NovelToon NovelToon
Ibu Susu Bayi Sang Duda

Ibu Susu Bayi Sang Duda

Status: tamat
Genre:Duda / Janda / Selingkuh / Ibu Pengganti / Menikah Karena Anak / Ibu susu / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Hari yang seharusnya menjadi momen terindah bagi Hanum berubah menjadi mimpi buruk. Tepat menjelang persalinan, ia memergoki perselingkuhan suaminya. Pertengkaran berujung tragedi, bayinya tak terselamatkan, dan Hanum diceraikan dengan kejam. Dalam luka yang dalam, Hanum diminta menjadi ibu susu bagi bayi seorang duda, Abraham Biantara yaitu pria matang yang baru kehilangan istri saat melahirkan. Dua jiwa yang sama-sama terluka dipertemukan oleh takdir dan tangis seorang bayi. Bahkan, keduanya dipaksa menikah demi seorang bayi.

Mampukah Hanum menemukan kembali arti hidup dan cinta di balik peran barunya sebagai ibu susu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Suami istri itu tidur bersama bukan terpisah.

Perjamuan usai, tamu-tamu mulai berangsur pulang. Musik orkestra yang tadi riuh kini hanya terdengar samar di balik pintu hotel. Abraham menuntun Hanum ke mobilnya dengan sikap protektif, seakan tak ingin istrinya disentuh pandangan sinis lagi. Sedangkan, Siska pulang dengan mobil lain.

Di dalam mobil, suasana awalnya hening. Hanya suara mesin dan lalu lintas malam yang mengisi udara. Hanum duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya, masih mencoba mengatur napas setelah drama panjang tadi.

Abraham menoleh sekilas, menatap wajah Hanum yang tetap tegak meski sorot matanya masih menyimpan sisa emosi. “Kamu … membuatku terkejut malam ini,” katanya pelan.

Hanum menoleh, gugup. “Kenapa, Mas? Apa aku … terlalu lancang menjawab mereka?”

Sudut bibir Abraham terangkat samar, senyum yang jarang sekali muncul. “Tidak, justru kamu menjawab dengan tepat. Kamu tidak hanya membela dirimu, tapi juga membela posisiku. Itu … pertama kalinya aku melihatmu begitu percaya diri di depan orang banyak.”

Pipi Hanum memanas dan dia menunduk, jemarinya saling meremas. “Aku hanya … tidak ingin orang-orang merendahkan Mas Bian karena aku.”

Abraham menatapnya lama, sorot matanya sulit dibaca. Lalu ia menyandarkan tubuh ke kursi, suaranya dalam.

“Aku tidak peduli omongan mereka. Tapi aku peduli bagaimana kau menanggapi semuanya. Malam ini … kau membuatku bangga, Hanum.”

Deg!

Jantung Hanum berdegup keras mendengar kalimat itu. Dia mengangkat kepalanya perlahan, dan mendapati Abraham menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, hangat, teduh, dan entah kenapa membuat dadanya bergetar.

“Mas…” suara Hanum hampir berbisik.

Abraham mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Hanum erat. “Mulai sekarang, jangan pernah tunduk pada siapa pun. Kau istriku dan sebagai istriku, kau berhak berjalan dengan kepala tegak.”

Hanum membeku, matanya berkaca-kaca. Untuk sesaat, semua rasa takut, canggung, dan keraguan yang ia simpan selama ini seolah luruh begitu saja. Dia hanya bisa mengangguk kecil, suaranya tercekat. “Iya, Mas…”

Mobil terus melaju menembus malam, namun di dalamnya, ada kehangatan yang baru saja tumbuh di antara mereka. Sebuah titik awal dari hubungan yang semakin sulit mereka pungkiri.

Mobil mewah itu berhenti tepat di pelataran rumah besar keluarga Biantara. Lampu-lampu taman menyala temaram, menerangi jalan setapak menuju pintu utama. Abraham turun lebih dulu, lalu menuntun Hanum dengan penuh wibawa. Gaun maroon yang dipakai Hanum bergoyang lembut mengikuti langkahnya, sementara tatapan Abraham tak pernah lepas darinya, seolah ingin memastikan istrinya itu tetap nyaman.

Begitu memasuki rumah, seorang pengasuh langsung mendekat. Ia menunduk hormat, lalu melaporkan dengan suara pelan, “Tuan, Nyonya … Tuan Muda Kevin sudah tertidur pulas di kamarnya. Hari ini beliau sangat ceria, makan banyak, dan tak rewel sama sekali.”

Hanum tersenyum hangat mendengarnya, lega sekaligus bahagia. “Syukurlah,” gumamnya pelan. Abraham hanya mengangguk kecil, namun sorot matanya terlihat sedikit melunak.

Ketika pengasuh itu sudah berlalu, Abraham berhenti di tangga besar, lalu berbalik menatap Hanum. Dia menatap dalam, membuat Hanum gugup dan menunduk refleks.

“Hanum,” suaranya dalam, tegas, tapi juga mengandung sesuatu yang berbeda malam itu. Hanum mengangkat wajahnya, berusaha menahan degup jantungnya.

“Iya, Mas?”

Abraham menelan ludah, lalu berkata dengan mantap, “Mulai malam ini … kau tidur di kamarku. Suami istri tidak seharusnya tidur terpisah.”

Hanum membelalak, tubuhnya seketika kaku. Selama ini, meski berstatus istri sah, ia masih tidur di kamar yang berbeda, menjaga jarak karena Abraham sendiri yang tidak pernah menyinggung soal itu. Kini, kalimat sederhana Abraham terasa seperti gemuruh besar yang mengguncang hatinya.

“Ma-mas…” Hanum gagap, wajahnya merona. “Apa … tidak apa-apa?”

Alis Abraham terangkat, ia mendekat selangkah hingga jarak mereka begitu dekat. “Kenapa harus tidak apa-apa? Kau istriku ... tempatmu ada di sisiku.”

Hanum terdiam, matanya bergetar menahan perasaan yang sulit ia jelaskan. Dia ingin menolak karena gugup, tapi bagian dalam hatinya justru hangat mendengar pernyataan itu. Abraham tidak memberi kesempatan untuknya berpikir lebih lama. Pria itu langsung melangkah menaiki tangga dengan tenang, lalu berhenti sejenak menoleh ke belakang.

“Ayo, Hanum.”

Dengan langkah ragu, Hanum mengikuti. Suasana rumah begitu hening, hanya suara langkah sepatu mereka yang bergema. Setiap anak tangga yang ia naiki, jantung Hanum terasa semakin berdegup kencang.

Sesampainya di kamar utama, Abraham membuka pintu lebar-lebar. Ruangan itu luas, dengan ranjang besar berkanopi, lampu gantung kristal yang berkilauan, dan aroma maskulin yang khas dari pemiliknya. Hanum berdiri di ambang pintu, seolah tidak percaya ia akhirnya akan tidur di ruangan itu.

Abraham menoleh, memperhatikan istrinya yang tampak gugup. “Kau terlihat ketakutan.”

Hanum cepat-cepat menggeleng. “B-bukan takut … hanya … canggung.”

Pria itu berjalan mendekat, lalu menunduk sedikit, menatap matanya. “Jangan canggung, aku tidak akan melakukan apa pun yang membuatmu tidak nyaman. Aku hanya ingin … kau ada di sisiku, Hanum.”

Kalimat itu sederhana, tapi jujur, membuat Hanum nyaris menitikkan air mata. Ia mengangguk kecil, suaranya hampir tak terdengar. “Iya, Mas.”

Abraham kemudian melepas jasnya, meletakkannya di kursi, lalu duduk di tepi ranjang sambil melonggarkan dasinya. Hanum berdiri kikuk, tak tahu harus berbuat apa. Melihat itu, Abraham menepuk sisi ranjang di sebelahnya.

“Duduklah.”

Hanum menurut, duduk dengan hati-hati. Ranjang besar itu terasa semakin luas ketika ia hanya duduk berdua dengan Abraham. Hening sejenak menyelimuti mereka.

“Hanum,” Abraham membuka suara lagi, suaranya kali ini lebih lembut. “Malam ini … aku hanya ingin kita benar-benar menjadi suami istri. Bukan hanya di mata orang, tapi juga di hati kita.”

Hanum menoleh perlahan, menatap pria yang kini begitu dekat dengannya. Sorot mata Abraham tidak lagi sekadar dingin atau penuh wibawa, tapi ada sesuatu yang tulus, sesuatu yang membuat Hanum tidak bisa lagi berpura-pura tidak merasakan debaran aneh di dadanya.

“Aku akan berusaha, Mas,” jawab Hanum dengan suara bergetar. “Aku ingin belajar menjadi istri yang … layak untukmu.”

Abraham menatapnya dalam, lalu dengan gerakan pelan ia menyentuh jemari Hanum, menggenggamnya erat. “Kau sudah lebih dari layak. Kau hanya perlu percaya pada dirimu sendiri.”

Air mata Hanum akhirnya jatuh, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena keharuan. Ia tersenyum samar, lalu menunduk malu. Abraham mengusap lembut pipinya, menghapus air mata itu dengan jemarinya.

“Tidurlah, Hanum,” bisiknya lembut. “Malam ini, aku ingin kau beristirahat tanpa rasa takut sedikit pun.”

Dengan hati-hati, Abraham membantu istrinya berbaring di sisi ranjang, lalu ia sendiri merebahkan tubuhnya di sebelahnya. Lampu kamar diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang menenangkan. Hanum masih merasakan canggung, tubuhnya kaku, tapi genggaman tangan Abraham yang tetap erat membuatnya perlahan merasa aman.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Hanum yang awalnya tak bisa memejamkan mata, akhirnya perlahan terlelap karena kehangatan yang dipancarkan Abraham di sisinya.

Abraham menoleh, menatap wajah tenang istrinya yang tertidur. Senyum samar terukir di bibirnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, kamar besar itu tidak terasa dingin dan kosong lagi. Ada Hanum, istrinya, yang kini mengisi setiap sudut ruang dan hatinya.

Hanum, masih memakai gaun itu, bahkan beberapa perhiasan belum terlepas dari tubuhnya. Perlahan, tangan Abraham menyentuh leher Hanum untuk membuka semua yang ada di sana. Serta membuka melepas cincin dan gelang.

'Alma, aku memang mencintaimu. Aku tidak berbohong! Tetapi, urusan kita berdua sudah berbeda, alam kita yang beda. Kali ini, aku hanya ingin kamu restui hubungan aku dengan Hanum,' batin Abraham berbisik lirih, jendela kamar itu terhantam kuat oleh angin yang kencang, seakan itu sebagai jawaban dari Alma.

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝘼𝙗𝙧𝙖𝙝𝙖𝙢2 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙠𝙞 𝙗𝙩𝙝 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢 𝙜𝙖𝙬𝙚 𝙖𝙣𝙠𝙢𝙪 𝙠𝙤𝙠 𝙢𝙡𝙝 𝙠𝙤𝙬𝙚 𝙨𝙞𝙣𝙜 𝙣𝙜𝙜𝙚𝙩𝙖𝙠2 𝙃𝙖𝙣𝙪𝙢, 𝙩𝙖𝙠 𝙨𝙡𝙚𝙙𝙞𝙣𝙜 𝙥𝙞𝙨𝙖𝙣 𝙬 𝙣𝙜𝙠𝙤 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙞𝙣𝙜𝙚𝙩 𝙨𝙢 𝙞𝙣𝙖𝙧𝙤𝙝 𝙠𝙡𝙤 𝙠𝙮𝙠 𝙜𝙞𝙣𝙞 😭😭😭🤣🤣
Ruk Mini
kadang org jahat boleh lh d bales asal setimpal, tpi memaaf kn jauh lbh hebat mmg sulit, aq sgt terkesan thor jon kehidupan yg berliku mmg hrs ttp d jalani inilh hidup ky Rollercoster, akhir yg sgt epik, tq thor d tgg karya" mu lgi🙏👍👍👍
Just_Emma
hanuuuummmm 😍😍😍
Zalmah Adiwi
novel pertama yg sy baca..keren bngt cerita..demen bngt dg tokoh bian..😍😍
Surya Panjaitan
baru bab 2. udh tegang x aku.. 👍👍
TRIDIAH SETIOWATI
bagus ceritanya
Imelda Mell Lele
wah ending yg bagus Thor..aq suka/Smile//Smile//Smile/
ig@__02chani: halo kakak 🙋🏻‍♀️ salam kenal.. jika berkenan & suka novel nuansa korea yg santai & humoris boleh mampir jg di novel "Chef Do", saya up tiap hari kak, terima kasih🙏🏻👍
total 1 replies
Ida Jubaidah
diatas di tulis kotak bekalnya diletakkan abraham duatas meja kerjanya...di bagian ini kenapa jadi dipegang sama hanum ya thor
lia permata
kerennn
Ryan Dynaz
cerita yg bagus..
Kamiem sag
luarbiasa bodoh dan kemahnya Hanum
cerita ini kira-kira direka tahun berapa sih thor???? kok masih ada orang kaya sebodoh dan selemah Hanum??? kan dia bisa bilang ke pelayan etalase " tolong cek cctv biar tau siapa yg memadukkan perhiadan itu kedalam tasnya Hanum???? "
ailehhhhh!!!!! cerita ini mentololkan pembaca
Kamiem sag
Hanum... selemah itu... akutak suka
apa salahnya Hanum membela diri, menunjukkan bahwa Lilis adalah pelakor dan pembunuh biar Lilis terkejut dan malu
tapi dasar!! Hanum lemah!!!
Kamiem sag
untuk menyusui bayi Kevin kan gak harus nikah
bisa kan cukup jadi ibu susu? bisa juga menyusui dgn menerima upah??
Kamiem sag
ikut baca siapa tau tokohnya bijak biar nular bijaknya
Reni Setia
makasih untuk karya novelnya ya
Dea Fitri
hanum lawan dong si Lilis jangan dikit" mata berkaca"
Onah Sukaedah
Galih ga tegas sama c Lilis... masa kalah sama istri
Onah Sukaedah
Gimana tu c galih dan Lilis belum dapat karmanya
Katherina Ajawaila
jadi Gelo Galih, kamu pikir Hanum mainan atau perempuan apa kah, habis di cerai trus di suruh balik hrs mau ngana edan Galih 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!