Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.
Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.
“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”
Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Figuran
"Andai Shahinaz nggak mengucilkan diri dari dunia, apa harusnya Shahinaz yang jadi pemeran utamanya? Terlepas dari cerita ini yang hanyalah fiktif, dilihat dari segi manapun, gue itu memang cantik. Yang neror buat ngerusakin nih muka, pasti iri kan sama kecantikan gue?"
Ingat prinsip Shahinaz, percaya diri nomor satu. Dia perlu mencintai dirinya untuk bertahan hidup, soal penilaian orang lain tentang ketidak sukaan atau kejelekan dia, mungkin bisa diurus belakangan. Tanpa mencintai diri sendiri, kita hanya akan terus merasa rendah diri dan terasingkan. Hidup hanya sekali, jadi nikmatilah sebaik mungkin.
[Aku menemukan jawaban yang paling menyakitkan diantara yang lain. Aku tersenyum getir, ternyata aku benar-benar hidup sendirian di dunia ini. Aku sebatang kara dan terasingkan, apa aku tidak bisa dilahirkan sebagai pemeran utama saja dikehidupan selanjutnya?]
Setelah Shahinaz membanting buku diary berkali-kali ke atas lantai, dia memang akhirnya memungutnya kembali dan membaca sampai akhir, rasanya ada yang kurang jika dia tidak menyelesaikan secara keseluruhan.
Paragraf itu dia sobek, dia akan menempelnya setelah nanti dia membeli buku diary yang baru jika saatnya dia berpergian. Pertama-tama, Shahinaz akan memusnahkan buku ini terlebih dahulu. Lalu soal obat yang katanya anti-depresan, Shahinaz juga sudah memusnahkannya juga.
"Karena Shahinaz sebatang kara dan terasingkan, udah pasti pelakunya Auretheil kan? Apa Auretheil membuat sugesti di otak Selana soal monster buruk rupa, makanya dia rendah diri karena ngerasa dirinya jelek? Wajah ini ibaratnya gue versi glow up anjir, buruk rupa dari mana coba?!"
Kring... Kring...
Baru juga ponsel Shahinaz dinyalakan karena tadi sempat kehabisan daya, ternyata sudah ada yang menghubunginya saja sekarang. Beruntung tidak ada pengaman apapun untuk membuka ponsel itu, jadi Shahinaz langsung menjawabnya setelah tau siapa yang meneleponnya.
"Sha, lo nggak sekolah ya? Gue ke kelas lo tadi, tapi ternyata nggak ada. Sekarang gue ada di depan rumah lo bareng si Leena. Ada obat yang dititipin sama gue dari pihak rumah sakit kemarin. Cepetan bukain pintu ya!"kata Auretheil dari seberang telepon sana.
"Oke, gue turun sekarang juga. Sabar ya." jawab Shahinaz tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan merasa kesal sebelumnya.
Buru-buru Shahinaz menyembunyikan diary dan semua barang penting yang tadi dia obrak-abrik. Meskipun mereka tidak mungkin sampai ke kamarnya, Shahinaz memilih untuk berjaga-jaga saja. Setidaknya jangan sampai Auretheil curiga dengan kemunafikkan dirinya, agar mereka sama-sama munafik dan saling menyakiti satu sama lain.
Shahinaz bergegas turun ke lantai bawah, membuka pintu dengan cepat dan menyambut Auretheil dan Leena yang berdiri di depan rumah. Auretheil memegang tas obat dengan ekspresi senyunya, sementara Leena terlihat murung, seolah baru mendapatkan masalah besar yang tidak pernah disangka-sangka oleh dirinya.
"Sha, gue bawa obat hasil konsultasi kemarin, udah ada petunjuk penggunaannya juga kok, lo tinggal makai aja. Oh ya, bagaimana kondisi lo? Sepertinya lo agak kurang fit sekarang, makanya nggak sekolah." ujar Auretheil sambil menyerahkan tas obat.
Shahinaz menerima tas itu dengan senyuman tipis, "Makasih Aure, jadi banyak ngerepotin lo deh. Gue baru bangun tidur tadi, dan ponsel gue semalaman mati, jadi baru sekarang deh lo bisa ngehubungin gue. Oh ya, ayo masuk dulu. Pasti kalian capek kan ngeluangin waktu luang kalian ke sini."
Auretheil tersenyum kecil, "Aduh, sahabat gue emang paling pengertian deh."
Auretheil dan Leena menyetujui untuk masuk ke rumah, sementara Shahinaz memimpin mereka ke ruang tamu yang nyaman. Shahinaz berusaha untuk bersikap normal dan ramah meskipun di dalam hatinya masih berkecamuk perasaan emosi dan ingin menggeplak wajah Auretheil semampu yang dia bisa.
"Jadi, gimana sekolah hari ini? Kalian pasti nge-bully cewek itu kan? Namanya siapa gue lupa deh." tanya Shahinaz berusaha mencari topik pembicaraan. Ya kali sebagai tuan rumah, dia hanya diam saja sembari melihat mereka mengobrol ria.
Auretheil menunjuk Leena sambil tertawa kecil, "Si Lynelle masuk rumah sakit tadi Sha, kita puas banget ngehajar pelakor itu. Oh ya Leena, Pasti lo bahagia banget kan? Akhirnya lo bisa deket sama tunangan lo untuk sementara waktu."
Beda dengan respon Auretheil yang sepertinya terlampau cerah, justru Leena terlihat makin murung sekarang. Bayangkan, wajah yang ditimpa bedak berkilo-kilo itu semenjak tadi belum terlihat mengeluarkan suaranya.
"Gue udah bilang tadi, jangan sampai mukanya terluka Aure. Lo tau kan kita lagi berhadapan sama keluarga Kingsley? Kenapa lo sama yang lain sampai ngelukain mukanya sih? Keluarganya pasti nggak bakal terima dengan kelakuan kita." ucap Leena yang akhirnya mengeluarkan suaranya juga.
Shahinaz mengerutkan kening mendengar pernyataan Leena. Selama ini, dia hanya menduga bahwa Auretheil adalah penyebab utama kekacauan dalam hidup Shahinaz dalam novel saja. Namun, tampaknya ada lebih banyak dinamika kehancuran yang terjadi karena Auretheil. Dia jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya Auretheil targetkan di dalam hidupnya itu? Merusak hidup orang lain kah?
"Leena, itu harusnya udah jadi konsekuensi Lynelle karena udah berani ngedeketin tunangan lo. Kenapa lo jadi takut banget sih?" respon Auretheil sepertinya masih biasa saja, tidak merasa bersalah sama sekali.
"Iya, gue paham maksud kalian, tapi gue takut perusahaan Ayah gue yang jadi taruhannya Aure. Gue takut, ada sebab akibat karena perbuatan kalian yang terlalu berlebihan." kata Leena sambil menutupi wajahnya dan akhirnya menangis tersedu-sedu.
"Kok karena kita sih? Padahal kita nge-bully juga karena ngebelain lo Ena. Shahinaz, bener nggak tindakan gue sama yang lain?" tanya Auretheil kepada Shahinaz setelah itu.
Shahinaz merasa seluruh percakapan itu semakin rumit. Dengan informasi yang baru saja dia terima, dia menyadari bahwa Auretheil dan Leena terlibat dalam konflik yang lebih besar dari yang dia kira. Bagaimanapun, mereka akan berurusan dengan keluarga Kingsley untuk ke depannya.
"Gue nggak minta kalian nge-bully Lynelle sampai terluka begitu Aure. Wajahnya luka, itu pasti butuh waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya." Leena kembali membuka suaranya lagi.
"Lo nyalahin gue lagi Ena? Sha, apa gue sebersalah itu?" tanya Auretheil yang masih sekuat tenaga meminta pendapatnya.
Shahinaz mengangkat alisnya. Karena ini bukan urusannya, tentu saja dia bersikap biasa saja dalam menanggapinya, "Auretheil, gue ngerti lo nge-bully Lynelle karena lo ngerasa harus ngebelain Leena. Tapi gue juga paham kenapa Leena khawatir, karena semua ini bisa berdampak lebih luas dari yang kita kira."
Auretheil tampak bingung, "Jadi, lo berpikir sikap gue sama yang lain salah? Gue awalnya cuma pengen ngebela Leena doang kok."
Leena akhirnya menyela lagi, "Bukan gitu maksud gue Aure. Dengan lo ngelukain Lynelle terlalu jauh, bukan hanya keluarga gue aja yang jadi incaran keluarga Kingsley, tapi tunangan gue pasti tambah benci banget sama gue."
Auretheil terlihat tergagap sekarang. Shahinaz jadi berpikir apa itu perasaan murni dari diri Auretheil, atau hanya sebuah akting belaka. Shahinaz jadi ingin tau lebih lanjut apa yang terjadi berikutnya.
"Ena, jadi kita salah ya? Tapi lo nggak perlu khawatir Ena, orang tua gue sama yang lain pasti bakalan bantu lo kok. Lo nggak sendirian ngehadapin keluarga Kingsley, jadi tenang aja." balas Auretheil sambil mengusap punggung Leena seolah mendukungnya.
Leena menganggukkan kepala, akhirnya dia merasakan tenang juga sekarang. Meski dia bingung bagaimana cara mendekati Naveen sang tunangan selepas kejadian ini, tapi setidaknya dia tidak akan menyia-nyiakan peluang untuk mendekatinya.
"Sebenarnya gue kurang apa ya Aure? Kenapa Naveen jadi benci banget sama gue? Padahal dulu kita pasangan yang saling mencintai, apa gue kurang cantik ya?" tanya Leena pada Auretheil dengan wajah sayunya.
Shahinaz hanya mengamati tanpa ada niatan untuk berbicara. Biarlah mereka saling mencurahkan hatinya masing-masing, dan biarlah dia mengetahui bagaimana caranya Auretheil menjadi peran jahat dihidup orang lain.
"Lo udah cantik kok, make up lo juga udah bagus. Mungkin kurang bulu mata sama lipstik aja, makanya Naveen kurang tertarik sama lo." balas Auretheil yang membuat Shahinaz mengernyit heran.
Di mana-mana orang lain pasti akan menyarankan Leena untuk tampil natural dan apa adanya, tapi kenapa Auretheil justru menyarankan hal lain untuk Leena? Auretheil saja tampil natural tanpa adanya make up sedikitpun di wajahnya.
"Tapi kenapa Naveen selalu ngatain gue lonte? Gue pikir gue udah cantik, dan melakukan semua saran yang kalian kasih ke gue." tanya Leena dengan tampang polosnya, dan itu membuat Shahinaz merasa sedikit terganggu.
"Itu karena Naveen udah kena pelet pelakor aja. Udah lah, setelah ini lo pasti berhasil ngedeketin Naveen lagi. Beberapa hari ini pasti si pelakor itu nggak bisa masuk sekolah, dan itulah saatnya lo tampil bersinar di depan Naveen." jawab Auretheil sambil menjentikkan jarinya.
"Tapi gue ada hawa nggak enak Ena. Naveen ngelihat gue dengan tatapan permusuhan dan penuh kebencian tadi, gue takut dia justru makin ngehindar dari gue." terang Leena sambil menghapus air matanya, "Andai kalian nggak terlalu berlebihan, mungkin Naveen nggak akan sebegitu bencinya sama gue."
Auretheil menunjuk dirinya sendiri, "Lo nyalahin gue sama yang lain lagi Ena? Gue udah bilang kan, itu murni karena ngebelain lo doang."
Shahinaz menghela nafas pasrah. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan pembicaraan alot mereka. Lagipula Shahinaz sudah kesal dan ingin mengusir Auretheil dari rumahnya sekarang juga. Gadis itu terlalu manipulatif dan tidak merasa bersalah dengan kesalahannya sendiri, apa itu cara yang sama dilakukan oleh Auretheil untuk membodohi pemilik tubuh sebelumnya juga?
Shahinaz menghela nafas panjang dan berniat untuk membuka suaranya lagi, "Gue jadi kurang paham deh sama masalah kalian. Dan gue sebenarnya pengin ngedengerin lebih lanjut, tapi kayaknya gue harus jaga toko bunga deh sekarang juga. Kalian masih mau di sini atau mau pulang aja? Btw, gue nggak punya apa-apa buat disuguhin ke kalian, jadi mohon maaf gue nggak nyediain minum sama sekali dari tadi."
Auretheil dan Leena saling bertukar pandang, tampaknya bingung dengan pernyataan Shahinaz yang tiba-tiba. Namun, mereka tahu bahwa Shahinaz tampaknya sedang berusaha untuk menjauh dari konflik ini. Dan Auretheil lah yang paling paham dengan cara pikir Shahinaz selama beberapa tahun ini.
"Nggak apa-apa, Sha. Kita bisa pulang dulu," kata Auretheil sambil menyimpan tas obat yang masih ada di tangannya. "Nanti kita lanjutkan obrolan di chat aja ya. Jangan lupa pakai obatnya sesuai petunjuk."
Shahinaz mengangguk sambil tersenyum antusias, "Oke Aure, gue pasti bakal minum obatnya sesuai petunjuk kok."
Shahinaz mengantar mereka ke pintu, dan saat mereka melangkah keluar, Shahinaz merasa sedikit ada hawa kelegaan dihatinya. Shahinaz sudah enggan berbasa-basi, apalagi masalah mereka bisa dikatakan lebih serius dan rumit lebih dari yang dia kita.
"Bahkan obat aja, bukan gue yang ngedapetin secara langsung. Jadi pertanyaannya, sebego apa Shahinaz sebelumnya sehingga terlalu mempercayakan segalanya kepada Auretheil?" Shahinaz memandangi obat-obat itu dengan emosi yang meluap-luap. Dia akan membakarnya bersamaan dengan buku diary dan yang lainnya.
Shahinaz langsung berlari ke lantai atas, mencari barang-barang yang tadi sempat dia sembunyikan, lalu membawa semuanya secara bersamaan untuk dia bakar. Sesuatu yang buruk, harus dia basmi sejauh mungkin. Tubuh ini sudah menjadi miliknya, tidak ada salahnya dia melakukan apapun yang dia mau.
"Dear Shahinaz, gue pasti bakalan cari keadilan buat lo. Pasti selama ini lo terlalu menderita kan? Lo terlalu dunia ini nggak berarti buat lo kan? Karena jiwa kita udah satu, mari bersenang-senang, dan buat figuran biasa seperti kita bisa bahagia dengan cara kita sendiri." kata Shahinaz setelah membuang barang-barang yang sekiranya terlalu merugikan dirinya untuk ke depan.
Di halaman belakang rumah yang luasnya tidak seberapa, Shahinaz melakukan pembakaran barang-barang itu dengan senyuman penuh dendam. Bagaimanapun, ada yang perlu disalahkan atas hancurnya hidup sang figuran biasa seperti Shahinaz Zerrin Johara.
Karena meski hanya tokoh sampingan dalam sebuah cerita. Sang figuran tetaplah tokoh utama di dalam hidupnya sendiri!