“Dad, di mana Mommy?”
“Berhenti bertanya, bocah pembawa sial!”
Pertanyaan polos dari Elio, bocah berusia enam tahun itu, justru dibalas dengan dingin dan amarah yang meledak.
Bagi Jeremy, kematian istrinya setelah melahirkan adalah luka yang tak pernah sembuh. Dan Elio? Bocah itu adalah satu-satunya pengingat paling menyakitkan atas kehilangan tersebut.
Hingga suatu hari, Jeremy dipertemukan dengan Cahaya. Gadis desa dengan wajah, sikap, dan keras kepala yang terlalu mirip dengan mendiang istrinya. Kehadiran Cahaya tidak hanya mengguncang dunia Jeremy, tapi juga mengusik dinding es yang selama ini ia bangun.
Akankah Cahaya mampu meluluhkan hati seorang ayah yang lupa caranya mencintai? Ataukah Elio akan terus tumbuh dalam bayang-bayang luka yang diwariskan oleh sebuah kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
"Mau apa kau pagi-pagi begini di depan pagar rumah orang? Mau minta sumbangan?"
Jeremy berdiri tegak di depan pintu gerbang mansion-nya, kedua tangannya bersedekap di dada dengan angkuh. Ia masih mengenakan jubah mandi, auranya sudah seperti panglima perang yang siap menghalau penyusup.
Alvino yang baru saja turun dari mobil sedan putihnya tampak mengernyit bingung.
"Pagi, Tuan Jeremy. Saya mau jemput Cahaya seperti biasa. Dia sudah siap, kan?"
Jeremy mendengus, sudut bibirnya terangkat sedikit.
Ya, sebuah senyum kemenangan yang sangat tipis.
"Cahaya sedang sakit. Dia tidak bisa pergi ke mana-mana, apalagi pergi dengan pria yang hanya modal bensin subsidi sepertimu."
Wajah Alvino langsung berubah khawatir. "Sakit? Sakit apa? Kemarin sore dia baik-baik saja saat saya antar pulang. Biarkan saya masuk, saya mau menjenguknya sebentar."
Saat Alvino melangkah maju, Jeremy justru merentangkan tangannya, menghalangi jalan.
"Tidak bisa. Aturan rumah ini sangat ketat. Orang asing dilarang masuk tanpa izin tertulis dari pemilik rumah."
"Saya bukan orang asing, saya pacarnya! Mana bisa saya tidak menjenguk pacar saya yang sedang sakit?" suara Alvino mulai meninggi karena kesal dengan sikap kaku Jeremy.
"Oh, kau pacarnya? Sayang sekali, statusmu itu sudah kedaluwarsa," ucap Jeremy dengan nada datar yang menyebalkan. "Sekarang, aku melarang mu menjenguk calon istriku."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Alvino. Mata seketika membelalak sempurna.
"Hah? Calon istri? Anda ini bicara apa? Jangan bercanda, Pak Tua!"
"Aku tidak pernah bercanda soal kepemilikan. Cahaya adalah calon nyonya di mansion ini. Jadi, sebaiknya kau putar balik mobilmu sekarang sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeret mu keluar dari area perumahan ini," usir Jeremy, auranya mendadak menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
Sementara itu, di lantai dua, Cahaya yang baru saja keluar dari kamar dengan langkah gontai tak sengaja mendengar keributan di bawah. Ia melongok dari balkon ruang tengah dan seketika tangannya menepuk jidat dengan keras.
Plak!
"Aduh... Om gila itu bicara apa sih?" gumam Cahaya dengan wajah memerah padam. "Bukankah semalam aku sudah bilang untuk merahasiakannya dulu? Ini kan cuma kontrak pura-pura! Kenapa dia malah mengumumkannya pada Alvin seolah-olah besok kami mau hajatan?"
Cahaya buru-buru turun ke lantai bawah sebelum situasi makin runyam.
"Om! Apa-apaan sih?!" teriak Cahaya dari ambang pintu depan.
Alvino menoleh dengan wajah penuh tuntutan dan penjelasan. "Ay! Apa benar yang dibilang pria kaku ini? Kamu... kamu mau menikah sama dia?"
Jeremy menoleh pada Cahaya, memberikan kode mata agar gadis itu mengikuti skenarionya.
"Katakan padanya, Sayang. Katakan bahwa kau sudah setuju menikah denganku."
Cahaya ingin sekali melempar sandal rumahnya ke wajah Jeremy saat mendengar kata 'Sayang' keluar dari mulut pria itu. Rasanya sangat aneh dan menggelikan.
"Vin, dengerin dulu..." Cahaya mendekat, mencoba menenangkan Alvino yang wajahnya sudah seperti mau menangis.
"Tidak ada yang perlu didengar!" potong Jeremy cepat. Ia langsung merangkul bahu Cahaya dengan posesif, menarik gadis itu mendekat ke tubuhnya. "Cahaya sudah setuju. Dia butuh pria yang bisa menjamin masa depannya, bukan cuma pria yang bisa kasih cokelat batangan."
"Anda benar-benar sombong ya! Menikah itu soal perasaan, bukan soal berapa banyak saham yang anda punya!" maki Alvino, tangannya mengepal.
"Dalam kasus Cahaya, sahamku sangat membantu untuk membuatnya tetap berada di sisiku. Sekarang, pergilah. Calon istriku harus istirahat, dia masih lemas karena... yah, lamaran romantisku semalam," ucap Jeremy dengan kebohongan tingkat dewa yang membuat Cahaya ingin pingsan beneran untuk kedua kalinya.
"Om! Mulutnya disekolahin dulu bisa nggak?" desis Cahaya pelan sambil mencubit pinggang Jeremy sekuat tenaga.
"Aw! Diamlah, aku sedang menyelamatkanmu dari ancaman ayahmu, kan?" bisik Jeremy balik di sela giginya yang rapat.
Alvino menatap mereka berdua dengan perasaan hancur berkeping-keping. Ia melihat tangan Jeremy yang melingkar erat di bahu Cahaya, dan ia melihat Cahaya yang meski mengomel, tetap berdiri di samping pria itu.
"Ay... kalau kamu terpaksa, bilang sama aku. Aku akan bawa kamu pergi dari sini sekarang juga," ucap Alvino penuh harap.
Cahaya menatap Alvino, lalu melirik Jeremy. Ia tahu, jika ia menolak sekarang, Jeremy tidak akan membantunya menghadapi ayahnya yang galak di Indonesia. Ia juga teringat janji kelingkingnya pada Elio semalam.
"Maaf, Vin... untuk sekarang, yang dibilang Om Jeremy itu... benar. Aku akan menikah dengannya," ucap Cahaya lirih, menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
Alvino terhuyung mundur. Tanpa kata lagi, ia berbalik, masuk ke mobilnya, dan memacu kendaraannya pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap yang menyedihkan di depan gerbang.
Setelah mobil itu hilang, Cahaya langsung menyentakkan tangan Jeremy dari bahunya.
"Om beneran gila ya! Kenapa bilang sekarang? Dan apa tadi? Calon istri? Sayang? Iyuh, saya merinding dengarnya!"
Jeremy memperbaiki kerah jubah mandinya dan kembali ke mode angkuh. "Itu bagian dari profesionalisme, Cahaya. Kau sudah setuju kontraknya, kan? Dan satu lagi, panggil aku sayang jika ada orang lain. Jangan panggil om, itu merusak citraku sebagai pria idaman."
"Pria idaman? Pria idaman dari lubang semut!" Cahaya menggerutu sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Saya beneran bakal ketiban sial seumur hidup karena beneran nikah sama monster kayak Om!"
Jeremy hanya menatap punggung Cahaya yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah kepuasan yang aneh di dadanya.
Bukan hanya karena ia berhasil menjauhkan Alvino, tapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa rumahnya benar-benar memiliki nyawa.
tenang Dad saat ini nikmati saja sandiwara ini sampai jadi kebiasaan yang nyaman dan pastinya merindukan tak ingin jauh jauh🤣🤣
posesif mulai tumbuh
beeuugh apa lagi kalau bukan bucin 🤣🤣🤔
mulai posesif ingin Aya hanya dekat dan menjadi milik nya saja🤭
eitss tapi Aya kok aku gak yakin ya kalau kamu gak akan baper sama Jeremy 🤭
kamu bisa lho baper sama Jer yakin banget aku🤣
apa lagi nih si Jeremy mulai ada rasa sama kamu Aya jadi kesimpulan nya Jer akan berusaha membuat kamu punya perasaan sama Jer itu🤭