cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14 – YANG BERTAHAN, YANG HILANG
Pagi tidak datang dengan ramah.
Kabut turun lebih tebal dari hari-hari sebelumnya, seperti sengaja menutup jumlah mereka yang berkurang. Orang-orang bangun tanpa banyak suara. Tidak ada yang menghitung dengan lantang, tapi semua tahu: ada yang tidak lagi berdiri di barisan.
Seorang ibu menoleh ke kanan-kirinya. “Si mas-mas… yang biasanya berada di situ,” gumamnya pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
Tidak ada yang menyahut.
Seorang lelaki lain mengikat kembali kain di kepalanya.
“Mungkin jalan duluan,” katanya, nada ringan, terlalu ringan. “Biar nggak ketinggalan.”
“Ho’oh,” sahut yang lain cepat. Terlalu cepat.
”Ketinggalan opo Ki?” kata si Ibu, dan semua teridam.
Raka mendengar semuanya. Ia berdiri sedikit terpisah, memandangi tanah yang masih lembap. Jejak kaki semalam sudah kabur, bercampur lumpur dan daun. Seperti ingatan yang dipaksa dilupakan.
Nenek tua muncul terakhir. Tongkatnya menancap lebih dalam dari biasanya.
“Sing kuat mangan, sing ringkih nyimpen napas,” katanya pendek.
Yang paham, paham. Yang tidak, ikut mengangguk saja. Entah sejak kapan si nenek menjadi tumpuan dikelompok ini, tidak ada penunjukkan, tidak ada pemasrahan semua berjalan sacara alamiah. Dan semua secara alamiah manut perkataan si Nenek. Dan misteri tetap berlanjut sebenarnya kemana tujuan mereka? Dan Rakapun tidak berfikir sampai disitu, tujuannya hanya segera keluar dari kota raja, tanpa tujuan yang jelas, terjun kedunia yang luas, absurd? Semua dilakukan demi untuk bertahan hidup.
Kemudian mereka berjalan.
Barisan kini renggang. Tidak lagi rapat seperti sebelumnya. Orang-orang memberi jarak—bukan karena panas, tapi karena hati. Ada yang berjalan berdua, ada yang sendirian. Percakapan muncul sebentar, lalu mati.
“Kalau sampai desa depan, kita istirahat ya,” ujar seorang bapak setengah baya.
“Desa mana?” tanya temannya.
“Ya… desa,” jawabnya sambil tersenyum. Senyum basa-basi. Nama desa sengaja tak disebut.
Raka memperhatikan. Ia mulai paham: di sini, menyebut terlalu jelas justru berbahaya.
Menjelang siang, mereka melewati jalur bercabang. Tidak besar, tapi cukup untuk membuat langkah melambat.
“Lewat sini lebih cepat,” kata seseorang.
“Tapi lebih terbuka,” sahut yang lain.
Nenek tua berhenti. Ia mengamati tanah, semak, arah angin.
“Cepat itu milik orang muda,” katanya.
“Selamat itu milik orang sabar.”
Tak ada perdebatan. Mereka mengikuti jalur yang lebih memutar.
Di tengah perjalanan, dua wajah baru bergabung.
Mereka muncul begitu saja, dari arah belakang. Pakaian lusuh, beban ringan. Seorang lelaki dan seorang perempuan, usia sulit ditebak.
“Nderek lewat,” kata si lelaki, menangkupkan tangan. “Jalan rame, rasane luwih aman.”
“Dari mana?” tanya seseorang, nada ramah tapi mata waspada.
“Dari belakang,” jawabnya sambil terkekeh kecil. “Ya… semua juga dari belakang, to?”
Ada yang tertawa kecil. Ada yang tidak.
Nenek tua melirik sekilas. Tidak lama. Tidak mengusir. Tidak menyambut.
Raka merasakan tengkuknya kembali dingin.
Ia tidak tahu kenapa, tapi ia merasa: barisan ini bukan lagi tempat berlindung, melainkan ladang ujian.
Saat mereka berhenti untuk minum, percakapan kecil muncul—tentang cuaca, tentang sawah yang gagal panen, tentang harga beras. Semuanya terdengar biasa.
Tapi Raka mendengar sela-selanya.
“Airnya keruh ya,” kata seseorang.
“Iya,” jawab yang lain. “Tapi haus ya tetap diminum.”
“Selama tidak bikin sakit.”
“Kalau sakit?”
“Ya… nasib.”
Raka menggenggam kain bajunya. Ia tidak ikut bicara. Ia hanya mencatat.
Sore hari, satu keluarga memutuskan berpisah.
“Kami mau belok sini,” kata sang ayah, menunjuk jalur kecil. “Ada saudara di sana.”
“Yakin?” tanya seseorang.
“Insyaallah,” jawabnya cepat.
Tidak ada yang menahan. Tidak ada yang mengantar. Mereka pergi begitu saja, menyusut dari pandangan.
Raka menelan ludah. Dadanya terasa kosong, seperti kehilangan sesuatu yang belum sempat dimiliki.
Malam tiba lebih cepat. Api dinyalakan kecil. Tidak ada cerita panjang. Tidak ada nyanyian.
Seorang lelaki yang semalam terluka tidak lagi ikut duduk. Ia berbaring agak jauh, napasnya pendek-pendek. Perempuan yang kemarin bersamanya kini duduk memunggungi api.
Raka ingin mendekat, tapi kakinya berat.
Nenek tua duduk sendirian, menghadap gelap. Raka memperhatikannya lama. Ia ingin bertanya, ingin memastikan sesuatu—entah apa.
Akhirnya ia mendekat.
“Mbok…” suaranya pelan. “Kalau nanti barisan ini bubar…”
Nenek itu tidak menoleh. “Belum,” katanya singkat.
“Kalau… kalau nanti bubar?” Raka memaksa.
Nenek itu menghela napas. “Kalau bubar, berarti masing-masing sudah siap sendiri.”
Raka menunduk. “Saya belum siap.”
“Makanya kau masih di sini,” jawabnya.
Tidak ada janji. Tidak ada ajakan. Kalimat itu menggantung, dingin tapi jujur.
Malam makin dalam.
Raka berbaring, memandangi langit di sela dedaunan. Ia mendengar suara orang berbisik—tidak jelas dari mana. Ia tidak mencoba mendekat.
Ia mulai menjaga jarak. Duduk tidak lagi dekat api. Tidur tidak lagi di tengah barisan. Ia belajar menjadi bayangan kecil di antara orang-orang dewasa yang menyimpan rahasia.
Ia sadar:
yang bertahan belum tentu selamat.
yang hilang belum tentu mati.
Dan di antara keduanya, ia—seorang anak—harus belajar memilih tanpa tahu akibatnya.
Api meredup.
Di kegelapan itu, babak pertama darah benar-benar berakhir.
Bukan dengan kemenangan,
melainkan dengan kehilangan yang pelan-pelan terasa.