapnya refleks.

Baskara menoleh. “Kamu bilang apa?”

“Eh, nggak pak, maksud saya, siap saya kerjakan.”

Baskara mengangguk puas. “Hadiah yang pantas. Jangan biasa-biasa saja dia suka hal-hal elegan.”

Ririn mencatat cepat. “Bunganya warna apa, Pak?”

“Putih dan pastel Jangan terlalu mencolok.”

“Baik. Alamatnya sama seperti sebelumnya?”

“Iya.”

Ririn menutup catatannya. “Deadline pengirimannya?”

“Siang ini harus sudah sampai.”

Ririn tersenyum kecil. “Siap, Pak.”

Saat hendak keluar, Baskara menambahkan,

“Oh iya, Rin.”

Ririn menoleh. “Iya, Pak?”

“Pastikan karangannya terlihat eksklusif nama lengkapnya tulis jelas.”

“Iya, pak Lola Sasmita.”

Baskara bersandar di kursinya. “Ini penting.”

Ririn mengangguk mantap. “Saya ngerti, Pak.”

Ririn keluar dari ruangan itu, dia menghela napas pelan bukan lelah, tapi lega kali ini bosnya serius, batinnya bukan main-main.

Ririn mengurus semuanya dengan teliti. Memilih hadiah yang anggun, karangan bunga yang lembut, dan kartu ucapan dengan tulisan Baskara yang dipajang rapi di tengah.

Saat florist bertanya,

“Pesan khusus untuk penerima?”

Ririn menjawab sambil tersenyum,

“Untuk ulang tahun dari seseorang yang istimewa”

Ririn sendiri tak sadar, senyumnya terasa lebih ringan dari biasanya setelah ini, pikir Ririn, hidup gue pasti lebih normal.

Bos menikah, fokus ke keluarga, gue fokus kerja. Tidak ada lagi belanja aneh tidak ada lagi makan malam wajib tidak ada lagi urusan pribadi yang harus dia urus.

Ririn melirik kembali kartu ucapan itu sebelum dimasukkan ke amplop tulisan tangan Baskara terlihat tenang, dewasa, dan penuh makna.

Dan untuk pertama kalinya, Ririn benar-benar percaya kali ini, Baskara memang serius.

Hari itu, Ririn memutuskan mampir ke kafe milik Iqbal bukan untuk bekerja, tapi sekadar ingin duduk santai, minum kopi, dan ya, sedikit PDKT sama pemilik kafe yang menurutnya lebih normal, dan nggak ribet.

Suasana kafe hangat, aroma kopi menyebar, dan suara mesin espresso mengisi ruang kecil itu. Ririn duduk di meja pojok, menatap menu seperti orang yang sedang berpikir keras, padahal sebenarnya dia hanya ingin mengalihkan pikiran dari kantor.

Tak lama, Iqbal datang menghampiri dengan senyum ramah, membawa dua gelas kopi.

“Eh, Rin. Kamu ngapain di sini?” tanya Iqbal sambil meletakkan kopi di meja.

Ririn menatap gelas kopi itu, lalu menatap Iqbal dengan santai.

“Cuma pengen minum kopi, dan mungkin ngobrol sama pemilik kafe,” jawab Ririn, sedikit bercanda.

Iqbal mengangkat alis, tapi senyum tetap di wajahnya.

“Wah,kangen ya? Aku jadi merasa spesial nih,” ucap Iqbal.

Ririn tertawa kecil, lalu menatap Iqbal lebih serius.

“Ya nggak juga sih, aku cuma capek sama semua drama di kantor, ” jawab Ririn Iqbal duduk di seberang Ririn, menatapnya dengan mata yang lembut.

“Ngomong-ngomong, kamu kok sekarang sendirian? Biasanya kan selalu ada yang ngikutin kamu, ada yang protektif,” ucap Iqbal, suaranya sedikit heran.

Ririn menghela napas pelan, wajahnya tampak lebih rileks dari biasanya.

“Dia, sekarang sudah ada ‘pawangnya’,” jawab Ririn santai, menatap ke arah luar jendela seolah sedang memikirkan sesuatu Iqbal menatap Ririn, mencoba menangkap maksudnya.

“Baskara?” tanya Iqbal.

Ririn mengangguk pelan, lalu tersenyum kecil.

“Ya, dia sekarang punya pacar. Kayaknya yang ini serius ,” ucap Ririn.

Iqbal terlihat ragu, ekspresinya berubah sedikit.

“Semoga iya ya, tapi ini Baskara?” ucap Iqbal pelan Ririn menatap Iqbal, lalu mengangguk.

“Kita doain aja,” jawab Ririn Iqbal menatap Ririn beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

“Kalau memang begitu, aku ikut senang." Ririn tersenyum menanggapi perkataan Iqbal.

"kalau kamu butuh tempat curhat, kamu tau kan aku selalu ada,” ucap Iqbal tulus.

Ririn tersenyum, kali ini lebih hangat.

“Makasi, Iqbal, aku tau,” jawabnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!