Viona tidak menyangka jika dirinya akan ber transmigrasi menjadi seorang ibu tiri jahat pada tahun sembilan puluhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERNIKAHAN
Hari yang ditunggu pun tiba . Pernikahan Jaka dan Vina akhirnya digelar. Kedua keluarga mengundang saudara dan juga kerabat untuk datang ke rumah Kakek Darma untuk ikut merayakannya.
Sejak pagi buta rumah Kakek Darma sudah banyak orang yang membantu. Vina juga didesak untuk bangun dan mempersiapkan diri ,
Ijab kabul diselenggarakan jam sembilan. Sebelum jam sembilan Jaka sudah datang beserta para pengiringnya.
Ijab kabul berlangsung khidmat. Setelah ijab Kabul selesai dilanjut dengan resepsi. Hampir semua penduduk desa Ru Waru datang untuk memberikan selamat pada keduanya. Meski begitu sebelum jam tiga sore tidak ada lagi tamu yang datang.
Kakek Darma meminta Vina membawa Jaka untuk masuk kedalam kamarnya. Vina agak kikuk berada satu ruang yang sama dengan Jaka. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi pilihannya.
Untuk pertama kalinya Jaka mengetahui kondisi kamar sang istri. Ruangan itu jauh lebih nyaman dibandingkan dengan kamarnya.
"Kamu istirahat saja dulu. Aku mau mandi biar segar. Setelah itu Kita makan, " kata Vina tanpa menatap Jaka. Ia sedang fokus mencari pakaiannya yang ada di lemari.
Jaka memeluk tubuh Vina dari belakang. Kemudian membenamkan kepalanya di ceruk leher Vina.
"Tunggu sebentar. Kenapa terburu-buru sekali. Aku masih ingin memelukmu seperti ini, " kata Jaka dengan suara yang agak serak.Sedari tadi ia sudah menahan diri untuk tidak memeluknya. Kini saat kesempatan itu tiba, bagaimana mungkin ia menyia-nyiakannya.
Sejak memutuskan untuk memulai semuanya dari awal, Jaka memang lebih perhatian pada Vina. Perlahan ia mulai mengenal kepribadian Vina.
Ia tidak tahu saja jika jiwa yang bersemayam di tubuh istrinya saat ini merupakan jiwa Viona yang berasal dari tahun 2026. Sifat mereka bertolak belakang. Tetapi hal itulah yang membuat Jaka mulai tertarik pada Vina. Perasaan cinta perlahan tumbuh dihatinya.
Vina agak merinding mendapatkan perlakuan seperti itu.Ada perasaan asing yang menelusup dalam sanubarinya.
"A... a ku lapar, " jawab Vina dengan kikuk. Jaka terkekeh mendengarnya. Ia tahu jika Vina merasa gugup disentuh olehnya. Ia pun sebenarnya juga gugup, namun jika bukan ia yang memulainya hubungan mereka akan tetap berjalan di tempat tanpa ada kemajuan.
Jaka memutar tubuh Vina hingga keduanya saling berhadapan. Jaka menatap teduh pada Vina yang juga sedang menatapnya. Tatapan keduanya beradu, membuat keduanya hanyut dalam pesona masing-masing.
Entah siapa yang memulainya. Bibir Vina dan Jaka mulai beradu.
Ini merupakan ciuman pertama Vina di dua kehidupannya. Ia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Ia hanya mengandalkan naluri dan mengikuti setiap gerakan Jaka.
Cukup lama bibir keduanya beradu. Jaka sudah tidak bisa lagi mengontrol kedua tangannya yang mulai menjelajah dibagian sensitif Vina. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Vin....bawa suamimu makan dulu. Sejak pagi tadi pagi Kamu belum makan kan, " ucap suara dibalik pintu. Ciuman keduanya sudah terlepas. Namun Vina masih bersandar dalam pelukan Jaka. Tubuhnya terasa lemas setelah ciuman panas itu. Dadanya juga bergetar hebat.
"Sebentar bude, " jawab Jaka mewakili Vina.
"Ditunda dulu malam pertamanya, " goda Bude Harti.
"Hmmmm."
Bude Harti cekikikan di balik pintu. Sebenarnya bukan hanya ada Bulik Harti saja yang ada disana. Ada sekitar lima orang yang mencoba untuk mengintip pasangan itu.
"Kita lanjut malam nanti, " ucap Jaka dengan lirih. Namun ia tidak melepas pelukannya. Vina agak malu mendengarnya. Ia membenamkan wajahnya di dada Jaka.
"Bersikap baiklah... kalau tidak Aku bisa lepas kendali, " bisiknya lagi.
"Aaaku mau ganti baju dulu."
"Tunggu sebentar lagi sayang."
Blusss....
Wajah Vina merona mendengarnya. Sayangnya Jaka tidak bisa melihatnya. Matanya tertutup mencoba untuk mengontrol hasratnya.
Cukup lama keduanya dalam posisi itu. Hingga Jaka melepaskan pelukannya. Sebelum Vina sempat melangkah, Jaka kembali melabuhkan ciuman di bibirnya.
"Manis, " kerling Jaka dengan senyum menggoda.
"Apaan sih."
"Mulai sekarang bibir ini akan menjadi canduku. Bukan hanya bibir tetapi juga_"
"Jangan ngomong sembarangan. Kok Kamu jadi mesum gini sih? " keluh Vina dengan manja. Ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Mesum sama istri tidak ada salahnya. "
"Sudahlah Aku mau ganti baju dulu."
"Ganti disini saja Sayang. "
"Nggak mau. Aku mau sekalian mandi."
"Baiklah."
Vina membawa pakaian ke kamar mandi. Saat melewati dapur, beberapa ibu-ibu yang membantu nampak sedang bersih-bersih.
"Sudah makan Bude? Bersih-bersihnya ditunda dulu. Jangan sampai perutnya lapar loh ya. "
"Tenang saja Vina, Kami pasti makan Kok. Kamu juga jangan lupa makan. Ajak suami dan juga anak-anakmu."
"Beres Bude. Vina ganti pakaian dulu."
"Oh ya Vin... makanannya banyak yang tersisa. Besok jangan lupa dipanaskan loh. "
"Oalah Bude, kalau banyak kalian bawa saja pulang. Sisakan buat Kami untuk sekali makan saja. Lainnya buat Bude semua. "
"Apa nggak kebanyakan? "
"Tidak. Kalian sudah capek-capek membantu. Makanan sedikit itu saja belum cukup sepadan sebagai balasannya. "
"Apanya yang balasan. Sesama tetangga kan memang harus saling membantu. Nanti Kalau Kami sedang repot giliran Kamu yang datang membantu. "
"Beres Bude. Kalau begitu Aku mandi dulu ya. "
"Silahkan."
Vina mandi dan berganti pakaian di kamar mandi. Saat selesai ia melihat Jaka sedang berbincang dengan Kakek Damar. Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian biasa.
Keduanya nampak asyik mengobrol. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bunda, " panggil Adin sambil berlari ke arahnya. Di belakangnya Bian mengejarnya dengan wajah masam.
"Kembalikan mainanku! "
"Aku juga mau main."
"Kan Kamu punya mainan sendiri, kenapa masih ambil punyaku? "
"Mainanmu lebih menarik. "
"Ada apa ini? "
"Adin mengambil mainan yang bunda buat. Padahal dia sudah punya mainanku," adu Bian dengan wajah masam. Vina terseyum mendengarnya. Ia pun menggandeng Adin disatu sisi dan Bian disisi lainnya. Ia membawanya ke kamar yang sudah dipersiapkan untuk si kembar.
"Ayo ikut Bunda, " ajak Vina sambil tersenyum. Dia cukup senang dipanggil bunda oleh si kembar.
Awalnya Jaka mengajari mereka untuk memanggilnya Ibu. Namun Vina tidak mau. Biarlah panggilan itu ditujukan kepada mendiang ibu kandung mereka. Jadilah mereka memanggilnya Bunda.
"Ngapain Kita kesini? "
"Mulai hari ini Kalian akan tidur disini. Apa Kalian suka? "
"Masalah tadi bagaimana? "
"Sesama saudara tidak boleh bertengkar hanya karena mainan. Berbagi itu indah, apalagi dengan saudara. Kalian kan bisa saling bertukar mainan . Bian pinjam punya Adin dan Adin pinjam punya Bian. Bukankah itu lebih baik dari pada bertengkar."
"Kami tidak bertengkar kok. "
"Benar, Kami tidak bertengkar. "
"Bagus kau begitu. Bunda suka dengarnya. Bunda tadi sampai kaget loh."
"Maafkan Kami Bunda, " kata si kembar dengan serempak.
"Kalian tidak salah sama Bunda jadi tidak perlu minta maaf. Kalian yang harus saling memaafkan."
Jaka yang berada di dekat pintu tersenyum mendengar pembicaraan mereka bertiga. Ia tadi juga kaget melihat keduanya bertengkar. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah bertengkar. Hanya karena mainan, mereka bertengkar untuk pertama kalinya.
Jaka sempat was-was saat Vina mengajak si kembar ke kamar. Takut kebiasaannya kambuh lagi. Untung ketakutannya itu tidak terjadi. Ia pun bernafas lega.
Tok tok tok
"Ayah! " seru Adin dengan riang. Ia berlari ke ayahnya. Dengan sigap Jaka menangkap dan menggendongnya.
"Kita makan yuk! "
"Yuk! "
vina reflek nendang
cie jaka ngambek gk di sapa😁