Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Akhir dari sebuah era
Udara di Distrik Kamino seolah membeku, bukan karena es milik Todoroki, melainkan karena gravitasi murni dari kehadiran All For One. Di balik dinding beton yang retak, Mitsuki bisa merasakan getaran di ujung jari-jarinya. Itu bukan rasa takut yang melumpuhkan, melainkan respons biologis tubuhnya terhadap predator puncak yang belum pernah ia temui sebelumnya.
"Energinya... dia bukan sekadar mengumpulkan Quirk," bisik Mitsuki, matanya menyempit menatap sosok di tengah kawah kehancuran itu. "Dia adalah lubang hitam. Dia menelan esensi orang lain untuk mengisi kekosongan di dalam dirinya sendiri."
Di sampingnya, Izuku Midoriya gemetar hebat. Giginya gemertak, bukan hanya karena hawa dingin, tapi karena melihat All Might simbol yang ia puja terpental menghantam bangunan dengan kekuatan yang seharusnya mustahil untuk ditahan manusia.
"Kita harus bergerak sekarang," suara Todoroki memecah ketakutan yang menyelimuti kelompok itu. "Jika All Might tidak bisa fokus karena harus melindungi Bakugo, dia akan kalah."
Iida memegang bahu Izuku, mencoba memberikan stabilitas. "Kita tidak boleh bertarung. Mitsuki benar, satu sentuhan dari orang itu dan kita semua akan berakhir. Tapi bagaimana cara kita mengambil Bakugo-kun dari tengah-tengah mereka tanpa memicu serangan langsung?"
"Gunakan momentum," Mitsuki mengambil alih kendali taktis. Ia menunjuk ke arah puing-puing bangunan yang membentuk tanjakan alami. "Todoroki-kun, kau buat jalur es setinggi mungkin. Iida-kun dan Izuku, kalian adalah mesin pendorongnya. Kirishima-kun, kau adalah ujung tombaknya karena kau satu-satunya yang bisa ditarik oleh Bakugo tanpa ragu."
"Lalu kau, Mitsuki?" tanya Kirishima.
"Aku akan menjadi penghalau persepsi," jawab Mitsuki. Ia melakukan segel tangan yang sangat cepat, nyaris tak terlihat oleh mata biasa. "Aku akan menggunakan teknik angin untuk menyeimbangkan lintasan kalian dan menutupi kehadiran kalian dengan debu sensorik. Saat kalian terbang, jangan menoleh ke belakang. Fokus hanya pada tangan Bakugo."
Todoroki tidak membuang waktu. Dengan satu hentakan kaki, sebuah jalur es raksasa mencuat ke langit, membelah asap dan api. Izuku dan Iida memposisikan diri di belakang Kirishima, mencengkeram lengan satu sama lain.
"Recipro... BURST!" "One For All... 5%!"
BOOM!
Ketiganya melesat seperti peluru kendali melintasi tanjakan es tersebut. Di saat yang sama, Mitsuki merentangkan kedua tangannya.
"Fūton: Toppa!" (Elemen Angin: Terobosan).
Mitsuki melepaskan hembusan angin kencang dari bawah mereka, memberikan dorongan vertikal ekstra yang membuat kecepatan mereka melampaui batas normal. Udara di sekitar mereka mendadak dipenuhi oleh pusaran debu dan uap air yang berkilauan, menciptakan "selubung" yang mengaburkan pandangan para penjahat di bawah.
Di tengah medan tempur, All Might tertegun melihat kilatan cahaya yang melesat di atas kepalanya. Bakugo, yang dikepung oleh Magne dan Spinner, melihat ke atas. Matanya membelalak saat melihat tangan Kirishima terulur dari langit.
"AYO, KACCHAN!!!" teriak Kirishima.
Bakugo menyeringai sebuah seringai liar yang penuh dengan harga diri. Ia melepaskan ledakan raksasa ke arah tanah, melontarkan dirinya sendiri ke angkasa, dan mencengkeram tangan Kirishima dengan kuat.
Saat kelompok itu terbang menjauh dari zona pertempuran, Mitsuki tetap berada di posisinya di atas gedung untuk memastikan tidak ada serangan jarak jauh yang mengejar mereka. Namun, di detik itu, All For One yang sedang melayang perlahan memutar kepalanya.
Masker hitamnya menghadap tepat ke arah persembunyian Mitsuki.
Menarik. Di antara anak-anak yang mencoba bermain pahlawan ini, ada satu anomali yang tidak seharusnya ada di sini. Auranya... tidak beresonansi dengan Quirk mana pun yang pernah aku ambil dalam satu abad terakhir. Itu bukan energi genetik. Itu adalah sesuatu yang lebih murni, lebih kuno. Seolah-olah alam semesta sendiri yang memberikan kekuatan padanya.
"Siapa kau, Ular kecil?" gumam All For One. "Dunia ini tidak mengenal jenis kekuatanmu. Kau adalah variabel yang bisa merusak simfoni yang telah kususun dengan susah payah."
All For One mengangkat tangannya, bermaksud melepaskan serangan udara ke arah Mitsuki, namun All Might menghantamnya dengan pukulan United States of Smash yang menggelegar, memaksa sang raja kegelapan untuk kembali fokus pada rival abadinya.
Mitsuki menyaksikan dari kejauhan saat cahaya terakhir All Might berkobar. Seluruh Distrik Kamino bergetar. Gelombang kejutnya meratakan bangunan dalam radius ratusan meter. Saat debu perlahan mengendap, terlihat All Might berdiri tegak dengan satu tangan terangkat ke atas tubuhnya kurus, lemah, dan tak lagi memiliki bara kekuatan, namun ia masih berdiri sebagai pemenang.
Mitsuki mengembuskan napas panjang. Ia melihat teman-temannya mendarat dengan aman beberapa blok dari sana. Penyelamatan itu berhasil.
Namun, hatinya terasa berat. Ia melihat All Might menunjuk ke arah kamera televisi yang terbang di atas mereka. "Selanjutnya... giliranmu."
Dunia melihatnya sebagai pesan untuk pahlawan berikutnya. Tapi bagi Mitsuki, itu adalah lonceng peringatan. Keseimbangan telah hancur. Dengan All Might yang pensiun dan All For One yang dipenjara, kekosongan kekuasaan akan segera terjadi. Dan dalam kekosongan itu, predator-predator lain seperti Shie Hassaikai dan League of Villains akan bergerak lebih liar.
Beberapa jam kemudian, di pinggiran kota yang sudah tenang, Mitsuki bertemu kembali dengan kelompok Izuku. Mereka semua tampak kotor dan kelelahan, namun ada rasa lega yang luar biasa. Bakugo berdiri agak jauh, membelakangi mereka, tetap bersikap kasar untuk menutupi rasa terima kasihnya.
"Kita melakukannya," bisik Izuku, air mata mengalir di wajahnya yang penuh jelaga. "Kita menyelamatkan Kacchan."
Iida menepuk bahu Izuku, lalu menatap Mitsuki. "Terima kasih, Mitsuki-kun. Tanpa dorongan angin dan perlindungan sensorikmu tadi, kami mungkin sudah jatuh tertembak di udara."
Mitsuki hanya mengangguk kecil. Ia menatap langit malam yang kini tampak lebih gelap tanpa kehadiran Simbol Perdamaian. "Era All Might sudah berakhir. Mulai besok, dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih berbahaya. Kalian harus siap."
Momo Yaoyorozu mendekat, ia tampak sangat lelah secara emosional. "Lalu kau, Mitsuki? Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
Mitsuki merogoh sakunya, menyentuh flashdisk berisi data Hassaikai yang masih ia simpan. "Aku akan terus mengawasi bayangan. Karena di situlah ancaman yang sebenarnya sedang tumbuh saat semua orang sedang menangisi pahlawan mereka."
Malam itu, mereka pulang ke rumah masing-masing sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun bagi Mitsuki, Kamino bukanlah akhir. Itu hanyalah pembukaan dari babak yang lebih berdarah, di mana ia tidak hanya harus menjadi bayangan bagi Izuku, tapi juga menjadi taring yang akan merobek kegelapan yang mulai merayap menuju sekolah mereka.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen