NovelToon NovelToon
Mencintaimu Jalur Langit

Mencintaimu Jalur Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:36
Nilai: 5
Nama Author: Moch Sufyandi

Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
​Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
​Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
​Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
​Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Realita yang Mengetuk Pintu

​Matahari pagi di Bandung tidak pernah ingkar janji, meski udara dingin sisa hujan semalam masih menusuk tulang. Cahaya keemasan mulai merayap masuk melalui celah ventilasi kamar kos Fatih yang sempit, menyoroti debu-debu halus yang menari di udara.

​Fatih melipat sajadahnya dengan gerakan lambat dan penuh penghormatan. Wangi minyak kasturi yang ia pakai semalam masih samar-samar tercium, menjadi saksi bisu dari "pertemuan rahasia"-nya dengan Sang Pemilik Takdir beberapa jam lalu. Matanya sembab, bengkak karena tangisan panjang di sepertiga malam, namun hatinya terasa jauh lebih ringan. Seolah beban ribuan ton yang menindih dadanya kemarin sore saat melihat mobil Erlangga, kini telah diangkat perlahan.

​"Bismillah," gumamnya lirih.

​Ia beranjak ke dapur umum kos-kosan. Dapur itu sederhana, hanya ada kompor dua tungku yang salah satunya macet, dan rak piring plastik yang sudah retak. Fatih membuka lemari penyimpanan makanannya. Kosong. Hanya tersisa setengah bungkus oatmeal instan dan satu saset kental manis.

​Ia tersenyum kecut. Menu sarapan para pejuang, batinnya menghibur diri.

​Sambil menyeduh oatmeal dengan air panas dispenser, ponsel di saku celana training-nya bergetar. Sebuah notifikasi mobile banking masuk. Fatih membukanya dengan harap-harap cemas.

​TRF BERHASIL: RP 150.000

​Itu bayaran dari desain logo UMKM keripik pisang yang ia kerjakan tiga hari lalu. Fatih menghela napas lega. Alhamdulillah. Cukup untuk bayar iuran kas kampus dan beli bensin seminggu ke depan. Sisanya? Mungkin cukup untuk makan nasi telur dadar di warteg, asalkan tidak pakai es teh manis.

​"Pagi, Bos Muda!"

​Hadi muncul dari kamarnya dengan wajah bantal, handuk tersampir di pundak, dan sikat gigi menggantung di mulut.

​"Pagi, Di," sapa Fatih tanpa menoleh, sibuk mengaduk sarapannya yang kental dan lengket.

​"Sarapan bubur bayi lagi?" ledek Hadi sambil mengambil gelas. "Gimana mau saingan sama Erlangga kalau asupan gizi lu cuma gandum sisa begini? Erlangga sarapannya American Breakfast, Tih. Telur mata sapi, sosis, roti gandum, jus jeruk asli. Bukan sasetan."

​Fatih terkekeh pelan. Ia sudah kebal dengan ledekan Hadi. "Tenang aja, Di. Otot bisa dibentuk pakai oatmeal. Lagian, gue lagi mengamalkan ilmu padi. Makin berisi, makin merunduk. Makin miskin, makin khusyuk doanya."

​Hadi tertawa, tapi ada nada getir di sana. Ia tahu betul sahabatnya itu sedang menutupi kesulitan. Hadi mendekat, suaranya merendah. "Tih, serius nih. Kemarin gue denger anak-anak himpunan bilang, si Erlangga mau ngadain pesta ulang tahun Zalina minggu depan. Gede-gedean. Di hotel bintang lima."

​Sendok di tangan Fatih berhenti bergerak.

​"Terus?" tanya Fatih datar.

​"Ya... lu nggak mau ngasih sesuatu? Kado gitu? Atau setidaknya kartu ucapan?"

​Fatih menatap bubur oatmeal-nya yang mulai dingin. Memberi kado? Uang 150 ribu di rekeningnya akan langsung ludes hanya untuk membeli kertas kado dan pita yang layak bagi seorang Zalina. Sementara Erlangga? Dia mungkin akan memberi kalung berlian atau tas branded keluaran terbaru.

​"Kado terbaik itu nggak selalu barang, Di," jawab Fatih akhirnya, kembali menyuapkan sendok ke mulutnya. "Gue bakal kasih kado yang nggak akan habis dimakan waktu, dan nggak akan rusak dimakan rayap."

​"Apaan?"

​"Surah Al-Mulk. Nanti malem gue bacaan khusus buat dia, biar dia dijaga Allah di umurnya yang baru."

​Hadi melongo, lalu menepuk jidatnya dramatis. "Aduh, Gusti... Temen gue ini romantisnya jalur gaib. Terserah lu deh, Tih. Yang penting lu bahagia."

​Fatih hanya tersenyum. Dalam hati, ia membenarkan perkataan Hadi. Ia memang sedang bertarung di jalur yang tak terlihat. Jalur di mana mata uangnya bukan Rupiah atau Dollar, melainkan ketulusan dan kepasrahan.

​Tiga puluh kilometer dari kamar kos Fatih yang sempit, Zalina duduk di meja makan yang panjangnya bisa memuat dua belas orang.

​Rumah keluarga Zalina bergaya kolonial modern, dengan langit-langit tinggi dan lampu gantung kristal yang berkilauan ditimpa cahaya pagi. Di atas meja, terhidang berbagai macam menu sarapan persis seperti yang digambarkan Hadi. Nasi goreng seafood, potongan buah segar, roti panggang, dan susu murni.

​Namun, selera makan Zalina hilang total.

​"Zalina, sayang, dimakan dong buahnya. Nanti kulit kamu kusam lho," tegur Ibu Ratih, ibunya. Wanita paruh baya itu tampil elegan dengan baju rumah sutra dan rambut yang sudah disanggul rapi meski baru pukul tujuh pagi.

​"Iya, Bu," jawab Zalina pelan, menusuk sepotong pepaya dengan garpu tanpa niat memakannya.

​Pak Yusuf, ayahnya, duduk di ujung meja sambil membaca koran pagi. Wajahnya tenang, tersembunyi di balik kacamata bacanya, seolah tidak ingin terlibat dalam percakapan pagi para wanita.

​"Oiya, tadi malam Nak Erlangga telepon Ibu," Ibu Ratih memulai topik yang paling dihindari Zalina. Matanya berbinar antusias. "Dia bilang mau booking ballroom hotel Grand Preanger buat ulang tahun kamu minggu depan. Katanya temanya Garden Party. Duh, Ibu jadi nggak sabar mau cari baju."

​Zalina meletakkan garpunya. Bunyi denting perak beradu dengan piring porselen terdengar nyaring di ruang makan yang hening.

​"Bu," potong Zalina lembut namun tegas. "Zalina kan sudah bilang. Zalina nggak mau pesta. Zalina mau syukuran kecil aja di panti asuhan, sama anak-anak yatim. Lebih berkah."

​Ibu Ratih mengibaskan tangannya, seolah ucapan Zalina adalah lelucon. "Aduh, Zalina. Panti asuhan itu bisa kapan aja. Ini momen spesial, Nak. Kamu itu putri tunggal keluarga ini. Erlangga itu niatnya baik, dia mau memuliakan kamu. Dia mau ngenalin kamu ke relasi-relasi bisnis papanya. Itu bagus buat masa depan kamu."

​"Masa depan yang mana, Bu?" Zalina menatap ibunya. "Masa depan Zalina, atau masa depan gengsi keluarga kita?"

​Suasana meja makan mendadak tegang. Pak Yusuf menurunkan korannya sedikit, melirik putrinya dari balik lensa kacamata.

​"Hush! Kok ngomongnya gitu sama Ibu?" Ibu Ratih tampak tersinggung. "Ibu ini realistis, Zalina. Jaman sekarang, cinta aja nggak cukup buat beli beras. Erlangga itu paket lengkap. Ganteng, kaya, sopan, bibit bebet bobotnya jelas. Kurang apa lagi?"

​Kurang bisa bikin hati Zalina tenang, Bu, batin Zalina menjerit.

​Zalina ingin mengatakan bahwa setiap kali bersama Erlangga, ia merasa seperti boneka pajangan. Ia harus tersenyum sempurna, duduk sempurna, dan berbicara hal-hal yang tidak ia mengerti. Erlangga tidak pernah bertanya tentang hobi melukis Zalina, atau tentang buku-buku sastra yang ia baca. Erlangga hanya peduli pada seberapa cantik Zalina terlihat saat digandeng di depan umum.

​"Ayah..." Zalina mengalihkan pandangan pada ayahnya, mencari perlindungan.

​Pak Yusuf melipat korannya perlahan. Ia meminum kopi hitamnya, lalu menatap istri dan anaknya bergantian.

​"Sudah," suara bariton Pak Yusuf menengahi. "Biarkan Zalina yang memutuskan. Ulang tahun dia, ya terserah dia mau dirayakan di mana."

​"Tapi, Yah! Erlangga sudah DP lho!" protes Ibu Ratih.

​"Uang DP bisa kembali, atau hangus. Tapi kebahagiaan anak nggak bisa dibeli," jawab Pak Yusuf tenang. Ia bangkit berdiri, merapikan kemeja batiknya. "Zalina, Ayah tunggu di mobil. Kita berangkat bareng."

​Zalina menghela napas lega, bersyukur ayahnya masih memiliki sisi bijaksana meski jarang bicara. Ia mencium tangan ibunya yang masih cemberut, lalu bergegas menyusul ayahnya.

​Di dalam mobil, Pak Yusuf menyetir dalam diam. Zalina menatap jalanan Bandung yang mulai macet.

​"Zal," panggil Pak Yusuf tiba-tiba.

​"Iya, Yah?"

​"Laki-laki itu... bukan cuma soal apa yang dia punya di dompetnya," ujar Pak Yusuf tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke jalan. "Tapi soal apa yang dia punya di hatinya, dan bagaimana dia menjaga Tuhannya. Kalau Tuhannya saja dia tinggalkan, apalagi kamu."

​Jantung Zalina berdesir. Kata-kata ayahnya menancap dalam. Ia teringat Erlangga yang sering menunda shalat kalau sedang jalan bersamanya dengan alasan tanggung atau nanti saja di rumah.

​Lalu, entah kenapa, bayangan Fatih yang membersihkan meja kantin kemarin siang melintas di benaknya. Laki-laki yang menjaga pandangan, yang wajahnya basah air wudhu, yang tidak banyak bicara tapi tangannya ringan membantu.

​Siapa sebenarnya kamu, Mas Fatih? batin Zalina bertanya-tanya.

​Siang harinya, Perpustakaan Pusat Kampus menjadi tempat pelarian terbaik dari hiruk-pikuk dunia.

​Wangi kertas tua dan pendingin ruangan yang sejuk menyambut Fatih. Ia berjalan menuju rak buku-buku desain arsitektur di lantai dua. Tujuannya satu: mencari referensi buku Typography in Modern Design karya penulis Jerman yang harganya di toko buku mencapai dua juta rupiah. Fatih tentu tidak mampu membelinya, jadi ia hanya bisa membacanya di sini.

​Perpustakaan sedang sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa tingkat akhir yang tertidur di meja dengan laptop menyala.

​Fatih menyusuri lorong rak buku. Jarinya menelusuri punggung buku satu per satu. Ketemu. Buku tebal bersampul hitam itu ada di rak paling atas.

​Masalahnya, rak itu tinggi sekali, dan Fatih—meskipun tingginya rata-rata—harus sedikit berjinjit. Saat tangannya terulur hendak mengambil buku itu, sebuah tangan lain yang lebih halus dan berkulit putih bersih juga terulur ke arah buku yang sama.

​Jari mereka hampir bersentuhan, hanya berjarak beberapa milimeter.

​Fatih tersentak kaget. Ia refleks menarik tangannya seolah tersengat listrik. Ia mundur selangkah sambil menundukkan pandangan.

​"Maaf," ucapnya cepat. "Silakan duluan."

​"Eh, nggak apa-apa, Mas. Mas duluan aja."

​Suara itu. Lembut, sopan, dan familiar.

​Fatih memberanikan diri mengangkat wajahnya sedikit, hanya sampai batas dada lawan bicaranya, lalu naik sedikit lagi. Jilbab pasmina berwarna sage green. Gamis bermotif bunga kecil yang anggun.

​Zalina.

​Dunia Fatih seakan berhenti berputar selama tiga detik. Jantungnya, yang biasanya tenang saat menghadapi deadline dosen killer, kini berdegup kencang seperti genderang perang. Ini adalah jarak terdekat dia dengan Zalina selama empat tahun kuliah.

​Zalina juga tampak terkejut. Matanya membulat lucu. "Lho? Mas Fatih... yang kemarin di kantin, kan?"

​Fatih mengangguk kaku, kembali menundukkan pandangan. Menatap lantai perpustakaan adalah pilihan paling aman untuk menjaga hatinya saat ini. "Iya. Mba Zalina mau pinjam buku ini juga?"

​"Panggil Zalina aja, Mas," koreksinya ramah. "Aku lagi cari inspirasi buat tugas akhir DKV. Katanya buku ini bahas filosofi font dengan bagus banget. Mas Fatih anak Desain juga?"

​"Arsitektur," jawab Fatih singkat. "Tapi saya suka grafis."

​Kecanggungan menyelimuti mereka. Tapi anehnya, itu bukan kecanggungan yang tidak nyaman. Ada rasa hormat yang kental di udara. Fatih tidak berusaha membuat lelucon garing. Zalina tidak berusaha terlihat imut. Mereka hanya dua manusia yang berdiri di antara tumpukan ilmu.

​"Yaudah, Mas Fatih pake aja dulu," kata Zalina, mundur selangkah. "Aku bisa cari buku lain."

​"Nggak usah," Fatih menahan diri untuk tidak menatap wajah Zalina, fokus pada buku di rak. Dengan gerakan cepat dan sopan, ia mengambil buku tebal itu dari rak atas. "Ini. Kamu baca duluan aja. Saya bisa baca minggu depan, atau... nanti kalau kamu sudah selesai."

​Fatih menyodorkan buku itu. Tidak langsung ke tangan Zalina, tapi meletakkannya di meja baca terdekat di samping mereka. Memberi jarak agar tangan mereka tidak bersentuhan saat serah terima.

​Zalina memperhatikan gestur kecil itu. Ia sadar. Fatih sangat menjaga batasan. Berbeda dengan Erlangga yang selalu berusaha merangkul pundaknya atau memegang tangannya dengan alasan "menjaga".

​"Makasih banyak ya, Mas," ucap Zalina tulus. Ia mengambil buku itu. "Mas Fatih... sering ke sini?"

​Ini adalah pertanyaan pembuka. Sebuah undangan percakapan. Hati Fatih bersorak girang, ingin sekali ia menjawab panjang lebar, menceritakan semua buku yang ia suka, menceritakan mimpinya membangun masjid dengan desain futuristik.

​Tapi sebelum Fatih sempat membuka mulut, suara langkah kaki berat dan berisik terdengar dari arah tangga.

​"ZALINA! Astaga, aku cariin ke mana-mana, ternyata ngumpet di sarang buku!"

​Suara itu memecah ketenangan perpustakaan. Beberapa mahasiswa yang sedang belajar menoleh dengan tatapan terganggu.

​Erlangga muncul dengan gaya khasnya. Kemeja polos Ralph Lauren, celana chino necis, dan kacamata hitam yang disangkutkan di kerah baju. Di tangannya, ia membawa dua cup kopi bermerek terkenal dengan logo hijau.

​Erlangga berjalan cepat menghampiri Zalina, sama sekali tidak mempedulikan tanda "Harap Tenang" yang ditempel di dinding.

​"Nih, Caramel Macchiato kesukaan kamu. Extra shot, less ice," Erlangga menyodorkan kopi itu, lalu matanya menyipit melihat sosok laki-laki yang berdiri dua meter dari Zalina.

​Erlangga memandang Fatih dari ujung kaki ke ujung kepala. Tatapannya menilai. Sepatu kets tua. Celana jeans pudar. Kaos oblong ditumpuk kemeja flanel yang kancingnya terbuka.

​Senyum meremehkan muncul di sudut bibir Erlangga. "Eh, ada temen kamu, Zal? Siapa ini? Office boy perpus?"

​Wajah Zalina memerah, bukan karena malu, tapi karena marah. "Angga! Jaga omongan kamu. Ini Mas Fatih, mahasiswa Arsitektur. Temen kampus aku."

​Fatih tidak marah. Ia justru merasa kasihan pada Erlangga. Orang yang merasa perlu merendahkan orang lain untuk meninggikan dirinya sendiri, sebenarnya adalah orang yang paling rendah.

​Fatih tersenyum tipis, sangat tenang. Ia mengangguk sopan pada Erlangga. "Mari, Mba Zalina. Mas. Saya permisi dulu."

​Fatih berbalik badan. Ia tidak ingin berdebat. Ia tidak ingin merusak suasana hati Zalina dengan pertengkaran. Ia memilih mundur, seperti panglima yang tahu kapan harus menarik pasukan.

​"Tuh kan, Zal. Dia aja sadar diri," celetuk Erlangga keras-keras, sengaja agar Fatih mendengarnya. "Udahlah, yuk cabut. Aku udah reservasi tempat makan siang. Escargot-nya enak banget di sana."

​Fatih terus berjalan menjauh. Punggungnya tegak. Langkahnya mantap.

​Di belakangnya, ia mendengar Zalina berkata dengan nada ketus pada Erlangga, "Aku mau baca buku ini dulu. Kalau kamu mau makan bekicot itu, makan aja sendiri."

​Fatih menahan senyum. Langkah kakinya terasa seringan kapas.

​Erlangga mungkin punya kopi mahal dan reservasi restoran mewah. Tapi hari ini, Fatih tahu satu hal: Uang tidak bisa membeli rasa hormat. Dan barusan, di lorong buku yang sunyi itu, Fatih mendapatkan sesuatu yang jauh lebih mahal dari Escargot: Pembelaan dari seorang Zalina.

​Sesampainya di luar perpustakaan, Fatih menatap langit siang yang cerah. Ia merogoh saku, mengeluarkan tasbih kecil kayu yang selalu ia bawa.

​Terima kasih, Ya Allah, untuk pertemuan tiga menit yang melegakan ini, batinnya.

​Namun, Fatih tahu ini baru permulaan. Undangan pesta ulang tahun Zalina minggu depan akan menjadi medan pertempuran yang sesungguhnya. Di sana, di kandang Erlangga yang penuh kemewahan, iman dan harga diri Fatih akan diuji habis-habisan.

​Apakah ia berani datang hanya dengan membawa doa? Atau ia akan memilih bersembunyi di balik aman dan nyamannya kepengecutan?

​(Bersambung ke Bab 3...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!