Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Saksi Kebenaran Medis
Setelah konfrontasi di kamar Lili, Arvino semakin dingin, tetapi kini kebenciannya terlihat lebih goyah. Ada kebingungan di matanya, seolah ia sedang mencoba menyusun kembali potongan-potongan argumennya yang hancur.
Aku kembali fokus pada duniaku di luar rumah. Hari ini, aku menghadiri Simposium Medis Tahunan yang diadakan di Jakarta, mewakili Rumah Sakit Merdeka. Anehnya, Arvino juga hadir sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Hardinata dan salah satu anggota dewan kehormatan acara.
Kami menjaga jarak profesional yang ketat. Di name tag kami, nama 'Hardinata' terpampang jelas, tetapi kami tidak saling sapa, seolah kami tidak saling kenal.
Di sela-sela istirahat makan siang, aku sedang berbincang dengan Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Merdeka ketika sebuah tangan melingkari lengan Arvino. Itu Clara.
Clara, yang mengenakan pakaian sosialita yang elegan dan tidak sesuai dengan acara medis, tersenyum sinis padaku.
"Arvino sayang, aku terkejut melihat Aluna di sini," ujar Clara, nadanya manis namun penuh provokasi. "Aku dengar dia sudah kembali ke Hardinata?"
Arvino menatapku sekilas. "Dia mewakili RS Merdeka, Clara. Dia hanya dokter paruh waktu di sana."
"Oh, paruh waktu," Clara menyindir, lalu tertawa kecil. "Sayang sekali ya, Vin. Padahal dia lulusan terbaik. Kenapa tidak di Hardinata saja? Atau dia masih trauma ruang operasi?"
Pertanyaan Clara yang menyinggung traumaku (dan secara tidak langsung menyinggung kegagalanku menyelamatkan Sarah) membuatku menegang. Arvino hanya diam, membiarkan Clara menyerangku.
Tiba-tiba, sebuah suara berat menginterupsi.
"Sebaliknya, nona. Saya dengar dia menolak tawaran penuh waktu. Itu adalah pilihan cerdas."
Berdirilah Dr. Adrian Wijaya, seorang ahli kandungan senior yang sangat dihormati di Indonesia, dan teman lama Papa. Beliau mengenal kami sejak kami kecil.
Dr. Adrian menatap Clara dengan alis terangkat, lalu mengangguk hormat padaku. "Aluna, senang bertemu denganmu. Saya dengar performa analitis Anda di RS Merdeka sangat diacungi jempol. Sama jeniusnya seperti saat S2 di Inggris."
"Terima kasih, Dokter Adrian," jawabku, merasa sedikit lega.
"Trauma ruang operasi?" Dr. Adrian menoleh pada Clara, lalu pada Arvino, nadanya berubah serius. "Setahu saya, trauma bagi dokter bedah adalah ketika mereka gagal menyelamatkan nyawa karena kesalahan diagnosis. Tapi dalam kasus yang menimpa mendiang Sarah, tidak ada kegagalan diagnosis sama sekali."
Semua orang di sekeliling kami, termasuk Arvino, menegang. Nama Sarah disebut.
Dr. Adrian melanjutkan, "Saya tahu kasus Sarah sangat pelik. Solusio Plasenta dan komplikasi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) yang parah. Saat Sarah masuk IGD, pendarahan sudah tak terkontrol. Itu adalah kasus di mana prognosisnya sangat buruk sejak awal, terutama karena pasien menyembunyikan kondisi bahayanya."
Dr. Adrian menatap Arvino, matanya penuh makna. "Arvino, saya mendengar laporan tim Anda dan juga mendengar detail dari Wijaya (Papa). Diagnosis Aluna saat itu sangat cepat dan tepat: prioritas pada janin karena risiko kehilangan ibu sudah di atas 90%. Aluna lah yang meminta tim medis fokus menyelamatkan bayi saat Sarah sudah kolaps."
"Bahkan," Dr. Adrian mencondongkan tubuh sedikit, menatap Arvino dengan tajam, "Darah yang didonorkan oleh Aluna di ruang operasi, adalah darah yang membuat jantung Lili masih berdetak hari ini. Bukan karena Aluna membunuh, Arvino. Tapi karena Aluna adalah satu-satunya yang berani mengambil risiko untuk menyelamatkan cucu Papa Wijaya."
Dr. Adrian mengakhiri kalimatnya, meninggalkan keheningan yang memekakkan.
Wajah Arvino berubah. Pucat. Biru. Hancur. Tuduhan "pembunuh" yang telah menjadi fondasi pernikahannya, yang telah menjadi satu-satunya pembenaran atas kebenciannya selama setahun ini, baru saja dibongkar di depan umum oleh seorang saksi yang kredibel.
Clara, yang melihat situasi ini berbalik melawannya, buru-buru menarik Arvino. "Ayo Vin, kita harus menemui sponsor yang lain."
Arvino tidak bergerak. Dia hanya berdiri mematung, menatapku. Matanya yang tadinya penuh amarah, kini dipenuhi oleh kengerian dan kesadaran yang sangat pahit.
Aku menatapnya kembali. Kali ini, tidak ada lagi kebencian. Hanya ada kesedihan yang tak terhingga atas pengorbanan yang kulakukan.
"Saya permisi dulu, Dokter Adrian," kataku pada dokter senior itu, mengabaikan Arvino. "Masih banyak pasien yang harus saya tangani di Rumah Sakit Merdeka."
Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Arvino yang berdiri di tengah kerumunan, sendirian, meskipun Clara ada di sampingnya. Aku meninggalkan dia dengan kebenaran yang baru saja merobek jiwanya.
Aku kembali ke rumah malam itu, menemukan Arvino sudah di rumah. Dia duduk sendirian di ruang kerjanya, minum wiski di tengah kegelapan.
Aku masuk tanpa mengetuk, menyalakan lampu.
"Jangan matikan lampunya," perintahnku, meskipun aku tahu dia membenci cahaya.
Arvino tidak membantah. Dia hanya menatapku.
"Kau mendengarnya?" tanyaku, nadaku lelah dan dingin. "Aku bukan pembunuh, Kak. Aku hanya adik yang berjuang untuk menyelamatkan. Dan aku adalah pendonor darah yang membuat Lili hidup."
Arvino memejamkan mata, memegang pelipisnya. Dia tidak menyangkal.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" bisiknya, suaranya parau, penuh penyesalan.
"Untuk apa? Agar Kakak percaya? Kakak sudah menuduhku di malam kematian Mbak Sarah. Saat itu, Kakak lebih memilih percaya pada dendam dan rasa sakit Kakak daripada kebenaran. Lagipula," aku tersenyum dingin, "Seorang dokter tidak perlu membela diagnosisnya di depan orang awam."
Aku berjalan keluar, menutup pintu. Malam itu, Arvino tidak pindah tidur ke sofa kamar utama. Dia tetap di ruang kerjanya, mabuk, dikelilingi oleh dokumen dan botol wiski.
Aku tahu, mulai sekarang, pertempuran kami tidak lagi soal siapa yang benar atau salah, melainkan soal bagaimana Arvino bisa hidup dengan penyesalannya. Dan apakah penyesalan itu cukup untuk menembus hati yang sudah terlanjur membeku.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️