Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Pagi hari kedua Turnamen Agung Keluarga Han dimulai dengan atmosfer yang jauh lebih berat dan mencekam dibandingkan hari pertama. Jika hari pertama adalah tentang perayaan dan pembuktian diri, hari kedua adalah tentang kebrutalan dan eliminasi tanpa ampun. Hanya delapan peserta tersisa, dan setiap pertandingan di babak ini akan menentukan siapa yang layak menyandang gelar elit sejati.
Di sekitar arena, meja-meja judi dadakan telah dikerumuni oleh para penonton. Taruhan terbesar hari ini bukan pada siapa yang akan menjadi juara, melainkan pada hasil pertandingan perempat final kedua: Han Feng melawan Han Tie.
"Aku bertaruh 50 koin perak untuk Han Tie!" teriak seorang pedagang gemuk sambil membanting kantong uangnya ke meja. "Si Raksasa itu menguasai Teknik Pertahanan Lonceng Emas sampai tahap kesempurnaan. Kulitnya tidak bisa ditembus pedang baja biasa. Han Feng mungkin kuat, tapi memukul Han Tie sama saja memukul dinding besi. Tangannya sendiri yang akan patah!"
"Jangan yakin dulu," sela seorang kultivator pengembara yang menonton. "Kalian tidak melihat bagaimana Han Feng menerbangkan Han Ji kemarin? Kekuatan fisiknya tidak masuk akal. Aku pegang Han Feng 20 koin perak!"
Perdebatan sengit terjadi di mana-mana. Namun, mayoritas murid Keluarga Han masih memegang Han Tie. Logika mereka sederhana: Han Tie berada di Pembentukan Tubuh Tingkat 8, sementara Han Feng—meski mengejutkan—diduga hanya berada di Tingkat 6 dengan kekuatan fisik aneh. Perbedaan dua tingkat kultivasi, ditambah keunggulan elemen pertahanan Han Tie, dianggap sebagai tembok yang mustahil diruntuhkan.
Di atas panggung arena, wasit senior mengangkat tangannya, meminta ketenangan.
"Pertandingan Perempat Final Kedua: Han Feng melawan Han Tie! Peserta harap naik ke panggung!"
Dari sisi timur, Han Tie melangkah naik. Setiap langkah kaki raksasa setinggi dua setengah meter itu membuat lantai arena bergetar dug... dug... dug. Han Tie tidak mengenakan baju atasan, memamerkan otot-otot tubuhnya yang mengkilap seperti dipoles minyak. Di sekujur tubuhnya, tato mantra berwarna emas berpendar samar—tanda dari latihan Lonceng Emas yang ekstrem.
Dari sisi barat, Han Feng berjalan naik dengan santai. Pedang Meteor Hitam masih terbungkus kain kusam di punggungnya. Wajah Han Feng tenang, kontras dengan wajah Han Tie yang menyeringai buas.
"Hei, Kurcaci," sapa Han Tie, suaranya berat dan menggema seperti beruang yang menggeram. Han Tie meretakkan lehernya, menghasilkan bunyi krek yang nyaring. "Tuan Muda Han Lie menitipkan salam. Dia bilang, aku harus membuatmu menjerit setidaknya sepuluh kali sebelum menendangmu keluar."
Han Feng berhenti di tengah arena, menatap raksasa di depannya. Han Feng harus mendongak cukup tinggi untuk menatap mata Han Tie.
"Sepuluh kali?" ulang Han Feng datar. "Sayang sekali. Aku biasanya tidak membiarkan lawanku punya waktu untuk menjerit satu kali pun."
Han Tie tertawa terbahak-bahak, perutnya yang berotot berguncang. "Mulutmu besar juga! Bagus! Ayo, keluarkan tongkat pemukulmu itu. Pukul aku sekeras mungkin. Aku tidak akan bergerak dari lingkaran ini. Mari kita lihat apakah kayumu itu patah atau tulangku yang retak!"
Han Tie mengambil kuda-kuda lebar. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak keras.
"Hah!!"
Cahaya keemasan meledak dari tubuh Han Tie. Lapisan energi Qi berbentuk lonceng transparan muncul menyelimuti tubuhnya. Kulit Han Tie berubah warna menjadi emas metalik. Ini adalah bentuk terkuat dari Teknik Lonceng Emas: Tubuh Vajra Tak Terhancurkan.
Penonton bersorak kagum. Pertahanan ini terkenal mampu menahan serangan penuh dari kultivator Pembentukan Tubuh Tingkat 9 sekalipun.
Han Feng menghela napas pelan. Dia melepaskan ikatan pedang di punggungnya, memegang gagangnya dengan satu tangan, dan membiarkan ujung pedang yang terbungkus kain itu menyentuh lantai.
"Kau memintaku memukulmu?" tanya Han Feng memastikan.
"Pukul saja! Jangan ragu!" tantang Han Tie sambil menepuk dadanya yang bidang.
"Baiklah. Jika kau memaksa."
Han Feng tidak mengambil ancang-ancang jauh. Han Feng hanya menggeser kaki kanannya ke belakang sedikit, memutar pinggangnya, dan mengangkat Pedang Meteor Hitam itu ke samping.
Otot lengan Han Feng menegang. Di balik lengan jubahnya, pembuluh darah menonjol seperti akar pohon.
Sutra Hati Naga Purba: Kekuatan 20 Banteng.
Han Feng mengayunkan pedangnya.
Tidak ada teknik. Tidak ada Qi yang terlihat. Hanya ayunan murni kekuatan fisik yang memanfaatkan berat 150 kilogram besi meteor.
WUUUUUNG!
Suara angin yang terbelah terdengar mengerikan, seolah-olah udara menjerit ketakutan.
Mata Han Tie yang tadinya meremehkan tiba-tiba membelalak. Insting binatangnya berteriak bahaya saat mendengar suara angin itu. Itu bukan suara ayunan senjata biasa. Itu suara bencana alam.
Tapi Han Tie sudah terlambat untuk menghindar. Dia sudah sesumbar tidak akan bergerak.
BLAAARRR!
Bungkusan kain berisi Pedang Meteor Hitam menghantam sisi kiri Lonceng Emas Han Tie.
Suara yang dihasilkan bukanlah denting logam, melainkan suara ledakan seperti guntur yang menyambar menara lonceng.
Lapisan energi Lonceng Emas itu bergetar hebat, terdistorsi ke dalam, lalu...
PRANG!
Pecah berkeping-keping seperti kaca.
Hantaman pedang Han Feng terus melaju, menabrak lengan kiri Han Tie yang mencoba menahan serangan itu secara refleks.
KRAK!
Suara tulang patah terdengar renyah dan jelas di seluruh arena yang hening.
"AAARGGHH!"
Han Tie menjerit kesakitan. Tubuh raksasanya terangkat dari tanah, terputar di udara oleh momentum hantaman itu, dan terlempar ke samping sejauh lima meter. Dia jatuh berguling-guling di lantai batu, debu beterbangan.
Namun, Han Tie adalah petarung yang tangguh. Rasa sakit dan adrenalin membuatnya segera bangkit kembali, meskipun lengan kirinya kini tergantung lemas dengan sudut yang aneh.
"Kau... Kau..." Han Tie menatap Han Feng dengan horor. Kain pembungkus di ujung pedang Han Feng telah robek akibat benturan tadi, memperlihatkan sedikit permukaan hitam kasar dari logam di dalamnya.
"Lonceng Emas?" Han Feng menyandarkan pedangnya di bahu lagi, wajahnya tampak kecewa. "Kupikir akan lebih keras. Ternyata hanya setipis kulit telur."
Penonton di tribun ternganga. Han Tian di kursi kehormatan mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit tajam.
"Kekuatan macam apa itu?" bisik Han Tian. "Dia menghancurkan pertahanan tingkat sempurna Han Tie dengan satu ayunan santai?"
Di arena, Han Tie meraung marah. Rasa malu dikalahkan dengan satu pukulan membuat akal sehatnya hilang.
"Aku akan membunuhmu! Tinju Palu Gempa!"
Mengabaikan tangannya yang patah, Han Tie menerjang maju dengan tangan kanannya. Qi elemen tanah berkumpul di kepalan tangannya, membentuk bayangan palu batu raksasa.
Han Feng menggelengkan kepala. "Lambat."
Tepat saat tinju Han Tie hendak mengenai wajahnya, kaki Han Feng meledak dengan kilatan energi samar.
Langkah Naga Guntur.
Zrat!
Han Feng menghilang. Tinju Han Tie menghantam udara kosong. Karena tenaga yang terlalu besar dan target yang hilang, Han Tie kehilangan keseimbangan dan terhuyung ke depan.
Han Feng muncul tepat di belakang punggung Han Tie yang terbuka lebar.
"Sudah kubilang," bisik Han Feng tepat di telinga raksasa itu. "Lonceng Emas hanyalah kerupuk di hadapan palu godam."
Han Feng mengangkat Pedang Meteor Hitam tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Otot punggungnya meregang maksimal. Kali ini, Han Feng tidak menahan diri.
Kekuatan 40 Banteng.
"Hancur!"
Han Feng mengayunkan pedang itu vertikal ke bawah, menghantam punggung Han Tie yang masih terhuyung.
DUUUAAARRR!
Hantaman itu begitu keras hingga kain pembungkus pedang itu meledak hancur sepenuhnya, serpihan kain beterbangan seperti kupu-kupu putih yang mati.