NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: tamat
Genre:Pusaka Ajaib / Raja Tentara/Dewa Perang / Kebangkitan pecundang / Reinkarnasi / Aliansi Pernikahan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERBURUAN ARCHDUKE

"Vion, beristirahatlah lebih awal. Kau pasti sangat kelelahan," seru Von Gardo seraya meletakkan pedang besarnya di dekat dipan kayu yang akan ia gunakan untuk tidur malam ini.

Vion melepas sarung tangan kulitnya yang sudah mulai aus, meletakkannya di atas meja kecil tak jauh dari ranjangnya. Ia menghela napas panjang, menatap Von Gardo yang mulai melepas sepatu bot hitamnya yang berdebu.

"Von Gardo, aku benar-benar heran. Apa sebenarnya asyiknya menjadi Pangeran Alaric? Kenapa begitu banyak orang yang sangat menginginkan kematiannya?"

Von Gardo mengulas senyum tipis, lalu menyandarkan kepalanya dengan hati-hati pada bantal jerami di dipan itu.

"Pangeran Alaric memang tidak memiliki bakat dalam seni bela diri. Ia sama sekali tak pernah tertarik pada dunia pedang. Namun, Sang Pangeran memiliki kecerdasan yang luar biasa dalam urusan strategi kenegaraan dan ilmu politik."

Ia terdiam sejenak, menatap langit-langit penginapan yang berdebu.

"Tiga bulan sebelum peristiwa penusukan di dermaga itu, Pangeran Alaric memenangkan debat besar di Istana Agung Valois, kekaisaran paling berkuasa di daratan ini. Archduke Valerius, yang saat itu menjadi lawan tunggalnya di babak akhir, merasa sangat dipermalukan karena kalah telak di depan para raja. Bahkan, Valerius hanya ditunjuk sebagai komandan lapangan di bawah Jenderal Besar Maximilian, sementara Alaric dipuji sebagai calon penguasa yang paling bijaksana." Ceritanya panjang, mengenang memori yang tersimpan rapat dalam ingatannya.

Vion menyunggingkan senyum kecil, lalu merebahkan kepalanya di atas bantal yang telah disediakan penginapan.

"Jadi ini masalah harga diri, ya?" gumamnya sebelum memejamkan mata.

Menit berlalu, keheningan malam menyelimuti kamar itu. Keduanya pun jatuh terlelap karena kelelahan yang luar biasa.

Tok! Tok! Tok!

"Wooi, bangun! Cepat bangun!"

Suara ketukan keras di pintu disertai panggilan mendesak itu membuat Von Gardo terjaga seketika. Refleks tangannya langsung menyambar gagang pedang di samping dipannya. Dengan cepat ia menyarungkan sepatunya kembali, lalu melangkah waspada menuju pintu.

"Siapa di sana?" tanyanya dengan suara rendah namun mengancam dari balik daun pintu.

"Cckk," terdengar desisan penuh kekesalan dari luar.

"Aku, Lyra. Buka pintunya!"

Mendengar nama itu, Von Gardo mengembuskan napas lega. Ia membuka pintu kamarnya sedikit hingga ia bisa melihat gadis bermata tajam itu berdiri di lorong penginapan yang remang-remang.

"Cepat berkemas dan pergi dari sini sekarang juga!"

Von Gardo membuka pintu sedikit lebih lebar, melongokkan kepalanya untuk memantau lobi penginapan di bawah sana. Semuanya masih terlihat sunyi, tak ada suara langkah kaki atau gesekan zirah yang mencurigakan.

"Cckk, kau pikir penjahat akan datang sambil mengetuk pintu?" ketus Lyra, lalu ia berbalik dan meloyor pergi menuju kamarnya yang tepat berada di sebelah, meninggalkan Von Gardo yang hanya bisa terpaku diam.

Von Gardo menggelengkan kepalanya menatap punggung gadis itu yang menghilang di balik pintu kayu. Ia kembali menutup pintu kamar, melangkah cepat mendekati Vion yang masih terbaring. Ia menepuk pelan lengan sang pangeran.

"Vion," panggilnya lirih namun tegas.

Vion, yang memang tidak pernah bisa tidur lelap sejak terdampar di dunia ini, segera membuka matanya yang menyipit. "

Ada apa? Apa matahari sudah terbit?"

"Kita harus pergi sekarang juga," ajak Von Gardo singkat.

Vion membuang napas panjang melalui mulut, mengucek kedua matanya yang masih terasa berat dan enggan terbuka.

"Astaga... gue ngantuk banget... beneran deh," keluhnya dengan istilah dunianya sendiri. Meski begitu, ia tetap memaksakan diri bangun dan duduk di tepi tempat tidur kayu yang keras itu.

Von Gardo hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan tuannya. Ia sudah berdiri siaga di depan pintu. "Vion, di sini kita sedang tidak berada di dalam kamar istana yang aman."

"Wooi, ayo! Cepat keluar!"

Suara Lyra kembali menginterupsi dari luar, membuat Von Gardo segera membuka pintu. Di sana, Lyra sudah berdiri lengkap dengan busur di punggung dan pedang pendek di pinggang.

Kedua mata gadis itu melotot tajam menatap Vion yang masih duduk termenung dengan satu tangan menutupi mulutnya yang menguap lebar.

"Kalau bukan karena perintah Master Hephaestus, aku malas sekali ikut terseret ke dalam masalah pangeran manja seperti dia!" ketus Lyra penuh kekesalan.

"Cckk!" Vion gantian mendesis tajam. Ia beranjak berdiri, melipat kedua tangannya di depan d**a sambil menatap balik gadis itu dengan berani.

"Beruntung kau cantik, Nona. Kalau tidak, sudah kudorong kau ke—"

"Cepat, kita pergi dari sini!" Entah dari mana, Master Hephaestus tiba-tiba muncul dari kegelapan lorong di belakang Lyra.

Ketiganya tersentak kaget. Von Gardo bahkan refleks melangkah keluar jendela untuk memantau keadaan sekitar.

"Mereka sudah berada dalam jarak sepuluh meter dari gerbang desa. Ayo cepat! Karena kali ini, bukan hanya para prajurit bayaran Fangrong, tapi Archduke Valerius sendiri yang memimpin perburuan ini," bisik Hephaestus dengan nada yang sangat mendesak.

Vion menyambar pedang Stormbringer yang kini telah diserahkan kembali padanya. Ia mengikuti langkah Lyra dan yang lainnya menyelinap keluar melalui pintu belakang penginapan.

Tak lupa, Von Gardo meletakkan beberapa keping koin emas di atas meja sebagai bayaran atas penginapan semalam.

"Kuda kita!" seru Vion dengan suara tertahan saat melihat ketiga orang di depannya justru berlari masuk ke gang-gang sempit, padahal semalam mereka datang dengan menunggang kuda.

"Ckk, kau dungu sekali!" sahut Lyra, yang sejak awal memang tampak sangat muak dengan kepolosan Vion.

"Vion, mereka akan sangat mudah melacak jejak kaki kuda di tanah berlumpur ini. Kita harus menghilang tanpa jejak," jelas Von Gardo yang tentu lebih paham taktik gerilya.

Lyra melirik Vion dengan tawa mengejek. "Dengar-dengar dari kabar burung di istana, Pangeran Alaric itu jenius dalam taktik dan ilmu pengetahuannya tak tertandingi. Tapi setelah bertemu denganmu, kenapa aku malah semakin yakin jika reputasimu itu hanyalah omong kosong belaka?"

"Kau—"

"Jika kalian terus ribut, mereka akan menemukan kita hanya dengan mengikuti suara berisik kalian!" Dengan kesal, Master Hephaestus memukul kepala Vion dan Lyra bergantian menggunakan tongkat kayunya.

Keduanya seketika bungkam, cemberut sembari mengelus kepala masing-masing yang berdenyut. Von Gardo memalingkan wajah, berusaha keras menahan tawa melihat pemandangan itu.

Akhirnya, Vion dan Lyra hanya bisa saling melempar tatapan maut, saling melotot dengan bibir mengerucut dan tangan terkepal erat sepanjang perjalanan.

Tanpa terasa, setelah berjalan cukup jauh menembus kabut, mereka tiba di tepi Sungai Rhine yang airnya mengalir jernih dan sangat dingin.

"Von Gardo, isi kantong air kita. Perjalanan kita menanjak ke pegunungan akan sangat jauh," perintah Master Hephaestus sembari mengamati cakrawala yang mulai menampakkan semburat cahaya fajar.

1
Gesty Lestari
mn sambungany
risn_16: nanti saya buat seri ke 2 nya ya kak 🙏. follow ya kak biar nanti dapet pemberitahuan updatenya😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!