Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Hologram Guru
"Luar biasa, Li Wei," suara itu bergema, dingin dan penuh otoritas. "Aku selalu tahu bahwa kau adalah produk terbaik dari klan Li. Bahkan dalam kondisi emosional yang hancur, insting membunuhmu tetap sempurna."
Li Wei membeku. Ia mengenal suara itu lebih baik daripada suaranya sendiri. "Jenderal Zhao Kun."
Proyeksi cahaya itu bergetar sesaat, menyesuaikan frekuensi dengan udara yang dipenuhi debu dan sisa gas saraf. Sosok Zhao Kun berdiri di sana, tidak tersentuh oleh kehancuran di sekelilingnya. Matanya yang tajam menatap Li Wei yang masih bersimbah darah, lalu beralih ke arah Chen Xi dan Xiao Hu yang meringkuk di balik konsol.
"Kau terlihat sangat berantakan untuk seorang Komandan Naga, Li Wei," ucap Zhao Kun dengan nada hampir menyerupai kasih sayang seorang ayah yang kecewa. "Setelah semua pelatihan yang kuberikan, kau memilih untuk merangkak di jalur pembuangan bersama seorang pengkhianat dan seorang gadis kecil yang tidak berharga?"
"Jangan sebut dia tidak berharga," desis Li Wei. Ia mencoba berdiri tegak, namun migrain hebat menghantam bagian belakang matanya. Efek Neural Overclock yang ia gunakan untuk membantai massa subjek eksperimen di lorong tadi mulai memakan kesadarannya. "Kau yang menjadikan mereka monster, Jenderal. Kau yang merobek martabat klan Li hanya untuk mengisi baterai sialan ini."
Zhao Kun melangkah maju, meskipun bayangannya hanya menembus meja kontrol yang retak. "Klan Li sudah lama mati, Li Wei. Yang kau lihat di lorong tadi hanyalah ampas biologis yang menolak untuk menyerah pada hukum alam. Aku memberikan mereka tujuan. Aku menjadikan kematian mereka sebagai pondasi kejayaan Kekaisaran Langit."
"Kejayaan yang dibangun di atas jeritan?" Chen Xi menyela, jari-jarinya bergerak cepat di bawah meja, mencoba meretas titik akses nirkabel dari proyektor hologram tersebut. "Kau tidak sedang membangun peradaban, Zhao Kun. Kau sedang membangun mesin penggiling nyawa."
"Strategis Chen Xi," Zhao Kun menoleh, senyum tipisnya tidak pernah mencapai matanya. "Kau masih saja suka menggigit tangan yang memberimu makan. Ingatlah, faksi Naga Lautmu sendiri yang menjual koordinat laboratorium ini kepadaku. Mereka menganggapmu sebagai aset yang sudah kadaluwarsa. Hanya aku yang memberimu panggung untuk tetap relevan."
"Li Wei, jangan dengarkan dia!" seru Chen Xi tanpa menoleh. "Dia sedang mencoba memicu lonjakan emosimu. Sensor Dragon Heart-mu akan mendeteksi frekuensi penderitaan dari mayat-mayat di luar jika kau tidak menenangkan sarafmu!"
Li Wei mencengkeram kepala pedang Bailong-Jian hingga buku jarinya memutih. "Apa yang sebenarnya kau inginkan, Jenderal? Jika kau ingin membunuh kami, kau bisa saja meledakkan ruangan ini sejak tadi."
"Aku menginginkanmu kembali ke tempatmu yang seharusnya, anakku," suara Zhao Kun melunak, namun tekanannya semakin berat. "Kau bukan sekadar tentara. Kau adalah mahakarya. Wadah murni yang dirancang untuk menampung seluruh muatan Qi-Battery generasi terbaru. Tanpamu, proyek ini tidak akan pernah mencapai tahap absolut."
"Aku bukan wadah," balas Li Wei dengan suara parau. "Aku manusia."
"Manusia?" Zhao Kun tertawa kecil. "Manusia tidak bisa bertahan hidup setelah melakukan overclock selama dua puluh detik tanpa meledakkan otaknya sendiri. Kau hidup karena teknologi yang kutanamkan di sumsum tulang belakangmu. Kau hidup karena aku menginginkannya."
Xiao Hu, yang sejak tadi terdiam, tiba-tiba menarik ujung jubah Li Wei. "Kak... dia bohong. Dia hanya ingin Kakak menjadi mesin seperti Kak Han."
Zhao Kun mengalihkan pandangannya pada Xiao Hu, dan untuk pertama kalinya, ada kilatan ketertarikan yang dingin di matanya. "Ah, gadis kecil imun itu. Darahmu adalah anomali yang sangat menarik, Xiao Hu. Tahukah kau bahwa darahmu bisa menyelamatkan ribuan subjek eksperimen agar tidak berubah menjadi zombie seperti yang dibunuh Li Wei tadi?"
"Jangan kau berani menyentuhnya!" Li Wei menggeram, melangkah maju untuk menutupi tubuh Xiao Hu.
"Lalu apa pilihanmu, Li Wei?" tanya Zhao Kun, suaranya kini kembali tajam. "Menyerahlah sekarang. Bawa gadis itu ke markas pusat. Aku berjanji akan memberikanmu tempat di sebelah singgasanaku. Kita akan mengakhiri perang abadi ini bersama-sama."
"Perang ini tidak akan berakhir selama orang sepertimu masih bernapas," ucap Li Wei dingin.
"Pilihan yang sangat disayangkan," Zhao Kun menghela napas panjang. "Jika kau menolak untuk menjadi penyelamat, maka kau harus menerima peran sebagai pengkhianat yang tewas di lubang pembuangan."
Tiba-tiba, lampu di pusat kontrol berubah menjadi merah darah. Suara komputer mulai menghitung mundur dengan nada monoton. "Protokol Pembersihan Area Aktif. Pelepasan Gas Saraf Konsentrasi Tinggi dalam tiga menit."
"Chen Xi, sudah selesai?" teriak Li Wei.
"Sedikit lagi! Aku sedang menyuntikkan virus AI ke jalur komunikasinya!" sahut Chen Xi dengan dahi yang dibanjiri keringat. "Aku harus memutus hubungan satelitnya agar dia tidak bisa melacak kita setelah kita keluar dari sini!"
"Kau pikir kau bisa meretas sistemku, Chen Xi?" hologram Zhao Kun mulai berkedip-getar. "Aku adalah Tian-Ming. Aku adalah hukum di dunia ini."
"Mungkin kau hukum di atas sana," Chen Xi mendongak, matanya berkilat penuh kemenangan. "Tapi di dalam kabel-kabel tua laboratorium ini, aku adalah ratunya. Execute payload!"
Cahaya putih meledak dari konsol kontrol. Sosok Zhao Kun berteriak tanpa suara saat bayangannya terdistorsi menjadi ribuan piksel yang pecah. Suara statis yang menyakitkan telinga memenuhi ruangan, namun bersamaan dengan itu, pintu baja di belakang mereka berderit terbuka sedikit.
"Berhasil!" seru Chen Xi. "Tapi kita harus lari sekarang! Gas itu sudah mulai keluar!"
Li Wei melihat uap kekuningan mulai merembes dari ventilasi di langit-langit. "Xiao Hu, tutup hidungmu dengan kain ini! Chen Xi, ambil semua data yang sempat terunduh!"
"Aku sudah mengambilnya!" Chen Xi mencabut unit penyimpanan datanya. "Ada koordinat yang aneh dalam transmisi Zhao Kun tadi. Sepertinya... lokasi Markas Void."
Li Wei terbatuk, dadanya mulai terasa sesak. Ia melihat layar monitor yang kini hanya menampilkan satu kata berulang-ulang: TERMINATE.
"Ayo!" Li Wei menggendong Xiao Hu dan menarik tangan Chen Xi, berlari menuju pintu keluar yang mulai tertutup otomatis.
Uap kekuningan itu merayap turun seperti hantu yang kelaparan, menyentuh lantai dan mulai memenuhi sudut-sudut ruangan pusat kontrol. Li Wei merasakan paru-parunya mulai bereaksi; setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serbuk kaca yang panas. Ia mempercepat langkahnya, mengabaikan rasa nyeri yang berdenyut di sumsum tulang belakangnya akibat sisa trauma saraf.
"Pintunya macet!" teriak Chen Xi sambil menendang panel baja yang hanya terbuka setengah. "Sistem penguncian magnetiknya sudah aktif! Zhao Kun benar-benar ingin mengubur kita di sini!"
"Xiao Hu, menunduklah!" perintah Li Wei. Ia meletakkan gadis kecil itu di lantai yang masih bersih dari gas, lalu menghantamkan bahu zirahnya ke celah pintu. Logam beradu dengan logam, menciptakan suara dentuman yang memekakkan telinga.
"Biar aku bantu!" Chen Xi menyandarkan Yan-Zuo ke dinding, lalu ikut menarik tuas manual yang ada di samping pintu. "Li Wei, jika gas ini memenuhi ruangan, Dragon Heart-mu akan mengalami malfungsi karena kekurangan oksigen murni. Kau harus memaksanya terbuka sekarang!"
"Aku tahu!" Li Wei mengerang. Ia memejamkan mata, mencoba memanggil sisa-sisa energi dari inti sarafnya. "Sedikit lagi... dorong!"
Dengan satu sentakan terakhir yang membuat otot lengan Li Wei terasa seperti akan robek, pintu baja itu berderit terbuka cukup lebar untuk mereka lalui. Li Wei segera mendorong Xiao Hu keluar, disusul oleh Chen Xi yang membawa tas berisi data enkripsi. Li Wei melompat keluar paling akhir tepat saat gas saraf mulai menyembur deras dari ventilasi di dalam ruangan yang mereka tinggalkan.
"Hah... hah... kita selamat?" Xiao Hu terbatuk-batuk, wajahnya pucat pasi namun ia tidak melepaskan pegangannya pada jubah Li Wei.
"Belum, Xiao Hu. Kita masih di dalam zona dekontaminasi," Li Wei menatap lorong di depan mereka yang diterangi lampu darurat berwarna kuning. "Zhao Kun tidak akan membiarkan kita keluar semudah ini. Dia sudah tahu kita menuju jalur evakuasi."
"Tunggu, Li Wei," Chen Xi berhenti sejenak, menatap layar pergelangan tangannya yang menampilkan grafik data yang baru saja ia curi. "Data yang kudapat dari transmisi Zhao Kun tadi... ini bukan sekadar koordinat Markas Void. Ini adalah rencana pemanenan emosi skala besar yang melibatkan seluruh sektor perbatasan."
"Apa maksudmu?" tanya Li Wei sambil terus waspada memperhatikan setiap sudut lorong.
"Klan Li hanyalah tahap uji coba," suara Chen Xi bergetar karena amarah. "Dia berencana menggunakan frekuensi dari tragedi Sektor 7 untuk memicu resonansi masif pada jutaan Qi-Battery di seluruh Kekaisaran. Dia ingin menciptakan jaringan energi yang ditenagai oleh duka cita rakyatnya sendiri."
"Itu gila," bisik Li Wei. "Dia akan membunuh ribuan orang hanya untuk mendapatkan daya?"
"Dia tidak akan membunuh mereka, Li Wei," sela Chen Xi dengan nada getir. "Dia akan membiarkan mereka hidup dalam penderitaan abadi agar baterai itu terus terisi. Persis seperti yang dia lakukan pada anggota klanmu."
Li Wei terdiam. Bayangan rahang mekanis zombie-zombie di lorong kaca kembali melintas di benaknya. Ia merasa mual, bukan karena gas saraf, melainkan karena kenyataan bahwa ia pernah menjadi bagian dari sistem yang memuja kekejaman semacam itu.
"Kita harus keluar dari sini dan menghancurkan transmiter utamanya," ucap Li Wei dengan nada dingin yang baru. "Tapi pertama, kita harus sampai ke atap. Pesawat evakuasi Naga Laut harusnya masih ada di sana sesuai sinyal SOS yang kita kirim sebelumnya."
"Li Wei, lihat Xiao Hu!" teriak Chen Xi tiba-tiba.
Li Wei menoleh dan tertegun. Xiao Hu berdiri di tengah kepulan tipis sisa gas saraf yang merembes keluar dari celah pintu, namun ia tidak terbatuk. Gadis itu bahkan tidak menunjukkan gejala sesak napas seperti yang dialami Li Wei dan Chen Xi. Ia hanya berdiri di sana dengan bingung, menghirup udara yang seharusnya mematikan itu seolah-olah itu hanyalah udara biasa.
"Xiao Hu... kau tidak merasa sesak?" tanya Li Wei dengan suara gemetar.
"Tidak, Kak. Rasanya hanya sedikit bau seperti belerang," jawab Xiao Hu polos. "Kenapa Kakak dan Kak Chen Xi terlihat sangat sakit?"
Chen Xi mendekati Xiao Hu, matanya membelalak saat melihat pembuluh darah di leher gadis itu tidak membiru. "Ini tidak mungkin secara medis. Gas ini dirancang untuk melumpuhkan sistem saraf Level 4 dalam hitungan detik. Bagaimana mungkin seorang Level 1 sepertinya..."
"Darahnya," bisik Li Wei, teringat kata-kata Zhao Kun dalam hologram tadi. "Zhao Kun bilang dia adalah anomali. Dia adalah inang yang sesungguhnya."
"Li Wei, jika Kekaisaran tahu tentang imunitasnya, mereka tidak akan pernah berhenti memburunya," Chen Xi menatap Xiao Hu dengan tatapan yang kini bercampur antara rasa kasihan dan ketakutan. "Dia bukan sekadar mekanik kecil. Dia adalah kunci untuk menetralkan seluruh senjata kimia Kekaisaran."
"Dan karena itulah kita tidak akan pernah membiarkan mereka menyentuhnya," Li Wei menggenggam tangan Xiao Hu dengan erat. "Ayo. Atap laboratorium sudah dekat. Kita tinggalkan neraka ini sekarang juga."
Mereka berlari menaiki tangga darurat, meninggalkan suara alarm yang masih melolong di kejauhan. Li Wei merasakan beban di pundaknya semakin berat; ia tidak lagi hanya membawa dendam klannya, tapi ia membawa satu-satunya harapan untuk mengakhiri kegilaan Zhao Kun.
Di atas sana, pintu menuju atap terlihat. Cahaya bulan yang dingin mulai merembes masuk dari celah pintu, menjanjikan kebebasan yang fana di tengah badai yang baru saja dimulai. Li Wei tahu, setelah pintu itu terbuka, dunia tidak akan lagi sama baginya.
"Bersiaplah," gumam Li Wei saat ia menendang pintu atap hingga terbuka. "Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai."